
Gilang terbangun dan segera berjalan ke arah dapur, namun Gilang tak menemukan Brayen di sofa tau di mana pun. Gilang akhirnya berjalan ke arah kamar Aliya, dan mendapati pintu tidak di kunci. Gilang segera mengeluarkan smartphone nya untuk memotret kebersamaan mereka. Gilang tersenyum kemudian kembali memandang ke arah kedua manusia yang tengah saling menghangatkan diri.
"Ck, ck, ck, ck..." Gilang menggeleng melihat kedua insan yang tengah berpelukan di balik selimut tebal nan hangat tersebut. "Bagusnya, hangat anak anak?"
"Kak pagi benget sih, ngapain?" Juwita tampaknya belum sadar akan kehadiran Brayen di sampingnya, pasalnya Juwita pikir Brayen sedang berada di luar.
"Ngapain, ngapain, kamu tuh ngapain?" Gilang menggeleng melihat kelakuan adiknya. Tampaknya Juwita benar benar tak menyadari kehadiran Brayen.
"Tidur kak, ini jam berapa sih?" Juwita justru bertanya ke arah Gilang, sembari terus mengusap matanya berkaki kali, demi mengisir kantuknya.
"Jam delapan Juwita," ujar Gilang menggeleng ke arah Juwita.
"Apa?!" Terang saja Juwita kaget bukan kepalang, pasalnya seharusnya saat ini ia sudah berada di rumah sakit, namun ini dia baru saja terbangun.
"Ck, Wit jangan berisik ah, sini tidur lagi," gumam berayen merasa terganggu dari teriakan Juwita. Brayen bahkan menepuk bantal di sebelahnya.
"Eh, Brayen ngapain kamu di sini?" Juwita baru menyadari kehadiran Brayen di sisinya, tampak begitu terkejut.
Wajah Juwita memerah, Juwita merasa malu, pasalnya kakak nya berada di sini. Juwita bingung sendiri jadinya.
"Hah?!" Gilang terkejut bahwa Juwita tidak menyadari kehadiran Brayen, itu artinya Brayen pindah ke kamar ini, setelah Juwita terlelap.
"Aish nanti lah, aku mau mandi dulu," ucap Juwita segera berlari menuju kamar mandi, tak lupa membawa baju ganti.
"Kak masakin Juwita kak," ucap Juwita berteriak dari arah kamar mandi.
Gilang menggeleng segera keluar. Diam diam Gilang tersenyum. Gilang kemudian segera berjalan menuju dapur, dan menenggak air dingin di cuaca yang dingin ini.
"Aduh dingin sekali, tumben. Apa di luar hujan ya?" Juwita bingung sendiri, pasalanya saat ini ia merasa sangat dingin, meskipun tadi ia telah mandi menggunakan air hangat.
Saat keluar Juwita telah tapi dengan pakaian dinasnya. Juwita keluar dan mencari Gilang, hingga ke dapur. Namun Juwita tak menemukan Gilang di sana. Juwita segera menuju penggorengan, saat mengambil wajan, mata Juwita tertuju kepada jendela yang tampak masih sangat gelap, Juwita mulai curiga, Juwita segera masuk kembali ke kamarnya dan macari ponselnya, Juwita terkejut ternyata jam masih menunjukkan pukul dua dini hari.
"Aghh... Kak Gilang, dasar!" teriak Juwita melepaskan emosinya yang menguras jiwa. Juwita bahkan mengepalkan tangannya, kemudian memandang ke langit langit. Jika di lihat dari segi posisi, Juwita lebih tepat di sebut sebagai pemain sinetron ikonik pada masa nya, yaitu ggs (ganteng ganteng serigala)
"Ngapain si Wit? Tidur lagi gih," Bryant segera bangun dan memandang Juwita sesaat, sebelum akhirnya menutup matanya Kembali.
"Iya ganti baju dulu,"ujar Juwita, segera bangkit dari tempat tidur, dan berjalan menuju ruang ganti.
"Ngapain sih pakai itu pagi pagi? Ngelindur kamu?" Brayen tampaknya tak sadarkan diri, dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Brayen bahkan kini kembali merebahkan badannya di tempat tidur.
"Agh singkat ceritanya, aku ganti baju dulu," Juwita segera menutup pintu ruang gantinya
Hanya butuh waktu lima menit Juwita mengganti bajunya, Juwita kembali ke tempat tidur di mana Brayen telah tertidur kembali. Juwita berdecak melihat Brayen yang kembali terlelap.
"Ck enak sekali dia tidur, lagian kenapa tiba tiba dia ada di sini? Lagian kak Gilang jahil banget sih, pakai acara bangunin jam dua gini? Kan jadi mandi subuh aku nya," sungut Juwita dengan bergumam, kemudian segera berbaring di samping Brayen, menutup tubuhnya dengan selimut, sembari memunggungi Brayen.
Namun saat Juwita hendak menutup matanya, tiba tiba Brayen menarik Juwita kedalam pelukannya. Juwita tertegun, merasakan tangan hangat Brayen menyusup dari bawah lehernya.
"Hm, Bray, ini kenapa?" Juwita membalikkan tubuhnya, hendak menghadap ke arah Brayen. Juwita pikir laki laki itu tertidur sejak tadi, namun ternyata dugaannya salah.
"Dingin Wit, Ayo tidur," ujar Brayen kini memiliki kesempatan untuk mengusap lembut kepala Juwita.
"I... Iya, ta... tapi," Juwita menjadi salah tingkah sendiri dengan perlakuan Brayen.
Perlakuan Brayen ini mengingatkan nya pada drama drama Korea, yang bergenre romantis. Sepasang kekasih biasanya akan tertidur bersama sembari berpekukan. Juwita menjadi salah tingkah sendiri.
ku
^^^Aduh... Kalau di drama Korea ini romantis sekali, ah sensasinya dia benar benar kekasih ku.^^^
"Hust tidur lagi ya, ngantuk banget," Bryant bahkan menenggelamkan wajahnya di rambut Juwita, sementara Juwita semakin memerah di ujung sana.
__ADS_1
^^^Tolong jangan seperti ini Brayen, kalau kau hanya menganggap ku seperti sebagai teman, dan pacar kontak mu.^^^
Juwita gugup, kini tak bisa memejamkan matanya, Brayen kini memeluknya sangat erat, menenggelamkan kepalanya di dada bidang Brayen.
Juwita kembali tenggelam ke dalam mimpinya, hingga tanpa ia sadari, tangannya juga ikut memeluk Brayen, hingga pagi menjelang.
*Ini benar benar pagi, bukan pagi pagi skenario dari Gilang.
Juwita mengerjapkan matanya, mendapati Brayen yang masih memeluknya dengan erat, Juwita tersenyum memandangi wajah Brayen. Jantungnya kembali berdegup kencang, padahal Brayen hanya menutup matanya, dan rambutnya terkesan acak acakan. Namun entah kenapa, wajah tertidur Brayen begitu menggemaskan, seakan menampakkan wajah polosnya. Tetapi ketika Juwita memandang rambut acak acakan Brayen, tiba tiba Brayen menjadi seksi.
^^^Aduh otak otak, tolong di kondisikan, sebelum ku jual di rumah makan Padang.^^^
Juwita menggelengkan kepalanya mencoba untuk menghilangkan pikiran anehnya. Juwita pelan pelan mengangkat tangan Brayen yang memeluknya erat.
"Hm Wit," Brayen bergumam dengan mata terpejam.
Dug.
Juwita menghentikan aktivitas nya, dan memandang ke arah Brayen. Jantung Juwita kembali berdegup cepat, entah kenapa Juwita merasa Brayen benar benar menginginkannya. Namun kata kata selanjutnya membuat Juwita terhempas seketika dari langit ke tujuh.
"Hm Juwita, minta lauknya lagi," gumam Brayen menggoyang goyangkan tangannya.
^^^Tu kan, benar benar ku jual nantinya.^^^
Juwita menggigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal di dada, yang seakan menghantam kuat, bagai ombak yang menghantam kokohnya karang. Hingga akhirnya berlubang. "Cih ku pikir apa, ternyata dia membicarakan tentang masakan ku? Kau pikir aku tukang masak mu apa," umpat Juwita segera bangun, dan menghempaskan tangan Brayen dengan kasar.
Brayen yang terkejut segera terbangun, dan mendapati Juwita tengah berjalan dengan menghentak hentakkan kaki menuju kamar mandi. Brayen bahkan memandang tangannya yang baru saja di hentakkan oleh Juwita.
"Kenapa dengan nya? Hah, rasanya aku sudah memiliki istri yang galak saja, baru bangun tidur langsung marah marah," gumam Brayen kembali merebahkan kepalanya, namun detik kemudian mata Brayen terbuka, dan memandang ke arah kamar mandi. "Tunggu apa dia marah karena aku tidur di sini?"
Brayen berjalan ke arah kamar mandi, dan mengetuk pintu kamar Juwita hingga beberapa kali. "Wit kamu marah ya? Maaf aku tidur di kamar mu, aku... aku kedinginan."
Juwita semakin kesal saja di buatnya, bukannya menyadari kesalahan mimpinya bahkan igau an nya. Namun Brayen justru bertanya hal lain.
"Ya sudah aku lanjut tidur lagi ya?" Brayen ikut berteriak dari kamar Juwita. "Hm... Apa tadi kau bermimpi buruk?"
"Iya sangat buruk, sana tidur," ketus Juwita, ingin rasanya Juwita melempar Brayen dengan gayung yang berada di kamar mandinya.
Sementara di luar kamar mandi, Brayen mengangguk mengerti mengenai sikap Juwita. Tampaknya Brayen benar benar berfikir bahwa Juwita mengalami mimpi yang sangat buruk, sehingga merusak mood nya lagi ini.
"Oh pantas saja dia menjadi sangat emosional," Brayen mengangguk mengerti, kembali merebahkan kepalanya di atas bantal.
Sepuluh menit kemudian Juwita keluar dari kamar mandi. sembari memandang Brayen dengan penuh kesal. Namun tampaknya laki laki itu kini kembali terlelap.
"Cih lihat dirinya, enak saja tertidur setelah membanting mood ku," gumam Juwita, memoles bedak tipis di wajahnya.
Juwita menghentakkan kakinya kemudian keluar dari kamarnya. Juwita segera berjalan menuju dapur, dengan beberapa sumpah serapah untuk Brayen.
Juwita segera memasak makanan untuk mereka bertiga. Juwita hanya membuat omlet telur, nasi goreng dan jus hangat untuk mereka. Tak lupa dengan potongan sosis.
Setelah matang Juwita segera kembali bergegas dan mengganti pakaiannya, nanti jam delapa dirinya sudah harus sampai di rumah sakit.
Brayen dan Gilang tampak nya belum juga terbangun, sampia pada jam munujukkan angka tujuh. Juwita segera sarapan sendiri, dan bergegas ke rumah sakit. Seperti biasa Juwita menjalani aktivitas nya sebagai seorang dokter.
Sementara di rumah Juwita, Brayen saat ini tengah duduk bersama dengan Gilang, sembari memakan masakan Juwita.
"Masakan adik ku enak bukan?" Gilang mulai membuka suaranya, si sela sela makan mereka.
"Hm, sangat, memangnya kenapa?" Brayen menghentikan aktivitas nya.
"Tidak aku khawatir kau akan terpikat dengan masakan adik ku," ujar Gilang terkekh. Brayen takut ikut terkekh, meski canggung.
__ADS_1
"Masakannya memang memikat, namun matanya lebih menarik," jujur Brayen membuat Gilang memandang ke arah Brayen.
"Ah matanya, aku kira bibirnya, buka kah sangat lembut, aku rasa kalian sangat lama dengan adegan tersebut, sampai sampai tak mendengar suara bell yang tekan hingga beberapa kali," Gilang kembali menggoda Brayen. Sontak saja membuat wajah Brayen memerah, malu.
"Hem..." Brayen berdehem, menghilangkan rasa gugupnya, sontak membuat gila g terkekeh.
"Sudah lah, lupakan saja. Ngomong ngomong semalam Juwita benar benar memperbolehkan mu tidur di sampingnya?" Gilang kembali memancing Brayen, ini adalah hobi barunya, menggoda Brayen.
"Hm... Sebenarnya bukan seperti itu, awalnya aku tidur di situ, namun karena merasa tidak nyaman dan juga kedinginan, akhirnya aku masuk ke kamar Juwita," ujar Brayen jujur. Sebenarnya Brayen malu mengatakan hal tersebut.
"Cih aku tahu itu sebagian dari modus mu," tuding Gilang memandang Brayen dengan tajam.
"Tidak, sebenarnya aku sakit..." Brayen hendak jujur, tapi juga takut akan bernasib sama dengan Chandra, saat ketahuan kakek Rio.
^^^Eh kenapa aku takut? Kan aku tidak memiliki hubungan apapun dengan si penyihir.^^^
"Sakit apa?" Pernyataan dari Gilang membuyarkan lamunan Brayen.
"Sebenarnya aku belum sepenuhnya sembuh," Brayen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku mengalami penyimpangan..."
"Seksual?" Tebak Gilang tepat sasaran.
"Hm... Kau tidak terkejut? Apa Juwita menceritakan nya?" Brayen memandang tajam ke arah Gilang.
"Hm, dia bilang dia tidak takut pada mu, karena kau mengalami penyimpangan seksual," jujur Gilang, karena memang begitulah adanya. "Tapi aku sedikit tidak yakin kalau kau belum sembuh, atau kau hanya berpura pura sakit? Apa yang kau inginkan dengan Juwita?" Gilang menghentikan aktivitas nya, Gilang menajamkan matanya, dan meletakkan sendok di piringnya, bersiap mendengar kata kata deh Brayen.
"Aku tidak menginginkannya apa pun, aku hanya membantu nya untuk sembuh," ujar Brayen, sedikit gugup karena ia seperti di interogasi oleh calon kakak ipar.
"Iya aku tahu, tapi bahkan dari tindakan mu padanya, semua orang tahu bahwa kau memiliki rasa padanya. Terlebih caramu men*ci*um bi bir nya," ujar Gilang menghela nafasnya kasar. Ini yang bilang takutkan, kalau Brayen hanya sebatas memperhatikan Juwita, tanpa ada rasa. "Sudah berapa kali kau mencium bibirnya?"
"Hm... Aku, aku, lupa," jujur Brayen semakin gugup.
"Apa?! Kau bahkan melupakannya? Berarti kalian sering melakukannya?" Gilang benar benar tak menyangka hal ini akan terjadi.
"I... Iya," Brayen bahkan tergugup ketika mengatakannya.
"Dengar jangan mempermainkan perasaan adik ku, kau tahu perasaanya sangat rapuh, meski terlihat tegar. Ingat hati bukan ajang coba coba," Gilang segera memperingati Brayen dengan helaan nafas kasar.
"I... Iya aku... aku mengerti," ujar Brayen merasa tidak enak enak sendiri.
"Sebenarnya bagaiman perasaan mu padanya?" Gilang kembali ingin memastikan nya.
"Aku... aku tak tahu, hanya saja aku nyaman dan percaya padanya," ujar Brayen jujur, ia kini meraih gelas penuh yang berada di sampingnya. "Dia pernah mengatakan nya pada ku, jika aku dapat sembuh dan membuktikannya, dengan memiliki kedekatan khusus dengan lawan jenisnya," jujur Brayen.
"Kalau begitu jangan menunjukkan sesuatu yang lebih padanya, saat dia tahu alasan mu maka dia akan terluka," ujar Gilang tengah, namun dari raut wajahnya terlihat kilat kembaran di sana. "Menjauh lah darinya, kau memperlakukan nya seperti itu, wanita mana yang tak jatuh cinta."
"Tapi..." Bryan sedikit tidak menyukai perintah dari Gilang.
"Kau tidak menyayanginya bukan? Kalau begitu jangan beri dia harapan," Tuaka Gilang tegas.
"Hm... aku mengerti," akhirnya Brayen mengangguk pasrah, dirinya juga tak ingin mempermainkan perasaan Juwita.
"Saat dia pergi dari mu, mungkin kau akan merindukannya, atau bahkan mencarinya," gumam Gilang, yang masih bisa terdengar oleh Brayen.
"Maksudnya?" Brayen memicingkan matanya, ingin mendengar sekali lagi pernyataan. yang di keluarkan oleh Gilang.
..."Hei bung sadari perasaan mu, jangan setelah dia pergi."...
......................
Good morning everybody...
__ADS_1
Pagi ini othor cuantek up, jadi jangan lupa vote 20000 kata lagu nih, content, dan beri hadiah kembang setaman ya...
Kalua komentar, like, vote, dan hadiahnya banyak, othor double up deh. Hitung hitung ngasih othor cuantek semangat wkwkwk.