CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
wah Daebak


__ADS_3

Malam ini untuk pertama kalinya mereka makan malam bertiga, entah kenapa perasaan Juwita tidak enak, ada aura panas di sekelilingnya, Juwita bahkan menyetel AC hingga sangat kecil. Namun entah kenapa, suasana dari lingkungan masih terasa panas.


"Eh ini musim panas ya? Kok panas banget, padahal AC udah full loh," Juwita mengeluh sembari mengibas ngibaskan kausnya yang kebesaran.


"AC kamu rusak kali adik sayang," ucap Gilang memandang ke arah Brayen.


Gilang diam diam tersenyum senang, ketika melihat tangan Brayen meremas kuat garpu yang ia gunakan.


"Ya mungkin ya, besok servis aja ya," Juwita akhirnya melanjutkan makannya. "Brayen kok makannya sdikit? Ini tambah lagi."


"Dek ambilkan kakak kuah opor lagi," Gilang segera menyodorkan piringnya. Juwita dengan cekatan menyendok kan piring Gilang opor ayam.


"Wit aku juga," ucap Brayen ikut menyodorkan piringnya juga. Juwita mengangguk dan memberikan sepotong daging ayam, beserta kuahnya.


"Nasi juga?" Juwita kembali bertanya pasalnya Brayen tadi hanya mengambil sedikit nasi.


"Iya," jawab Brayen, Juwita segera mengambilkan nasi untuk Brayen, sesuai dengan porsi yang bisa Brayen makan.


Brayen diam diam tersenyum, dirinya tak menyangka Juwita tahu porsi untuknya. "Terimakasih."


"Adek sayang besok antar kakak ke bandara ya, soalnya besok harus ke Palembang," ujar Gilang.


"Jam berapa?" Juwita memandang ke arah Gilang, sembari menyuapi dirinya sendiri dengan nasi.


"Jam sembilan, bisa?" Gilang segera meneguk air minumnya.


"Hm Wita kerja kak," Juwita tampak berfikir. "Tapi bisa kok Wita minta izin."


"Engga, biar aku aja yang mengantar dia," Brayen menunjuk Gilang dengan garpu.


"Eh, tapi ga enak lah, udah lah aku aja yang ngantar," ujar Juwita membuat Brayen semakin kesal.


"Tu kan adek sayang juga mau kok," ujar Gilang tersenyum penuh arti.


Brayen semakin kesal, entah kenapa perasaan Brayen, Juwita terus membela Gilang, belum lagi Gilang yang terus memanggil Juwita dengan panggilan adek sayang, semakin mendidih lah darah Brayen. Hati Brayen seakan tak rela ketika Gilang memanggil Juwita dengan panggilan adek sayang.


"Wita kau kerja besok, aku bisa mengantarkan nya, aku bisa merubah jadwal meeting dengan client," ujar Brayen tegas membuat Juwita terdiam. Menurut Juwita lebih baik diam saat ini, dari pada berdebat dengan Brayen di meja makan.

__ADS_1


"Hm, terserah," kata Gilang santai, menahan tawa melihat tingkah Brayen.


"Hm, ac di kamar tamu bagus kan adek sayang, kakak setelah makan ingin langsung istirahat," ujar Gilang memanaskan keadaan.


"Iya kak," ujar Juwita santai meneguk air putih miliknya.


"Kau tidur di sini?" Brayen syok mendengar nya. Niat hati ingin tidur di apartemen kini telah pupus.


^^^Tidak laki laki ini berbahaya, aku tidak boleh membiarkan mereka tidur di satu rumah berdua.^^^


Brayen meradang di dalam hatinya. Brayen mendelik memandang ke arah Juwita yang tampak biasa biasa saja, bahkan saat ini tengah memainkan ponselnya.


^^^Ck, berani sekali dia. Dia melanggar peraturan kami, awas saja akan ku beri pelajaran dia.^^^


Brayen segera meminum airnya hingga tandas, sembari memandang Juwita dengan kesal.


"Aku istirahat dulu ya," Gilang segera mengecup puncak kepala Juwita, Juwita tampak tak terganggu, tetap memainkan ponselnya.


^^^Apa apaan ini? Senang sekali dia di cium.^^^


Brayen semakin kesal melihat pemandangan di hadapannya. Gilang segera berlalu menuju kamarnya.


Sementara Juwita saat ini sudah membereskan semua bekas makan mereka, dan mengangkatnya menuju wastafel. Brayen mengikutinya dari belakang, Brayen bahkan mengangkat gelas yang mereka gunakan tadi.


"Dia siapa?" Brayen meletakkan gelas di samping wastafel sembari memandang Juwita yang tengah mencuci piring. Brayen menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Memangnya penting untuk mu?" Juwita memandang sinis Brayen.


^^^Memangnya hanya kau yang bisa melanggar aturan? Aku juga bisa ok?^^^


"Iya Juwita, aku tak suka sikap nya kepada mu. Dan ingat perjanjian kita," Brayen mencengkram bibir wastafel, menggeram.


"Brayen kau duluan yang melanggar perjanjian kita, lalu kenapa kau melarang ku?" Juwita kini ikut memanas, terlebih Brayen melarangnya untuk dekat dengan laki laki lain.


^^^Dasar tidak adil, dianya boleh berpelukan dan mesra mesraan dengan wanita lain, kok aku tidak boleh. Enak saja!^^^


"Aku tak pernah melanggarnya Juwita," Brayen segera menegakkan badannya memandang Juwita dengan penuh kesal. Brayen bahkan menaikkan suaranya satu oktaf.

__ADS_1


Gilang cekikikan menutup mulutnya, agar tak terdengar oleh kedua orang yang tengah bertengkar, dengan mengatasnamakan perjanjian.


Juwita mengentikan aktifitasnya, tanpa mematikan kran air, ia menyilang kan tangan nya di dada, kemudian segera berbalik memandang Brayen. "Lalu tadi siang dengan Karin? Kalian berpelukan, lalu suap suapan," Juwita segera menyinggung soal tadi siang.


Gilang hampir meledakkan tawa kedua manusia yang cemburu, namun gengsi untuk mengakuinya. Keduanya benar benar menutupi kecemburuan mereka dengan perisai perjanjian.


"Itu tidak seperti itu Juwita, tadi Karian hampir terjatuh, dan aku menolongnya, lalu suap suapan itu terjadi karena dia terus memaksa, saat aku ingin menyusul mu yang tengah menelfon seseorang," Brayen melembut, ia sadar akan kesalahannya tadi siang, meski bukan sepenuhnya kesalahannya. Hanya saja salahnya, ia membiarkan Karin memanfaatkan keadaan sehingga membuat Juwita salah faham. "Aku ingin mengejar mu, tapi pintu lift tertutup. Aku... aku tak tenang Juwita, pekerjaan ku berantakan."


"Kenapa kau harus tidak tenang?" Juwita memicingkan matanya, penasaran dengan apa yang di maksud oleh Brayen.


"Karena agh, shiit. Aku khawatir padamu. Aku... aku tak tahu kenapa. Agh, jangan bertanya lagi," Brayen bahkan mengguyar rambutnya bingung, bingung menjelaskan perasaannya. "Lalu siapa Gilang itu?"


"Dia kakak sepupu ku," ujar Juwita memutar bola matanya.


^^^Si*al, matanya benar benar ingin ku cium. Agh... Apa yang aku pikirkan?^^^


"Agh, kau. Kenapa tak mengatakannya dari tadi ha?" Brayen mengembalikan konsentrasi nya, agar tidak berfikir yang tidak tidak.


"Kau tak bertanya," Juwita justru menjawabnya dengan santai.


"Iya tapi agh... Kau benar benar mengesalkan Juwita," Brayen segera mencengkram pundak Juwita, saat gadis itu hendak berbalik mencuci piring.


"Apa? Aku bahkan tak melakukan apapun," Juwita sedikit jengah melihat sikap Brayen.


"Dia mencium mu," jujur Brayen menahan pekikan di ujung lehernya, Brayen tak ingin Gilang mendengar pertengkaran rumah tangga mereka.


"Akan ku lakukan yang lebih besok pagi," ujar Gilang berbisik, agar kedua orang yang lebih tampak seperti sepasang suami istri itu tak mendengarkan nya. Atau bahkan tak menyadari kehadirannya.


"Lalu? Dia sudah biasa melakukannya. Dia kakak ku," ujar Juwita juga ikut kesal.


Juwita merasa kesal, kadang di waktu-waktu tertentu Brayen memperlakukannya seolah benar benar menginginkannya. Namun di waktu yang bersamaan juga seolah tidak menginginkannya.


"Bukan kakak kandung mu Juwita," Brayen segera semenarik pinggang Juwita, menepis jarak di antara mereka. Brayen meletakkan tangannya di tengkuk Juwita.


"Ow ow ow, harus di abadikan ini," Gilang segera mengambil ponselnya dan memulai merekam aksi yang akan Brayen dan Juwita lakukan.


"Apa bedanya dia tet..."

__ADS_1


Brayen memangu bibir Juwita dengan kasar dan mengangkatnya hingga duduk di atas meja wastafel. Baju mereka basah akibat percikan air wastafel.


"Wah kalau di dram Korea itu bilangnya. Wah Daebak," Gilang terkikik melihat konflik yang di selesaikan dengan bi bir


__ADS_2