
Dari KOI dessert bar mereka keluar dengan mengendari taksi melalui jalan Kensington St. lalu mereka di bawa melewati jalan satu arah. Mereka harus berputar tempat melalui UTS library, atau gedung perpustakaan Universitas Of Technologi Sydney yang terbuka untuk umum.
Salah satu upaya Australia untuk menumbuhkan budaya membaca sejak dini juga dilakukan lewat pemberian buku dalam paket bingkisan untuk keluarga yang baru memiliki bayi. Bahkan jauh sebelum itu terdapat sebuah program tantangan membaca atau Reading Challenge untuk memotivasi orang tua agar bisa menanamkan budaya membaca dalam keluarga. Lantas Australia pun menjadi salah satu negara dengan tingkat literasi yang tinggi di dunia.
Sebagai negara yang masuk ke dalam lima negara dengan tingkat kesadaran membaca yang terbaik, perpustakaan ini memiliki banyak fasilitas yang mempuni. Yang membuat nyaman para pengunjungnya.
Fasilitas fasilitas tersebut yang membuat para pembaca untuk lebih mudah dan nyaman untuk membaca di dalam gedung perpustakaan. Belum lagi arsitektur yang benar benar memanjakan mata, sebagai salah satu tempat membaca paling baik.
Pemandangan dan fasilitas serta pemandangan yang indah juga merupakan salah satu daya tarik di tempat tersebut.
Perpustakaan tersebut tepat berada di hadapan Place Cinemas, di mana gedung tersebut dengan rancangan One Center Park Easy Tower. Bangunan itu mengusung konsep desa di dalam kota, dengan sengaja menumbuhkan tanaman rambat di dinding pergedungan.
Juwita tersenyum melihat maha karya tersebut, sungguh dirinya memang tak pernah puas puas jika membicarakan tentang Sydney dengan segala pesonanya. Mereka telah berputar arah namun tetap berada di jalan Broadway melewati jalan Regan St. melewati SEA Institut Sydney menuju Lee St.
"Kau pernah ke perpustakaan itu?" Brayen menunjuk ke arah perpustakaan tersebut, Juwita mengangguk tersenyum ke arah Brayen.
"Mereka benar benar membuat perpustakaan yang sangat nyaman, bahkan aku belum pernah menemukan perpustakaan senyaman itu di Indonesia. Mungkin saja karena tingkat membaca mereka memang tinggi," ujar Juwita merebahkan kepalanya di pundak kokoh Brayen.
"Hm... Tentu saja mereka menjadi negara ke empat tertinggi dalam membaca, setelah Swis, Belanda, dan Finlandia." Brayen mengusap lembut kepala Juwita, sembari mengecup puncak kepala Juwita.
"Hm... aku jadi penasaran bagaimana perpustakaan mereka," ujar Juwita tersenyum.
"Bagaimana setelah ini kita ke Jepang," Brayen membuat Juwita segera mengalihkan pandnagan ke arah Brayen.
"Untuk apa?" Juwita cukup bingung dengan rencana Brayen.
"Tentu saja, Jepang termasuk sepuluh di antaranya, kau penasaran bukan?" Brayen memeluk istrinya dengan gemas.
__ADS_1
"Hm... I love you," Ujar Juwita tersenyum manja.
"Ih manjanya, istri siapa ini?" Brayen mencubit gemas istrinya.
Supir terus menjalankan mesinnya hingga tiba di jalan Sussex St. setelah melewati Guay St. Mereka menyempatkan diri ke Sea Life Sydney Aquarium.
SEA LIFE Sydney Aquariumdapat diklasifikasi sebagai salah satu atraksi yang premium dan favorit di kota Sydney dengan jumlah lebih dari separuh turis yang datang dari luar negeri, datang ke tempat ini.
Dibangun menyerupai gambaran ombak yang sangat besar, SEA LIFE Sydney Aquarium memperkenalkan dan mempertontonkan suguhan kepada seluruh penonton, keadaan laut Australia yang sangat kaya akan beragam bentuk dan jenis biota laut.
Juwita dan Brayen kini di ajak menelusuri dan jelajahi beragam habitat dalam laut, dengan pembatas kaca tebal nan bening sebagai pembatas mereka, aquarium tersebut yang merupakan rumah bagi tiga belas ribu tipe hewan dari tujuh ratus species. Juwita terus berjalan dengan tangan yang terus di gandengan Brayen, mereka menghabiskan waktu yang senggang di sana, dimana mereka dapat bertemu degan pinguin, ikan hiu, ikan pari, penyu, dugong, ikan tropis dan air tawar, cephalopods, kuda laut, dan hewan fantastis lainnya. Sebuah sensasi yang luar biasa, berbeda memang, tetapi keindahannya dan kenikmatannya pun berbeda.
"Kau menikmatinya?" Brayen mengusap lembut pipi Juwita, sembari mengecup bibir wanita yang telah menjadi istrinya.
"Hm..." Juwita tersenyum manis dengan kepala mengangguk membenarkan ucapan dari suaminya.
"Kalau begitu tambah dua ronde ya," Brayen tergelak ketika melihat wajah kesal istrinya.
Sementara itu di tempat lain seorang wanita baru saja membuka matanya setelah sebuah bell berbunyi di apartemennya. Apartemen mewah yang kini ia miliki wanita itu berjalan hanya dengan mengenakan piyama tidur yang terbuka, pikirnya itu adalah sang kekasih. Namun ia terkejut ketika melihat seorang lelaki muda namun ia yakin laki laki itu mapan, berdiri di ambang pintu tersenyum ke arahnya. Wanita itu tampak sedikit merapikan pakaiannya, berusaha menarik jubahnya agar lekukan nya lebih tampan jelas, laki laki tersebut tersenyum.
"Ada yang bisa saya bantu?" wanita itu tersenyum ke arah laki laki muda tersebut.
"Boleh saya masuk," laki-laki tampak tersenyum secara refleks wanita tersebut mengangguk.
"Nyonya Weni... nama anda Weni kan?" laki laki itu mendudukkan dirinya tanpa di suruh oleh nyonya Weni. Tiba seorang wanita paruh baya yang mungkin saja seumuran dengannya, namun tak kalah cantik dengannya. Wanita itu masuk dengan santainya dan duduk di samping laki laki itu. Nyonya Weni mengernyitkan dahi bingung dengan wanita tersebut.
"Kau siapa?" nyonya Weni menatap tajam ke arah wanita tersebut. Nyonya Weni menatap tak suka terhadap wanita itu, nyonya Weni merasa sedikit iri karena wanita itu tampak lebih cantik dan segar darinya.
"Kau tak membuat minuman untuk ku?" wanita itu tersenyum remeh kepada nyonya Weni.
__ADS_1
"Kau siapa? Berani sekali kau masuk ke tempat ku," nyonya Weni memandang angkuh kepada wanita itu, mereka tampak saling memandang jijik satu sama lain.
"Tempat mu?" wanita itu terkekeh mengusap lembut lengannya. "Kau bercanda? Kau hanya seorang wanita simpanan."
"Apa maksud mu!" nyonya Weni semakin murka kepada wanita itu.
"Sekali wanita murahan tetap saja wanita murahan. Dulu suaminya di tinggalkan hanya demi uang, setelah itu berselingkuh dengan suami sahabat sendiri, kemudian menggoda suami orang lain, dan meninggalakan suaminya," ujar wanita itu tanpa memperdulikan tatapan mata nyonya Weni.
"Kau?" nyonya Weni memandang nyalang ke arah wanita itu.
"Benar bukan?" wanita itu tersenyum seolah menelanjangi seluruh masa lalu nyonya Weni.
"Apa mau mu?" nyonya Weni semakin kesal, merasa di kulit oleh wanita itu.
"Hanya butuh pengakuan mu," ujar wanita tersebut terkekeh.
"Iya lalu kenapa?" nyonya Weni memandang angkuh kepada wanita itu. "Apa yang mau kau lakukan," ujar nyonya Weni menantang. Kepalang basah, ya sudah mandi sekalian.
"Terimakasih pengakuannya. Ini akan aku simpan sebagai bukti," wanita itu terkekeh.
"Nyonya ini sudah kami ganti," ujar laki laki bertubuh tegap tersebut.
"Keluarkan semua pakaiannya," wanita itu tersenyum simrik.
"Hei kau fikir siapa kau?" nyonya Weni membentak wanita itu.
"Aku istri dari laki laki yang tengah kau manfaatkan kekayaannya saat ini! Dasar murahan," wanita tersebut tersenyum remah. "Bawa dia, masukkan wanita itu di kerumunan para pria bengis."
Wanita itu masih duduk di tempatnya sembari memandang nyonya Weni yang hendak menyerangnya. Namun laki laki muda tersebut dengan sigap menangkap tangan nyonya Weni.
"Jangan pernah sentuh mami ku, bahkan papi ku saja mampu ku buat hancur, apalagi hanya diri mu," ancam laki laki itu dengan kemarahan di wajahnya, tak adalagi wajah tenang yang di perlihatkan dirinya.
"Kau tahu bukan karma tahu jalan pulang?" nyonya Weni menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan wanita tersebut. "Kau tahu, semua orang menganggap ku sebaik seperti malaikat, namun jika kau lancang mengganggu hidup ku, maka aku akan berubah melebihi iblis yang siap menghancurkan mu."
Yu hu... maaf othor akhir akhir ini begitu sibuk...
__ADS_1
oh ya, othor mau buat tentang kehidupan para anak anak dari Juwita dan Brayen, kira kira buat novel baru atau di sini saja ya? kyuk jawab di bawah.