
"Kau masih kuliah?" Brayen ersenyum ketika kebanyakan nya.
"I... iya," meskipun masih sedikit gaguk namun Jojo sudah tidak menunduk lagi.
"Kuliah jurusan apa?"
"Ekonomi kak," jawab Jojo.
"Oh, kalau kau sudah selesai kau bisa bekerja di tempat ku, atau jika kau ingin magang kau bisa magang di tempat ku," ujar Brayen membuat senyum Jojo terbit, kini kekhawatiran masa depannya sudah tidak perlu ia khawatir lagi, namun ia hanya perlu giat belajar dan mencari biaya kuliahnya.
"Terimakasih banyak kak," ujar Jojo tersenyum cerah.
"Kau kuliah sambil bekerja?" Brayen kembali bertanya.
"Iya kak, bekerja di kafe," ujar Jojo.
"Berapa gajinya?"
"sekitar satu juta kak," jawab Jojo.
"Itu tak akan cukup bukan? Apa kau kos?" Brayen tampaknya mulai memiliki rencana.
"Iya kak," ujar Jojo.
"Berapa perbulan?"
"Lima ratus ribu kak," jawab Jojo menggaruk kepalanya.
"Berhentilah di sana, dan bekerja di tempat ku, kau hanya perlu membantu sekertaris ku, dia sangat kerepotan," ujar Brayen tersenyum.
"Tapi kak saya masih kuliah," Jojo sedikit sungkan, karena dirinya pasti akan banyak izin karena harus kuliah.
"Tidak mengapa, Indri akan membantu mu, dan kami akan memaklumi mu," ujar Brayen, membuat Jojo hampir menitikan air matanya, ternyata di dunia ini masih banyak orang baik, yang akan mengulurkan tangannya ke arah dirinya.
"Makan siap selesai," panggil Juwita dari meja makan. Membuat ketiga pria itu segera menoleh ke arah sumber suara.
"Ayo makan sudah di panggil ibu dokter," ujar Aska yang sudah terbiasa menumpang makan dengan Juwita, terlebih jika ayahnya marah karena tingkah lakunya yang suka bermain wanita. Brayen segera mendekat di susul Aska yang tengah merangkul pundak Jojo.
"Kak kau akan ke rumah sakit setelah ini?" Aska mendudukkan dirinya di meja makan tanpa menunggu tuan rumah dahulu.
"Iya, kebetulan aku masuk siang, karena itu aku meminta jadwal pagi dengan kalian," ujar Juwita tersenyum, ketika Brayen mempersilahkan dirinya duduk terlebih dahulu. "Ayo Jo, duduk, anggap kakak sendiri."
Jojo segera duduk di samping Asia yang telah mengambil makanan terlebih dahulu. "Kak bayaran nya seperti apa?" tanya Jojo sedikit tidak enak. Dirinya akan terlalu banyak menerima hutang Budi kepada kedua orang yang ada di depannya. Padahal mereka belum lama kenal, namun sudah begitu baik padanya.
"Kalau kau sudah bekerja rajin rajin mentraktir kakak makanan," ujar Juwita terkekeh melihat tingkah Jojo. Bukan Juwita terlalu baik hati, namun Juwita juga orang seperti Jojo saat kecil, untung saja kakek Rio menolongnya, dan memberikannya fasilitas yang sama seperti Aliya. Juwita tak dapat membalasnya, jadi dengan menolong sesama Juwita merasa akan lebih baik.
"Terimakasih kak."
__ADS_1
...----------------...
Setelah makan siang selesai, Jojo dan Aska pulang, sementara Juwita bersiap siapa dengan pakaian kebesaran nya. Brayen juga tengah bersiap siap, kini mendekati Juwita yang tengah memasang kaus kaki miliknya.
"Bisa kau pasangkan dasi ku?" Brayen mendekat membawa dasi ke arah Juwita, Juwita mengernyit heran, pasalnya ia tahu Brayen bisa memasang dari.
Namun sedetik kemudian ia faham, dan segera mendekati Brayen. Juwita segera memasangkan dasi kepada Brayen. Brayen tersenyum melihat Juwita memasang dasi untuknya, Brayen segera meraih pinggang gadisnya. Juwita segera memandang ke arah Brayen, dan tersenyum manis.
Brayen mengecup puncak kepala Juwita, kemudian pipi kanan Juwita. Juwita tersenyum kembali memasangkan dasi di kerah baju Brayen. "Sudah," ujar Juwita ketika dasi Brayen telah terpasang.
"Terimakasih sayang," ujar Brayen memeluk tubuh Juwita. "Kapan kita akan menikah?"
"Secepatnya," jawab Juwita terkekeh.
Mereka segera melangkah kan kaki keluar dari rumah Juwita. membelah jalan menuju tempat Juwita bekerja terlebih dahulu. Setelah mengantar Juwita, Brayen segera berangkat ke kantornya.
Brayen melangkah masuk ke dalam ruang rapat, pasalnya siang ini ada rapat bersama beberapa dewan direksi. Indri terlihat kewalahan mempersiapkan meluruh berkas yang akan di persentase kan.
"Indri nanti akan ada mahasiswa yang bernama Jojo, dia akan bekerja di sini dan membantumu," ujar Brayen membuat Indri tersenyum.
"Terimakasih tuan," ucap Indri. Jujur saja pekerjaannya memang sangat berat, terlebih saat ini perusahaan mereka semakin berkembang.
Setelah rapat, Brayen kembali ke ruangannya, melakukan aktivitas pada umumnya, membaca laporan, menganalisi laporan, mengoreksi dokumen, menandatangi dokumen, melihat setiap rancangan para karyawan, kinerja pasar, kinerja perusahaan, melihat beberapa hasil rapat tadi yang harus di ubah.
Setelah sore hari, Brayen segera kembali, kali ini Brayen singgah sebentar ke rumah keluarga Kostak, hanya untuk menyapa mereka, dan menyampaikan prihal dirinya telah memeluk agama Islam. Brayen tersenyum ketika melihat sambutan nyonya Mona yang begitu hangat. Tak seperti sebelumnya, sedikit kaku.
"Jangan Tante, panggil mama saja," ujar nyonya Mona, mempersilahkan Brayen masuk.
Setelah kedua orang tua Chandra telah tahu tentang masa lalu Brayen, yang memang kesalahan dari lingkungan, dan tidak adanya kasih sayang dari figur wanita, atau ibu.
Karena itu nyonya Mona berjanji pada diri sendiri, akan memberikan sentuhan kasih sayang orang tua, rasa kasih sayang dari seorang ibu kepada anaknya. Agar membantu Brayen dapat berubah lebih cepat, bukan hanya bantuan dari Juwita, yang kini menjadi kekasihnya.
Meskipun hingga kini nyonya Mona mengetahui bahwa Brayen telah meresmikan hubunganya dengan Juwita, namun nyonya Mona juga hanya mengetahui bahwa Brayen belum sepenuhnya mencintai Juwita, dirinya masih belum cukup yakin. Meski mendapat nasihat dari nyonya Mona untuk lebih tulus kepada Juwita, namun menurut nyonya Mona Brayen masih terlihat ragu akan perasaanya.
"Iya ma.. mah," ujar Brayen sedikit kaku. Papa sama kakek belum pulang?" Brayen memang memanggil tuan Omer dan kakek Rio sebagai papa dan juga kakek.
"Paling sebentar lagi," ujar nyonya Mona. "Oh ya kita telfon Chandra dan Aliya dulu yuk."
"Iya ma," ujar Brayen mendekat ke arah nyonya Mona yang sudah mulai membuka ponselnya.
"Halo ma," sapa Chandra tampak tak mengenakan baju atasannya.
"Al mana?" Nyonya Mona segera bertanya dengan semangat, terlebih melihat wajah anaknya yang tampak berseri.
"Lagi tidur kecapean," kata Chandra sembari tersenyum ke arah nyonya Mona.
"Kecapean atau kecapean?" Brayen tiba tiba muncul, karena tadi sebelum Chandra mengangkat telfon nyonya Mona, dirinya sedang ke dapur.
__ADS_1
"Ih ngapain tu anak ke situ?" Chandra sewot melihat mantannya yang kini bermetamorfosa menjadi sahabatnya. Bahkan telah di anggap anak sendiri oleh nyonya Mona dan tuan Omer.
"Lagi makan lah sama mama, papa," jawab Brayen memanas manasi Chandra.
"Sejak kapan?" Chandra terkejut kedua orang tuanya di panggil mama dan papa oleh Brayen.
"Sejak lo nikah, terus mama sama papa merasa kesepian," Brayen terkekeh ketika mengatakan hal tersebut.
"Kesepian Hongkong, orang dapat mantu yang se_cerewet Al mana bisa kesepian," Chandra tak terima dengan hal tersebut. "Lo tu cepat lamar si dokter Juwita, takut nya di embat orang."
"Do'a teman durhaka itu azab nya di tenggelamkan di sungai Musi," Brayen tertawa menutupi kegelisahannya, yang masih belum yakin dengan hatinya, sebenarnya Brayen masih minder dengan dirinya sendiri, untuk bersanding bersama Juwita. "Eh, ngomong ngomong, lo baru ngegoyangin Al ya? Atau jangan jangan lo yang di goyangan?"
"Apaan sih lo," kesal Chandra.
"Ayo, coba bawa ke tempat Al, mama mau liat juga kan?" Brayen kembali berusaha memancing amarah Chandra, yang sudah terlihat kesal, dari raut wajahnya.
"Ga, ga ada, lo semenjak sembuh otak lo mesum terus," benar saja Chandra semakin kesal, karena terus di goda oleh Brayen. Tapi sebenarnya yang membuat otak Brayen seperti ini juga Chandra yang beberapa hari lalu mengiriminya video lak nat "Ma jaga Juwita jangan sampai di Unboxing si laki laki ramah versi Al."
Brayen baru mengerti maksud dari Unboxing ala Aska, membuat Brayen menggeleng. "Santai, gue unboxing langsung lamaran ntar," Brayen terkekeh ketika mengatakan hal tersebut, sejujurnya dia sendiri tak yakin akan perasaannya, bukan karena meragukan cintanya, namun lebih takut jika Juwita berpaling darinya.
"Ntar kejadian beneran lo," ledek Chandra.
"Ga apa apa kan ma," Brayen berusaha mencari dukungan dari nyonya Mona.
"Iya tapi sebelum itu mama buat letoi dulu perkutut kamu," ancam nyonya Mona, sembari memandang horor ke arah Brayen. Menandakan itu bukanlah ancaman main main.
Chandra tertawa terbahak mendengar ancaman nyonya Mona terhadap Brayen, bahkan Brayen tampak meringis, membayangkan burung perkutut nya tak bisa bangun lagi. Karena Chandra terlalu berisik, akhirnya Aliya terusik dan sedikit bergumam. Chandra segera mengusap lembut pipi Aliya, agar kembali tertidur.
"Mama tega? Chandra udah punya banyak anak Brayen belum punya? Mana Chandra getol banget lagi produksi nya," Brayen melemas ketika mendengar kata kata itu, sungguh dirinya sangat takut terlebih lagi ketika melihat video lak nat tersebut, membuat dirinya benar benar penasaran, dan tak ingin perkututnya letoi sebelum merasakan surga dunia.
"Iya lah, ini contoh pemanasan produksi," Chandra dengan segala kesadaran dan kesablengannya, segera meraup bibir Aliya, hingga me*lu*mat*nya.
"Astaga, ya Allah Chandra sableng lagi ngapain kamu," teriak nyonya Mona melihat kelakuan anak semata wayangnya, yang sungguh menggoyahkan iman. "Ga sopan Chandra."
Aliya kini yang mengecup bibir suaminya, sehingga ciu*man panas terjadi. Dengan sambungan telfon yang masih tersambung. "Sayang mau lagi," kata Chandra terdengar jelas di telfon.
"Hm, tapi pelan pelan," kata Aliya sontak semakin membuat nyonya Mona dan Brayen traveling. Terlebih Brayen baru saja melihat video laknat dari Chandra, yang membuatnya menelan ludah kasar. Terlebih dirinya masih ting ting, dan suci karena dia dan Chandra sama sama penganut no se*x before marriage.
"Dasar kalian pasangan somplak, ini masih nyambung, asal sambar aja," umpat nyonya Mona dan Brayen segera mematikan sambungan ponselnya.
Selamat untuk Octinurh Nasar, telah mendapat julukan silver fans. Setelah mendapatkan julukan fans, kamu akan mempunyai hak untuk mengajukan diri menjadi admin interaksi karya, terimakasih dari othor atas partisipasinya 🙏
Dan untuk semua pembaca, yang memberikan like, komentar, bahkan dukungan berupa hadiah maupun vote, terimakasih banya sebanyak banyaknya dari othor, karena kalau bukan kalian mungkin othor tidak akan pernah Samapi sejauh ini, dan semangat menulis cerita ini terimakasi 🙏🙏🙏
Guys cuman mau mengingatkan bahwa give away masih berjalan loh, jadi jangan lupa beri dukungan ya, dengan cara, klik like, komentar, kemudian beri hadiah dengan bunga sekebon, atau kopi secangkir, dan beri vote.
__ADS_1