CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Rindu kamu


__ADS_3

Ibarat kata rindu tak berujung, hanya pertemuan yang mampu membuat rindu terobati. Itulah yang kini di rasakan kedua insan yang tengah LDR, tanpa status, namun saling mengikat.


Bagi Brayen, Rindunya pada sang pujaan hati amat sangat besar, hingga membuatnya gelisah sendiri, bahkan video call yang saat ini mereka lakukan saja tidak mampu menguasai rasa rindunya. Namu rasa minder nya yang terlalu besar membuatnya tak amampu mengucapkan rasa yang ia miliki, semua harus ia telan. Pasalnya ia takut kehilangan gadis yang kini mulai mengisi ruang hatinya.


Brayen menggigit bibirnya ketika melihat Juwita menggigit bibirnya, sedikit terlihat malu malu di ujung sana.


^^^^^^Wit jangan begitu, rasanya aku ingin malam ini juga terbang ke sana, dan menggigit bi bir mu itu.^^^^^^


"Hm... Wit kamu jemput aku ya, besok kalau bisa dua hari lagi aku pulang," ujar Brayen, berdebar, Brayen sedikit takut dengan penolakan Juwita.


"I... iya," ujar Juwita dengan sedikit gugup.


Brayen tersenyum senang, namun saat Brayen melirik jam dinding yang ada di setiap ruangan penginapan tersebut, berayun sadar kini hampir memasuki jam dua belas malam.


"Wit kamu tidur dulu gih, soalnya udah tengah malam. Maaf ya ganggu, aku hanya merindukan mu," ujar Brayen, sontak membuat Juwita di ujung sana tersenyum. "Besok aku hubungi lagi."


Juwita tersenyum menutup panggilan telfonnya, membuat Brayen tersenyum bahagia. Setidaknya kejadian yang menimpanya malam ini, memiliki banyak hikmah di hidupnya. Brayen tersenyum menatap ponselnya, hatinya sudah ia tetapkan.


^^^Wit boleh tidak aku memiliki perasaan lebih untuk mu? Aku tahu aku tak pantas untuk mu, mungkin banyak laki laki normal di luar sana, yang jauh lebih pantas bersanding dengan mu. Tapi bolehkah aku berada di sisi mu?^^^


Brayen terus memandang langit langit, hatinya tak lagi bimbang, namun di penuhi rasa gelisah. Masa lalunya membuat nya merasa tidak percaya diri. Lambat laun Brayen tertidur, dengan segala kegelisahannya.


Pagi harinya, Brayen terbangun, Brayen segera meraih ponselnya, dan melihat jam, di ponselnya. Brayen segera beranjak pergi mandi, dan bersiap siap. Brayen menelfon resepsionis agar membawakannya sarapan. Brayen kemudian menelfon Juwita, yang entah telah bangun atau belum.


"Halo," Juwita tampak masih sangat mengantuk ketika mengangkat video call dari Brayen.


Brayen terkekeh, wajah bantal Juwita, menampakkan gadis itu baru saja bangun tidur, tepat ketika dirinya menelfon Juwita.


"Halo Wit, kamu masih tidur ya? Aku kirain sudah bangun," ujar Brayen berbasa basi.


^^^Imut sekali dia, jika tahu dia se imut ini, maka kemarin aku akan memeluk mu dengan erat ketika baru bangun tidur.^^^

__ADS_1


"Iya ini aku baru bangun," ujar Juwita segera mengucek matanya. "Hiss aw."


Brayen menggeleng melihat tingkah Juwita yang sedikit ceroboh. "Jangan begitu, tangan kamu belum sembuh, istirahat yang cukup, soalnya kamu ga mau kan pakai perban di acaranya Aliya dan Chandra."


"Hm, besok sudah bisa buka berban kok, tapi sedikit sulit berjalan," ujar Juwita tersenyum.


"Bagus dong, kemajuannya sangat tinggi," ujar Brayen. "Hm... Wit polisi... polisi itu, a...apa menghubungi... mu?" Brayen bertanya sedikit hati hati, takut gadis itu merasa tidak nyaman.


"Hm? Untuk apa dia menghubungi ku?" Juwita bingung dengan maksud dari Brayen.


"Mungkin... ah, mana aku tahu Juwita," ujar Brayen sedikit geram dengan tingkah Juwita.


Juwita terkekeh melihat tingkah Brayen. "Belum aku rasa dia tidak membutuhkan keterangan dari ku."


"Ah syukur lah," ujar Brayen tanpa sengaja, Juwita tentu saja mengerutkan keningnya di ujung sana.


"Kenapa? Apa kau cemburu?" goda Juwita.


"Hm, ti... ti dak," Brayen sedikit tergagap. Juwita terkekeh melihat tingkah Brayen.


"Kegiatan kamu apa saja hari ini?" Brayen tersenyum, sembari mulai menyuapi dirinya sendiri dengan makanan.


Tiba tiba Brayen sedikit terkekeh jika di ingat ingat, dirinya sudah lama tidak melakukan panggil telfon dengan video call seperti ini, seolah memiliki hal baru, seolah memiliki kekasih, sesuatu yang dulu rutin ia lakukan bersama Chandra.


"Aku hanya berbaring saja, makan, minum, baring... Juwita mengernyit ketika melihat Brayen terkekeh... Apa ada yang salah?" Juwita sedikit cemberut mengira dirinya yang di tertawa kan.


"Tidak, aku hanya hm, merasa lebih baik sekarang," ucap Brayen ambigu.


Juwita semakin cemberut mendengarkan alasan Brayen yang tak masuk akal. "Sudah ah."


"Jangan, aku masih mau melihat mu," ujar Brayen menghentikan makannya.

__ADS_1


"Iya iya, lanjutkan makan mu," ujar Juwita menarik selimutnya.


"Hei ini sudah pagi," ujar Brayen kembali terkekeh.


"Untuk orang sakit tidak ada yang namanya pagi, siang atau malam. Mereka punya keistimewaan," ujar Juwita santai. "Iya masuk."


Brayen mengernyit mendengar Juwita berteriak dari arah pintu. "Siapa?"


"Oh kakek, sepertinya dia mau berangkat ke rumah sakit," ujar Juwita memandang ke arah pintu.


"Wit kamu tidak apa apa kan kalau kakek tinggal, kakek mau ke rumah sakit dulu, mau setelah itu ke perusahaan sebentar, mau melihat keadaan di sana," Brayen mendengar jelas ucapan kakek Rio, terdengar jelas bahwa kakek Rio sangat menyayangi Juwita. "Ini kamu makan dulu, baru istirahat lagi."


"Iya kek, kakek ke sana saja, di sini banyak maid mau apapun Juwita, semua maid pasti mengambilkan, kalau di sana Al sendirian, kalau mau makan apa apa kan kasihan, tidak ada yang mengambilkan untuknya. Lagi pula Juwita hanya sakit seperti ini saja," ujar Juwita tersenyum.


"Ya sudah kakek pergi dulu ya, nanti kalau ada apa apa, langsung telfon kakek," Brayen dapat melihat dengan jelas kakek Rio mengusap lembut kepala Juwita, sebelum akhirnya keluar dari kamar Juwita.


Brayen tersenyum, Juwita berada di orang orang yang tepat, berada di dalam lingkungan yang tepat. Setidaknya dirinya bisa tenang meninggalakan Juwita.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Brayen segera membuka suaranya kembali. "Halo kakek sudah pergi?"


"Iya kenapa?" Juwita memandang bingung ke arah Brayen.


"Tidak apa apa. Oh ya aku tutup dulu ya, soalnya aku akan pergi rapat pagi ini," ujar Brayen, segera menyudahi makannya. "Terimakasih untuk pagi ini princess."


Juwita terlihat malu malu di ujung sana, membuat Brayen tersenyum. Wajah malu malu gadis itu membuatnya tampak semakin menggemaskan.


"Sama sama," ujara Juwita dengan suara yang nyaris hilang.


"Hm... Babay," ucap Brayen. "Nanti kalau bosan telfon saja." Brayen mengakhiri panggilannya. kemudian menuju arah rapat, sembari tersenyum.


^^^Aku sangat ingin cepat, aku sangat merindukan mu Wit, video call tadi tak mampu membuat ku puas.^^^

__ADS_1


Beberapa karyawan dan pengunjung terkesima melihat senyum Brayen. Wajah bule terdapat beberapa plester luka, membuatnya semakin maco dan tampan, laki laki itu berhasil membuat pengunjung dan karyawan nya sendiri jatuh di dalam pesonanya.


Hai guys masih dalam even give away nih, yuk ikutan cukup like komentar, beri dukungan, dengan hadiah, maupun vote. Nanti tanggal 6 bulan depan ya pengumuman nya. Oh ya kalau banyak komentar dan dukungan, othor double up deh.


__ADS_2