CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Aku dokter mu kalau kau lupa


__ADS_3

Brayen membangunkan Juwita setelah sampai di depan pagar besar rumah Juwita. Brayen meminta Juwita untuk membuka pintu pagar tersebut.


"Wit, buka pagar wit, kunci mana?" Brayen terus menepuk nepuk pipi Juwita, berharap gadis itu akan terbangun.


Lama Brayen menepuk nepuk pipi Juwita, namun tak mampu membangunkan Juwita, "Dasar kebo," ujar Brayen, sebelum akhirnya mencubit kuat pipi Juwita.


Juwita yang terkejut segera terbangun dari tidurnya.


"Eh apa apa?" Juwita memandang ke arah Brayen yang tengah bersedekap tangan di depan dadanya.


"Bangun kau buka pagar," ujar Brayen, memutar bola matanya dengan malas.


"Hah? Kita sudah sampai?" Juwita bingung sendiri di buatnya, pasalanya tadi ia merasa masih berada di restoran.


"jadi menurut mu kita kenapa bisa sampai di sini?" Brayen menggeleng melihat tingkah Juwita yang seperti orang linglung. "Cepat buka pintu pagarnya."


Brayen menunjuk ke arah pagar, agar Juwita segera turun. Dan membuka pintu pagar.


"Iya iya, sabar sedikit lah," Juwita bersungut sembari membuka pintu mobil, dan segera keluar dari mobil miliknya. Juwita berjalan dengan sedikit malas menuju pagar rumahnya, membuat Brayen segera menekan klakson. Sontak saja Juwita berlonjak kaget, dan menghentakkan kaki memandang kesal ke arah Brayen. "Sabar kenapa sih?"


Brayen terkekeh melihat tingkah Juwita, dirinya mendapat hiburan baru dengan menjahili Juwita. Tampaknya ia akan melakukannya lebih sering lagi, agar mendapatkan hiburan.

__ADS_1


Brayen terus memandang Juwita yang tengah membuka pagar rumah. Brayen terkekeh melihat Juwita yang sejak tadi terus bersungut, sembari mengerucutkan bibirnya. Sekali lagi Brayen membunyikan klakson nya, saat melewati Juwita, dan terkekeh melihat wajah Juwita yang semakin kesal.


"Aduh aku harus lebih sering melakukannya, melihatnya kesal memberi ku sedikit hiburan," gumam Brayen sembari memarkirkan mobil Juwita, sementara Juwita yang masih menutup pintu pagarnya, terus bersungut mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Brayen.


Brayen menyenderkan badannya di tembok, di samping pintu utama rumah Aliya. Brayen terus memperhatikan wajah kesal Juwita, yang memandangnya dengan pandangan kesal. Brayen sesekali terkekeh, melihat Juwita menghentakkan kaki nya di hadapan Brayen.


Benar benar seperti anak kecil, Brayen terkekeh sendiri melainkan hat tingkah Juwita.


"Apa?" Juwita semakin kesal saja di buat Brayen.


"Ayo cepat buka pintunya," ucap Brayen santai.


Mereka segera masuk bersama di dalam rumah Juwita, Brayen segera menghempaskan badannya di sofa ruang keluarga, yang tembus tak berjarak dengan dapur, sehingga dari sofa tersebut, dapat terlihat jelas aktifitas memasak di dapur. Brayen tampak melepas jasnya.


"Berikan kertas kosong kepada ku," Brayen merentangkan tangannya di sofa panjang Juwita, membuat gadis itu mendengus kesal. Namun gadis itu masih menurut, untuk mengambilkan kertas kosong kepada Brayen, lengkap dengan materai enam ribu miliknya.


"Ini," Juwita segera menyerahkan kertas beserta materai.


"Ah sama uang yang tadi," Brayen tersenyum penuh kepuasan kepada Juwita.


"Aku kira kau ikhlas mentraktir kami makan malam," ujar Juwita sembari mengeluarkan beberapa lembar uang. Dan memberikannya kepada Brayen

__ADS_1


"Enak saja, sudah aku bantu, malah minta untuk di bayarin pula. Itu namanya di kasih hati minta jantung," ujar Brayen menerima uang dari Juwita. "Mana tadi total sekali akting ku, bahkan aku sempat menggendong mu, hingga ke mobil."


"Iya, iya tuan aktor ku yang sangat tampan," ujar Juwita malas berdebat dengan Brayen.


"Bagus bagus, aku akan mencatat syarat syarat untuk kita selama enam bulan ya," ujar Brayen segera membuka penutup pena tinta hitam tersebut.


"Iya, aku akan ke kamarku terlebih dahulu, kemudian akan ke sini lagi," ucap Juwita segera berlalu dari hadapan Brayen.


Setelah menunggu hingga setengah jam, Juwita akhirnya turun, setelah hampir membuat Brayen tertidur di sofa, karena menunggunya. Brayen membulatkan matanya terkejut, ketika melihat Juwita hanya mengenakan kaus tipis dan celana yang kependekan, hanya berjarak satu jengkal Brayen dari dari pinggang bawahnya. Seketika kantuk Brayen terusir, terlebih ketika melihat Juwita menguncir rambutnya, dan berjalan ke arah dapur. Kaus tipisnya yang pendek terangkat, sehingga menampakkan sedikit punggung bawah Juwita.


"Hai, apa kau gila! Kau keluar kamar mu hanya pakai pakaian seperti itu? Bagaiman jika ada yang melihatmu," Brayen lantas saja mengoceh. "Hei aku ini laki laki ok!"


"Iya siapa yang bilang kau perempuan? Lagian apa kau lupa? Kau itu masih belum sembuh, dan ingat aku ini dokter mu, dasar," Juwita juga ikutan mengoceh, sembari menuangkan minuman hangat ke dalam gelas untuk mereka berdua.


"Iya iya, tapi kan kalau orang lain yang melihatnya tentu saja akan ada yang salah," jawab Brayen tak suka melihat penampilan Juwita. "Ini suratnya, kamu baca dahulu, baru kemudian kau tanda tangani. Aku juga telah mebanda tangani nya, sekarang giliran mu."


"Hm, aku akan membacanya dengan cermat dan tertib," ucap Juwita mulai membaca kontak nya.


"Ingat tidak ada bantahan."


Guys jangan lupa like, dan komentar ya. Karena hal itu memberikan semangat kepada othor untuk rajin update, kalau perlu beri dukungan dan vote ya guys.

__ADS_1


__ADS_2