CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Bikaner


__ADS_3

Rabu, hari ke empat.


Pagi menyingsing, kedua sepasang kekasih yang masih asyik berpelukan kini memulai mengurai pelukannya, kala mendengar perut Juwita yang meminta untuk di isi dengan sarapan pagi.


Brayen meraih gagang telepon dan menelfon awak kabin, dan meminta untuk di antarkan sarapan. Sementara Juwita segera menuju kamar mandi, membersihkan dirinya, Brayen dengan santai menikmati pemandangan pagi dari Bikaner. Setelah Juwita keluar, barulah Brayen masuk ke kamar mandi, sementara Juwita segera duduk di samping tempat tidurnya, menonton aktifitas warga yang berpakaian sangat klasik. Juwita memang selalu mengagumi warga India yang tidak kehilangan budaya mereka, meski jaman sudah semakin moderen. Juwita tersenyum kagum.


Brayen diam diam melihat Juwita yang tersenyum kini ikut tersenyum. Brayen hendak melangkah mendekat ke arah Juwita, namun belum sempat Brayen mendekat tiba tiba bunyi ketukan mengurungkan langkah Brayen, Brayen segera mendekat ke arah pintu, dan seorang awak kabin mengantar makanan ke kabin mereka.


Brayen berterimakasih, segera mempersilahkan awak kabin tersebut meninggalakan kabin mereka, setelah mengambil troli makanan. Brayen menatanya dengan rapi. Brayen segera memanggil Juwita, meminta gadis itu untuk sarapan. Suara dari kereta, dan tv membuat suara Brayen tak terdengar. Brayen tersenyum mendekati Juwita.


"Sayang ayo makan dulu," Brayen mengulurkan tangannya untuk Juwita.


Gadis itu menyambutnya dengan senyuman. "Terimakasih," ujar Juwita tersenyum hangat.


Mereka segera menuju meja yang telah di siapkan, Juwita segera menuangkan air ke dalam gelas mereka. Kemudian duduk di hadapan Brayen, dan siap untuk sarapan pagi yang sehat.


"Nanti malam katanya akan ada yang spesial di gurun, kita akan melakukan BBQ dengan para turis lainnya," Juwita memulai pembicaraan mereka. "Aku melihat di sekitar terdapat banyak gurun pasir, aku sangat penasaran bagaiman rasanya BBQ di tengah gurun pasir."


Gadis itu tersenyum lembut membayangkan keseruan perjalan mereka untuk nanti malam. Brayen ikut tersenyum bahagia. "Hm, nanti malam akan banyak bintang di langit sana, ku rasa kau harus mengisi baterai ponsel kita," Brayen menyesap minuman dengan ekstrak buah apel di dalam nya, atau lebih di sebut dengan jus apel.


"Ah aku lupa, aku akan segera mengisi dayanya," ujar Juwita segera berlari ke arah colokan listrik, dengan tenaga statis yang kecil, namun tetap mampu mengisi daya baterai milik ponsel milik Brayen, yang kini menjadi milik Juwita juga.


"Ah... Oh ya, aku mau menelfon kakek terlebih dahulu," ujar Juwita antusias.


Brayen mengangguk mempersilahkan gadis tersebut. "Sambil makan," ujar Brayen.

__ADS_1


"Jika aku sambil makan, maka ponsel ini akan tertunda pengisian dayanya," ujar Juwita.


"Dan jika kau menelfon sambil mengisi daya, maka radiasinya akan semakin besar, ayo duduk dulu sayang," jawab Brayen. Dan akhirnya Juwita duduk di hadapan Brayen sembari mencari nomor kakek Rio.


Setelah selesai menelfon kakek Rio, Juwita kembali mengisi daya ponsel dan duduk di hadapan Brayen. Melanjutkan sarapannya.


Siang menjelang Juwita dan Brayen hanya menghabiskan waktunya di dalam kabin mereka, sebelum akhirnya berangkat ke restoran untuk makan siang.


"Bagaimana? Apakah kau mau menelfon om Damar?" Brayen memandang lembut ke arah Juwita.


"Ah iya, untung kau mengingatkannya," ujar Juwita segera kembali mencabut daya listrik di ponsel Brayen.


Brayen menarik Juwita ke dalam pangkuannya, yang saat ini tengah mendial tuan Damar, ayah tiri Juwita. Juwita sedikit canggung, segera membesarkan suara ponsel Brayen, agar Brayen dapat mendengarkannya juga. Brayen segera memeluk Juwita erat, mengecup pipi Juwita. Brayen mengusap lembut wajah Juwita yang ia kecup.


"Kamu seperti ingin menelfon angkatan udara, sampai setegang itu," goda Brayen terkekeh melihat ekspresi Juwita yang menegang.


"Halo..." terdengar suara dari tuan Damar, semakin membuat jantung Juwita berdebar. "Halo Brayen, apa Juwita telah di temukan?"


Juwita semakin berdebar ketika mendengar nada suara tuan Damar di seberang sana, yang terdengar sangat khawatir. Juwita menggigit bibirnya, sesekali mengusap hidungnya yang tidak gatal. Gadis itu gugup, Brayen tahu itu.


"Halo om..." Juwita tergugup, membuat Brayen segera meletakkan dagunya di bahu Juwita.


"Coba papa," Brayen berbisik di telinga Juwita, s makin membuat gadis itu gugup, dengan debaran jantung yang sudah tak memiliki irama. "Halo pah."


Nafas hangat dari bibir Brayen membuat Juwita tergagap, entah kenapa Juwita seperti tersihir mengikuti kata kata dari Brayen. "Halo pah."

__ADS_1


"Wit... ini kamu nak?" tuan Damar terdengar lega di ujung sana.


"I... Iya, apa kabar pah?" Juwita semakin gugup saja, Brayen mengeratkan pelukannya di pinggang Juwita, mengecup kening Juwita.


"Baik... kamu kemana? Kamu tidak apa apa kan?" Juwita sedikit menyunggingkan senyumnya dengan gugup, air matanya hampir tumpah. Sudah lama ia tak merasakan perasaan memiliki seorang ayah, sejujurnya ia juga merindukan hal itu.


"Baik, baik pah," Juwita menumpahkan air matanya, tak sanggup lagi menahan tangisnya, suaranya bergetar. Brayen semakin memeluknya dengan erat. Sesekali Braye mengecup pundak Juwita.


"Kamu nangis? Kenapa?" suara khawatir dari tuan Damar, semakin membuat Juwita tak kuasa menahan air matanya. Juwita menyerahkan ponsel tersebut kepada Brayen, dan berbalik memeluk Brayen, menyembunyikan wajahnya di leher Brayen. Meskipun Juwita telah di limpahkan kasih sayang oleh kakek Rio, namun itu sebenarnya tidak cukup. Juwita merindukan kasih sayang seorang ayah.


Juwita menangis di leher Brayen, membuat Brayen mengusap lembut punggung Juwita. Brayen dapat merasakan air mata Juwita yang mengalir mengenai bahunya. "Halo om," akhirnya Brayen yang berbicara kepada tuan Damar.


"Halo Brayen, Juwita kenapa? Kenapa dia menangis?" tuan Damar tampak sangat penasaran di ujung sana.


"Katanya dia merindukan oom, bolehkan dia memanggil oom dengan panggilan papa?" Brayen sedikit terkekeh ketika merasakan cubitan kesal dari Juwita.


"Tentu saja boleh, di mana dia sekarang?" nafas lega tuan Damar terdengar jelas.


"Ini om, malu sepertinya," ujar Brayen mencoba menghibur Juwita.


"Ya sudah, sudah dulu ya, om ada klien di sini, tolong jaga Juwita dengan baik ya," ujar tuan Damar di seberang sana.


"Iya om, assalamualaikum..."


"Walaikum salam..."

__ADS_1


Sambungan telfon terputus, Brayen menguraikan pelukan mereka. Brayen mengusap lembut pipi Juwita yang basah oleh air mata. "Menangis lah, semua akan baik baik saja, aku akan ada di samping mu."


Kata kata pamungkas dari Brayen semakin membuat Juwita menurunkan air matanya, sungguh Brayen sangat manis. Juwita semakin mensyukuri nikmat atas kehadiran Brayen. Sungguh dirinya sangat beruntung, entah bagaimana hidupnya jika saja laki laki ini tak hadir di hidupnya.


__ADS_2