
Brayen baru saja tiba segera menelpon Juwita, namun tampaknya gadis itu belum menghidupkan ponsel nya juga, Brayen segera mengirimi pesan kepada Juwita.
...Wit ini aku sudah di Kalimantan, tadi aku telfon kamu ga aktif, masih mati mungkin ponsel kamu...
Brayen tersenyum kala melihat pesan telah terkirim, meski Juwita belum menerimanya.
^^^Cih kemarin kemarin belok, sekarang lagi kasmaran dengan nona Juwita.^^^
Indri menggelengkan kepalanya melihat tingkah Brayen, yang tersenyum sendiri ketika melihat ponselnya.
"Tuan mari, jemputan kita sudah datang," ujar Indri meminta Brayen untuk segera berjalan menuju pintu keluar bandara.
Brayen mengikuti langkah Indri, yang berjalan mendahuluinya, dengan membawa koper miliknya sendiri. Brayen terus memandangi ponselnya, menunggu Juwita untuk membalasnya. Namun gadis itu tampaknya tak kunjung menghidupkan ponselnya.
Brayen mulai resah, khawatir dan takut menghantui dirinya. Takut jikalau terjadi sesuatu kepada Juwita, resah jika Juwita sengaja mengabaikannya. Dan akhirnya Brayen memutuskan untuk menghubungi kakek Rio.
"Halo kek," ujar Brayen ketika ponsel di angkat oleh kakek Rio.
"Halo Brayen, kenapa?" terdengar kakek Rio di ujung sana.
"Kakek di mana sekarang?" Brayen sedikit hati hati
"Masih di rumah sakit, Tante Mona kamu ada urusan mendadak, Aliya tidak ada yang menjaga, memangnya kenapa?" kakek Rio terdengar penasaran.
"Hm, tidak tadi Brayen kira kakek sudah berada di rumah," Brayen sedikit ragu hendak mengungkapkannya.
"Kenapa? Kamu mau menghubungi Juwita?" tebak kakek Rio.
"Hm, Iya kek, tapi nomor nya tidak aktif juga," ujar Brayen.
"Ya sudah kakek telfon maid dulu ya."
"Iya kek," ucap Brayen, sebelum akhirnya sambungan telfon di putus oleh kakek Rio.
^^^Wit kemana sih? Kok di hubungi malah tidak aktif? Kau tidak apa apa kan?^^^
Hanya berselang lima menit Brayen menunggu telfon dari kakek Rio, dan kakek Rio kembali menelfon nya.
"Halo kek," ucap Brayen dengan nafas berat, tak sabar ingin mendengar penjelasan kakek Rio.
"Halo, Brayen! Tadi kata maid Juwita tidur di kamar, jadi mungkin dia memang belum mengaktifkan nomor telepon nya," ucap kakek Rio, membuat Brayen menghempaskan nafas leganya. "Jangan khawatir kalau ada apa apa maid pasti menghubungi kakek."
__ADS_1
"Iya kek, terimakasih. Tolong titip Juwita ya," ucap Brayen membuat kakek Rio di ujung sana terkekeh geli.
"Tentu saja dia cucu kakek, kau di sana hati hati, jangan sampai sakit Juwita pasti akan merindukan mu."
"Iya kek pasti, sekali lagi terimakasih."
"Tuan kita sudah sampai,"
"Kek sudah dulu ya, Brayen sudah di penginapan," ujar Brayen setelah akhirnya telpon terputus.
Seluruh pegawai berbaris menyambut kedatangan pemilik penginapan tersebut, Brayen hanya mengangguk dan memperhatikan ke sekeliling tempat tersebut.
Brayen memandang ke segala arah, dan melihat lihat arsitektur dari penginapan tempatnya berkunjung saat ini. Brayen tersenyum melihat di sekelilingnya. Tampak banyak pengunjung, dengan beberapa tentengan, tampak beberapa orang sedang berlibur bersama keluarga, dan sahabat.
"Bagus," ucap Brayen, segera menuju arah kamarnya. "Sepertinya di bagian ini tidak ada Maslah."
"Tuan silahkan ikut kami," ujar salah satu pegawai penginapan tersebut.
Brayen melihat sekeliling, dan memperhatikan keadaan tempatnya yang terlihat cukup ramai. Brayen kembali mengernyit bingung dengan omset yang di maksud pengurus hotel tersebut.
Brayen masuk ke dalam kamar yang telah di persiapkan. Brayen membuka kaca jendela yang menampakkan keadaan alam yang sangat indah.
^^^Seandainya saja di sini aja Juwita, mungkin lebih baik lagi.^^^
"Masih tidur ya," gumam Brayen, segera mengirimi pesan kepada Juwita.
...Wit ini aku sudah sampai di penginapan, bagus banget tempatnya, nanti kalau kamu cuti kita kesini deh....
Sore hari Brayen mencoba menghubungi Juwita kembali namun masih tidak bisa.
"Dasar kebo, apa dia masih tertidur? Mungkin efek obat menyebabkan dia tertidur. Sekalian dia istirahat, biasanya kan dia tidur tidak cukup," gumam Brayen sembari turun ke lantai satu. Sembari mengirim pesan kepada Juwita.
...Wit masih belum aktif ya, ya sudah kamu istirahat dulu, nanti malam mungkin aku akan sibuk, jadi mungkin tidak akan bisa menghubungi kamu....
Brayen berniat berkeliling, melihat masalah penginapan tersebut, sehingga katanya mengalami penurunan omset.
Namun tiba tiba ponsel Brayen berbunyi, dan menampilkan nama Chandra. Brayen segera mengangkatnya.
"Halo Chandra, kenapa? Apa terjadi sesuatu pada Juwita?" Brayen segera bertanya, Brayen tahu Chandra tak akan menghubunginya jika tidak ada yang penting.
"Ah tidak, kau terlalu memikirkannya. Aku cuma mau mengatakan bahwa pernikahan ku di majukan dua hari."
__ADS_1
"Ah iya, aku akan berusaha lebih cepat," ucap Brayen sembari berjalan menuju resto, melihat keadaan resto.
"Dan jangan lupa renungkan perasaan mu."
"Memang nya apa yang pertama kau rasakan ketika jatuh cinta pada Al?" Brayen tampak memperhatikan sekitar resto, yang terlihat sangat ramai.
"Aku merasa kesal ketika Al bersama laki laki lain, aku merasa selalu merindukannya ketika dia tidak ada, mencarinya setiap saat, itulah cinta, aku harap kau mengerti, dan menyadari perasaan mu."
"Terimakasih. Sampai jumpa nanti, pasalnya ada sesuatu yang penting," ujar Brayen segera mematikan sambungan telfonnya, dan berjalan mengikuti pengelola penginapan, dan seorang staf dari deviasi keuangan.
Brayen segera mengirimi pesan kepada Juwita, karena pastinya ia akan sangat sibuk hari ini.
...Wit ini aku sedang mencoba menyelesaikan secepat yang aku biasa, tadi Chandra mengatakan pernikahan mereka akan lebih cepat dari rencana, jadi aku akan sedikit kesulitan menghubungi kamu...
Brayen menyimpan ponselnya, dan segera mengendap ngendap mengikuti kedua orang tersebut. Mereka tampak ke belakang perkebunan penginapan tersebut, yang mana di ujung sana terdapat hutan.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika bos curiga? Meski hari ini tamunya tidak banyak seperti biasanya, tapi ini tetap ramai, bos akan sangat curiga," ucap laki laki yang mungkin berusia hampir sama seperti Brayen. Laki laki yang di duga kaki tangan pengelola penginapan tersebut, terus berjalan cepat, mereka tampak menuju suatu tempat. Brayen segera merekam keduanya, demi menjerat kedua anak buahnya.
"Dasar penakut, kau pengecut, apa kau pikirkan? Kita hanya harus bersikap biasa saja, dan membuat bagian anak buah mu mengakui bahwa mereka melakukan kecurangan, jangan bodoh," ujar pengelola keuangan tersebut.
"Siapa lagi yang akan menjadi kambing hitam?" ujar pria tersebut terus berjalan.
"Tentu saja monik, wanita itu kan belum kabur dari dalam hutan, lagian keluarganya semua berada di Jogjakarta, Semua akan mengira dia membawa uang dari perusahaan, dan kita terbebas," ujar laki laki itu tampak baru saja sampai di sebuah gubuk, di tengah hutan.
Brayen terkejut, melihat tanah yang belum ia kelola itu, ada sebuah gubuk di dalam sana, tepatnya seperti di sebuah gubuk. Brayen terus merekam dan mendekat, hingga menginjak sebuah ranting, dan menimbulkan suara.
"Siapa di sana?!" pengelola keuangan yang bertubuh gempal tersebut segera berlari, mendekat ke arah asal suara. Laki laki tersebut tampak mengeluarkan senjata tajam, miliknya.
Brayen tahu ia akan tamat jika begini, Brayen segera berlari dari daerah tersebut, sembari menelfon Indri.
"Ya halo tuan?"
"Segera kirim polisi ke hutan di belakang perkebunan penginapan kita, aku akan mengiri mu videonya," ujar berayun segera mematikan sambungan telfonnya. Brayen segera mengirim video yang ia tangkap tadi, kepada Indri.
Karena terlalu fokus kepada ponselnya, Brayen terpleset hingga terjatuh di sebuah lubang yang sangat dalam, tampaknya itu di gunakan warga untuk menangkap binatang liar. Brayen segera bersembunyi, kala mendengar suara kedua anak buahnya. Brayen mencari ponselnya, namun naas ponselnya tenyata retak, dan tak bisa di gunakan.
Brayen segera menurunkan volume suara ponselnya, agar jika ada yang menghubunginya tak dapat terdengar oleh orang lain.
......................
Sementara Juwita yang saat ini sedang mencoba berjalan ke arah dapur, sembari membawa gelas to tangannya. Tiba tiba terjatuh, membuat semua maid segera mendekat, hendak membawa Juwita menjauh dari pecahan gelas tersebut. Kakek Rio segera mendekat ke arah Juwita yang tampak syok. Seorang maid segera memberikan Juwita air minum, untuk menetralisir detak jantungnya.
__ADS_1
^^^Brayen kau tidak apa apa kan? Kenapa perasaan ku menjadi tidak enak?^^^
Hai guys maaf tidak bisa rutin seperti dulu, pasalnya othor juga harus bekerja demi menyambung hidup othor. Karena itu mohon like dan komentar, serta beri dukungan dan vote biar othor semangat terus nulisnya. #pejuangredceh