
Brayen turun dari kursi nya, Brayen segera mendekat ke arah Juwita yang masih menutup mulutnya. Brayen segera menggenggam serat tangan Juwita yang bebas. Brayen mencoba menarik nafas membebaskan kegugupan nya.
"Wit bagaiman seandainya aku melanggar salah satu perjanjian kita?" Brayen memandang Juwita dengan penuh kegelisahan. Jantungnya berpacu seperti akan lomba maraton.
"Maksudnya? Kau dekat dengan seorang wanita lain? Kau sudah sembuh?" Juwita berusaha untuk tidak terlalu melambung.
Brayen melihat tingkah Juwita menggigit bi birnya membuatnya Brayen tersenyum. Brayen tahu itu ciri khas Juwita ketika gugup, atau malu malu. Ingin rasanya Brayen menggigit nya, namun laki laki dengan wajah khas laki laki barat itu menahannya.
"Bukan, bukan itu," Brayen kembali mendesah ketika menjawab pertanyaan Juwita.
"Lalu yang mana?" Juwita semakin mengigit bi bir nya, meneguk ludahnya, menahan gejolak di dadanya.
Juwita dapat menyimpulkan bahwa yang di maksud oleh Brayen itu dirinya, Juwita sudah mulai membaca situasi nya. Semakin membuat jantung Juwita berdetak kencang, nafasnya memburu, menandakan ia sedikit sulit bernafas.
"Bagaiman menurut mu, kalau misalnya aku melanggar peraturan nomor dua," Brayen kembali mengulangi pertanyaannya.
"Ha? Kau menyukai ku?" tebak Juwita mencoba menahan rona merah di wajah nya, Juwita mencoba tenang, meski jantungnya berpacu cepat.
"Ini misalnya Wit, apa kau akan meninggalkan ku, dan membatalkan perjanjian kita?" Brayen kembali bertanya dengan suara kecil, menandakan pria itu tengah dalam kekhawatiran yang cukup besar.
"Kenapa harus misalnya?" Juwita sedikit terhibur melihat reaksi Brayen, kaki laki itu tampak bukan dirinya.
"Aku, aku hanya tidak ingin kau meninggalkan ku," Brayen memejamkan matanya, menguraikan re*ma*san di jari jemari Juwita. Satu tangannya lagi meraih tangan Juwita yang tadi ia gunakan untuk menutup mulutnya.
"Jadi kau benar benar menyukai ku?" Juwita kembali menebaknya dengan benar, ada rasa melambung di dalam dadanya, Juwita seakan di bawa terbang oleh perasaan nya, yang ternyata berbalas.
"Bukan, tapi ini lebih tepatnya aku mencintai mu," jujur Brayen mencoba maju satu langkah lagi di hadapan Juwita, mengikis jarak dan saling menghangatkan.
"Sejak kapan?" Juwita masih ingat betul keadaan saat berada di rumah sakit, tentang hubungan simbiosis mutualisme.
"Entah lah, aku tak pernah tahu. Lalu bagaimana menurut mu? Apa sekarang perjanjian kita di batalkan?" Brayen tidak sabaran, namun juga khawatir. "Kau tidak usah memikirkan perasaan ku, aku masih bisa berpura pura di hadapan orang lain."
__ADS_1
"Mari kita sudahi kontrak kita..."
Brayen membelalakkan matanya, tak percaya dengan ucapan Juwita, tiba tiba hatinya di rundung kesedihan. Namu ia tak akan menyerah, bukan kah Juwita masih membutuhkan dirinya untuk berlindung dari perjodohan bisnis tersebut?
"Wit, aku tahu kau tak mungkin menyukai ku. Kau tahu betul masa lalu ku. Aku tahu aku tak pantas untuk mu, aku sadar itu. Tapi jika kau menyudahi kontrak kita, maka aku khawatir kau akan kembali di jodohkan, lalu kau akan melakukan kontrak dengan siapa lagi?" Brayen mendesak Juwita memotong ucapan gadis tersebut.
"Hm... Kau ini aku bahkan belum menyelesaikan perkataan ku," ujar Juwita menahan tawanya, gadis itu benar benar merasa lucu, melihat ekspresi Brayen.
"Maksud mu?" Brayen kembali mencoba untuk tenang, berusaha bernegosiasi dengan logikanya.
"Kita sudahi kontrak kita, mari kita berpacaran," ujar Juwita membuat senyum di bibir pria itu merekah, wajahnya memerah menampakkan kebahagiaan.
"Maksud mu? Kau juga mencintai ku?" Brayen mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi, ia takut salah mendengarkan nya.
"Menurut mu?" Juwita segera mendekatkan dirinya, sehingga tak ada jarak di antara mereka.
"Wit Ini bukan karena kau kasihan kan kepada ku? Jika kau kasihan lebih baik tidak," Brayen tiba tiba di rundung ketidak percayaan diri.
"Jadi kau tidak mau?" Juwita menggoda Brayen. Melihat ekspresi wajah Brayen tadi Juwita dapat menebak bahwa Brayen merasa tidak percaya diri dengan masa lalunya.
"Lalu?" Juwita menyentuh wajah Brayen dengan tangan kanannya, tindakannya termasuk berani, dari biasnaya. Toh saat ini mereka sepasang kekasih bukan? Juwita mengusapnya lembut.
"Aku hanya tak ingin kau terbebani dengan pernyataan ku," Brayen memegang tangan kanan Juwita yang mengusap wajahnya. Brayen menutup matanya menikmati sentuhan lembut Juwita.
"Apa aku terlihat terbebani? Aku juga menyukai mu, entah kapan, aku tak tahu," ujar Juwita jujur, menjanjikan kakinya mengecup dagu Brayen. "Jadi mari kita berpacaran."
"Kau menembakkan ku? Ah ini benar benar di luar dugaan ku," Brayen memeluk pinggang Juwita, menautkan kening mereka, tanpa sengaja air matanya jatuh mengenai pipi mulus Juwita.
"Hei kau menangis?" Juwita menghapus air mata Brayen, dengan tersenyum lembut.
"Terimakasih telah menerima ku apa adanya, terimakasih telah menerima masa lalu ku," Bryant segera memeluk Juwita menghapus jejak air matanya. Brayen merasa sedikit malu, tampak lemah dan rapuh di hadapan Juwita.
__ADS_1
"Aduh kita benar benar terbalik, aku yang menembak mu, dan kau yang menangis," Juwita menghibur Brayen, dengan mencoba mengucapkan lelucon.
"Aku rasa aku benar benar beruntung tahun ini," ujar Brayen mengecup kepala Juwita dengan sedikit lama.
"Apa yang membuat mu merasa beruntung?" Juwita menguraikan pelukannya.
"Pertama aku mengenal mu, kedua kau mau menjadi kekasih ku, dan ketiga aku menemukan Tuhan ku," Brayen kembali menautkan kedua kening mereka.
"Kau memeluk agama?" Juwita setengah terkejut memandang Brayen, Juwita bahkan menjauhkan wajahnya hendak memandang wajah Brayen dengan seksama.
"Iya," ujar Brayen mengusap lembut pipi Juwita
"Kapan?" Juwita semakin penasaran di buat Brayen.
"Saat di Kalimantan, aku melakukan syahadat," ujar Brayen tersenyum.
"Selamat ya, aku tidak membawakan mu apa apa," ujar Juwita tersenyum.
"Tidak kau sudah memberiku sesuatu yang berharga, terimakasih atas cintanya," jmujar Bryan kembali memeluk Juwita dengan erat.
Brayen mengurai pelukan mereka, Brayen kemudian mendekatkan wajahnya, Brayen mendaratkan bi birnya di atas bi bir Juwita. Juwita memejamkan matanya, menerima serangan manis dari Brayen.
Juwita sedikit membuka mulutnya, demi melancarkan lidah Brayen untuk bertamu, Brayen semakin menarik tengkuk Juwita. Juwita tak ingin kalah ia mengalungkan tangannya di leher Brayen.
Hingga Brayen mendorong tubuh Juwita dengan pelan, mengarahkan Juwita ke arah sofa. Dengan pelan Brayen membaringkan tubuh Juwita dan menindihnya.
"Kucing ku, sayang," gumam Brayen di sela ciu*man panas mereka. Juwita yang mulai mahir ber*ciu*man, hanya melenguh, merasakan nikmatnya pa*ngu*tan mereka.
Brayen melepaskan penyatuan bi bir mereka, dengan sedikit mengigit bibir Juwita. Brayen dengan nafas terengah engah memandang wajah Juwita yang terpejam dengan mulut sedikit terbuka, nafasnya memburu, da da nya naik turun. Entah setan apa yang merasuki Brayen, laki laki itu memberanikan diri mengecup da da Juwita Juwita dengan menenggelamkan wajahnya.
Juwita tersentak namun menikmati nafas hangat Brayen. bahkan terdapat sedikit gelenyar di sana. Hangat, aneh, menggelitik, dan nikmat.
__ADS_1
"Ugh..."
Lenguhan Juwita menyadarkan Brayen. Brayen segera memandang ke arah Juwita. "Maaf," ujar Brayen kembali hendak mengecup bi bir Juwita. Namun baru saja hendak sampai, bunyi suara perut Juwita mengejutkan mereka. "Ayo makan."