CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Kambing dan rumput hijau


__ADS_3

Juwita memasuki kamar setelah melakukan akad dan bersalaman dengan para tamu undangan. Juwita sangat lelah berdiri hampir setengah hari, kini Juwita sudah melepas semua pakaian kebaya dan aksesoris yang ia kenakan. Juwita mulai menghapus make-up yang ada di wajahnya. Juwita mengganti pakaiannya menjadi baju tidur, kemudian segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan hiasan yang umumnya ada di kamar pengantin.


"Ah... capeknya, apa Brayen masih sibuk dengan para tamu?" Juwita bermonolog memandang langit langit sembari memeluk bantal guling. Lama Juwita menunggu hingga Akhirnya matanya tak dapat ia tahan, kantuk menyerangnya dengan sangat dahsyat, hingga ia terlelap.


Suara pintu terbuka, terlihat Brayen masih mengenakan jas hitam dengan bunga di dada kirinya, Brayen tersenyum melihat Juwita yang terlelap. Brayen menanggalkan jasnya dan meletakkan di kursi rias. Brayen naik dengan perlahan, menindih Juwita, dan membuka tiga kancing atas kemejanya.


"Sayang..." Brayen mengusap lembut pipi Juwita kemudian mengecup wajah Juwita dengan lembut.


"Hm..." juwita sedikit terganggu dengan tingkah Brayen, wajahnya telah basah akibat Brayen.


Brayen kini mulai mengecup bibir juwita, entah kenapa wanita yang saat ini berada di bawahnya membuatnya semakin jatuh cinta, Brayen benar benar tergila gila padanya.


"Ya kenapa?" Juwita membuka matanya melihat Brayen yang terus mengecup wajahnya.


"Kamu tidur saja, tidak apa apa kok," Brayen kini mulai turun ke area cuping dan leher Juwita. Brayen terkekeh ketika melihat Juwita kembali menutup matanya. "Kamu semalam begadang ya?"


"Hm..." Hanya jawaban itu yang di berikan oleh Juwita. Juwita memang sangat mengantuk saat ini, tadi malam ia harus mendengarkan petuah dari kakek Rio, dan tuan Damar, bahkan hingga larut malam. Setelah itu pagi pagi sekali ia di bangunkan untuk mandi dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, baru kemudian dia bersiap untuk di dandani, karena MUA sudah mulai datang, dan bersiap untuk mulai merias wajahnya.


Brayen mulai membuka kancing baju tidur yang di kenakan oleh Juwita dengan perlahan, tak ingin Juwita terbangun. Brayen tersenyum ketika melihat beda yang dulu pernah masuk ke dalam mimpinya, bahkan sudah pernah ia kecup.


"Huh I miss you," Brayen menenggelamkan kepalanya di buah da*da Juwita yang masih tertutup dengan be*a.


"Hm... Bray ngapain sih?" Juwita kembali terbangun, Juwita tak bisa tidur jika begini. Brayen hanya tersenyum kemudian menuntun Juwita untuk membuka pakaiannya. Entah kenapa Juwita hanya menurut saja, dirinya terhipnotis dengan mata abu abu milik Brayen.


"Kangen..." Brayen menelusup kan tangannya membuka pengait br*a Juwita. Ctek, pengait bra* terbuka Brayen segera menuntun tangan Juwita untuk menanggalkan br*a. "Hm... Cantik."


Brayen tersenyum, bentuknya hampir sama dengan yang ada di dalam mimpinya dulu saat di kereta Maharajas' Express. Brayen menyentuhnya dengan perlahan, mengusapnya dengan lembut. Dalam diam ia mengagumi keindahannya, ia mulai me*re*masnya perlahan. Ingatannya melayang dimana di saat dirinya mulai me*re*mas benda tersebut, kala Juwita pingsan dan dirinya mencari kunci rumah. Brayen tersenyum ia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Juwita, Brayen mengecup bibir Juwita berkali kali, menggigitnya dengan pelan.


Brayen kemudian bangun dan kembali melihat keindahan bukit berbaris milik Juwita, Juwita malu dan mulai menutupinya dengan tangan. "Cantik sangat cantik, kenapa kau tutupi, aku sudah sah sekarang," ujar Brayen sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya secara utuh di sana. Brayen mulai menjilati, me*ngu*lum, dan menggigit secara bergantian.


"Ugh...." Juwita melenguh nikmat, sembari meremas rambut Brayen. Buku buku jarinya menancap di kepala Brayen. Sela sela jarinya dipenuhi oleh rambut Brayen.


Mendengar lenguhan Juwita membuat Brayen Sakin bersemangat, Brayen mulai membuka sisa kancing kemejanya secara perlahan, dan mulai melepaskan kemejanya. Brayen mengangkat kepalanya demi meloloskan kaus dalam tanpa lengannya, dan memandang lekat wajah Juwita yang terengah engah merasakan dahsyatnya lidah Brayen yang memberinya kenikmatan luar biasa. "You look perfect to day."


Brayen kembali memberi pijatan lembut di kulit Juwita, mengecup dan memberi tanda. "Uhm... jangan di situ nanti kelihatan, kan masih acara nanti malam di belakang," Juwita sedikit memberi dorongan kepada Brayen kala Brayen hendak memberi tanda di area bahu Juwita.


Brayen tersenyum mengangkat kepalanya kemudian kembali menenggelamkan wajahnya, kini di area perut, Brayen terus mengecupnya memberi tanda. Tampaknya video kiriman Chandra benar benar membuatnya berpengalaman. Brayen membuka celana Juwita secara perlahan sembari bibirnya terus bersarang di area perut Juwita memberi tanda di sana. Setelah celana Juwita lolos, kini giliran Brayen yang membuka celananya dan menyisahkan bokser ****** ***** miliknya.


Brayen kembali membuka ****** ***** milik Juwita sembari memberi sengatan di area bibir istrinya. Setelah terlolos Brayen kembali menelusuri area se*lang*ka*ngan milik Juwita, dan mulai mengecup pa*ha atas Juwita, mengecup kenikmatan milik Juwita membuat wanita itu mengerang nikmat di sana. Brayen gemas sendiri melihatnya kembali ia mengecupnya dan menggigitnya, menelusup kan lidah nya di sana.


"Agh... Bray ah... sudah ah..." ujar Juwita namun tangannya berkata lain Juwita menenggelamkan wajah Brayen di area miliknya.


Brayen tersenyum tak sia sia ia melihat film tersebut hingga berkali kali, bahkan adegan ini juga ia lihat di film tersebut, membuatnya terus membayangkan Juwita di sana, saat berada di bawahnya, namun sekarang hal itu semau menjadi kenyataan.


Mata Brayen terbelalak kala merasakan denyut yang menghimpit lidahnya, indah... Brayen bahkan menutup matanya, denyut itu seolah terus menyedot lidahnya, mengajaknya terus bermain. Tangan yang memegang erat kepala Brayen kini mulai mengendur, seiring dengan menurunnya denyut nadi yang ada di dalam sana.


"Sayang... sekarang giliran aku ya," ujar Brayen mengecup bibir Juwita dengan gemas, rasanya sangat puas, sementara Juwita hanya mengangguk pasrah dengan apa yang di inginkan Brayen. Brayen membuka boskernya dan menampakkan dedek Bray miliknya. "Sayang ayo..."


"Gimana?" Juwita bingung sendiri di buatnya. Pasalnya ia tak pernah melihat hal tersebut, apalagi memperakyekkannya.


"Pegang gini sayang," Brayen menuntun tangan Juwita untuk meremasnya. Juwita hanya mengikuti. Brayen mulai memaju mundurkan tangan Juwita sembari menutup matanya,Juwita ikut, dan lama kelamaan mulai terbiasa. Brayen mengangkat kepala Juwita dan me*lu*mat bibir Juwita. "Pakai mulut sayang," Brayen kembali meminta Juwita untuk menggunakan mulutnya, dan Juwita hanya mengikutinya, mulai membuka mulutnya.


"Agh... ah... sayang Juwita... ah... emh..." Brayen semakin menekan kepala Juwita kemudian memundurkan kepala Juwita. "Agh..." Brayen menengadah kala merasakan kenikmatan yang luar biasa. Brayen segera menarik Juwita dan kembali me*lu*mat Bibir Juwita dengan rakus, rasanya kenikmatan ini tiadatara.

__ADS_1


Brayen kembali membaringkan tubuh Juwita dan mulai memasukkan miliknya ke arah kenikmatan Juwita. Saat masuk Brayen menutup matanya, sementara Juwita meringis menahan sakit. Brayen kembali me*lu*mat Bibir Juwita agar rasa sakitnya teralihkan.


...----------------...


Sementara di bawah tampak tuan Reymond mendekati tuan Damar, ada sedikit rasa canggung di sana. Tuan Damar mengerutkan keningnya kala mengetahui tuan Reymond mendekatinya. Ingin menghindar namun akan sangat mencurigakan, akhirnya tuan dama pasrah di buatnya.


"Ada apa?" tuan Damar memandang tuan Reymond dengan datar nada suaranya dingin.


"Aku... aku sungguh ingin meminta maaf kepada mu," tuan Reymond memandang tuan Damar dengan tatapan memohon.


"Kemana istri mu?" tuan Damar sengaja menekan kata istri mu, semakin membuat tuan Reymond merasa bersalah.


"Istri... aku sudah menceraikannya..." tuan Reymond menjawab dengan jujur. Sungguh ia sangat menyesal kehilangan kebahagiaan hidupnya dan juga kehilangan sahabatnya, sungguh sangat membuatnya sangat menyesal.


"Kenapa? Kau bosan? Ingin mencari yang lain?" tuan Damar berkata dengan sinis.


"Hm..." tuan Reymond menggelengkan kepalanya.


"Lalu?" tuan Damar sedikit penasaran. Memang dirinya kecewa pada sahabatnya ini, namun masih tersisah sedikit kepedulian di lubuk hatinya.


"Dia berselingkuh dengan pria lain, tiga hari lalu aku memergokinya, namun aku tak mau memperpanjang masalah, namun dia semakin menjadi. Dia aku ceraikan tadi pagi dan dia pergi bersama kekasihnya," ujar tuan Reymond menunduk, ia memang sangat malu untuk bertemu dengan temannya ini, namu ia harus meminta maaf kepada temannya ini, agar hatinya merasa lega. "Aku benar benar minta maaf kepada mu."


"Huh..." tuan Damar menghela nafasnya, ingatannya kembali melayang dengan pembicaraannya bersama kakek Rio, bagaimana kakek Rio menasehatinya semalam, setelah Juwita kembali ke kamarnya.


..."Kau *harus punya hati yang luas, ini merupakan jalan untuk mu, agar terbebas dari kebohongan. Kau punya hak untuk berbahagia dengan membebaskan diri dari masa lalu yang menyakitkan. Memaafkan merupakan jalan untuk mu berbahagia."...


..."Kau harus tahu masalalu merupakan sebuah pelajaran untuk mu, mungkin wanita itu bukan yang terbaik untuk mu, masih banyak wanita yang baik. Jangan memendam sakit hati karena itu akan melelahkan mu. Belajar untuk berbahagia dengan memaafkan orang yang menyakitimu, karena percayalah ketika kau memaafkan"...


Kata kata kakek Rio membuat tuan Damar mengurungkan niatnya untuk kembali membenci tuan Reymond. "Lalu apa rencana mu sekarang?"


"Apa kau tak ingin mendekati nya lagi?" tuan Damar menunjuk ke arah nyonya Iwa yang tengah mengobrol dengan nyonya Mona. Tuan Damar tahu betul kisah mereka, pastinya tak akan mudah melupakan wanita itu.


"Hm... Untuk saat ini aku harus memantaskan diri, mungkin saja aku sudah tak pantas untuknya," tuan Reymond hanya memandang nanar ke arah nyonya Iwa.


"Hm... cobalah berbicara dengannya baik baik, minta maaf lah terlebih dahulu, dapatkan maafnya, baru kemudian mendekatinya," tuan Damar memberi saran sembari merangkul tuan Reymond.


"Terimakasih banyak, aku benar benar meninta maaf karena merusak rumah tangga mu," tuan Reymond berkata tulus dari hatinya.


"Rumah tangga itu sudah lama hancur, seharusnya setelah aku mengetahui kebohongan besarnya aku tidak meneruskan pernikahan kami. Namun itu semua demi anak anak," ujar tuan Damar menghela nafasnya berat. "Kau tahu dia hamil ketika menikahi ku?"


Tuan Reymond menggeleng. "Aku baru tahu bahwa Karin anak ku ketika aku mulai menjalin kembali hubungan dengan nya," ujar tuan Reymond menggeleng. "Karena itu aku sangat memanjakan Karin."


"Yah biar bagaimanapun dia tetap ibu dari anak anak kita," tuan Damar menggelengkan kepalanya. "Tapi ngomong ngomong dia hebat juga mampu menaklukkan kita," tuan Damar terkekeh ketika mengatakan hal tersebut.


Tuan Reymond ikut terkekeh, namun matanya tak lepas dari nyonya Iwa. "Kau benar sekali, bahkan mampu membuat ku berpaling dari wanita yang kucintai, hingga kami berpisah."


"Hm, kau masih mencintainya bukan?"


"Cinta tak akan pernah mampu menghapus lukanya," tuan Reymond menggeleng.


"Wanita akan luluh jika terus di dekati," saran tuan Damar.


"Pah... Om," Andi datang menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Andi..." Keduanya terkejut kala Andi memanggil mereka berdua.


"Kalian sudah berbaikan?" Andi bingung sendiri melihat interaksi mereka tampak akrab seperti biasanya.


"Tebak papa mu kembali menduda," tuan Damar terkekeh ketika mengatakan hal tersebut.


"Maksudnya... Papa cerai dengan Tante Weni?" Andi mengerutkan keningnya. Tapi entah kenapa ada rasa bahagia di dalam hatinya. Andi tak ingin munafik, ia juga ingin keluarganya kembali bersatu, namun juga tak mungkin memaksa keduanya.


"Eh, sebentar pak Rio memanggil ku," tuan Damar segera mendekat ke arah kakek Rio. Tuan Damar sengaja memberi mereka waktu untuk bersama, tuan Damar merasa bahwa keduanya terus memiliki waktu berdua.


"Papah tau dongeng yang sering di ceritakan mama dulu saat Andi masih kecil?" Andi membuka suaranya demi memecahkan keheningan di antara mereka.


"Dongeng apa?" tuan Reymond memandang bingung ke arah Andi, tampak jelas di wajahnya sangat antusias.


"Dongeng tentang kambing dan rumput hijau," Andi memandang wajah tuan Reymond yang mengalihkan wajahnya ke arah nyonya Iwa. Taun Reymond tahu betul maksud anaknya. "Dahulu kala hidup sekelompok kambing, di sebuah ladang rumput yang di beri pagar, sementara di sebelah pagar tersebut ada sebuah rumput yang amat sangat hijau, membuat sebagian di antara kambing tersebut ingin menghampirinya, namun merasa bahwa apa yang di milikinya sudah cukup."


"Apa seperti ku?" tuan Reymond semakin sesak ketika mendengar cerita dari Andi. Itu merupakan penggambaran dirinya. Rasanya tak sanggup mendengarnya hingga akhir, namun terselip rasa penasaran di sana.


"Hm... Suatu hari beberapa di antara mereka menyusun rencana untuk keluar dari tempat tersebut, ke tempat yang lebih hijau. Dan rencana mereka berhasil. Mereka akhirnya berada di tempat tersebut, namun suatu hal membuat mereka terkejut, ternyata rumput itu merupakan rumput plastik," Andi memandang ke arah tuan Reymond melihat perubahan raut wajahnya. "Namun salah satu di antara kambing tersebut mencoba untuk kembali, sementara yang lainnya menyebar untuk mencari yang lebih baik. Yang satu itu terus mencoba masuk kembali, awalnya tak ada yang membantunya, namun karena kesungguhannya akhirnya mereka mulai mencoba untuk membangunkannya. Lama lama ia akhirnya ia bisa kembali."


Tuan Reymond tersenyum, entah kenapa hatinya mencair ia merasa memiliki kesempatan untuk ke tempat tersebut. "Papa tahu apa artinya? Artinya setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah, dan setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua apapun dan seberapa pun kesalahannya."


"Hm... Terimakasih..." tuan Reymond merangkul anaknya, merasa telah mendapat kekuatan dari Andi. "Papa sebaiknya selalu mengingat dongeng mu itu."


"Iya rumput tetangga memang selalu terlihat bagus, karena kita hanya melihat dari sudut pandang yang ingin di tampilkan, namun terkadang ketika kita berada di tempat tersebut, semua hanya palsu, mereka bak fatamorgana yang tak akan pernah bisa terwujudkan," Andi terkekeh ketika mengatakan hal tersebut. "Karena itu lah kita harus membentengi diri kita dengan rasa syukur."


.


.


.


.


.


Sementara di lantai atas baru saja Brayen hendak memulai pacuan kudanya, namun tiba tiba bunyi ketukan pintu mengejutkannya. Juwita sedikit memberi dorongan kepada Brayen.


"Agh... dasar pengganggu," Brayen sungguh kesal, ritual enak enak nya kembali terganggu.


"Sayang kita lihat dulu," Juwita mencoba memberi pengertian kepada suaminya, ia takut orang itu membuka pintu kamar.


"Mau begini? Ayo pura pura tidur saja dulu," bujuk Brayen segera merebahkan badannya.


"Sayang nanti di lihat orang," ujar Juwita merasa tidak enak.


"Aish... benar benar," Brayen akhirnya menggeram kesal.


"Juwita, Brayen ayo makan siang dulu, nanti malam ada acara lagi loh, isi tenaga dulu," terdengar suara nyonya Mona yang menggelegar dari luar sana.


"Mama Mona Bray," Juwita sedikit mendorong tubuh Brayen, sehingga membuat Brayen menjauh sebentar sebelum akhirnya mencabutnya secara perlahan.


"Sabar benih ku, nanti malam kita gempur," gumam Brayen segera menjauh, meratapi babang Bray nya yang pastinya saat ini tengah berdenyut.

__ADS_1


Hai... jangan lupa like, komentar dan jadikan sebagai favorit ya. Jangan lupa bersyukur, ingat pesan Andi.


__ADS_2