CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Keluarga Menyebalkan


__ADS_3

Juwita tengah bersiap siap untuk menemui keluarga mamanya untuk makan malam, sebenarnya Juwita tidak nyaman, terlebih Wendi dan Vania. Juwita segera melajukan mobilnya yang cukup mewah, sebagai hadiah ulang tahun dari kakek Rio. Pakaian dan dandanannya yang tidak berlebihan, justru membuatnya semakin mempesona, seolah memancarkan kecantikan alaminya.


"Malam," sapa Juwita ketika menyambangi nyonya Weni, tuan Damar, dan Karin di meja yang telah di pesan oleh nyonya Weni, selaku mama dari Juwita.


Damar adalah ayah tiri dari Juwita, sementara itu Karin adalah adik tiri Juwita. Juwita tidak menyukai adik tirinya, karena adiknya itu sedikit bertingkah, egois, dan angkuh.


"Malam sayang, ayo duduk dulu," nyonya Weni tampak sangat memperhatikan Juwita.


Juwita hanya tersenyum samar, jika begini pasti mamanya menginginkan sesuatu, jika tidak di turuti maka nyonya Weni akan mengamuk, dan mengatai Juwita. Dan pada akhirnya kakek Rio dan Aliya pasti akan turun tangan lagi, dan mengancam akan mencabut saham mereka di perusahaan tuan Damar, ayah tiri Juwita.


"Ma tumben ngajak ketemuan," Juwita segera bertanya tepat sasaran, membuat tuan Damar sedikit tersenyum kecut. Gadis di hadapannya itu kini pintar membaca situasi.


"Mama mau ngomong penting sama kamu," ucap nyonya Weni dengan penuh perhatian, Juwita pasti tahu kemana arah pembicaraan, jika sudah begini pembukaannya. "Ini mengenai masa depan kamu, mama sama papa sudah memikirkannya."


Tu kan benar isi pikiran Juwita, kemana isi pembicaraan tersebut, Juwita hanya menghela nafas panjang. "Maksud nama sama om Damar?" Juwita tak sudi menyebut laki laki itu sebagai papanya.


"Sayang itu juga papa kamu," nyonya Weni sedikit menggigit bibirnya, geram dengan Juwita yang selalu menolak tuan Damar sebagai ayah tirinya.

__ADS_1


"Papa ku hanya ada satu, dan tak akan tergantikan," ucap Juwita membuat tuan Damar menggertakkan giginya, kesal dengan sikap keras kepala gadis itu.


"Sayang sudah lah, mungkin dia belum menerima pernikahan kita," nyonya Weni sebenarnya juga merasa tidak enak, atas penolakan anak nya terus menerus. Jika tidak membutuhkan bantuan dari Juwita, maka dirinya juga sebenarnya malas melakukan pertemuan ini. "Huh... Nyonya Weni menghela nafas berat sebelum mengatakannya... Mama mau jodohin kamu dengan relasi bisnis papa kamu."


Benar saja, bahwa nyonya Weni memang ada apa-apa nya jika ingin bertemu dengan Juwita. Bahkan dengan teganya menjadikannya bahan agar bisnis tuan Damar berjalan lancar, ini pasti pernikahan bisnis, dan tidak ada cinta di sana.


"Itu bukan urusan ku, tapi untuk perusahaan om Damar, dan kelancaran ekonomi keluarga kalian," ketus Juwita, membuat nyonya Weni kesal bukan kepalang.


"Kak bisa ga sih sopan sedikit dengan papa?" kini Karin kesal dengan ucapan yang di lontarkan Juwita, yang memang benar adanya.


"Juwita kamu bisa sopan sedikit?" Nyonya Mona meninggikan suaranya, membuat semua mata tertuju kepada mereka. "Kami itu orang tua kamu Juwita, dia adik kamu."


"Keluarga? Dengar ya, anda memang orang yang melahirkan saya, tapi yang membesarkan saya adalah ayah saya, nenek di Manado, dan kakek Rio. Lalu anda? Anda ingin menyebut bahwa kita keluarga sekarang? Kemana anda saat saya masih kecil? Pergi dengan selingkuhan? Ah, kemana anda saat anak kecil berumur sepuluh tahun, mengiba mengejar mobil mewah yang anda kendarai, memohon pengakuan dari anda? Tidak ada? Lalu dengan alasan anda menyayangi saya anda ingin menjodohkan saya? Tidak! Saya tahu anda dan keluarga anda hanya ingin menjual saya dengan rekan bisnis anda. Lalu ingin menyebut diri sebagai ibu yang baik? Ibu yang berhak mengatur perjodohan anaknya? Sadar lah, bahwa saya jelas tahu tujuan anda di sisi, lagian kakek Rio jauh lebih berhak dari anda untuk urusan menjodohkan saya. Anda hanya seorang ibu yang membuang anaknya, lalu berkata 'bahwa anda tak sudi memiliki anak seperti saya, yang lusuh dan kumuh' anda masih mengingat ucapan anda bukan? Jadi sebaiknya jauhkan niatan kalian untuk menjual ku, karena itu tidak akan pernah bisa."


Semua orang seketika berbisik, Juwita sengaja mengeraskan suaranya, agar rencana perjodohan itu tidak berlangsung. Ia jelas tahu kenapa tadi ibunya meninggikan suara, agar semua orang menilai Juwita hanyalah anak pembangkang, namun hal yang di ucapkan oleh Juwita tadi di luar ekspektasi nyonya Weni, yang ada dirinya dan keluarga lah yang malu.


"Permisi saya mau ke toilet," Juwita segera beranjak dari tempat nya, sebenarnya berlama lama dengan keluarga tersebut membuatnya kehilangan banyak oksigen.

__ADS_1


"Mah gimana ni?" tuan Damar berbisik kepada istrinya. Dirinya malu mengeluarkan suara keras, pasalnya semua yang di katakan oleh Juwita, membuat semua mata tertuju pada keluarga tersebut.


"Papah tenang saja ya, biar mama yang membujuk anak keras kepala itu," ucap nyonya Weni yang yakin anaknya akan mendengarkannya.


Dasar anak keras kepala, kenapa sih sikapnya yang satu itu harus menurun dari ayahnya yang sia lan itu. Nyonya Weni menggeram sendiri di dalam hati.


"Dasar keluarga menyebalkan," guamm juwita.


Juwita segera berjalan ke arah toilet, dengan menundukkan kepalanya, dirinya sudah tidak tahan lagi dengan tingkah keluarga mamanya, terlebih dirinya teringat bagaimana nyonya Weni dulu memperlakukannya, dirinya akan semakin sakit. Namun nasib si al kembali melandanya, dirinya menabrak oleh seseorang. Juwita segera mendongak ke arah orang yang di tabrak nya.


Lelaki tersebut terkejut melihat mata bulat milih Juwita memerah, digenangi oleh air mata, ada rasa tak tega di sana, lelaki itu segera merengkuh Juwita ke dalam pelukannya, tak perduli dengan pandangan orang orang.


Seketika air mata Juwita tumpah, dirinya sadar butuh tempat bersandar, ia butuh tempat untuk menceritakan segala keluh kesah, tanpa beban apapun.


Laki laki itu segera membawa Juwita kedalam gendongannya, dan membawanya ke salah satu ruangan yang tadi kenakan untuk berjumpa dengan kliennya.


"Hust, kenapa hm? Coba cerita."

__ADS_1


__ADS_2