CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Takut sunat (Rumah )


__ADS_3

Juwita dan Chandra baru saja sampai di jam sebelas malam, mereka menjalani perjalanan kurang lebih hingga lima belas jam lewat empat puluh lima menit. Juwita dan Brayen segera menuju rumah Juwita, Brayen meletakkan koper mereka ke dalam kamar, sementara Juwita segera masuk membersihkan diri di kamar mandi, yang cukup lama ia tinggalkan. Sementara Brayen menunggu Juwita sembari menghubungi asistennya, agar membelikan ponsel baru untuk kekasihnya.


Juwita keluar dengan rambut basah, baju kaus kebesaran dan celana pendek. Brayen hanya menggeleng, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Brayen membersihkan diri, dan keluar sembari melihat Juwita yang tengah menggunakan skincare malam miliknya, Brayen naik ke tempat tidur terlebih dahulu, dan memperhatikan Juwita yang masih setia di hadapan cermin.


Mata Brayen tak lepas dari aktivitas Juwita namun pikiran Brayen melayang kepada kata sunat, Brayen tiba tiba di ganti oleh perasaan takut, Brayen segera memeluk bantal guling dan me*re*mas re*mas nya, bayangan dedek Bray nya akan di potong membuatnya bergidik ngeri, re*ma*san itu semakin kuat, nafasnya seakan tercekat. Laki laki itu menggelengkan kepalanya, menghilangkan bayangan pemotongan dedek Bray nya, yang membuat dirinya ketakutan sendiri.


"Yang sudah belum?" Brayen memandang Juwita dengan gelisah, bahkan kini re*masnya semakin kuat, untung saja bantal Juwita kualitas bukan kaleng kaleng, jadi re*ma*san Brayen tak akan mampu mengoyak bantal tersebut.


Juwita memandang ke arah Brayen, matanya menyipit, Juwita menyemprotkan vitamin rambut, di rambut legam milik nya, Juwita memperhatikan tangan Brayen yang terus me*re*mas re*mas bantal guling miliknya. "Kamu kenapa sih? Dari tadi di pesawat aneh sekali," Juwita berdiri dari tempat duduk nya, setelah meletakkan kembali spray vitamin rambutnya di tempat. Kemudian berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Juwita mendekati kekasihnya, meraih bantal guling yang Brayen peluk, kemudian melepaskan guling yang di pegang Brayen.


"Aku takut loh yang," Brayen memandang wajah Juwita dengan memelas. Brayen bingung sendiri apakah ia harus melaksanakan sunat, atau bilang saja bahwa dirinya telah sunat? Bukan kah kekasihnya ini tidak tahu? Brayen berfikir keras.


"Takut kenapa?" Juwita mengerutkan keningnya, menangkup wajah Brayen. Juwita mengusap lembut pipi Brayen membuat mata lelaki itu terpejam menikmati usapannya.


"Kamu jangan ketawa ya..." ujar Brayen membuka matanya, dan memandang mata Juwita dengan lekat.


"Iya sayang," ujar Juwita sebenarnya sudah tak tahan ingin tertawa. Justru permintaan Brayen lah yang membuat Juwita ingin tertawa.


Terkadang manusia memang aneh, apa yang di larang itu yang ingin di lakukan, terkadang apa yang di perintahkan itu yang tidak di lakukan. Begitulah keadaan Juwita saat ini, tepat Brayen memintanya untuk tidak tertawa, saat itu juga Juwita ingin tertawa terbahak bahak. Namun wajah memelas Brayen membuatnya mengurungkan keinginannya yang sudah hampir keluar.


"Aku takut di sunat sayang," jujur Brayen menampakkan wajah khawatirnya.


Juwita mengerjapkan matanya, hampir meledakkan tawanya. Di mata Juwita kini Brayen tampak seperti anak kecil berumur dua belas tahun yang akan di sunat.


"Hah? Kamu kapan sunatnya?" Juwita masih penasaran, kapan Brayen mendaftarkan diri.

__ADS_1


"Belum tahu, besok mungkin akan mencari tempat sunat yang. Tapi aku takut loh yang," Brayen segera meraih tangan Juwita yang masih menangkup wajahnya. Brayen memandang Juwita dengan cemas.


"Kamu cari yang laser aja, jadinya lebih cepat selesainya, sakitnya juga lebih cepat," Juwita memberikan solusi, tak tega juga rasanya melihat kekasihnya terlihat cemas.


"Yang habis dong," keluh Brayen memandang Juwita dengan memelas. "Kamu nanti tidak mau lagi dengan ku."


"Hahahahaha.... Si... siapa yang bilang?" Juwita tertawa lepas di kehening malam, entah dari mana pikiran Brayen bahwa ketika bersunat itu maka dedek Bray nya akan hilang.


"Chandra," jujur Brayen memandang heran pada Juwita.


Jujur saja kemarin saat di pesawat Brayen bertanya pada Chandra, dan Chandra membalasnya dengan candaan, yang semakin membuat Brayen ketakutan untuk bersunat.


Flashback.


"Chandra bagaimana rasanya bersunat?" Brayen segera mengirimkan pesan singkat tersebut kepada Chandra.


"Aku serius ini Chandra, jangan mengajak ku bercanda," Brayen semakin resah di buatnya.


"Aku tidak bercanda, adik kesayangan mu, akan di potong habis," balas Chandra.


"Lalu bagaimana dengan mu? Lalu bagaimana caranya Aliya hamil? Aku dengar dari mama Aliya sedang hamil," Brayen sedikit cemas, dan berada di ambang percaya dan tidak percaya.


"Punya ku tumbuh lagi, Ku bersunat di usia sepuluh tahun, wajar saja jika sekarang besar lagi," balas Chandra.


"Kau membohongi ku, mana ada yang seperti itu," Brayen semakin cemas, jika harus menunggu begitu lamanya.

__ADS_1


"Jika memang kau tak percaya silahkan. Aku hanya memberi tahu mu," Brayen mengakhiri percakapan mereka dengan memilih tak menjawab Chandra. Brayen semakin cemas saja jika menjawabnya, pikirannya entah kemana sudah melambung.


Flashback end.


Juwita terkekeh geli mendengarnya. "Jadi kau percaya? Percaya dengan apa kata Chandra?" Juwita mencubit gemas hidung mancung Brayen.


"Lalu bagaimana lagi? Aku harus bertanya kepada siapa?" mata abu abu itu memelas tak tahu harus berbuat apa.


"Memangnya dia buat anak gimana? Memangnya ada yang seperti itu? Tidak ada kan? Dedek mu tidak akan di potong," jelas Juwita mencubit dagu Brayen dengan gemas.


"Eh iya ya," tiba tiba Brayen merasa tercerahkan dengan kata kata Juwita, mana mungkin dedek mereka bisa tumbuh lagi setelah di babat habis, kalau begitu bagaimana dengan proses ke*ni*ri? Bukan kah mereka di potong habis?


"Jangan pikirin lagi, ayo tidur," Juwita segera menuntun Brayen untuk segera berbaring di tempat tidur, Brayen mengikutinya dan memilih untuk tidur di samping Juwita.


"Tapi yang aku takut," Brayen kembali membuka matanya kala mengatakan hal tersebut.


"Aish, takut apa lagi, ini sudah malam loh, memangnya kamu belum mau tidur," Juwita membuka matanya, Juwita semakin gemas dengan Brayen yang masih saja ketakutan.


"Aku kepikiran yang," keluh Brayen menyingkirkan selimut dari atas badannya.


"Jangan di pikirin lah," jawab Juwita kembali memejamkan matanya.


"Tapi..." Brayen masih saja berbicara, namun sebelum Brayen melanjutkan kata kata nya, Juwita terlebih dahulu menyumbat bibir Brayen. dengan bibirnya.


Cup. Satu kecupan mendarat dengan sempurna, demi membungkam sang kekasih agar tidak ribut kembali.

__ADS_1


"Tidur ya," Juwita mengusap lembut kepala kekasihnya, berharap laku laki itu segera tertidur.


"Eh iya yasudah," ujar Brayen dengan wajah memerah, Brayen kembali menutup matanya dana akhirnya kembali tertidur lelap di pelukan Juwita.


__ADS_2