
Juwita saat ini tengah menghadapi situasi sulit namun juga membuatnya hour tertawa. Pasalnya saat ini teman Aska, yang akrab di panggil Jojo, kini berubah menjadi Doni. Doni yang kemayu, cendrung belok. Sikapnya manja, gaya bicaranya sangat manja, hingga membuat Aska pusing sendiri.
"Ini nih kak yang bikin Aska pingin dia cepat cepat sembuh," geram Aska yang sejak tadi pusing mendengar rengekan manja Jojo, yang kini menjadi Doni.
"Ih Doni ga suka, Aska itu kasar kak orangnya," Doni mengadu kepada Juwita, sembari menggenggam jemari Juwita, seolah memihta perlindungan dari Aska yang sejak tadi merasa frustasi.
"Tuh si Doni Dona Done, bikin pusing kak. Aduh gara gara dia tadi Aska di kira gay. Aska di kira belok kak. Gila! Mau di taruh di mana muka ku," kesal Aska pusing menghadapi sikap Jojo, yang kini berubah menjadi manja.
"Ya muka Aska di muka Aska lah, memang bisa lepas?" Jojo seakan tak terima, dan membantah kata kata mutiara Aska dengan manja nan gemulai, lengkap dengan gerakan tangan yang mengibas di wajahnya.
"Tu kan kak, sahabat Aska saja dia, kalau tidak sudah Aska tenggelamkan dia di sungai atau kali Ciliwung," geram Aska memijat kapalanya.
"Sudah, sekarang Doni tolong cerita kan tentang Doni dong," Juwita segera menengahi pertengkaran kedua orang itu.
"Nah gini kalau ngomong Aska lembut," ujar Jojo. "Jadi Doni itu anak pertama dari satu bersaudara, Sebenarnya Doni itu punya adik tiri. Tapi ga Doni akui, sebab karena ibunya, ayah sama ibu pisah. Jenis kelamin Doni itu laki laki, kalau ga percaya sini Doni bukain."
"Eh jangan jangan, kami percaya kok," Juwita panik sendiri melihat kelakuan pasiennya kali ini, ada ada saja kelakuannya.
"Tu kan kak," ujar Aska semakin frustasi. "Kakak uruslah dia, Aska mau ke dapur dulu."
"Kakak sana adik sama saja," gumam Juwita saat melihat Aska menuju dapur.
Juwita mulai melakukan beberapa pemeriksaan dengan sabar. Pasal nya sikap dan kepribadian pasiennya ini benar benar berbeda dari apa yang sebelumnya. Sungguh berbalik.
__ADS_1
Juwita baru mengenal Jhonatan yang dingin dan arogan, Nando yang pemalu dan pendiam, dan kini Doni yang gemulai dan cerewet. Juwita sudah membiasakan diri menghadapi banyak pasien sudah terbiasa. Hanya Jhonatan, Nando, dan Doni adalah orang yang sama, mereka adalah Jojo, yang kepribadian nya berubah. Sejujurnya Juwita juga penasaran dengan kepribadian Jojo yang sebenarnya, bukan dengan nama nama yang berbeda ini.
Setelah sekian lama, akhirnya Jojo selesai. Aska pamit pulang dengan Juwita. "Aska lain kali bawa si Jojo ya, penasaran kakak," ujar Juwita.
"Si Jojo pendiam kak, sudah ngomong, ga pemalu sih, cuman degan orang yang baru kenal susah banget angkat suara," ujar Aska membuat Juwita mengangguk mengerti.
Baru saja pendiamnya pulang, Juwita baru teringat harus berangkat ke kantor Brayen. Juwita segera bergegas ke dapur, untuk memasak. Untung saja saat ini baru jam setengah sebelas, setidaknya Juwita memiliki banyak waktu. Tadi pagi Juwita telah menghaluskan beberapa bumbu, agar acara memasaknya lebih mudah.
Juwita segera memulai acara masaknya, dan berakhir tepat pukul sebelas. Artinya ia membutuhkan waktu satu jam untuk ke kantor Brayen. Juwita segera mandi, dan memakai riasan tipis. Juwita kemudian melajukan mobilnya menuju kantor Brayen.
Sesampainya di kantor Juwita segera bergegas menuju ruangan Brayen, Juwita sudah tidak perlu bertanya lagi kepada resepsionis tersebut. Pasalnya ini adalah yang kesekian kalinya dirinya pergi ke kantor tersebut.
Juwita memasuki lift menuju ruangan Brayen, Juwita segera membuka pintu ruangan Brayen, dan alangkah terkejutnya dirinya ketika melihat Karin tampak tengah berpelukan dengan Brayen.
^^^...Yah, mereka selalu bisa merebut segalanya dari ku, sudah ku bilang jangan pernah menaruh harapan. Kita hanya orang asing, kenapa begitu menyakitkan?...^^^
"Wit, ini..."
"Makan dulu, ini udah aku bawain," Juwita memotong ucapan Brayen, membuat laki laki itu menghela nafasnya berat.
"Makasih kak," jawab Karin dengan sangat lembut, bak adonan yang belum di panggang.
Juwita tersenyum kepada kedua orang itu, Juwita segera meletakkan makanan tersebut di atas meja. Seolah tak perduli dengan apa yang baru saja Brayen lakukan dengan Karin. Juwita segera menata makanan tersebut.
__ADS_1
Brayen segera duduk di hadapan Juwita, Brayen menggigit bibirnya, lidahnya keluh entah kenapa.
Karin segera duduk di samping Brayen dengan senyum penuh kemenangan, Juwita hanya melirik sejenak, kemudian melanjutkan aktifitasnya.
Juwita buru buru meletakkan makanan di atas piring, dan menyerahkannya kepada Brayen dan Karin.
"Wit kau tidak makan?" Brayen bertanya dengan sedikit hati hati. Brayen takut Juwita salah paham.
"Tidak kalian saja dulu, tadi di rumah aku sudah makan, kebetulan tadi ada pasien yang bawa makanan, jadi sudah kenyang," ujar Juwita, entah kenapa tiba tiba perutnya kenyang, dan selera makannya hilang.
"Kau sudah makan? Lalu kenapa kau datang kesini? Aku kan bisa makan di kantin," ujar Brayen.
^^^Kau tak ingin di ganggu? Ah, kau bahkan melanggar salah satu syarat dari perjanjian kita. Jika demikian bukankah aku juga bisa?^^^
Juwita menghela nafas kasarnya, mencoba menetralisir pikirannya. "Hm, aku hanya takut kau menunggu ku," ujar Juwita memandang ke arah makanan yang ia bawa. "Hm makan lah, kalau sudah selesai aku akan membawanya pulang."
Brayen tak banyak bicara segera melanjutkan makan siangnya bersama Karin, Juwita hanya menutup rapat matanya, mencoba untuk membuang semua rasanya. Ponselnya tiba tiba berbunyi, membuat Juwita segera mengangkat telfon tersebut.
"Halo," Juwita berjalan menjauh dari Brayen dan Karin. Takut mengganggu kedua orang itu. "Hah? Kakak sudah mau berangkat? Iya nanti Karin jemput, di bandara kan?" Juwita segera mematikan ponselnya, ingin kembali ke ruangan Brayen, namun saat berbalik, Juwita melihat Brayen tengah di suapi oleh Karin. Hal itu semakin membuat Juwita kesal.
"Ehem," Juwita segera berdehem, membuat kedua orang tersebut menghentikan acara suap menyapanya. "Hm kalian lanjut saja ya, aku ada urusan mendadak."
Juwita segera menyambar tasnya, dan berjalan keluar. Brayen segera berdiri, hendak menyusul Juwita, namun Juwita mengentikan nya.
__ADS_1
"Hm tidak apa apa, lanjutkan saja makan siang kalian, aku juga tengah buru buru. Tempatnya bawa saja nanti malam ke rumah, soalnya aku cuman punya satu," Juwita segera meninggalkan Brayen dengan sedikit buru buru. Selain ingin menghilangkan perasaanya, Juwita juga hendak menjemput seseorang di bandara.