
Brayen baru saja terbangun tepat pukul lima pagi, Brayen terus memperhatikan wajah Juwita yang polos tanpa make-up, benar benar cantik di mata Brayen. Brayen tersenyum mengulurkan tangannya menyentuh wajah cantik Juwita, Brayen mengusap pipi Juwita.
^^^Lembut.^^^
Brayen tersenyum ketika tangannya mendarat di pipi Juwita. Brayen segera menusuk pelan pipi Juwita dengan telunjuknya, sontak semakin membuat Brayen menjadi gemas sendiri.
Juwita mengerjapkan matanya merasa terganggu, Juwita pelan pelan membuka matanya dan melihat wajah Brayen yang tersenyum hangat ke arah nya.
"Morning my princess," ucap Brayen mengecup kening Juwita.
"Hm," Juwita masih malas untuk berbicara.
"Kau tak mau bangun?" Brayen mengusap lembut wajah Juwita.
"Tidak, aku sedang datang bulan, jadi tidak sholat. Kau lakukan sendiri," ujar Juwita kembali menutup matanya.
"Hm, aku masih belum hapal bacaan," ujar Brayen sedikit malu.
"Aku rasa tidak apa apa jika kau hanya membaca Al-fatihah, dan mengikuti gerakan sholat," Juwita membuka matanya.
"Aku juga belum hapal Al-fatihah," ujar Brayen tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya.
"Aduh bagaiman ini? Ya sudah kau sholat sebisa mu, mungkin akan di terima, yang penting niat mu," ujar Juwita pusing sendiri.
"Aku niat masih pakai bahasa Indonesia ya," ujar Brayen mengerucutkan bibirnya.
"Iya tidak apa apa, yang penting niat mu ungu sholat subuh," Juwita menggaruk kepalanya bingung sendiri.
"Ya sudah aku bangun dulu," ujar Brayen segera beranjak dari tempatnya tidur, sementara Juwita menutup matanya kembali.
Brayen mengenakan peci dan sajadah pemberian pak Yusuf kemarin, dan mulai melakukan gerakan sholat. Juwita tersenyum, meskipun terlihat kaku, namun itu tampak lebih baik di mata Juwita.
Setelah Brayen melakukan gerakan terakhir yaitu salam, Juwita segera beranjak dan menuju kamar mandi, Juwita menunaikan hajat buang air kecil, dan mencuci wajahnya.
Juwita jika sedang datang bulan, akan sangat malas mandi, bahkan jika bisa tidak menyentuh air maka Juwita akan melakukannya. Untung saja Brayen paham dengan keadaan Juwita.
Juwita segera bergegas ke dapur, dan mulai membuat sarapan untuk mereka berdua. Setelah selesai membuat sarapan, Juwita segera menunggu Brayen keluar dari kamar mandi. Brayen tampak sangat tampan dengan kaus oblong yang melekat di tubuh atletisnya. Juwita terkesima melihatnya, jujur saja Juwita seolah Kemabli jatuh cinta kepada pacarnya itu.
"Wih enak ini sayang," ujar Brayen membuyarkan lamunan Juwita. Mata Brayen tertuju pada sandwich buatan Juwita yang menggugah selera. Sandwich memang sarapan favorit Brayen, tidak terlalu berat untuk perutnya, namun membuat kenyang.
__ADS_1
Brayen mengecup kepala Juwita, sebelum akhirnya duduk di kuris. Juwita ikut duduk di sampingnya. dengan menaikkan kakinya. Karena menurut Juwita saat ini, udara pagi terlalu dingin untuk nya.
Setelah makan siang, Brayen segera membatu Juwita untuk mencuci peralatan makan mereka, dan meminta Juwita untuk menunggu di sofa ruang tamu, saja. Setelah mencuci piring Brayen segera menyusul Juwita, dan memeluk wanita itu.
"Kau tidak bekerja?" Juwita bersandar di dada Brayen, sembari menonton televisi, dengan tayangan Spongebob Squarepants.
"Tidak nanti siang saja," Brayen mengusap lembut kepala Juwita.
......................
Brayen saat ini tengah menemani Juwita yang tengah melakukan terapis kepada Jojo, kali ini Jojo asli yang keluar. Kali ini Jojo terlihat lebih tenang, pendiam, dan sedikit canggung. Jojo lebih suka menundukkan kepalanya, seolah merasa rendah diri.
Brayen dan Aska terus memperhatikan percakapan pasien dan dokter tersebut yang tampak sangat serius. Juwita mencatat beberapa hal, yang mendetail.
"Hai kak, kakak tidur di sini?" Aska tersenyum menyelidik ke arah Juwita.
"Memangnya kenapa?" Brayen mengerutkan keningnya belum menangkap maksud dari Aska.
"Wah enak sekali, aku kalau ketahuan mama pasti akan di kutuk menjadi sendok, enak sekali," Aska menggeleng iri.
"Makanya tumbuh menjadi dewasa," uajr Brayen terkekeh.
"Tidur, makan, mandi, dan menemani Juwita," uajr Brayen menyebutkan aktivitas nya lagi ini.
"Ais bukan itu kak maksudnya, kakak sudah unboxing?" ujar Aska dengan wajah yang sangat serius.
"Aku sedang tidak kedatangan paket," Brayen
dengan wajah polos.
"Aduh kakak, kenapa kau polos sekali?" geram Aska.
"Aska jangan mengajarkannya uang tidak tidak, sudah cukup Chandra yang mengiriminya video aneh," Juwita memperhatikan Aska dari tempatnya.
"Ais kak, kalau mengobati pasien fokus, ini urusan para laki laki," Aska geram melihat kedua pasangan ini.
"Ck," Juwita ikut geram, namun sedetik kemudian dia kembali tersenyum dan fokus pada pasien.
"Kak kau polos sekali? Masa unboxing kau tidak tahu?" ujar Aska tersenyum miring.
__ADS_1
"Aku tahu! Aku itu besar di Amerika, mana mungkin aku tak tahu," Brayen protes, pikirannya unboxing versi Aska itu sama dengan unboxing versi dirinya yang tak mengerti bahasa gaul anak muda.
"Aishah, bukan arti yang sesungguhnya," geram Aska
"Lalu?"
"Agh... kenapa kau terlalu polos kak? Apa selama ini kau hanya tahu tentang bisnis? Apa kau tak tahu tentang unboxing?" Aska pusing sendiri segera menyenderkan kepalanya di kursi.
"Aku tahu unboxing itu apa," Brayen tetap ngotot.
"Agh... Aku akan mengambil air minum saja," Aska akhirnya menyerah.
"Apa apaan sih dia, memangnya dia pikir dia sapa? Masa aku tak tahu arti unboxing itu apa," proses Brayen melihat kepergian Aska.
Juwita dan Jojo mendekati Brayen, yang tengah berfikir keras. Jojo tampak tersenyum canggung. Jojo merasa kecil menghadapi orang orang yang di sudah pasti keadaan finansial nya di atas dirinya.
"Tenang saja, kau dan aku dari tempat yang sama, hanya saja aku di besarkan oleh keluarga angkat ku, jadi jangan berkecil hati. Pasti akan ada yang menyayangi mu, layaknya keluarga, contohnya Aska," Juwita mencoba menghibur Jojo, agar tidak canggung.
"Wah sedang membicarakan ku ya? Ah wajar saja aku kan sangat tampan," Aska datang dengan membawa air minum.
"Dasar narsis," desis Juwita.
"Itu harus, percaya diri adalah kunci utama," Aska berucap sombong.
Lama mereka berbincang bincang, sampai akhirnya Juwita izin ke belakang, dan hendak membuat makan siang untuk mereka.
"Kau tahu masa laluku bahkan tidak sebaik apa yang kau bayangkan. Aku di besarkan oleh keluarga angkat, dan bahkan tidak mengetahui siapa orang tua ku," Brayen mulai membuka topik pembicaraan.
"Bagaiman kau bisa melewati semua ini?" Aska bertanya dengan wajah serius.
"Entah lah, jalani saja. Aku bahkan tidak punya tips sama sekali, Aku juga tak menyangka berada di posisi ini," ujar Brayen menatap lurus. "Jadi kau harus semangat, kau masih muda, buktikan kedepannya kau bisa bekerja dengan baik."
"Te... terimakasih," Jojo sedikit menunduk ketika mengatakannya.
"Hai jika ingin sukses buang rasa tidak percaya diri mu, kunci utama sukses itu percaya kepada diri sendiri," ujar Brayen menasehati Jojo.
"Baik," ujar Jojo memandang ke arah Brayen.
Guys cuman mau mengingatkan bahwa give away masih berjalan loh, jadi jangan lupa beri dukungan ya, dengan cara, klik like, komentar, kemudian beri hadiah dengan bunga sekebon, atau kopi secangkir, dan beri vote...
__ADS_1