
Senin, hari kedua.
(Kejutan yang indah)
Juwita terbangun dengan berada di pelukan hangat Brayen, Juwita tersenyum melihat pemandangan paginya, bukan cuman pemandangan Udaipur yang benar-benar memanjakan mata, namun juga pemandangan wajah Brayen yang masih terpejam, dengan dengkuran halus dari bibir nya.
Tampan.
Satu kata yang menjelaskan pemandangan pagi Juwita, Juwita semakin mengeratkan pelukannya. Mengalihkan perhatian nya ke arah luar jendela, yang tirainya lupa mereka tutup semalam. Juwita terkesima melihat pemandangan, yang tersaji. Rasanya ingin berlama lama di sini saja, berdua dengan kekasihnya.
Hati siapa yang tak luluh memandang deretan istana, taman, dan danau menyatu indah dalam satu lanskap. Tempat yang di juluki 'Vanesia dari timur' itu. Bukannya tanpa alasan julukan 'Venesia dari Timur' berhasil diboyong oleh Kota Udaipur. Kota ini dipenuhi istana-istana megah dengan taman-taman cantik menghiasi pelatarannya. Keindahan itu lalu diabadikan lewat pantulan air danau yang tenang.
Bersandar pada wilayah Pegunungan Aravalli, kota ini diberkahi lanskap yang indah. Tiap wilayahnya terhubung oleh tiga danau utama, yaitu Fateh Sagar, Pichola, dan Swaroop Sagar.Arsitektur kota yang menawan terlihat dari bangunan-bangunan dengan ciri khas Mughal, Rajashtan, China, serta Eropa abad pertengahan. Hal ini terlihat jelas lewat gabungan unsur kaca, marmer, lukisan, interior dari perak, serta mosaik warna-warni yang menghiasi banyak sudut bangunan.
Pagi menyingsing, membuat kota tersebut semakin indah di pandang mata, Juwita segera bangkit, membuat Brayen mengeratkan pelukannya. "Sayang kita makan di kamar ya, malas bangun soalnya," ujar Brayen.
"Ya sudah, tapi sehabis sarapan kita turun ke danau Pichola," ujar Juwita segera melepaskan pelukan hangat Brayen.
"Tidak mau, cium dulu," ujar Brayen manja.
"Hm... manjanya pacar ku," Juwita segera mengecup pipi Brayen, namun Brayen tak kunjung melepaskannya.
"Di bibir, bukan pipi," Brayen membuka matanya membuat Juwita tersenyum bersemu. Mata abu abu tajam milik Brayen selalu menyihirnya.
Juwita segera mengecup bibir Brayen kemudian beranjak pergi, Juwita terus mengibas wajahnya ketika berada di kamar mandi.
Brayen tersenyum segera bangun dari tempat tidur, Brayen menyambar telepon untuk meminta awak kabin mengantarkan sarapan mereka. Tentu saja para awak kabin setuju, presidential suite room memang memiliki keistimewaan tersendiri, mampu meminta pelayanan lebih.
"Lah sayang, tumben pakai jubah mandi, biasanya langsung bawa baju," ujar Brayen mengalihkan pandangannya. Pasalnya pagi ini Juwita terlihat sangat seksi jika mengenakan jubah mandi.
__ADS_1
"Lupa tadi," ujar Juwita segera berlari menuju ruang tidur mereka, memakai baju miliknya.
Sementara Brayen segera mandi dan menenangkan baby Bray yang tadi sempat menampakkan sinyal panasnya. Sarapan pagi datang, mereka segera duduk di sofa, dengan melihat panorama alam yang indah. Juwita terus tersihir oleh keindahan alam.
Setelah sarapan, mereka di arahkan turun dari kereta, demi menikmati danau Pichola. "Kamu mau naik perahu sayang?" Brayen memeluk pinggang Juwita, yang saat ini telah terbebas dari masker dan topi, atas bujuk rayu Juwita.
"Hm, aku ingin naik perahu, pasti akan sangat menyenangkan, nanti kita foto ya, di kota paling romantis ini," ujar Juwita menggandeng tangan Brayen.
Cup. "Iya sayang," Brayen memberi satu kecupan di kening Juwita, membuat gadis itu tersenyum.
"Apa di sini ada perahu sewaan? Aku dan kekasihku ingin menaikinya hanya berdua," Brayen bertanya kepada kepada pemandu wisata tersebut. Pemandu wisata tersebut tersenyum kemudian mengangguk.
"Tapi ingat tetap berada di belakang kami. Aku akan meminta pengemudinya untuk mengikuti perahu yang lainnya," ujar pemandu wisata tersebut, kemudian memanggil salah satu pengemudi perahu untuk mengikuti instruksi nya dengan menggunakan bahasa India.
Sebuah istana yang bersedia di tengah danau memberikan kesan yang sangat indah di mata para turis yang berkunjung. Brayen menarik pinggang Juwita yang tengah duduk di belakang pengemudi. Brayen mulai menyambar bi bir Juwita, dan me*lu*mat*nya di tengah danau, tepat di tengah istana megah tenaga danau. Mereka semakin terlena, hingga Juwita tanpa di sadari naik ke atas pangkuan Brayen. Brayen terus mengusap punggung Juwita dengan lembut, membuat Juwita sedikit melenguh nikmat. Setelah mereka merasa kehabisan nafas akhirnya mereka melepas pa*ngu*tan bi bir mereka. Juwita dengan cepat turun dari pangkuan Brayen.
Brayen tersenyum membawa Juwita ke dalam pelukannya, inilah yang ia inginkan, jika bersama dengan turis lain, maka ia tidak akan leluasa bersama dengan Juwita. Dan pastinya gadis itu akan menolaknya karena merasa malu di depan umum. "Kota ini memang sungguh romantis," bisik Brayen segera mengusap lembut bi bir Juwita yang tadi telah ia gigit dengan gemas.
Juwita mengangguk malu, bagaiman mungkin mereka melakukan hal itu, tepat di tepat umum, sungguh sangat memalukan pikir Juwita.
Mereka berhenti di city Palace, di mana tempat sebuah istana berbaris megah. City Palace menghadirkan keindahan arsitektur bangunan yang sudah tidak bisa diragukan. Berlokasi di tepian timur danau Pichola terdapat sebuah komplek kerajaan yang telah disulap menjadi tempat wisata bersejarah.
Bangunan kerajaan ini nampak memiliki nuansa perpaduan gaya arsitektur bangunan Eropa, Rajashtani dan Munghal. Letaknya yang sengaja didirikan di sebuah puncak Bukit Aravalli bertujuan untuk memberikan efek pemandangan kota di belakangnya.
__ADS_1
Bangunan ini terbilang sebagai salah satu istana terbesar dan termegah di kota Rajashtan. City Palace ini memiliki panjang bangunan sepanjang 244 meter yang terletak di sepanjang tepian timur Danau Pichola.
Tinggi bangunan mencapai 30,4 meter dan dihiasi dengan berpuluh-puluh balkon, taman, menara. Ada juga museum yang menyimpan semua sisa kekayaan Maharaja Singh II, sang konglomerat pendiri kerajaan.
Mereka masuk ke dalam bangunan melihat istana megah dan mewah, tempat di mana para keluarga kerajaan tinggal. Byen tiba tiba mengajak Juwita ke bagian istana yang cukup megah.
Para turis banyak uang berkumpul di sana, mengambil sua foto, dan menjelajahi keadaan istana tersebut. Tiba tiba seorang wanita dengan berpakaian lengkap Sari India datang memberikan Juwita sebuah bunga, awalnya Juwita sangat bingung, namun Juwita tetap menerimanya. "Thanks."
Wanita itu menunduk, dan pergi meninggalakan Juwita dan Brayen yang masih menikmati keindahan istana. Beberapa turis melihat hanya Juwita yang di berikan bunga menjadi sedikit bingung.
Kini Brayen membawa Juwita ke tempat yang sedikit sepi, mencari waktu dan keadaan yang tepat. Saat melihat suasana mulai sepi, meski ada beberapa turis. Tepat bunga kedua, dan beberapa anak yang datang membawa bunga bunga kecil, Brayen berlutut, dan membuka sebuah kotak kecil bludru. "Will you marry me?"
Juwita seketika menutup mulutnya, dan menangis. Lidah Juwita tiba tiba keluh, tak dapat berkata kata. Beberapa turis kembali ke tempat mereka, dan melihat lamaran tiba tiba Brayen. Beberapa di antara mereka merekam kejadian tersebut. Juwita mengangguk mengiyakan lamaran Brayen. Brayen segera berdiri dan memasangkan cincin tepat di hari manis Juwita kemudian mengecup kening gadis tersebut. Semua yang menyaksikan bertepuk tangan.
Setelah kejadian menghebohkan tersebut, mereka segera makan siang di tempat yang telah di atur oleh pemandu wisata. Usai makan siang mereka kembali di minta untuk kembali ke kabin, demi menjalankan kembali kereta ke tujuan selanjutnya.
Juwita yang sejak tadi terus tersenyum melihat cincin yang di berikan Brayen, membuat Brayen ikut tersenyum. Brayen mendekat dan memeluk tubuh wanita yang baru saja ia lamar. "Mau tidur siang?" Brayen menangkup pipi Juwita. Juwita mengangguk malu malu, membuat Brayen gemas sendiri.
Brayen segera mengajak Juwita untuk ke tempat tidur, Juwita membaringkan dirinya di samping Brayen, yang telah berbaring terlebih dahulu. Tak ada kata yang keluar, mereka terus memandang pemandangan indah di luar. Jantung mereka berdebar kencang, membuat mereka semakin mengeratkan pelukan. Brayen sesekali mengecup puncak kepala Juwita. Seolah mempresentasikan perasaannya yang sangat dalam.
................
Hai jangan lupa tinggalkan jejak, vote ya, sama jejak like dan komentar. Karena semua itu membuat perjalanan Brayen dan Juwita menjadi semakin lancar.
__ADS_1