CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Welcome to Mumbai


__ADS_3

Juwita baru saja ingin terlelap, bin tiba tiba dirinya teringat sesuatu. "Brayen... Bray..."


Juwita terus mengguncang badan Brayen, menepuk pipi, hingga mencubit hidung Brayen. Barulah Brayen terbangun dari tidurnya yang lelap. "Hm kenapa hm?" Brayen memandang wajah Juwita dengan mata yang sayu, karena masih mengantuk.


"Kau memesan tiket degan rute apa tadi?" Juwita bertanya dengan was was.


"Entah lah, aku tidak membacanya," ujar Brayen.


"Mana ponsel mu?" pinta Juwita.


"Dengan sangat mengantuk Brayen mengambil ponsel yang di minta oleh Juwita.


Juwita segera mengecek tiket yang telah di beli Brayen, alangkah terkejutnya ketika Juwita melihat perjalanan yang di ambil Brayen Heritage of India. Juwita memencet pangkal hidungnya, dan mulai mengecek setiap pesanan yang telah di bayar oleh Brayen.


Rupanya laki laki itu mengambil presidential suite room untuk mereka berdua. dengan harga yang di taksir dengan rupiah mencapai 295 juta per malam. Juwita syok sendiri melihat nya.


"Kau bercanda? Aku hanya berencana mengambil deluxe king, untuk kita, kenapa jadi begini mahal? Kau bisa membeli mobil dengan ini," oceh Juwita, membuat Brayen terbangun.


"Ayolah sayang tidur, besok kita akan melakukan perjalanan panjang. Meskipun di kereta pasti akan melelahkan," bujuk Brayen, yang tak ingin mendengar ocehan selanjutnya dari Juwita.


"Besok Sabtu, kita mulai perjalanan hari Minggu," gumam Juwita menghela nafas berat.


"Kalau begitu kita ke Tajmahal dulu," ujar Brayen segera menarik Juwita ke dalam pelukannya.


"Tidak kita besok harus ke Mumbai, kau tahu kau mengambil perjalanan Heritage of India. Yang artinya kita akan memulai perjalanan dari Mumbai bukan dari Delhi," gumam Juwita, sedikit kesal, pasalnya dirinya hanya bercanda akan mengunjungi Tajmahal di hari akhirnya, namun kini apa yang di ucapkan ya benar benar kenyataan.


"Apa?! Jadi besok kita ke Mumbai?" Brayen terkejut mendengarnya, belum selesai rasa lelahnya menaiki pesawat, kini besok pagi mereka harus naik pesawat. "Kau sudah memesannya?"


"Tentu saja belum, bahkan pakaian mu saja kita tak tahu kapan datangnya," ujar Juwita dengan kesal.


"Ya sudah jangan marah besok setelah pakaian ku sudah datang kita akan segera memesan tiket ok, ayo tidur. Jika tidak aku akan meniduri mu," ujar Brayen setengah mengancam. Juwita segera menutup matanya setelah mendengar ancaman Brayen. "Gadis baik."

__ADS_1


Brayen segera memberi ciu*man selamat malam, di dahi, dua pipi, dan bi bir Juwita. Juwita tersenyum mendapatkan ucapan malam tersebut, mengeratkan pelukannya dan mulai menyusun mimpinya yang sempat tertunda tadi.


......................


Bunyi ketukan membangunkan Brayen, Brayen sedikit menggeser tubuh Juwita dengan pelan. Brayen tak tega ingin membangunkan Juwita, di pagi begini. Brayen segera memakai jubah mandinya, kemudian membuka pintu.


Tampak seorang laki laki tengah menenteng koper, ternyata itu adalah anak buah Brayen. Brayen segera mengambil kopernya dan menutup kembali pintu kamar tersebut, Brayen segera memesan tiket ke Mumbai. Brayen segera bersiap untuk membersihkan dirinya, dan mengenakan pakaian. Brayen menelfon layanan hotel untuk mengantarkannya sarapan.


Setelah menelfon baru kemudian Brayen membangunkan Juwita. "Sayang ayo bangun, ini sudah pagi," Brayen menepuk pelan pipi Juwita.


Juwita menggeliat, membuka matanya perlahan, Brayen terkekeh, segera mencubit pipi Juwita dengan gemas. "Ayo bangun, kita harus segera ke bandara. Aku sudah memesan tiket kita."


Juwita mengangguk, bangkit dengan mata sayu, dan segera berjalan ke kamar mandi. Brayen menggeleng melihat tingkah kekasihnya itu, tampaknya gadis kesayangan Brayen itu masih mengantuk, dan butuh waktu untuk membuka matanya.


Pintu kamar mandi tertutup rapat, Brayen segera membuka koper Juwita, guna mencari baju yang akan Juwita kenakan. Brayen terus memilah memilih, yang mana yang menurutnya pantas untuk Juwita kenakan. Brayen memicingkan matanya ketika melihat hampir semua baju yang di bawa oleh Juwita berbahan kaus katun, lembut dan nyaman. Namun semua pendek, dan menampakkan lekuk tubuh gadisnya yang seksi. Brayen menggeleng ketika membayangkan semua pandangan pria terhadap Juwita.


"Ck, untung ku susul, jika tidak..." Brayen menggeleng melihat pakaian yang di bawa oleh Juwita. Brayen kembali melipatnya seperti semua ke dalam koper, setelah memilih pakaian mana yang akan Juwita kenakan. Brayen kemudian mencari jaket berbahan Levis, senada dengan celana yang Brayen kenakan, sama sama berwarna biru tua. Sementara untuk bawahan Juwita, Brayen sengaja mengambilkan Juwita celana kulot dengan bahan jeans, berwarna senada dengan jaket Brayen.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan membuat Brayen segera berjalan menuju pintu, dan membukanya. Ternyata itu adalah pelayanan hotel, yang membawa sarapan ke kamar mereka. "Terimakasih," ujar Brayen segera menutup pintu kamarnya, Brayen tak mau jika laki laki itu melihat tubuh indah calon istirnya.


"Brayen, tolong ambilkan baju aku dong," teriak Juwita dari dalam kamar mandi.


"Iya ini," ujar Brayen menyodorkan pakaian ke arah pintu kamar mandi, tangannya mengenai hingga ke pintu kamar mandi.


"Terimakasih," ujar Juwita segera mengambil pakaian tersebut, hanya menampakkan tangan nya saja. Brayen yang menyesuaikan tangganya, agar Juwita tak menjatuhkan pakaian tersebut.


Setelah membenahi pakaiannya, Juwita tersenyum melihat cermin, pakaian tersebut sangat cocok untuk dirinya, dan celana kulot jeans miliknya. "Pintar juga dia," Juwita terkekeh melihat ke arah cermin.


Juwita membuka pintu kamar mandi membuat Brayen segera memandang ke arah Juwita. Tampak senyum Juwita mengembang, menandakan dirinya setuju dengan pakaian yang di ambilkan oleh Brayen.

__ADS_1


^^^Tu kan dia tapak sangat menggemaskan, tapi dia tidak akan pernah bisa menampakkan ya di hadapan orang lain. Aku sudah mempersiapkan jaket, masker dan topi untuknya. Tidak akan ada yang menikmati wajah imutnya. Brayen tersenyum penuh arti memandang Juwita.^^^


"Ayo makan," ujar Brayen segera meletakkan makanan Juwita di atas piring. Mata Juwita berbinar bahagia, segera menghampy Brayen, dengan segala makanan di tangannya. Mereka makan dengan lahap, terlebih semalam mereka hanya makan dengan mie instan, dan beberapa snack Juwita.


Setelah sarapan, Brayen segera membawa mereka keluar kamar, dan melakukan cekout. Brayen segera meletakkan koper mereka di bagasi taksi yang mereka pesan. Yang akan membawa mereka ke bandara.


Hanya butuh dua jam lebih sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di Mumbai Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji Maharaj, Mumbai. Bandara dengan keindahan yang luar biasa, Juwita bahkan sangat terkagum kagum dengan desain interior nya di setiap sudut.



Juwita mengedarkan pandangannya sembari menunggui Brayen yang sedang mencari hotel terdekat, Brayen tampak mencari di ponselnya. Setelah lima belas menit akhirnya Brayen menemukan hotel yang pas untuknya.


"Ayo sayang," ujar Brayen segera menggandeng tangan Juwita mencari taksi bandara.


Setelah mereka sampai di dalam mobil Brayen segera menyebut tujuan mereka "Sahara Star Hotel Pleas."


Hanya butuh beberapa menit akhirnya mereka sampai di Sahara Star hotel. Juwita kembali terkagum melihat hotel tersebut.



Benar benar sangat luar biasa. Brayen baru saja memesan kamar untuk mereka, kemudian segera mendekati Juwita yang tangah menunggunya, sembari mengagumi setiap interior hotel tersebut. "Sayang ayo," ujar Brayen menggandeng tangan Juwita mengikuti seorang pekerja hotel, yang akan membawa mereka ke kamar.


Juwita kembali kagum melihat kamar yang di pesan oleh Brayen, bagaiman tidak kamarnya benar benar luas, sangat berbeda dengan kamarnya yang ia pesan saat berada di New Delhi.



Bagaimana mungkin Brayen kembali memesan presidential suite room, dirinya benar benar ingin memanjakan Juwita yang tengah mengambil masa cuti liburan tahunannya. "Ayo sayang kita masuk ke kamar."


Brayen menyeret koper mereka, meninggalakan Juwita yang masih terkagum dengan mencoba setiap kursi yang ada di ruangan tersebut. Terkesan kampungan memang, tapi biar bagaiman pun, Juwita tak pernah merasakan hal seperti itu. Juwita terbiasa memesan hanya sebatas luxury room, jadi tidaklah semewah ini.


__ADS_1


Juwita kembali masuk dan menyaksikan kamar mereka yang benar benar mewah, membuat Juwita tak sabar ingin merebahkan tubuhnya. Benar saja, setelah Juwita merebahkan tubuhnya, kantuknya kembali menyerang, hingga tak menyadari bahwa dirinya kembali terbawa ke alam mimpi. Sembari menunggui Brayen yang tengah membersihkan diri.


__ADS_2