
Pagi harinya Juwita terbangun ketika seorang suster datang ke ruangan tersebut. Juwita mencoba memfokuskan pandangannya tee tenyata itu adalah seorang dokter dan seorang suster yang hendak memeriksa keadaan Juwita. Juwita terus menggoyangkan badan dari Brayen mencoba untuk membangunkannya.
"Bray ayo bangun, ada dokter dan suster malu," ujar Juwita menggoyang tangan Brayen.
"Hm... sebentar lagi aku masih mengantuk sayang," bukannya bangun Brayen malah mengerakkan pelukannya.
"Brayen ini rumah sakit," Juwita kembali menggoyangkan tangan Brayen malu dengan kehadiran dokter dan suster yang sejak tadi tersenyum melihat sepasang kekasih tersebut.
"Hah... siapa yang sakit?" Brayen masih enggan membuka matanya malah menelusup kan wajahnya ke leher Juwita.
"Brayen buka mata mu sekarang," Juwita dengan geram mencubit lengan Brayen.
"Awh... ah iya iya, jangan mencubit ku, ini sakit. Kau kenapa sayang?" Brayen protes sembari terbangun, kemudian menggosok bekas cubitan Juwita. Tampaknya Brayen belum menyadari kehadiran dokter dan suster tersebut.
"Ini rumah sakit Brayen..." gumam Juwita, sontak saja Brayen memandang ke sekitar ruangan mereka. Tampaknya Brayen lupa bahwa semalam mereka ke rumah sakit, akibat Juwita yang pingsan.
"Ah, eh suster, dokter silahkan maaf, saya ke kamar mandi dulu," Brayen segera berlari menuju kamar mandi, kemudian mencuci wajahnya, Brayen terus menggeleng menahan rasa malu, namun ia juga penasaran dari hasil pemeriksaan kekasihnya, akhirnya memilih untuk keluar dari persembunyiannya.
"Bagaiman keadaan anda sekarang?" terdengar pertanyaan dokter terbit ketika bertanya kepada Juwita.
"Alhamdulillah baik dok, oh ya kenapa saya pingsan ya?" Juwita bingung sendiri penyebab ia pingsan, satahunya ia sangat menjaga pola makannya akhir akhir ini, terlebih ia harus menjaga kakek Rio, jadi makanan yang ia makan benar benar berkualitas.
"Kamu hanya banyak pikiran, dan itu tidak baik untuk mu. Ini tidak serius kok, hari ini kamu boleh pulang," ujar dokter tersebut, tersenyum ke arah Brayen yang tengah berjalan menghampiri Juwita.
"Iya terimakasi dok," ujar Juwita tersenyum, Juwita mengalihkan pandangannya ke arah Brayen yang duduk di tepi bangker miliknya.
"Dok sudah selesai?" Brayen tersenyum memandang wajah dokter tersebut.
"Iya baru saja, semua stabil, pasien sudah boleh pulang," dokter tersebut membalas senyum Brayen.
"Baik dok terimakasih," Brayen segera memandang ke arah Juwita.
"Itu sudah menjadi kewajiban kami," jawab dokter tersebut. "Ya sudah kami pamit dulu," dokter dan suster tersebut segera keluar dari ruangan Juwita.
"Sayang ingin pulang sekarang?" Brayen mengusap lembut kepala Juwita.
"Hm... Kita sarapan di kantin rumah sakit ini saja," ujar Juwita tersenyum.
"Iya sayang ayo," Brayen segera membantu kekasihnya untuk turun dari tempat tidur, mereka akan mengurus administrasi untuk keluar dari rumah sakit.
Setelah mengurus semua administrasi untuk keluar dari rumah sakit, dan menebus obat untuk Juwita, sekarang kekasih itu bergandengan menuju kantin, mereka akan sarapan di sana, terlebih semalam mereka tidak makan malam. Sementara Juwita bahkan perutnya tidak ada yang masuk makanan sedikitpun.
"Sayang mau pesan apa? Bubur? Atau sup atau apa?" Brayen mendudukkan Juwita di kursi kantin. Brayen mengusap lembut kepala Juwita.
"Ada bubur ayam tidak ya?" Juwita tersenyum sudah lama ia tidak merasakan bubur ayam.
"Mungkin saja, hari ini aku akan mengantarkan kamu ke tempat kakek Rio, sore nanti aku akan datang melamar mu," ujar Brayen mengecup sebentar puncak kepala Juwita.
"Terimakasih ya," ujar Juwita tersenyum, rona bahagia terpancar dari tatapan matanya.
"Hm... aku akan memesankan mu makanan," Brayen segera beranjak dari tempat duduknya.
Juwita menunggui Brayen sembari memainkan ponselnya, Juwita membuka sosial medianya. Foto dirinya semalam bersama Brayen sontak menimbulkan banyak komentar. Mereka tampak serasi dengan dress biru tua, dan jas yang senada dengan Brayen.
Foto beramai ramai juga menimbulkan banyak komentar dan like, di sana tampak kakek Rio di apit oleh emoat pasang manusia, sebelah kanan barisan para laki laki dengan jas kompak biru tua, sebelah kiri para wanita dengan dress biru tua. Mereka tampak sangat ceria. Juwita tersenyum melihat foto tersebut.
Terlebih banyak komentar lucu dan positif untuk mereka.
ποΈβπ¨οΈ Yang kemarin dikira sepasang g*ay eh sekarang malah besanan.
ποΈβπ¨οΈ Ini kalau judul FTV nya, dikira sepasang eh ternyata besan ku.
ποΈβπ¨οΈ Mana kemaren yang ngira mereka sepasang kekasih, eh ternyata calon besan.
ποΈβπ¨οΈ Kawal otw halal.
ποΈβπ¨οΈ Di tunggu undangannya.
ποΈβπ¨οΈ Mereka yang pacaran eh aku yang baper.
ποΈβπ¨οΈ @Angel_lalika "weih cantik bet dah akunya wkwkwk."
>>>ποΈβπ¨οΈ @Aska_pratama "@angel_lalika jangan sok cantik kalau yang bakal naik ke pelaminan @Brayen_jb dan @Juwita_jb."
>>>ποΈβπ¨οΈ @Angel_lalika "@Aska_pratama Sumpah ngerusak suasana."
>>>ποΈβπ¨οΈ @Aliya_p.winata "@Aska_pratama Dan @Angel_lalika sama sama jomblo jangan berisik."
>>>ποΈβπ¨οΈ@Angel_lalika "@Aska_pratama Weh pengantin lama kita muncul @Aliya_p.winata. Kabur ahπββοΈπββοΈπββοΈ"
>>>ποΈβπ¨οΈ @Aska_pratama "Ikut πππ "
Dan berbagai komentar lainnya dari para netizen memenuhi kolom komentar dari Juwita, Juwita terkekeh melihat komentar dari sahabatnya. Bahkan tak menyadari kehadiran Brayen yang telah membawa makanannya.
"Sayang bubur ayam tidak ada jadi makan steak dada ayam saja ya, supaya ada tenaga," ujar Brayen tersenyum, meletakkan makanan di meja mereka.
"Hm... makasih," Juwita tersenyum melihat makanan di hadapannya.
"Kenapa sih makasih terus," Brayen sedikit protes di buatnya.
"Karena aku bersyukur kau di hadirkan di dalam hidup ku," ujar Juwita membuat pipi Brayen memerah.
"Hm... sudah pintar menggombal ya kekasih ku ini," Brayen mencoba mengembalikan suasana, meski jantungnya sudah berdetak karena mendengar pernyataan dari Juwita.
"Ini bukan gombal loh," ujar Juwita sedikit cemberut, pasalnya ia mengatakan yang sesungguhnya, namun masih di bilang gombal.
"Iya iya, terserah princess deh," Brayen mencubit lembut pipi Juwita.
"Yang aku mau jujur, tapi kamu jangan marah ya," ujar Juwita memandang serius ke arah Brayen. Juwita bahkan kembali meletakkan garpu dan pisau makannya.
"Iya mau bilang apa sayang?" ujar Brayen ikut meletakkan garpu dan pisau makan miliknya.
"Aku sebenarnya punya keturunan penyakit jantung, kamu tidak apa apa kan?" Juwita me*re*mas tangannya, takut jika Brayen tidak menyetujuinya.
"Terus? Ada lagi?" Brayen tersenyum ke arah Juwita, ia bersyukur kekasih nya mengatakan hal tersebut sebelum dirinya yang bertanya.
"Itu saja," ujar Juwita menunduk.
"Oh, lalu kenapa?" Brayen meraih ta gan Juwita, dan menggenggam nya dengan erat.
"Kau tetap mau menikahi ku?" Juwita memandang wajah Brayen yang tersenyum ke arah nya.
"Hei sayang dengar lah, ingat aku itu menikahi mu bukan karena kau sehat, atau fisik mu, namun karena itu kau, kau adalah penyempurna untuk ku. Aku pernah mendengar bahwa pasangan kita itu merupakan pakaian untuk kita, dan aku selalu berfikir bahwa kau itu lebih dari itu, mau datang untuk membuatku menjadi istimewa, adalah yang terbaik untuk ku. Lalu apa lagi yang harus ku cari? Hanya karena itu aku ingin membatalkan niat ku? Tentu saja tidak akan mungkin," jelas Brayen membuat Juwita tanpa sengaja menitihkan air matanya.
"Sayang terimakasih," Juwita tersenyum dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Aduh manjanya, coba setiap hari semanja ini," namun Brayen justru menggoda Juwita membuat gadis itu malu sendiri.
"Hm..." Juwita menunduk melepaskan genggaman tangan mereka, dan kembali mengambil garpu dan pisau makan miliknya.
"Sayang minggu depan rencana nya kita akan menikah, kamu mau yang seperti apa?" Brayen segera memotong motong steak dada ayam miliknya.
"Tidak perlu yang mewah, yang terpenting keluarga dan sahabat yang datang, itu sudah cukup," Juwita memandang Brayen dengan pandnagan yang berbinar.
"Baik sayang, terus hari ini kamu ajukan cuti ya sayang, kita akan segera bulan madu," Brayen masih asyik memotong steak dada ayam miliknya.
"Di mana?" Juwita memandang lekat Brayen yang masih memotong dada ayam miliknya.
"Di kereta dong..." Brayen tersenyum kini selesai memotong steak miliknya.
"India?" Juwita mengerutkan keningnya, bukannya tak ingin di sana, namun dirinya sudah pernah ke sana, ia ingin suasana baru.
"Memangnya hanya India? Masih banyak tempat lain, kita akan membuat junior," Brayen menaik turunkan alisnya menggoda Juwita.
__ADS_1
"Kau kira sepak bola?" Juwita menggeleng melihat tingkah Brayen.
"Hm... semacam itu tapi lebih nikmat," Brayen terkekeh melihat tingkah Brayen.
"Sudahlah ayo makan, kok omongannya ngelantur sana sini," Juwita segera bersiap memotong steak dada ayam miliknya.
"Cie malu," Brayen menoel dagu Juwita sembari terkekeh. "Ayo ini sudah ku potong," Brayen menukar steak dada ayam miliknya dan milik Juwita.
"Hm... cie prince manis sekali," Juwita ikut menggoda Brayen
"Tapi aku pulang ke rumah dulu, kemudian ke rumah sakit, lalu ke rumah kakek Rio," Brayen sebisa mungkin mengalihkan perhatian Juwita, agar gadis itu tidak menggoda dirinya.
"Iya, ayo makan yang banyak, urusan menjelang pernikahan itu butuh tenaga," Juwita buru buru menyuapi dirinya steak.
......................
Sesampainya di rumah, mereka di sambut tuan Damar dan kedua adiknya, Juwita tersenyum, melihat mereka telah duduk di sofa keluarga, ia seperti memiliki keluarga utuh. Tuan Damar memang memiliki kunci rumah Juwita, agar lebih leluasa masuk ke rumah tersebut jika tidak ada Juwita.
"Wit kamu tidak apa apa kan?" tuan Damar berdiri menghampiri Juwita, tuan Damar bahkan memutar tubuh Juwita kemanan dan ke kiri.
"Tidak pah, semalam cuman kecapean aja," ujar Juwita terkekeh melihat wajah khawatir tuan Damar.
"Wita kamu ke dalam dulu ya, Vania lagi buat teh di dalam," ujar tuan Damar kembali duduk. Akram uang dari kamar mandi baru muncul dari arah dapur, segera duduk di samping papanya.
"Loh kak Wita mana? Kok cuman kak Brayen?" Akram memperhatikan sekeliling, mencari keberadaan Juwita.
"Lagi di kamar, paling bersihin tubuhnya dulu," ujar tuan Damar membuat Akram mengangguk.
"Om, Brayen akan melamar Juwita sore ini, Brayen harap kalian datang sebagai keluarga dari Juwita," Brayen membuka pembicaraan nya, berharap tuan Damar bersedia datang sebagai ayah dari Juwita.
"Oh ya? Di mana?" Terlihat tuan Damar bersemangat mendengarkannya.
"Di rumah kakek Rio," ujar Brayen, sebenarnya Brayen takut tuan Damar sedikit tersinggung karena memilih rumah kakek Rio sebagai tempat melamar Juwita.
"Baiklah tenang saja kami pasti akan datang," ujar tuan Damar, baginya itu tidak masalah, pasalnya ia juga sadar bahwa Juwita memang di besarkan oleh keluarga Winata. Jadi tak masalah untuknya setidaknya dirinya dijadikan ayah dari gadis tersebut, ia cukup tersanjung untuk itu.
"Lalu setelah ini kalian ke sana?" tuan Damar memandang ke arah Brayen.
"Tidak Juwita akan mengurus cuti nya terlebih dahulu," jawab Brayen tersenyum.
"Baiklah, setelah ini kami akan ke tempat tuan Rio," tuan Damar tampak sangat bersemangat. "Kalau ada apa apa langsung hubungi saya ya, anggap saja saya ini papa kamu, sama seperti Juwita menganggap saya."
"Iya om, oh ya om tidak apa apa kan jika di sana?" Brayen bertanya dengan hati hati.
"Tentu saja tidak, Wita besar di sana, jadi wajar," tuan Damar tersenyum ia tak mengira Brayen mengira dirinya akan marah, tentu saja tidak. Meski dia cukup andil dalam hal yang raih Juwita meski secara diam diam, namun tidak terlalu banyak, sebanyak keluarga Winata yang memang membantunya gadis itu dari kecil.
"Iya om," ujar Brayen bersyukur.
"Kalian sedang membicarakan apa?" Vania datang membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
"Kakak akan di lamar hari ini," Akram menjawab pertanyaan dari Vania.
"Wah benar kah? Selamat ya kak Brayen semoga lancar hingga hari h," Vania menjabat tangan Brayen. "Ya sudah Vania nyusul Kakak dulu ya."
Vania berjalan ke kamar Juwita, dan melihat Juwita baru saja mengenakan baju kaus. "Kakak selamat ya..." Vania menghamburkan pelukannya ke arah Juwita.
"Wah tidak mengajak lagi ya," Akram datang dan memeluk keduanya. "Kak Wita padahal baru satu tahun kami tinggal, eh sekarang sudah mau di lamar."
"Aduh adik adik kakak yang manja ini, padahal cuman ganti status loh," Juwita mengusap wajah kedua adik tirinya.
"Tapi kakak tidak akan berubah ya?" Akram merebahkan kepalanya di bahu Juwita. Sejak dulu Akram dan Vania memang lebih akrab kepada Juwita, terlebih nyonya Weni lebih menyayangi Karin, jadi mereka mendapat banyak sosok ibu dari Juwita.
"Ya ampun, memangnya kakak menjadi power Rangers?" Juwita terkekeh mendengar rengekan Akram. "Ngomong ngomong berubah dalam hal apa ni? Jangan bilang masalah kirim uang?"
"Itu salah satunya," Vania terkekeh ketika mengatakan hal tersebut.
"Wah... tenyata ini to..." Juwita ikut terkekeh.
"Kak ingat tidak dulu waktu kecil kita sering rebutan duduk di pangkuan kakak, eh ternyata sekarang kakak sudah mau nikah, nanti kami akan punya keponakan imut," Akram mengingat masa lalu dan mulai mengandai andai.
Di ruang keluarga Brayen dan tuan Damar baru saja selesai berbincang bincang, kini tuan Damar ingin bergegas ke tempat kakek Rio, hanya untuk mambantu persiapan acara lamaran Juwita.
"Sayang... ayo kita berangkat sekarang," tuan Damar berteriak hingga terdengar ke luar ruangan.
Ketiga anak anaknya segera keluar membuat tuan Damar tersenyum. "Ayo kita berangkat sekarang. Wit kamu hati hati, kalau butuh sesuatu telfon papa."
"Siap pa..." Juwita tersenyum, perasaan bahagia menjalar di hatinya. Seolah ia kini memiliki ayah sambung.
Mereka segera keluar dari rumah Juwita meninggalkan sepasang kekasih tersebut, sementara Juwita kembali masuk ke dalam kamarnya hendak bersiap siap. Setelah bersiap siap dirinya Akhirnya menghubungi sahabatnya.
π¨"Guys nanti sore datang ya ke tempat kakek, soalnya mau lamaran," Juwita.
π¨"Wah... akhirnya..." Aliya.
π¨"Selamat kakak, santai nanti sore datang bareng Aska," Angel.
π¨"Sip, aku mau siap siap dulu, mau berangkat ke rumah sakit, minta cuti," Juwita.
π¨"Cie yang cuti nikah," Angel.
π¨"Cie yang masih jomblo," Aliya.
π¨"Jomblo terhormat," Angel.
π¨"Al nunggu dudanya sepupu suami mu tu," Juwita.
π¨"Enak aja, kalau ting ting banyak kenapa harus yang duda," Angel.
π¨"Yang penting hatinya katanya?" Juwita.
π¨"Hati apa ini guys hati ayam, hati bebek, hati angsa? Atau hati yang telah kau sakiti?" Aliya.
π¨"Itu si Angel yang hati telah kau sakiti. Si Angel bilang ga perlu wajah, yang penting hati, harta dan properti, jadi duda masih ok lah kan?" Juwita.
π¨"Boleh boleh, mantap itu Ngel pertahankan," Aliya.
π¨"Tapi ya kan? Dia nunggu duda si sepupu suami mu loh, sepupu Chandra itu loh," Juwita.
π¨"Ish kak, masa doain orang cere," Angel.
π¨"Eh sudah cere kemaren, resmi menduda dia, daftar Ngel, dari pada joman. Namanya Daniel," Aliya.
π¨"Joman? Apa tu?" Juwita.
π¨"Jomblo lumutan wkwkwk, kita udah mau punya anak dia masih nge jomblo," Aliya.
π¨"Angel masih muda loh kak," Angel.
π¨"Muda? Udah umur dua satu Ngel..." Aliya.
π¨"Ga apa apa loh kak," Angel.
π¨"Dia mah tidak joman, tapi josir alias jomblo sejak lahir," Juwita.
π¨"Ish... Masa aku di bully," Angel.
π¨"Bukan jomat alias jomblo sejati," Aliya.
π¨"Udah ah bayyyyyyyyyy," Angel.
π¨"Cie ngambek," Juwita.
π¨"Apaan sih kak," Angel.
__ADS_1
π¨"Bayyyyyyyyy, cecan sibuk..." Angel.
π¨"Sibuk apaan? Paling cuman spill status wa orang, kan jones," Aliya.
π¨"Kak... mau entar Angel liatin penangkaran buaya Angel, bayyyyyyyyyyyyyy...." Angel.
π¨"Wkwkwk ngambek dia kabur ah...πββοΈπββοΈπββοΈ" Juwita.
π¨"Kabur...πββοΈπββοΈπββοΈ" Aliya.
π¨"Ada apaan ni di atas nyebut nyebut nama ku," Aska
π¨"Woy... Agh.... Kemana sih? Tadi sibuk berisik sekarang pada diam," Aska.
π¨"Woyyyyyyyy,πΏπΏπΏ" Aska.
"Sayang kok lama banget?" Brayen berteriak dari depan pintu kamar.
"Iya ini sebentar lagi," Juwita segera bergegas keluar dari kamarnya, setelah menyimpan ponselnya di dalam tas "Yasudah ayo pergi."
"Ayo... Oh ya ngomong ngomong kok kamu senyum senyum tadi megang hp?" Brayen memandang curiga ke arah Juwita.
"Kepo..." ejek Juwita ke pada Brayen.
"Apa sih sayang, mana? Jangan jangan chatting sama mantan atau cowok lain ya?" Brayen mencoba merebut tas Juwita.
"Ih sok tahu ah," Juwita malah semakin menggoda Brayen.
"Mana ponselnya," Brayen semakin menarik tas Juwita.
"Tidak mau..." Juwita semakin memeluk tak tasnya, semakin membuat Brayen kesal.
"Nah dapat kan..." Brayen merebut paksa tas Juwita, dan mencari ponsel Juwita melihat dengan siapa tadi kekasihnya berbalas pesan. "Ya ampun sayang kenapa tidak bilang kalau chatting sama mereka?"
"Kan mau buat kamu cemburu," Juwita terkekeh mengambil kembali tas dan ponselnya.
"Sayang... dasar ya, ayo pergi sebelum aku terjang kamu di sini," ujar Brayen mencubit pipi Juwita.
"Ih setelah sembuh bahaya ya pak," goda Juwita.
"Cuman dengan kamu," ujar Brayen terkekeh.
"Ayo..." Juwita menggandeng tangan Brayen.
......................
Juwita baru saja mengajukan cuti kembali, kali ini cuti menikah. Setelah selesai mengurus semuanya, Brayen segera mengajak Juwita untuk ke mobil. "Sayang nanti sore aku datang ya," Brayen memasang sabuk pengaman di pinggangnya.
"Iya dengan siapa?" Juwita memandang wajah Brayen seksama.
"Nanti mau minta tolong dengan papa Omer aja. Kamu tahu kan kalau aku sekarang sebatang kara?" Brayen menghidupkan mesin mobilnya.
"Iya kamu sebatang kara kok, tapi bukan sebatang kayu daunnya rimbun," uajr Juwita terkekeh.
"Dasar, sudah bisa ya sekarang," Brayen memperhatikan kaca spionnya, dan bersiap untuk keluar dari parkiran.
Selama di perjalanan mereka saling bercanda satu sama lain. "Eh kemana kita? Kok pergi lagi?" Juwita melihat arah ke rumahnya atau ke rumah kakek Rio telah lewat.
"Nanti dulu, kita puaskan dulu berduaan," uajr Brayen melirik sebentar wajah kekasihnya.
"Cih dasar," ejek Juwita.
Sesampainya mereka di apartemen Brayen, mereka segera masuk ke dalam, dan duduk di sofa.
"Sayang kita pesan makanan ya," ujar Brayen memainkan ponselnya, sembari memeluk Juwita.
"Iya... terserah kamu deh," Juwita pasrah di peluk oleh Brayen.
"Duduk yang benar deh sayang," Brayen melepas pelukan Juwita. "Duduk di sini," Brayen menepuk pahanya, meminta Juwita duduk di pangkuannya. "Aku akan merindukan kamu sayang," Brayen mengecup bibir Juwita.
"Iya aku tahu," Juwita terkekeh, bahkan bibir bawahnya terus di gigit pelan Brayen.
"Nanti ingat kamu harus lebih banyak telfonan, terus kabarin aku apa aja yang kamu lakuin, kemana saja dan bertemu siapa," Ujar Brayen menggesek using merek.
"Lah kita kan masih harus memilih baju pengantin sayang. Setelah itu foto untuk banner nya, lalu baru aku di pingit. Lah dengan kamu terus sayang, terus baru aku ga bisa bertemu dengan kamu," Juwita semakin terkekeh melihat tingkah Brayen.
"Iya pokok nya kabarin aja," Brayen segera berdiri tanpa menurunkan Juwita.
"Eh sayang mau ke mana?" Juwita terkejut hendak turun, namun Brayen mencengkram bokong Juwita dengan erat.
"Begini saja," bisik Brayen. "Ke kamar, ayo kita baring, tidak pernah ke kamar aku kan?"
"Iya," Juwita meletakkan kepalanya di bahu Brayen.
"Jangan kan kamu, aku saja jarang tidur di rumah," Brayen membuka pintu kamarnya, dan membaringkan tubuh Juwita kemudian dirinya menindih tubuh Juwita.
"Iya harusnya aku minta uang kos sama kamu," Juwita terkekeh melihat Brayen di atasnya. Namun Brayen gemas segera menyerang leher Juwita. "Emh... Brayen geli, jangan di cium," Juwita berusaha menolak Brayen.
"Hm... aku ga bakal kejauhan kok," ujar Brayen meneruskan penjelajahan bibirnya.
"Brayen, sa... yang, nanti di lihat kakek," Juwita berusaha menolak kepala Brayen ketika menggigit lembut lehernya. Namun Brayen tuan tiba membuka kancing atas kaus Juwita. "Eh... kamu sedang apa?"
"Biar tidak di lihat kakek," Brayen segera mengigit dada atas tepatnya di area sudut ketiak Juwita.
"Ini tandanya kamu punya aku," Brayen terkekeh melihatnya kemudian kembali mengecup dada atas Juwita, hingga meninggalakan beberapa bintik kemerahan.
"Merah Brayen..." gumam Juwita berusaha melihat ponselnya dan menjadikannya cermin.
"Lah aku sengaja loh," ujar Brayen kembali menjelajahi data atas Juwita, menyapunya dengan lidah.
"Dasar... Nanti kebablasan," Juwita kembali menolak kepala Brayen dari atas dada atasnya.
"Ya sudah bibir saja ya," Brayen mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Juwita berkali kali.
"Eh... kamu ma... hm... hm..." juwita Tak sanggup menolak sapuan lidah Brayen di dalam rongga mulut nya, seolah mengajak lidah Juwita untuk bermain.
"Emh..." Brayen semakin menekan tubuh Juwita.
Ting tong...
"Braye ada orang..." Juwita tersadar.
"Ck... mengganggu, ayo kenakan lagi kancing mu sayang, sepertinya makanan kita itu," Brayen kembali mengecup pundak polos Juwita.
"Ck kenapa harus tiga sih?" Juwita melihat dari cermin.
"Biar ada tandanya," Brayen membantu Juwita mengamankan kancingnya.
"Cih bucin..." ejek Juwita ketika Brayen kembali mengecup bibir nya berkali kali.
"Tanda sayang cinta..." Juwita menggeleng mendengar pernyataan dari Brayen.
"Cinta cinta cinta," ejek Juwita.
"Ayo..." Brayen menggandeng tangan Juwita.
.
.
.
.
__ADS_1
Ayo ikut berkomentar untuk hukuman yang tepat bagi nyonya Weni dan tuan Reymond, dengan tagar #Tuakeladi ...(Hukuman yang pantas menurut kalian)...
Misalnya #Tuakeladi Kena azab nyungsep di semen Padang wkwkwk