
Pagi ini Brayen segera berangkat ke rumah Chandra, Brayen ikut menjadi pihak keluarga dari Chandra.
"Tegang bro?" Brayen tiba tiba muncul dari balik pintu, dengan pakaian casual, percayalah saat ini baju Brayen dan Juwita serasi, karena saat ini mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.
"Banget, kalau nikah bisa ga ya ga setegang ini?" Chandra memegang jantungnya, yang berdetak kencang.
"Mau di wakili ga?" tawar Brayen di hadiahi pukulan oleh Chandra.
"Enak aja lo," kesal Chandra sembari keluar dari kamarnya.
"Lah Brayen di sini juga?" Nyonya Mona terkejut ketika melihat anaknya dan Brayen, serta beberapa makeup artis turun bersamaan dari lantai dua.
"Iya tan, katanya Chandra deg degan, terus saya tawarin jasa, untuk mewakilkan dia, eh dianya malah marah," kata Brayen sedikit mencairkan suasana.
Brayen sadar betul bahwa nyonya Mona belum sepenuhnya percaya, meskipun tuan Omer sudah percaya padanya. Tapi ya sudah lah, ini memang sesuatu yang harus di tanggungnya, meski dirinya telah berubah, dan kini telah memiliki kekasih. Yaitu dokternya sendiri.
"Ya iyalah itu sana aja lo yang ngembat, gue sama pacar lo cuman bisa gigit jari."
......................
Saat melangsungkan akad, Brayen melihat ke arah tangga, menunggu pengantin wanita. Lebih tepatnya menunggu kekasihnya, Juwita. Sejak kemarin Juwita tak sempat pergi dengannya, pasalnya Juwita harus menolong Aliya mempersiapkan pernikahan.
Brayen sedikit cemberut kala melihat status Juwita sejak kemarin, pasalnya Juwita memasang video kebersamaan dirinya, Aliya, Angel dan juga Aska. Terlebih hari ini, Juwita tampak memasang foto bersama dengan Aska, dengan pose lucu.
"Hei mencari siapa?" tuan Omer melihat tingkah Brayen yang celingak celinguk menjadi penasaran sendiri.
"Menunggu pengantin turun om," ujar Brayen sibuk mengirim pesan kepada Juwita.
"Menunggu pengantin atau menunggu kekasih?" tuan Omer menggoda Brayen. Brayen menjadi malu sendiri mendengar penuturan tuan Omer.
Tepat setelah akad Aliya turun bersamaan dengan Juwita dan Angel. Mereka tampak sangat menawan. Namun bagi Brayen Juwita lah yang paling cantik di matanya.
"Mana yang cantik antara ketiga gadis itu?" tuan Omer kembali menggoda Brayen.
__ADS_1
"Juwita," Brayen menyebutnya secara spontan, sontak membuat nyonya Mona yang berada di samping Brayen terkikik geli.
"Tentu saja di kan pacar mu," ujar tuan Omer hampir mengeluarkan tawa besarnya.
Juwita tersenyum ke arah Brayen, tentu saja Brayen membalas senyuman tersebut. Juwita berjalan mendekati Brayen yang tengah duduk di samping tuan Omer. Mereka tampak berbincang bincang.
Setelah melakukan sesi photo, Juwita hendak membuang hajatnya, segera berjalan menuju lantai dua, pasalnya saat ini dapur penuh dengan orang katering.
Saat Juwita selesai dengan hajatnya, Juwita segera keluar dari kamar mandi, namun di kejutkan dengan kehadiran Brayen.
"Siapa dia?" ujar Brayen ambigu, sontak membuat Juwita bingung sendiri.
"Ha? Siapa? Siapa apa nya?" Juwita bertanya dengan wajah bingung.
"Dia," memperlihatkan foto Juwita dan Aska yang tengah berpose ala ala gadis sampul dan pasangan serial Korea, dengan finger love.
"Oh... dia Aska, kakaknya Angel," ujar Juwita santai.
"Juwita kamu tidak berniat mencampakkan aku bukan?" Brayen memandang Juwita dengan seksama, jujur saja saat ini Brayen merasa tidak percaya diri, jika Juwita benar benar mencintai nya.
"Jangan pura pura tidak tahu Wit, kemarin saat aku menelfon mu, yang mengangkat suara laki laki, dan aku sudah menduganya dia ini kan? Tidak hanya satu kali, saat aku menelfon mu, aku mendengar suara laki laki itu lagi," Brayen berkata dengan menggebu gebu. "Wit aku tahu memiliki banyak kekurangan, tapi bisa tidak kau beri aku kesempatan satu kali saja?"
Juwita terkekeh mendengar penuturan Brayen, laki laki itu tampak sedang cemburu. "Aduh kau ini, untung saja tampan, setidaknya menutupi kekurangan mu, yang sedikit pencemburu," Juwita memandang wajah Brayen yang memerah, karena baru saja mengeluarkan semua kekesalannya. "Hei ingat kita baru saja berpacaran, apa kau pikir aku main main? Lalu kau berfikir aku akan mencampakkan mu?"
"Aku... Aku minta maaf, hanya saja... aku... aku takut kehilangan mu," Brayen membawa Juwita ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala Juwita lama. Brayen benar benar takut akan kehilangan wanita pertama yang ia cintai. Pasalnya ibu saja dia tidak kenal, jadi secara tidak langsung Juwita lah wanita yang pertama kali Brayen cintai.
"Kakak Angel itu hanya berbeda satu tahun dari Angel. Bagi aku dan Al, Aska dan Angel itu seperti adik sendiri, sudah jangan cemburu lagi ya," jelas Juwita tersenyum melihat mengurai pelukan mereka, Juwita berfikir bahwa Brayen Brayen benar benar takut kehilangannya. Juwita segera mengangkat kedua tangan nya dan mengusap lembut wajah Brayen.
"Benarkah? Kau tidak berbohong kan kepada ku?" Brayen menyambut kedua tangan yang menyengusap lembut wajahnya. Brayen mengecupnya hingga berkali kali.
"Tentu saja tidak," ujar Juwita meyakinkan. "Dasar bule pencemburu."
"Cemburu tanda cinta," ujar Brayen tak ingin kalah. "Aku sangat merindukan mu."
__ADS_1
Mereka berpelukan dalam waktu yang lama, Brayen benar benar menyalurkan rasa rindunya yang tertahan, selama masa persiapan pernihakan Aliya dan Chandra.
"Lalu kenapa kau tidak datang ke rumah kakek?" Juwita memandang Brayen bingung. Juwita berfikir Brayen tengah sibuk, jadi tak sempat untuk hanya sekedar melihat keadaannya. Hanya video call yang membuat rindu terurai meski hanya sedikit.
"Chandra bilang yang menjadi anggota keluarga di larang keras menemui anggota keluarga perempuan, karena itu akan menimbulkan mara bahaya," jelas Brayen dengan wajah polosnya. Tentu hal itu mengundang gelak tawa Juwita.
"Apa? Chandra mengatakan hal tersebut?" Juwita menggeleng, pusing mendengar Brayen menuturkan kata kata dari laki laki yang menjadi suami sahabatnya.
"Iya," ujar Brayen dengan wajah polos, tak mengetahui maksud tawa Aliya. "Memangnya ada yang salah?"
"Hei tidak ada yang semacam itu, dia hanya menipu mu," ujar Juwita semakin terkekeh.
"Apa?! Chandra... awas saja," kini giliran Brayen yang terkejut dengan berita tersebut.
Juwita berinisiatif membawa Brayen ke dalam pelukannya, sontak saja di sambut oleh Brayen.
"Cie pacaran terus," Angel tiba tiba muncul di balik pintu kamar Juwita dan mengejutkan kedua pasangan tersebut.
"Dasar jones," sembur Juwita, merasa kemesraan miliknya di rusak oleh Angel. Angel hanya terkikik geli.
"Tapi menyenangkan," ujar Angel tak ingin kalah.
"Tipe mu bagaimana ngel?" Brayen mencoba melerai pertengkaran kedua sahabat ini. Dengan mengalihkan perhatian mereka.
"Yang penting hati nya saja, tidak perlu tampan. Karena di usia sekarang angel memikirkan tentang hati saja," ujar Angel membuat Brayen mengangguk mengerti
"Wah kau sangat keren Angel," ujar Brayen tersenyum manis kala mendengar penuturan Angel.
"Tentu saja, hati... Harta dan properti," ujar Angel mengejutkan Brayen dan Juwita, secara bersamaan. Angel terkekeh melihat ekspresi keduanya.
"Aku sumpahi kau dapat duda," kesal Juwita, semakin membuat angel terkekeh.
"Duda keren."
__ADS_1
Guys jangan lupa beri dukungan ya, dengan cara, klik like, komentar, kemudian beri hadiah dengan bunga sekebon, atau kopi secangkir, dan beri vote...