
Hari ini Brayen dan Juwita mendatangi kakek Rio yang saat ini berada di rumah lama miliknya, keduanya akan di sidang di sini. Juwita segera duduk di samping kakek Rio dengan bergelayut manja, merebahkan kepalanya di bahu rapuh kakek Rio. Sekilas mereka sangat persisi seperti kakek dan cucu, meski sebenarnya tidak sama sekali.
Lama Brayen terdiam melirik Juwita yang tengah bergelayut manja, Brayen sedikit kesal melihatnya, dirinya hanya suka Juwita bermanja dengannya.
^^^Lihat saja, setelah ini aku akan memberi mu hukuman, memanjakan ku selama seharian. Brayen berdecak kesal di dalam hatinya, cemburu dengan tingkah manja Juwita kepada kakek Rio.^^^
Pelayan datang membawakan cemilan dan minuman, sementara Brayen yang sejak tadi kerongkongannya tiba tiba kering, mau minum tapi tak enak rasanya, tidak minum kerongkongan semakin kering.
Juwita dengan santainya masuk ke dalam sembari mengedipkan mata ke arah Brayen, Brayen hanya membalasnya dengan senyuman kecil, kemudian kembali memandang gelas yang berisi teh hangat tersebut.
"Kau harus? Minumlah," ujar kakek Rio hampir tertawa melihat Brayen yang bertingkah seperti anak yang akan di marahi oleh gurunya. Baru kali ini kakek Rio melihat tingkah Brayen yang menunduk seolah takut kepada seseorang. Padahal sebelumnya kakek Rio kenal dengan Brayen yang arogan dan cuek, tak ingin mengalah, dan tak ingin tunduk dengan siapa pun.
"I... iya kek," ujar Brayen segera mengambil gelas yang berisi teh hangat, dan segera menyeruputnya.
"Hem..." kakek Rio berdehem demi menghilangkan rasa ingin tertawanya, kakek Rio melihat dengan jelas bahwa Brayen sedikit bergetar ketika mengangkat gelas tersebut.
Kakek Rio memperhatikan diam diam saat Brayen mulai meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. "Brayen kamu benar benar mencintai cucu ku?"
Deg... inilah pertanyaan yang cukup mendebarkan, meskipun jawabannya mereka sama sama tahu, namun entah kenapa menjawab ini seperti ujian adrenalin, yang memacu jantung untuk berdetak lebih kencang, padahal jawabannya hanya sebuah kata 'iya' namun sangat sulit bibir dan lidah Brayen untuk singkron, pikirannya kemana mana, membuatnya menjadi gaguk.
"Brayen kau tak menyukai cucu ku?" suara kakek Rio membuat Brayen semakin gugup, kakek Rio hampir tertawa melihatnya.
"I... Iya tentu saja kek," ujar Brayen terlihat jelas sangat gugup.
"Jadi kau tak menyukainya?" kakek Rio semakin menggoda Brayen.
"I... iya tentu saja saya suka kek," Brayen semakin gugup saja, dirinya tak pernah bertemu dengan calon mertua, atau yang lainnya. Dirinya benar benar bingung.
"Jadi kesimpulannya suka atau tidak?" kakek Rio semakin gencar membuat Brayen gugup.
"Su... suka kek," ujar Brayen semakin gugup, kepalanya semakin ia tundukkan ke bawah.
__ADS_1
^^^Aduh kenapa jadi begini? Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan kakek Rio. Ini juga bukan kali pertama berbicara dengannya, bukan kah aku sering berbincang dalam dunia bisnis dengannya? Lalu kenapa aku sangat panik saat ini? Brayen bingung sendiri dengan keadaannya.^^^
"Kalau begitu nikahi dia," ujar kakek Rio tersenyum puas, dari jawaban dan cara Brayen menjawab sebenarnya sudah dapat kakek Rio simpulkan tentang perasaan Brayen, bahkan dari cara memperlakukannya saja kakek Rio sudah tahu tentang hal tersebut.
Mendengar ucapan kakek Rio, semangat Brayen tiba tiba timbul, Brayen tersenyum senyum sendiri di buatnya.
"Tentu kek," ujar Brayen lantang, membuat kakek Rio semakin ingin tertawa, bahkan beberapa maid juga ingin tertawa mendengarkan lantangnya ucapan Brayen.
"Semangat sekali, sunat saja belum, untung kencing lurus," ejek kakek Rio menggeleng ke arah Brayen.
"Hah? Kencing lurus?" Brayen bingung sendiri dengan maksud kencing lurus.
"Ya, ya... sunat dulu sana, baru datang melamar cucu ku," ujar kakek Rio terkekeh. Juwita datang ke arah mereka dan duduk di samping Brayen.
Brayen tersenyum sembari menyentuh tangan Juwita dengan lembut. "Ah iya kek besok saya sunat," ujar Brayen tersenyum semangat.
"Lalu kapan kira kira kau akan datang," kakek Rio ikut tersenyum dengan semangat Brayen.
"Wah semangat sekali, belum tahu saja rasanya, kamu leser atau manual?" kakek Rio semakin penasaran mengorek sunat bagi Brayen.
"Hm... katanya sih leser kek," ujar Brayen zenangagy.
"Untunglah cepat pulih itu," ujar kakek Rio mengangguk paham
"Iya kek katanya tujuh hingga sepuluh jam. Nah kalau saya sunat kira kira jam delapan, nah anggap masa sakitnya kira kira sepuluh jam, maka... sembilan... sepuluh... sebelas... Brayen terus menghitung waktu... enam sore selesai sakit dan malam Brayen bisa kesini," Brayen berkata dengan semangat.
"Aduh wit urus dia, kakek pusing mendengarkannya," kakek Rio memijat pangkal hidungnya kemudian berdiri hendak meninggalakan sepasang kekasih tersebut.
"Kakek kenapa sayang?" Brayen bertanya dengan nada bingung memandang ke arah Juwita.
"Tidak tidak, kau terlalu perhitungan dengan waktu, perhitungan mu sangat akurat," Juwita segera menggenggam tangan Brayen.
__ADS_1
"Nah itu kan..." Brayen menjadi bangga kepada perhitungan nya itu.
"Kau belum pernah melihat orang sunat?" Juwita mengusap lembut wajah Brayen mencoba meyakinkan lelaki tersebut
"Belum sayang, kenapa?" Brayen menjawab dengan wajah polosnya.
"Ah tidak tidak..." Juwita terkekeh sendirinya di buatnya.
"Wit urus dia sampai sembuh, kakek tak mau mendengar ada orang yang mengeluh, jangan sampai kakek mendengarkannya," ujar kakek Rio sembari berjalan ke arah pintu utama.
"Iya kek..." ujar Juwita tersenyum manis.
"Wah kakek baik banget yang," ujar Brayen yang memang tak tahu apa-apa.
"Ya sudah kalian tinggal di sini untuk sementara selama dia sakit, setelah sembuh, dia harus ke apartemennya, lalu mengadakan lamaran, kakek akan kembali ke rumah sana, di sini banyak asisten rumah tangga akan mengawasi kalian," ujar kakek Rio sebelum akhirnya melangkah kembali menjauhi keduanya.
"Iya kek, terimakasih, akan Brayen manfaatkan waktu selama sepuluh jam itu..." ujar Brayen semangat.
...Ck... dia benar-benar benar ah... ternyata antara polos dan bodoh itu sangat tipis. Kakek Rio....
"Yang... besok temani aku ya sayang, aku sedikit khawatir,"kembali Brayen bersikap manja kepada Juwita.
"Iya iya..." ujar Juwita tersenyum.
"Nah begitu dong," Brayen segera memeluk Juwita dengan erat. "Kan jadi semakin sayang."
"Dasar manja," Juwita mencubit pipi Brayen.
"Manja dengan calon istri boleh dong."
Hai selamat bermalam Minggu semua, semoga ini dapat terobati.
__ADS_1