CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Mualaf


__ADS_3

Brayen baru saja selesai rapat, segera melangkahkan kakinya menuju lobi, sekretarisnya baru saja memberitahu kan, bahwa ustadz yang di segani di daerah tersebut telah datang.


"Segera bawa ustadz tersebut ke ruangan VVIP saya segera ke sana," ucap Brayen sembari tersenyum.


Brayen segera melangkah menuju ruang VVIP, Brayen telah memerintahkan kepada Indri untuk menemui pak ustadz.


Saat masuk ternyata pak ustadz sudah berada di dalam ruangan tersebut. Jantung Brayen berpacu deru, seakan melewati sebuah rintangan. Brayen memegangi dadanya, mencoba meredakan detak jantungnya.


Laki laki setengah baya tersebut, dengan rambut sudah sedikit memutih, janggut sedikit tebal, namun rapi, dengan sebuah peci di kepalanya, sangat serasi dengan baju muslim putih yang ia kenakan. Wajahnya yang bersahaja, menampilkan wibawa yang luar biasa. Brayen sungguh memuji wibawa laki laki tersebut. Tak pernah sebelumnya Brayen bertemu dengan orang yang seperti itu. Laki laki segera mengalihkan pandangan ke arah Brayen, dengan senyum bersahaja. Seketika Brayen merasa tenang dan tentram. Brayen mulai melangkah mendekati pak ustadz.


"Selamat siang pak ustadz, saya Brayen," ucap Brayen sedikit kaku.


Jujur saja Brayen tak tahu cara menghadapi seorang pemuka agama, dirinya hanya tahu cara menghadapi pebisnis. Ini adalah pertama kalinya Brayen menghadapi seorang pemuka agama, hal itu membuat Brayen sedikit gelisah, dan malu.


"Siang nak, panggil pak Yusuf saja, panggilan ustadz terlalu berlebihan untuk saya," ucap ustadz tersebut merendah.


"Iya pak Yusuf," ucap Brayen menggaruk kepalanya.


"Nak Brayen ada apa ingin bertemu dengan saya? Apa ada sesuatu yang mendesak?" tanya ustadz Yusuf.


Brayen tersenyum kikuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hm, bagaimana mengatakannya ya? Hm, saya sebenarnya non muslim," Brayen sedikit malu menyebutkan bahwa dirinya belum menganut agama mana pun.


"Jadi nak Brayen mau masuk muslim?" ustadz tersebut menyebut maksud dan tujuan dari Brayen.


"I... Iya pak," ucap Brayen tersenyum kikuk.


"Kenapa?" tanya pak Yusuf penasaran.


"Tidak hanya saja..." Brayen mulai membicarakan setiap masalahnya, hal itu membuat pak Yusuf mengangguk mengerti. Pak Yusuf tersenyum mendengar cerita Brayen. Sungguh sesuatu hal yang luar bisa, berbeda dari cerita biasa yang pernah ia dengar. Tentu saja kedekatannya dengan Juwita ia ceritakan, namun tidak menceritakan hingga mereka tidur bersama, karena Brayen sangat sadar bahwa masyarakat Indonesia sedikit sensitif dengan hal tersebut, meskipun mereka berdua tidak melakukan apapun.


"Alhamdulillah nak Brayen sudah memilih jalan ini, insyaallah akan mendapatkan berkah dunia dan akhirat," ucap pak Yusuf, tersenyum bersahaja. "Sekarang nak Brayen mengucapakan dua kalimat syahadat ya."


"Iya pak," ucap Brayen sedikit gugup.

__ADS_1


"Santai saja jangan gugup," pak Yusuf segera menepuk pelan punggung Brayen guna memberi semangat.


Brayen tiba tiba teringat Daddy angkatan nya yang telah meninggal, beliau akan memberi tepukan semangat di punggung Brayen ketiak hendak memberikan semangat. Senyum terbit di bibir Brayen.


"Ikuti saya ya nak Brayen," ucap pak Yusuf, dan Brayen mengangguk mantap. "Asyhadu..."


"Asyhadu..."


"Alla..."


"Alla..."


"Ilaha..."


"Ilaha..."


"Illallah..."


"Illallah..."


"Wa asyhadu..."


"Wa asyhadu..."


"Muhammada rasulullah."


"Muhammada rasulullah."


"Aku bersaksi..."


"Aku bersaksi..."


"Tiada tuhan selain Allah..."

__ADS_1


"Tiada tuhan selain Allah..."


"Dan Muhammad adalah nabi ku..."


"Dan Muhammad adalah nabi ku..."


"Alhamdulillah," ujar pak Yusuf, di ikuti oleh Indri selaku sekertaris setianya.


"Alhamdulillah selamat tuan, anda telah menjadi seorang mualaf," uajar Indri memberi selamat kepada tuannya.


Tak lupa pak Yusuf memberikan petuah kepada Brayen, apa saja yang tidak boleh, dan apa saja yang boleh, apa saja yang wajib dan apa saja yang tidak wajib. Semua pak Yusuf sampaikan secara umum saja, tak ingin Brayen merasa terbebani sebagai seorang mualaf. Karena pak Yusuf sadar bahwa Brayen merupakan orang baru, dan tak mengerti.


Pak Yusuf berusaha menjelaskan dengan bahasa se sederhana mungkin, dan menyambungkannya dengan logika. Agar Brayen mengerti maksud dan tujuan perintah tersebut.


Brayen tampak mengangguk tandan mengerti. Brayen segera meminta nomor ponsel pak Yusuf, agar dirinya bisa menghubungi kapan pun, ketika dirinya bingung akan sesuatu hal.


"Pak terimakasih banyak, kalau butuh sesuatu silahkan hubungi saya, jika saya bisa pasti saya akan membantu bapak," ujar Brayen, menjabat tangan pak Yusuf.


Pak Yusuf tersenyum, kemudian membuka pecinya, menampakkan rambut pendek yang telah memutih. "Insyaallah saya akan menghubungi nak Brayen, ini hadiah dari saya, untuk nak Brayen sebagai seorang mualaf, di pakai saat sholat."


"Ini peci kan pak ya, kalau ini apa?" Brayen memperhatikan tasbih dan sajadah dari pak Yusuf.


"Ini adalah sajadah, alas sholat nak Brayen," ucap pak Yusuf, "sementara ini adalah tasbih, jumlahnya sebanyak seratus buah, untuk memuji nama Allah, contohnya Subhanallah, sebanyak satu blok ini, Allahuakbar sebanyak satu blok ini, dan Alhamdulillah untuk sebanyak ini," ujar pak Yusuf memberikan petuah kepada Brayen. Brayen mangut mangut, mencoba mengingat lafalan apa saja yang di butuhkan.


"Ashar dan magrib dan isya nanti kita sholat berjamaah di masjid bawah ya nak Brayen, sambil belajar gerakan sholat, untuk bacaan nya, nanti kita menghafal pelan pelan," ujar pak Yusuf, tersenyum ke arah Brayen.


"Baik pak Terimakasih," ujar Brayen.


Semua orang yang melintas di lobi merasa terpukau dengan sosok bule dengan peci putih di atas kepalanya, menambah kadar ketampanan dari laki laki itu sendiri.


"Calon imam siapa itu ya Allah, bikin meleleh adek bang," ujar salah satu wanita yang melintas di lobi tersebut.


Hai teman teman semua, maaf othor hanya berani membuat tentang agama Islam, bukan bermaksud rasis, namun othor tidak mengerti tentang ajaran agama lain. Maaf keun, othor tidak bermaksud. Silahkan di like, komentar, dan beri dukungan ya.

__ADS_1


__ADS_2