
Brayen telah mengatur keberangkatan nya, dengan Indri. Saat ini Brayen telah mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Brayen sedikit tergesa gesa menuju ruang tunggu. Indri menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku bosnya.
Brayen mengedarkan pandangannya, mencari Juwita, dari ujung sana Brayen melihat Juwita yang tengah melihat ke sana kemari. Juwita juga tampaknya mencari dirinya. Brayen berjalan perlahan menuju arah Juwita. Tiba tiba Juwita memandang ke arah Brayen, Juwita tersenyum, berjalan sedikit pincang.
Senyum di wajah Juwita mengembang, membuat Brayen mempercepat langkahnya. Brayen segera memeluk Juwita, seolah mereka baru saja terpisah, dari jarak yang sangat-sangat jauh, dan waktu yang sangat lama.
"Cih baru tidak bertemu dalam waktu empat hari saja sudah seperti berpisah empat abad," ejek Indri, melihat sepasang kekasih, yang terlihat baru saja menjalani kisah long distance relationship dengan waktu yang cukup lama. "Sabar sabar Indri jodoh mu semakin dekat, seperti kapal yang karam. Mentok tidak bisa kemana mana."
"Wajah kamu kenapa?" Juwita menangkup wajah Brayen. Terlihat jelas Juwita sangat khawatir terhadap Brayen.
Brayen tersenyum segera memegangi kedua tangan Juwita yang menangkup wajahnya. Brayen mengecup tangan Juwita. "Ini hanya luka kecil, tidak apa apa. Ayo pulang, kamu pasti kelelahan kan? Kaki mu belum sembuh, tapi sudah menjemput ku."
"Hm, sudah hampir sembuh, ini tinggal membuka beberapa perban saja, besok aku akan ke dokter lagi," ujar Juwita menunjukkan luka yang hampir mengering.
"Kaki mu sakit? Atau kau harus aku gendong?" Brayen mengusap lembut kelapa Juwita. Sontak saja membuat jantung Juwita, hendak meloncat keluar.
"Tidak aku tidak apa apa," Juwita menggigit bi birnya.
Brayen yang melihat Juwita menggigit bi birnya, menjadi tidak tahan, Brayen segera mendekat dan mengigit bi bir Juwita dengan lembut. Juwita terdiam, mendapat serangan mendadak dari Brayen. Brayen segera mengangkat tubuh Juwita ke atas kopernya, untung saja kopernya merupakan koper canggih keluaran terbaru, sehingga bisa di naiki, dan di kendalikan dengan remote.
Brayen mengatur posisi koper tersebut, sejajar dengan langkahnya, sehingga bisa menggandeng tangan Juwita, atau mengusap lembut kepala Juwita.
^^^Aduh dia benar benar melakukannya di depan umum, apa dia tidak malu? Bagaiman jika orang orang salah faham, dan mengira kami adalah sepasang kekasih? Agh, aku benar benar malu.^^^
Sementara Brayen sedikit malu, dan merutuki kebodohannya sendiri, yang tak kuat dengan godaan bi bir Juwita.
__ADS_1
^^^Aduh apa yang aku lakukan? Apa dia marah? Agh, aku benar benar tak tahan melihat bi bir nya.^^^
"Wit mobil mu di mana?" Brayen memandang Juwita, sembari mengusap kepalanya.
"Itu, aku berangkat dengan supir," ujar Juwita, menunjuk ke arah mobil.
"Bagus," Brayen mengecup puncak kepala Juwita. "Indri kamu pulang dengan kami atau tidak?"
"Tidak tuan, saya sudah memesan taksi," ujar Indri segera memanggil supir taksi, untuk memasukkan kopernya ke dalam bagasi.
Brayen segera menurunkan Juwita, dan berjalan ke arah bagasi, untuk memasukkan kopernya.
Brayen masuk dan meminta supir untuk mengantarkan ke rumah Juwita. "Kenapa kita ke rumah ku? Nanti kakek mencari bagaimana?"
"Nanti biar aku yang bilang kepada kakek," ujar Brayen memainkan rambut Juwita.
"Tuan sampai di sini saja, biar saya turunkan koper tuan, pasalnya saya harus menjemput tuan di kantor," ujar supir tersebut.
Brayen mengangguk, kemudian mengeluarkan kopernya, dan meminta Juwita untuk kembali duduk di atas kopernya. Juwita mengangguk saja, dan duduk di atas koper Brayen.
"Pak terimakasih ya, bilang sama kakek kalau kami pulang ke rumah dulu, nanti sore baru ke sana," ujar Juwita, tersenyum, sembari melambaikan tangan ke arah supir tersebut. Brayen segera menutup gerbang, dan membawa Juwita masuk ke dalam.
Tampan mereka sadari sebuah lensa sejak tadi mengikuti mereka, dan memotret segala aktivitas Brayen dan Juwita, pemilik kamera tersebut tersenyum, melihat jadi potret nya hari ini yang sangat memuaskan.
Sementara di dalam rumah, Brayen membawa Juwita ke dalam kamar, kemudian meletakkan kopernya di samping lemari. Brayen segera duduk di samping Juwita, yang duduk di samping tempat tidur.
__ADS_1
Brayen segera mengusap lembut kepala Juwita, dan mulai meremas tengkuk Juwita. Juwita kembali salah tingkah, tanpa sengaja mengigit bi bir nya. Brayen tersenyum melihat tingkah Juwita.
"Kau tahu? Aku tak pernah bisa tidur nyenyak di sana, aku benar benar merindukan mu," ujar Brayen, segera menarik tengkuk Juwita dan menyerang bi bir Juwita dengan bi birnya.
Brayen menyesap lembut, dengan pa*ngu*tan, di setiap inci bi bir Juwita. Juwita megalungakan tangannya di leher Brayen. Lidah mereka saling membelit, memberi sensasi aneh di setiap rongga mulut mereka. Setelah merasa menginginkan sesuatu yang lebih, Brayen buru buru melepaskan pa*gue*tan mereka.
Brayen segera membawa Juwita ke dalam pelukannya, dan membaringkan badannya, dengan kepala Juwita tepat berada di atas da danya. Brayan mengecup puncak kepala Juwita, dan membelai kepala Juwita.
"Temani aku tidur, aku tak bisa tidur nyenyak, kau selalu mengganggu tidur ku," ujar Brayen membuat Juwita mengangkat kepalanya bingung dengan maksud Brayen.
Brayen terkekeh melihat ekspresi wajah Juwita. Brayan menyentuh wajah Juwita, dan mengecup kening Juwita. "Sudah lah, tidur kau harus sembuh, besok kita akan pergi melihat gaun dan jas pesta."
Juwita kembali merebahkan kepalanya di atas da da Brayen. Brayan kembali mengusap lembut kepala Juwita. Brayen mengedarkan pandangannya memperhatikan inci demi inci kamar Juwita, mata Brayen tertuju pada lukisan yang cukup besar dengan bentuk Tajmahal.
"Wit kenapa di sini ada Tajmahal? Kau mau ke India suatu saat nanti?" Brayen segera memandang ke arah wajah Juwita. Juwita memandang lukisan tersebut dengan senyuman penuh arti.
"Hm, kata ayah di sana ada sepasang suami istri dengan cinta yang akan kekal abadi dan selalu di eluh eluhkan masyarakat. Bagi ayah itu seperti sebuah simbol cinta. Dulu aku dan ayah berencana untuk kesan," Juwita mengusap air matanya yang telah meleleh. Brayen segera mengecup lama puncak kepala Juwita, seolah memberi kekuatan bagi Juwita.
"Tidak apa-apa, nanti biar kita yang ke sana, kita akan melihat simbol cinta di sana," ujar Brayen mengusap lembut kepala Juwita.
^^^Bagaimana mungkin Brayen. Kita tak saling mencintai, laku bagaiman mungkin begitu? Kau jelas jelas tak mencintaiku. Juwita^^^
^^^Wit jelas jelas aku melanggar peraturan nomor dua, yang ku buat sendiri. Bagaiman ini? Bagaiman jika aku tidak punya alasan untuk membuatmu tetap di sisi mu, aku sangat takut Wit. Brayen^^^
Brayen memeluk erat tubuh Juwita, seolah takut kalau Juwita akan meninggalkan nya.
__ADS_1
Guys jangan lupa beri dukungan ya, dengan cara, klik like, komentar, kemudian beri hadiah dengan bunga sekebon, atau kopi secangkir, dan beri vote...