CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Pulang.


__ADS_3

"Eh kakek, ayo sarapan," ajak Juwita tersenyum ke arah kakek Rio.


"Tidak kakek tadi sudah, di belikan Chandra," ujar kakek Rio mendekat melihat ke arah Juwita, cucu kesayangan nya. "Brayen sudah siap siap?"


"Sudah kek," jawab Brayen sembari mengusap bubur yang melekat di bibir Juwita, Brayen kemudian menjilat sisa bubur tadi. "Hm pantas kau suka, rupanya memang enak."


Sontak saja pipi Juwita memerah, bagaiman tidak, menurut semua wanita normal, itu sangat manis.


Kakek Rio tersenyum melihat kebersamaan tersebut, tampak jelas ada banyak cinta di mata keduanya. Kakek Rio diam diam bersyukur, akhirnya ada yang nenjaga Juwita, sebelum ia pergi.


"Maaf tuan ada telfon dari pimpinan cabang," sekertaris Brayen sayang mendekat ke arah Brayen.


"Ah iya, mana?" Brayen segera mengambil alih ponsel yang ada di genggaman tangan sekertarisnya.


"Halo," Brayen memandang ke arah tangannya, yang ternyata masih memegang bubur ayam milik Juwita, yang masih ada hampir separuh.


"Nona bagaimana kabar anda? Saya terkejut mendengar kabar dari tuan, bahwa anda masuk rumah sakit,"


"Tidak apa apa, mungkin akan baik baik saja," ujar Juwita tersenyum


"Indri, urus keberangkatan saya ke Kalimantan, ada masalah di sana," Brayen kembali duduk di hadapan Juwita, dan menyuapi Juwita bubur ayam tersebut.


"Iya tuan," jawab Indri, sekertaris Brayen. "Saya permisi."


"Wit kamu baik baik ya di sini, jika ada masalah telfon, jangan lupa kabarin," ucap Brayen di sela menyuapi Juwita. "Aku usahain pulang cepat, nanti aku minta pengawal jagain kamu di sini, sama jangan sendirian di rumah."


Brayen seakan lupa bahwa di sini tak hanya mereka berdua, namun juga ada kakek Rio. Yang menjadi saksi kebersamaan mereka.


"Kamu berapa lama di sana Brayen?" kakek Rio segera bertanya, membuat Brayen memandang ke arah kakek Rio.


"Mungkin satu minggu kek, mau mengejar pernikahan Chandra dan Aliya juga. Tadi Chandra bilang setelah Aliya sembuh," ujar Brayen.


Memang tadi saat Brayen tengah menelfon anak buahnya di luar ruang Juwita, ia bertemu dengan Chandra, dan Chandra lah yang memberitahu kan kabar bahagia ini. Jelas Brayen juga ikut senang mendengar kabar tersebut.


"Hah? Wah Alhamdulillah kek, jadi tidak sabar mau fiting baju nih," ucap Juwita bersenang.


Brayen segera mengusap lembut lutut Juwita, tampaknya mood gadis itu kembali membaik, setelah kemarin uring uringan tak menampakkan senyum secerah ini.


"Alhamdulillah, makanya kamu cepat sembuh ya," ujar kakek Rio tersenyum hangat. "Setelah ini kalian. Jangan terlalu lama pacaran, nanti jodohnya di ambil alih."


"Uhuk... uhuk..." (Kira kira begitulah bunyi batuk Juwita)


Juwita terbatuk mendengar pernyataan dari kakek Rio. Juwita baru ingat bahwa dirinya juga pernah berpura pura pacaran di depan kakek Rio, untuk menyelamatkan Chandra dan Aliya. Kini gadis itu hanya tersenyum canggung, Juwita tak tahu cara menjawabnya.


^^^Bagaiman akan menikah kek, orang dia saja tidak suka sama Juwita. Cinta kan tidak bisa di paksa.^^^


Tiba tiba Juwita teringat kemarahan kakek Rio, pasal Chandra yang ternyata mantan pasiennya. Juwita menjadi ngeri sendiri membayangkan kemarahan kakek Rio.


^^^Aduh bagaiman ini kalau kakek tahu, bahwa selama ini kami hanya berbohong, kenapa aku bisa lupa kalau aku pernah berpura pura di hadapan kakek.^^^


"Chandra masih di sebelah kek?" Juwita mengalihkan pembicaraan. Agar kakek Rio tak membicarakan tentang pernikahan lagi.


"Iya makanya kakek ke sini," ujar kakek Rio. "memangnya kenapa?"


"Mau minta baju seragam bareng Angel," ujar Juwita terkekeh.


"Sama pasangan lah," ujar kakek Rio menggoda Juwita dan Brayen.


"Kasian Angel jomblo," jawab Juwita.


"Ya sudah kalau begitu, kalian langsung saja, biar bisa ber empat," usul kakek Rio. "Hemat biaya."


"Ih, kenapa begitu cepat, kalau jodoh Juwita bukan dia bagaiman?" ujar Juwita santai.


^^^Tentu saja, karena cinta tak bisa hanya dari satu orang saja, ibarat dayung tak akan bersambut.^^^


"Wit," Brayen menggeram mendengar penuturan Juwita, entah kenapa tiba tiba hatinya panas, ada nyeri yang menggelenjar di dalam hatinya.


^^^Apa ini? Bukan kah aku memang tidak memiliki hati padanya? Lalu kenapa dengan ku? Ada apa ini?^^^


"Lalu kau mau siapa?" pancing kakek Rio, yang sejak tadi memperhatikan tingkah Brayen, Bahakan wajah Brayen sedikit memerah saat ini.

__ADS_1


"Mungkin polisi ganteng, yang nolongin Juwita kemarin, Kebetulan dia minta nomor telepon Juwita," ujar Juwita sumringah sendiri ketika mengingat polisi tampan yang menolongnya, dengan lesung pipi si kedua pipinya. "Mirip modelan Afgan kek, cocoknya jadi aktor."


^^^Apa apaan dia? Lagian siapa lagi itu Afgan? Apa mantannya?^^^


Mendengar Juwita menuju polisi tampan yang menolongnya kemarin, kemudian mendengar nama penyanyi Afgan di sebut, entah kenapa hati Brayen memanas. Entah karena terlalu kesal atau karena memang jarang mendengar lagu dan menonton acara Indonesia, sehingga Brayen tak mengenal Afgan, yang telah terkenal se Antero jagat raya bahkan hingga ke negri gingseng.


Brayen tanpa sengaja meremas paha Juwita yang membuat Juwita berteriak kerkejut, belum lagi ada sedikit memar di sana.


"Aw... Aw... Sakit, ada apa dengan mu? Di situ ada memar tahu," protes Juwita memandang ke arah Brayen dengan kesal.


Kakek Rio terkekeh melihat wajah Brayen yang telah memerah hingga ke telinga. Brayen benar benar kesal kala itu.


^^^Sakit bukan? Makanya jangan suka menuju laki laki laki lain di hadapan ku.^^^


"Ayo cepat makan, buka mulut mu, jangan bercerita terus, Sehabis ini minum obat mu, lalu kita periksa dokter, kita akan melakukan cek out kan?" tutur Brayen membuat Juwita hanya bisa cemberut, pasalnya dirinya masih bersemangat ingin menceritakan tentang polisi tampannya.


^^^Tunggu bukan kah hari ini harusnya Juwita pulang? Lalu dia akan pulang sendirian di rumahnya. Jangan jangan wanita ini akan memanfaatkan kesempatan, dan berpura pura lemah di hadapan polisi itu? Atau polisi itu yang akan berpura pura mengawasi, serta melakukan pemeriksaan? Ah, tidak, tidak! Aku tidak bisa membiarkannya.^^^


"Oh ya kek bagaiman kalau Juwita jangan pulang dulu, sebelum saya datang dari Kalimantan, saya khawatir dia sendirian di rumah," ujar Brayen, membuat Juwita terkejuet, bagaiman tidak perkataan Brayen bisa menyebabkan dirinya tak bisa pulang ke rumah.


"Tapi kan ini sudah boleh pulang Juwita kek, cuman nunggu perban di buka saja," ujar Juwita, mengadu kepada kakek Rio.


"Tapi di rumah kamu ga ada yang menemani Juwita," Brayen memandang kesal ke arah Juwita. Gadis di hadapannya ini tidak mau di beri tahu.


"Di rumah kakek deh, kan banyak maid nya, Juwita juga tidak betah di sini," ujar Juwita kekeh ingin pulang, dia malas berada di rumah sakit berlama lama, padahal biasanya ia berada di rumah sakit.


"Ya sudah kamu di rumah kakek saja deh," ujar kakek Rio menengahi.


"Yey, nanti Wita urus deh keluarnya," ujar Juwita tersenyum bahagia.


"Nanti biar aku aja Wit, sekalian aku antar, kakek masih mau di sini atau ikut pulang?" Brayen memandang ke arah kakek Rio.


"Di sini saja dulu, nanti kalau Tante Mona sudah datang baru pulang," ujar kakek Rio tersenyum.


"Iya kek, Wit mau berangkat sekarang?" Brayen memandang ke arah Juwita.


"Hm... Boleh deh, tapi di periksa dulu dengan dokternya," ujar Juwita. Brayen segera menekan tombol darurat untuk memeriksa keadaan Juwita.


"Hati hati," ujar kakek Rio setelah mengantar Juwita ke lobi rumah sakit.


"Iya kek, sampai jumpa," ujar Juwita melambaikan tangan, dengan kursi roda di dorong oleh Brayen.


Selama perjalanan tidak ada yang membuka suara sana sekali. Di dalam mobil terjadi keheningan.


"Wit," Brayen segera meraih tangan Juwita.


"Hm, eh..." Juwita terkejut kembali menarik tangan nya, namun sayang Brayen menahannya.


"Kenapa mau pulang cepat?" Brayen sedikit berbasa-basi.


"Tidak aku hanya bosan di rumah sakit," ujar Juwita sekenanya.


"Kau kan bisa bersama dengan Aliya," Brayen mengendalikan stir mobil dengan satu tangannya.


"Aku tidak mau jadi kambing conge di antara kedua sejoli itu," ujar Juwita pasrah tangannya di genggam oleh brayen.


"Hm Wit, boleh aku meminta sesuatu?" Brayen menautkan jari jari mereka.


^^^Brayen aku mohon jangan seperti ini, aku akan semakin sulit melupakan mu. Jangan memperlakukan ku seolah seperti kekasih mu.^^^


"Hm..." Juwita hanya berdehem, menahan gejolak batinnya, akalnya ingin menolak, namun hatinya berkata lain.


"Jangan seperti ini ya, aku tidak menyukainya," ujar berayun mengusap lembut punggung tangan Juwita, dengan ibu jarinya.


"Seperti ini bagaimana?" Juwita sedikit merinding ketika Brayen mengusap lembut punggung tangan nya.


"Aku sangat menyukai Juwita yang ceria tidak dingin kepada ku," jujur Brayen.


"Apa berdampak pada keseharian mu?" ujar Juwita sembari terkekeh, ada kilat kesedihan di sana, namun Juwita menyembunyikan nya dengan mengalihkan pandangan ke arah jendela mobilnya.


"Tentu saja. Hm, aku juga tidak tahu," Brayen ragu sendiri dengan perasaan nya.

__ADS_1


"Itu berarti tidak," ujar Juwita sedikit kecewa. Lagi lagi dirinya kecewa dengan jawaban dari Brayen.


"Kau mau ke suatu tempat?" Brayen melambatkan mobilnya.


"Tidak, aku harus banyak istirahat," jawab Juwita dengan dingin.


"Baiklah sebentar," Brayen tiba tiba menghentikan mobilnya.


Brayen turun dari mobilnya, dan berjalan ke arah toko boneka. Juwita tak berniat untuk ikut turun dan memilih tetap berada di dalam mobil Brayen. Juwita memejamkan matanya mengurangi rasa sakit yang di timbulkan oleh perasaan nya terhadap Brayen.


Tiba tiba pintu mobil terbuka, membuat Juwita memangintip ke arah kemudi, namun ternyata Brayen membuka pintu belakang, dan meletakkan sebuah boneka dengan ukuran yang besar. Ternyata Brayen membeli sebuah boneka beruang hingga dua meter tingginya.


"Untuk apa?" Juwita menutup matanya, mencoba untuk terlihat tak memperhatikan tingkah Brayen.


"Agar kau tak kesepian nanti kalau aku pergi," ujar Brayen masuk ke dalam kemudi, Brayen mengusap lembut kepala Juwita, kemudian melajukan mobilnya, menuju ruang keluarga Winata.


"Untuk apa kau memikirkan nya?" Juwita sedikit penasaran dengan pemikiran Brayen.


"Hm, entah lah, aku rasa kita memiliki kesamaan, sama sama kesepian, dan tak pandai bercerita kepada orang lain," tutur Brayen.


Juwita kembali harus menelan pil pahit, pasalnya jawaban yang di berikan oleh Brayen sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi yang ia inginkan.


^^^Bodohnya aku, apa yang aku harapkan. Tentu saja Brayen kan sama sekali tidak punya hati untuk ku.^^^


Juwita memilih diam, dan tak bertanya lebih lanjut, Juwita memejamkan matanya. Mencoba untuk melupakan segala kegundahan hatinya.


Sesampainya di rumah keluarga Winata, Juwita di sambut asisten maid, dan segera di bawa ke kamar tamu, pasalnya kamar Juwita terletak di lantai dua. Brayen membantu Juwita dan meminta maid membawakan barang milik Juwita, dan juga boneka besar dari Brayen.


"Wah pacar nona Juwita sweet sekali ya, sakit saja di belikan boneka sebesar ini," kata salah satu maid yang membawa boneka tersebut. Brayen yang tanpa sengaja mendengar permbicaraan tersebut tersenyum.


Maid segera meninggalakan Brayen dan Juwita di dalam kamar, ketika Brayen membantu Juwita untuk tertidur dan menyelimuti Juwita dengan selimut, memperbaiki suhu AC.


"Baik baik ya, jangan terlalu memaksa jika tidak bisa, aku lihat di sini banyak maid, aku harus pergi, setelah sampai aku kabari," ujar Brayen meletakkan boneka di samping Juwita. "Nanti jangan lupa makan, ya."


Brayen membelai pipi Juwita dengan lembut, Ada perasaan tak rela meninggalakan gadis tersebut, terlebih saat ini gadis itu tengah terluka. Entah kenapa Brayen merasa memiliki kewajiban menjaga Juwita.


Juwita mengangguk, entah kemana perasaannya menjadi sedih, ketika Brayen hendak pergi.


"Hati hati," ujar Juwita dengan suara kecil.


Brayen tersenyum ketika mengengarnya, Brayen tahu Juwita sebenarnya juga tak bisa mendiaminya terlalu lama. Terbukti saat ini Brayen mendengar Juwita kembali menunjukkan rasa khawatirnya.


"Iya pasti kamu jangan nakal ya, sebelum Aliya dan Chandra menikah aku pasti sudah pulang," Brayen mengecup kening Juwita. "Jangan menghubungi orang orang yang tidak jelas."


Entah kenapa ketika mendengar Juwita memintanya berhati hati, hati Brayen seakan bersorak. Dirinya bahagia, seakan Juwita saat ini sudah tidak marah lagi padanya. Brayen mendekatkan wajahnya, dan memiringkan nya. Ketika jarak tinggal beberapa centimeter saja, Brayen menghentikan gerakannya, Brayen memandang lekat mata Juwita.


"Boleh kak?"


Juwita tersenyum tanda menyetujui keinginan Brayen. Jujur saja, Juwita tak kuasa jika berada di dekat Brayen, Juwita juga menginginkan Brayen, meski logikanya menolak. Namun buka kah menurut Agnes Mo, cinta itu tak ada logika? Begitulah Juwita saat ini.


Brayen mendaratkan bi birnya di atas bi bir Juwita, Brayen menyesap kembali benda yang membuatnya candu, seolah menginginkannya lagi. Bahkan mungkin lebih enak di banding rokok yang sering ia hisap.


Brayen sedikit membaringkan tubuhnya di sisi Juwita, memperdalam lu*ma*tan mereka. Mereka kemudian melepaskan pa*ngu*tan mereka. Brayen memandang Juwita yang menutup matanya, dengan nafas yang terengah engah. Juwita sedikit menggigit bibirnya merutuki kebodohannya.


Brayen yang melihat Juwita menggigit bi birnya, membuatnya ingin ikut mengigit bi bir Juwita. Brayen memajukan wajahnya dan menggigit sedikit bi bire Juwita.


"Kau tampaknya telah sembuh," ucap Juwita ketika Brayen berbaring di sampingnya menopang kepalanya dengan tangan.


"Hm, aku akan sangat merindukan mu," ujar Brayen, tak ingin membahas hal tersebut.


"Kau tampaknya tak membutuhkan ku lagi," ujar Juwita tersenyum masam.


"Entah lah, aku memang tak membutuhkan mu, tapi aku selalu ingin kau ada di sini," Brayen mengusap pipi Juwita.


...Ada kesadaran dalam diamku. Ada penghargaan dalam teriakku, tapi tetap saja ada yang pergi meninggalkanku....


...Mencintaimu sama dengan berperang; dan aku tidak akan pernah melakukannya lagi. ...


Hai yang mau ikut give away, bisa ikutan loh, dengan memberi dukungan, dengan hadiah, maupun vote, lalu memberikan komentar ya yang membangun, dan sesuai dengan isi di dalam cerita. Pengumuman tanggal 6 November ya guys.


Terimakasih sampai jumpai besok.

__ADS_1


__ADS_2