
Brayen baru saja masuk ke dalam kantornya, setelah tadi mendatangi kekasihnya di rumah sakit, untuk makan siang bersama. Brayen segera mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya, hingga akhirnya ponsel miliknya berbunyi. Brayen menerima pesan dari Chandra, sebuah video dengan keterangan.
...Tonton untuk referensi lo....
Ujar Chandra setelah mengirim video tersebut. Brayen segera membukanya, setelah terputar alangkah terkejutnya Brayen, melihat blue film tersebut. Saat akan menghubungi Chandra ternyata ponsel Chandra sedang di luar jangkauan.
Brayen segera mengerjakan pekerjaannya, namun bayangan film tersebut selalu melintas di pikirannya, kini bahkan Brayen membayangkan Juwita dan dirinya melakukan adegan tersebut.
"Aduh awas saja kau dasar Chandra somplak, be*de*bah," geram Brayen, terus mengumpat Chandra, yang saat ini pasti sedang bersenang senang dengan Aliya.
Brayen segera mengembalikan fokusnya, dan mulai kembali mengerjakan berkas yang menumpuk.
Sore harinya Brayen pergi menjemput Juwita, Juwita tampak sudah menunggu di depan gerbang rumah sakit, Brayen segera menghentikan mobilnya tepat di hadapan Juwita.
Dan Juwita masuk ke dalam mobil, duduk di samping Brayen, dengan senyum yang tak pernah lepas. Brayen mengecuo bi bir Juwita sebentar, sebagai ucapan selamat datang dan selamat sore.
Brayen mengemudi kan mobil miliknya ke tempat Juwita. "Besok aku masuk siang, jadi bawa mobil sendiri aja ya," ujar Juwita tersenyum.
"Pulangnya jam berapa?" Brayen memandang Juwita sejenak, kemudian kembali fokus menyetir.
"Jam sebelas malam mungkin," ujar Juwita, tersenyum.
"Besok biar aku jemput, sekalian aku makan siang di rumah," ujar Brayen mengusap lembut kepala Juwita
"Tapi kau akan kelelahan dan banyak pekerjaan," Juwita tidak enak sendiri.
"Tidak apa apa, asal bisa bertemu dan memeluk mu, lelahku pasti hilang," ujar Brayen segera meraih menghentikan laju mobilnya ketika di lampu perempatan jalan.
Brayen segera mengecup bi bir Juwita berkali kali, hingga akhirnya bunyi klakson dari mobil belakang menyadarkan Brayen. Brayen segera menyadarkan dirinya, dan melajukan mobil mereka ke rumah.
Setelah makan malam, Juwita segera masuk ke dalam kamarnya, di ikuti oleh Brayen. Brayen dengan santainya meletakkan ponselnya di samping Juwita, dan berbaring di pangkuan Juwita.
Juwita dengan iseng memainkan ponsel Brayen. Jika Brayen melarangnya maka Juwita akan dengan senang hati berhenti, namun sepertinya Brayen tak masalah, laki laki itu justru menenggelamkan wajahnya di perut Juwita.
Saat membuka galeri, hanya ada beberapa foto, dan itu adalah foto Juwita yang tak di sadari Juwita, ada juga foto mereka saat menghadiri pernikahan Chandra dan Aliya.
Juwita kemudian beralih kepada galeri video, Juwita dengan santainya memutar video tersebut, matanya membulat kala mendengar suara dari video tersebut, sontak Brayen segera terduduk di samping Juwita.
"Kau menontonnya?" Juwita menatap tajam ke arah Brayen.
__ADS_1
"Ti... ti... tidak," Brayen gugup ketika menjawab pertanyaan Juwita, kepalanya menunduk tak berani menatap Juwita.
"Jangan berbohong, jika tidak kenapa bisa ada di galeri mu?" Juwita tahu kalau Brayen berbohong, justru semakin menyipitkan matanya.
^^^Awas saja kau Chandra makhluk sableng, aku akan menggantung mu jika Juwita marah kepada ku. Brayen.^^^
"I... itu, maaf kan aku, Chandra mengirim kan nya, dia bilang aku harus menontonnya," Brayen akhirnya mengakui tentang video itu, Brayen semakin menunduk.
"A... apa?! Yang benar saja, kalian benar benar..." Juwita benar benar tak percaya dengan kelakuan Chandra setelah sembuh. Bahkan mengirimi Brayen video tak senonoh.
^^^Dasar Chandra sableng awas saja kau. Juwita.^^^
"Maaf kan aku, ta... tadi siang Chandra mengirim kan nya, setelah makan siang," ujar Brayen segera membaringkan kepalanya di pangkuan Juwita menenggelamkan wajahnya di perut Juwita.
"Lalu kau menontonnya?" Juwita mengusap lembut kepala Brayen.
"I... Iya," ujar Brayen di ikuti anggukan kepala.
"Ya Allah, Chandra...! Akan ku pecat kau jadi suami Aliya," geram Juwita, dengan tangan mengepal.
"Tidak bisa itu," Brayen membalikkan badannya dan memandang ke arah Juwita. Brayen mengusap lembut wajah Juwita. Tiba tiba bayangan film kiriman Chandra kembali berputar, dan itu membuat Brayen menggigit bibirnya.
"Baik, maafkan aku," Brayen meraih tangan Juwita, sembari mengecupnya berkali kali.
"Ya sudah ayo tidur," ujar Juwita tersenyum hangat ke arah Brayen. "Kenapa lagi?"
"Beri aku kecupan selamat malam," Brayen mengerucutkan bibirnya, merenggut ingin di cium.
Juwita mengecup pipi Brayen. "Apa kau pikir aku anak kecil? Bi bir ku, di bi bir ku," Brayen segera protes dengan Juwita, Brayen tak terima hanya bibirnya pipinya yang di kecup.
"Dasar sini, tutup mata mu," Juwita segera meletakkan kedua tangannya di pipi Brayen.
Brayen segera menutup matanya, dan Juwita segera mengecup bi bir Brayen. "Terimakasih sayang," ujar Brayen mengecup puncak kepala Juwita.
"Hm, Ayo tidur," ujar Juwita segera berbaring, namun Juwita kembali membuka matanya saat merasakan Brayen membaringkan tubuhnya di samping Juwita. "Eh kau tidak tidur di kamar tamu?"
"Tidak," ujar Brayen tersenyum.
"Kenapa?" Juwita mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Karena aku tak mau jauh dari pacar ku," Brayen mengecup bi bir Juwita, tangannya mulai melingkar di pinggang Juwita.
"Jangan lebay," ujar Juwita memukul tangan Brayen yang melingkar di pinggang nya.
"Tidak, ayo tidur," bantah Brayen mengeratkan pelukannya. "Hm, aku mencintaimu, mulai sekarang dan selamanya."
"Manis sekali pacar ku, pantas Chandra mengatakan bahwa kau sangat manis," Juwita berujar sembari menutup matanya.
"Chandra bercerita tentang ku?" Brayen segera membuka matanya memandang ke arah Juwita.
"Tentu saja, aku harus mengetahui tentang Chandra. Aku adalah dokter nya," Juwita tersenyum dengan mata terpejam.
"Ah, iya aku lupa. Kau masih memiliki pasien jalan?" Brayen mendekatkan wajahnya, hingga nafas hangat Brayen menyapu wajah Juwita.
"Tentu saja, tapi saat ini tinggal satu, pasalnya yang satu ini sudah menjadi pacar ku," Juwita mencubit pipi Brayen dengan gemas.
"Ceritakan," chandr mengecup tangan Juwita yang mencubit pipi Brayen.
"Namanya itu Jojo, namun terkadang dia berubah," ujar Juwita mulai menerawang wajah Jojo.
"Berubah kenapa?" Brayen megusap kepala Juwita dengan tangannya yang bebas.
"Dia terkadang berubah menjadi orang lain. Bahkan aku belum pernah bertemu dengan karakter Jojo. Selama ini aku bertemu dengan karakter Jhonatan, dan lain lain. Sifat mereka berbeda, ada yang dingin, namun serius. Ada yang pemalu, ada yang gemulai, bahkan Aska sendiri sering pusing di buatnya," Juwita sedikit mengerutkan keningnya ketika bercerita. Brayen segera mengusap kening Juwita yang mengerut.
"Aska? Sepupu Angel?" Brayen memandang seksama wajah Juwita.
"Hm," Juwita mengangguk pasti.
"Apa dia akan membuat mu dalam bahaya?" Brayen tampaknya benar benar khawatir, pasalnya film yang selam ini ia tonton tentang kepribadian ganda, salah satunya memiliki jiwa pisikopa.
"Tidak juga, aku rasa akan baik baik saja, selama bukan karakter yang temperamental yang keluar," Juwita tersenyum menenangkan ke khawatiran Brayen.
"Jika dia melukai mu bagaimana?" Brayen memandang serius wajah Juwita.
"Tenang saja, selama ini dia bersama Aska setiap kali pemeriksaan, jadi tenang saja, ada Aska yang melindungi ku," ujar Juwita tersenyum hangat.
"Hai... Aku akan menemani mu."
Guys cuman mau mengingatkan bahwa give away masih berjalan loh, jadi jangan lupa beri dukungan ya, dengan cara, klik like, komentar, kemudian beri hadiah dengan bunga sekebon, atau kopi secangkir, dan beri vote...
__ADS_1