CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Manis sekali


__ADS_3

Juwita baru saja selesai makan malam dengan kesendirian nya. Asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya akan kembali sebelum magrib, dan datang kembali pagi pagi sekali. Tugasnya hanya membersihkan rumah dan menyiram tanaman.


Juwita memang terbiasa memasak sendiri, ia mandiri sejak kecil. Keadaan membuatnya mandiri, dan harus mampu mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendiri. Ayahnya dulu hanya seorang supir, meski akhirnya menjadi asisten kakek Rio, dan menjadi orang kepercayaan dari kakek Rio.


Baru saja Juwita akan terlelap, tiba tiba ponselnya berbunyi, Juwita berdecak kesal di buatnya, bagaiman tidak Juwita baru saja ingin istirahat, Juwita harus mendengar ponselnya berbunyi. Juwita segera meraih ponselnya, dan melihat nama pemanggil tersebut. Tertera nama Brayen, Juwita mengernyit bingung untuk apa Brayen menelfon nya malam malam begini. Awalnya Juwita tak ingin menelfon, namun mengingat sikap Brayen yang tidak akan menelfon jika tidak ada sesuatu yang mendesak, Juwita akhirnya mengangkatnya.


"Ya halo?" Juwita segera menyapa Brayen yang ada di ujung sana.


"Halo, anda temannya pemilik ponsel ini?"


Juwita mengernyit, ia sedikit gelisah, pasti ada yang tidak beres kepada Brayen, sehingga orang harus menelfon dirinya. "Iya ada apa?"


"Bisa anda datang ke bar xxx untuk menjemput teman anda? Beliau sedang mabuk berat."


Juwita memijit pangkal hidungnya, kepalanya tiba tiba pusing sendiri. "Ck, iya iya saya ke sana sekarang."


"Ck baru jadi pasien saja sudah menyusahkan," Juwita segera berdiri dan bangkit dari tidurnya,menyambar sweater, dan kunci mobilnya, Juwita akan menjemput pasiennya itu. Juwita adalah wanita yang berhati lembut dengan watak keras kepala, dan teguh pendirian. Karena itu rasa ibanya akan tetap selalu ada, meskipun ia akan sangat sebal dengan Brayen.


Juwita melajukan mobilnya menuju bar xxx atau lebih di kenalnya triple x. Juwita memarkirkan mobilnya di parkiran, kemudian berjalan ke dalam bar. Orang orang memperhatikan Juwita, wajah polos tanpa make-up, belum lagi pakaiannya yang hanya mengenakan baju piyama tidur, dengan sweater kebesaran, menjuntai hingga atas lutut.


Menggemaskan, itulah satu kata untuk Juwita. Beberapa laki laki menduga ia baru pertama kali masuk bar, sehingga terlihat polos.


"Ck dasar laki laki hidung belang, ku patahkan tangan kalian baru tahu rasa," gumam Juwita kembali menelfon nomor ponsel Juwita. "Hei para wanita berbaju kurang bahan, lihat lah bahkan diriku tak memakai make-up, dan baju yang tebal saja para laki laki lebih tertarik padaku, aduh menyedihkan sekali hidup kalian."


Juwita segera mendekat ketika melihat gerombolan seorang pemuda yang duduk di depan meja bar, melambai ke arah nya, tampaknya ia mengenali Juwita. Juwita segera mendekat.


"Eh wit, apa kabar mu? Kau bertambah imut saja, padahal hanya sehari aku tak melihat mu," Brayen bergumam, sembari membuka matanya sedikit, tampaknya kesadaran pria ini masih ada, meskipun hanya beberapa persen, karena dirinya bahkan masih mengenali Juwita.

__ADS_1


"Ck menyusahkan, untung saja aku adalah manusia yang baik hati, berbudi luhur pekerti, rajin menabung, dan tidak sombong," pria yang tadi menelfon Juwita bahkan kini ikut menyahut di akhir kalimat Juwita. "Eh tahu saja mas ini."


Juwita segera mencoba membantu Brayen berdiri, namun berantem tampaknya benar benar tak bisa berdiri.


"Kau mau membawaku ke kama? Berobat?" racau Brayen segera memeluk tubuh Juwita, dan mulai memainkan rambut Juwita. "Kau tahu kau sangat harum, hm dan membuatku entah lah, aneh saja."


"Ck iya tahu, itu sejak lahir dan semua orang juga tahu," sombong Juwita, mencoba membatu Brayen untuk berjalan, namun badan besar Brayen tak mampu Juwita bawa.


"Mas bisa tolong bantu saya untuk mengangkat teman saya?" Juwita memandang ke arah si peracik minuman. Laki laki itu mengangguk, kemudian membantu Brayen berdiri. Brayen terus saja memeluk Juwita, membuat mereka kesulitan berjalan.


"Chandra itu jahat kan?" Brayen tiba tiba meracau, ketika mereka telah sampai di dalam mobil.


"Mas terimakasih," Juwita segera berjalan menuju pintu pengemudi.


"Chandra kenapa jahat sekali?" Brayen meraih tangan Juwita, membuat Juwita berdecak.


"Chandra," Brayen masih saja bergumam menutup matanya.


"Sudah sana, jangan kau pegang tanganku," Juwita menghempaskan tangan Brayen, membuat Brayen bersungut kesal.


"Ayolah Juwita," Brayen kembali memegang tangan Juwita.


"Hm..."


"Dengarkan aku, aku mau bercerita, cuman kau yang bisa mengerti keadaan ku, cuman kau yang lain tak bisa, entah kenapa itu," ucap Brayen kini mulai menjelajahi perut rata Juwita.


"Brayen aku sedang menyetir ini, jangan pegang sana pegang sini, itu sangat geli," ucap Brayen, mencoba memperlambat laju kendaraan ketika hendak masuk ke dalam kompleks perumahannya.

__ADS_1


"Hm iya," ucap Juwita sebelum akhirnya keluar, dan membuka pintu pagarnya.


"Dengarkan dulu ceritaku," gumam Brayen.


"Iya iya, masuk dulu kita," ucap Juwita, segera membawa mobilnya ke dalam bagasi.


Juwita kemudian membawa Brayen menuju kamar tamu, dan membaringkan Brayen di sana.


"Kau tahu tidak? Kemarin itu aku berjalan ke salah satu anak perusahaan wedding organizer milik ku, dan kau tahu apa? Mereka! Chandra dan Aliya, mereka sedang melakukan sesi foto prewedding," Brayen semakin meracau tak jelas. "Dan kau tahu apa?" Brayen menarik Juwita yang sedang mencoba melepaskan jas miliknya.


"Aaaa, apa?" Juwita sungguh terkejut, terlebih saat ini ia jatuh kedalam pelukan Brayen.


"Mereka serasi," Brayen terkekeh memeluk erat Juwita yang hendak membebaskan diri dari pelukannya.


"Eh lepas ya?" Juwita semakin kesal di buatnya.


"Kau tahu rasanya? Seperti di tusuk ribuan pedang di sini, di dadaku," Brayen masih saja meracau, tanpa mendengar kan protes dari Juwita.


"Agh... Lepas Brayen," Juwita semakin memberontak, namun apa daya tenaga dari Brayen lebih besar dari pada dirinya. "Lupakan," akhirnya Juwita menyerah sendiri, fikirnya jika Brayen tertidur maka dirinya akan lebih mudah melepaskan diri.


Namun naas, Brayen masih saja meracau hingga akhirnya Juwita tertidur pulas, di dalam dekapannya. "Juwita, Juwita, kau tertidur? Agh, kau juga tidak asyik, aku sedang bercerita kau malah tertidur."


Suara dengkuran halus dari bibir Juwita, membuat Brayen mengalihkan pandangannya dan memandang ke arah bibir Juwita. Seperti sebuah magnet yang menarik kutub berbeda, Brayen mendekatkan bibirnya, me*raup bibir Juwita. Brayen menutup matanya, merasakan manisnya lu*ma*tan yang ia rasakan, rasanya sangat luar biasa, meskipun mabuk namun Brayen tetap dapat merasakan manis yang bi*birnya cicipi.


"Manis, manis sekali, oh aku mau lagi, kenapa kau tak bilang jika kau semanis ini hm?" Brayen melakukannya berkali kali, dengan Juwita yang tertidur pulas. Brayen terus bergumam hingga lambat laun menjadi semakin kecil, dan akhirnya ikut tertidur.


Volt guys biar semangat updetnya, jangan lupa like komentar dan favorit ya.

__ADS_1


__ADS_2