
"Hm, kemarin juga aku lupa mengatakannya, di tambah ponselku yang hilang, pasti membuat mu sangat khawatir. Aku minta maaf," ujar Juwita menguraikan pelukannya.
"Tidak apa apa," Brayen mendekatkan wajahnya hendak mengecup bi bir Juwita. Namun belum juga sampai, perut Brayen sudah berbunyi.
Groook.
(Anggap saja bunyi perut Brayen)
^^^Aduh kenapa harus sekarang sih? Aku baru saja bertemu dengannya. Brayen merutuki perutnya yang tidak bisa lagi di ajak bekerjasama.^^^
Juwita terkekeh melihat nya, kemudian segera mendekat ke arah kopernya, Juwita mengambil cemilan dan dua cup mie instan. Kebetulan di dalam ruangan mereka terdapat penyeduh kopi, jadi mereka dapat membuat air panas di sana.
Brayen mendekat ke arah Juwita, memeluk Juwita dari belakang, menciumi rambut Juwita yang jujur saja memabukkan bagi dirinya. Brayen sekali kali mengecup cuping telinga bagian belakang Juwita, menggigitnya dengan gemas, lalu mencari kesempatan mengecup leher Juwita.
Juwita tentu saja bersemu dengan semua perlakuan Brayen, Juwita mengigit bibirnya menahan suara merdu dari bibirnya. Brayen menyadari hal itu segera mengecup bi bir Juwita.
"Ehm... mienya sudah siap, ayo makan," ujar Juwita gugup. Juwita membawa makanannya ke arah meja sofa di susul Brayen.
Juwita mendudukkan dirinya tepat di sofa panjang, Brayen menyusulnya duduk di samping Juwita. Brayen membatu Juwita meletakkan makanannya di atas meja. Juwita tersenyum dan membiarkan Brayen melakukan tugasnya. Juwita melangkah mengambil minuman untuk dirinya dan juga Brayen.
Baru saja Juwita hendak mendudukkan dirinya di meja, Brayen menarik Juwita masuk ke dalam pangkuannya. Brayen memeluk erat tubuh Juwita.
"Ayo kita makan, kau lapar bukan?" Juwita berusaha turun dari pangkuan Brayen.
"Aku mau kau menyuapi ku, sebagai kompensasi kepanikan ku, kau tahu aku sangat panik, tidak makan dari saat kau menjatuhkan makanan," ujar Brayen meletakkan dagunya di pundak Juwita. Brayen bahkan mengeluarkan suara manja ala dirinya.
Juwita mengusap sayang wajah Brayen. "Kenapa tidak makan? Apa kau tidak lapar?" Juwita mulai mengambil mie instan cup di atas meja.
__ADS_1
"Bagaimana aku memikirkan tentang makan, jika kepala ku semua di penuhi oleh mu," Brayen membuka mulutnya lebar lebar. Juwita segera menyuapi Brayen, kemudian dirinya sendiri.
"Makan lah, bagaimana jika dirimu yang sakit?" Juwita mengusap lembut kepala Brayen, membuta Brayen tersenyum sembari mengunyah.
"Tidak masalah, asal kau dokternya," Brayen kembali membuka mulutnya, meminta untuk di beri suapan kembali oleh Juwita.
"Hei masa ku untuk menjadi dokter mu sudah selesai, kau sudah sembuh," ujar Juwita sembari terkekeh, Juwita mengecup pipi Brayen.
"Hm, tidak masalah," jawab Brayen, membalas kecupan manis Juwita, di pipi Brayen dengan kecupan manis di bi bir.
"Ada ada saja," Juwita terkekeh mendengarnya. "Oh ya kau tidak membawa koper?" Juwita celingak celinguk mencari koper Brayen di depan pintu kamarnya.
"Tidak, aku buru buru, dan ke sini hanya membawa diriku saja," ujar Brayen terus memandang wajah Juwita dengan lekat. Rasanya perpisahan mereka kemarin sangat lama, padahal hanya berjarak tiga hari saja. Tapi bukan kah hal yang berlebihan akan selalu terlibat jika kita membicarakan tentang cinta? Bukankah semua akan menjadi wajar jika berbicara dari sudut pandang cinta?
"Baiklah makan yang banyak, kemudian bersihkan diri mu. Aku bahkan tak yakin jika kau sudah mandi," Juwita mecolek hidung mancung Brayen. Juwita kembali menyuapi dirinya sendiri, dengan mie yang masih menjuntai ke bawah, sementara tangannya yang memegang sendok kini mulai menyuapi Brayen. Namu Brayen justru menyambar Mei yang menjuntai ke bawah milik Juwita, hingga bi bir mereka saling bertemu, Brayen memberi gigitan manis di bi bir bawah Juwita. "Hei kau itu milik ku, aku bahkan tengah menyuapi mu."
"Dasar," umpat Juwita, namun tak mampu menyembunyikan senyumannya. Brayen semakin mempererat pelukannya.
Usai menyelesaikan makan malam mereka, Brayen melepaskan Juwita, karena sadar dirinya juga harus membersihkan dirinya.
Setelah selesai membersihkan diriny, Brayen keluar hanya mengenakan bokser, Brayen memilih tak mengenakan apa apa. Pasalanya pakaian yang ia kenakan tadi sudah terasa tidak enak jika melekat di tubuhnya.
"Hei, kau tak mengenakan baju mu?" Juwita terkejut sendiri melihat Brayen yang hanya mengenakan bokser kecil, bahkan si bungsu tercetak jelas di mata Juwita.
^^^Kuat iman Wit, belum belum, dasar mesum kenapa dia memakai itu? Aku ini wanita biasa. Juwita.^^^
"Baju ku sudah tidak bagus lagi, lebih baik aku tidur dengan seperti ini," Brayen segera menaikkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Kau tidak kedinginan?" Juwita mempersilahkan Brayen untuk masuk ke dalam selimut tebal, nan hangat tersebut.
"Dingin sih, tapi jika memeluk mu, pasti akan menjadi menjadi lebih hangat," Brayen segera menelusup kan tangannya, dan memeluk pinggang Juwita. Juwita tersenyum sendiri, sembari memainkan ponsel milik Brayen.
"Jadi besok kau akan mengenakan baju yang sama?" Juwita melirik sedikit wajah Brayen.
"Tidak, aku akan meminta anak buahku untuk membawa pakaian ku," Brayen mengecup rambut Juwita. "Ngomong ngomong kau akan ke mana? Aku akan menemani mu. Atau kau mau ke Tajmahal?" Brayen masih mengingat keinginan Juwita yang ingin ke Tajmahal. Itu adalah mimpi gadis kesayangannya bersama ayahnya. keinginan itu tergambar jelas, degan adanya gambar Tajmahal di dinding kamar Juwita.
"Tidak itu untuk hari akhir aku di sini, tapi untuk beberapa hari ke depan aku rencananya akan menaiki kereta wisata Maharajas' Express," Juwita segera memperlihatkan slot pembayaran kereta Maharajas' Express.
"Kau sudah memesannya?" Brayen tersenyum ketika mengalahkannya. Brayen pikir jika Juwita sudah memesannya, maka dirinya juga akan memesan khusus honeymoon, dan pastinya akan menyeret Juwita ke kamarnya. Jika belum, maka Brayen akan dengan senagyhati memesan sesuai keinginannya.
"Hm, belum, aku baru saja akan memesan nya," ujar Juwita yang menampakkan khusu untuk single room. Brayen segera merebutnya, sebelum Juwita memesan kamar tersebut.
"Sini biar aku saja," Brayen segera mencari khusus honeymoon.
"Kau membeli untuk pergi honeymoon?" Juwita sedikit protes, meski juga bahagia karena akan memiliki waktu lebih banyak dengan kekasihnya. Ah, dasar wanita terkadang lain di mulut lain pula di hati.
"Tentu saja, kita harus satu kamar, aku dengar di sana banyak turis yang berasal dari berbagai negara, aku hanya tak ingin kau di ganggu oleh mereka," ujar Brayen beralasan, pasalnya ia sangat ingin hanya berdua dengan Juwita. Sudah cukup di kehidupan mereka sehari hari, di pisahkan oleh pekerjaan masing masing, disini ia juga tak ingin seperti itu.
"huh, bilang saja kau tak ingin jauh dari ku," ejek Juwita, yang sebenarnya untuknya juga.
"Tetap saja," ujar Brayen segera meletakkan ponsel Juwita "Ayo tidur, besok kita harus pagi pagi, aku sudah memesan dan membayar tiket nya."
"Kau membelinya dari agen resmi pemerintahan bukan? Jika hanya agen biasa mereka bilang tidak akan mudah, dan pelayanannya akan sedikit kurang bagus," Juwita kembali bangkit, tak ingin liburannya terganggu atas dasar hanya karena tempat pembeliannya saja.
"Tentu saja, aku akan memberikan kita yang terbaik."
__ADS_1