CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Jodhpur


__ADS_3

Selasa, hari ketiga.


Kemarahan.


Brayen segera berdiri dari tempat tidur, laki laki itu baru saja ingin beranjak dari ruang tidur mereka namun Juwita memeluknya dengan te*la*nja*ng dada, Brayen dapat merasakannya.


"Wita apa yang kamu lakuin?" Brayen bertanya dengan nafas beratnya.


"Aku mau, aku mau lebih," tutur Juwita, membuat Brayen mencoba melepaskan pelukan Juwita.


Namun hal di luar dugaan Brayen, Juwita justru menelusup kan tangannya ke dalam bokser Brayen, menyentuh sesuatu yang telah tertidur. Dapat Brayen rasakan bahwa benda itu kembali berdiri. "Wit ah... jangan menyesal."


Brayen membalikkan tubuhnya menatap Juwita dengan sayu, gadis itu menggelengkan kepalanya, tersenyum dengan mata yang sayu juga. Gadis itu menjinjitkan kakinya mencoba mengecup bi bir Brayen. "Ah... Brayen..."


"Wit... Sayang ku..."


"Hm... Brayen..."


Pelan namu. pasti sayup sayup terdengar suara Juwita semakin kencang dan mengejutkan Brayen.


...----------------...


Juwita baru saja keluar dari kamar mandi, terus menggosok gosokkan kepalanya dengan handuk kecil, demi mengeringkannya. Juwita memperhatikan sekitar sangat senyap, Juwita yakin bahwa Brayen kembali terlelap. Dan benar saja, ketika Juwita memasuki ruang tidur mereka, ternyata Brayen kembali terlelap dengan memeluk bantal guling, sembari meracau aneh.


"Ah... Wit, uh... ah," Brayen terus memeluk bantal guling dengan racauan dan de*sa*han.

__ADS_1


Juwita menggeleng, Juwita tidak polos Juwita tahu betul isi mimpi Brayen. "Brayen..." Juwita mencoba membangunkan Brayen, namun Brayen tak kunjung bangun. "Brayen...."


Namun justru panggilan Juwita barusan menjadikan mimpi Brayen semakin indah, hingga akhirnya sebuah rembesan secara live di bokser Brayen mengejutkan Juwita, mata gadis itu membulat. Juwita semakin memanggil Brayen, namun laki laki itu tiba tiba terdiam kembali, dan setelah itu kembali men*de*sah, memanggil nama Juwita. Mata Juwita kembali memblatak.


"Bah dua ronde," gumam Juwita tak percaya. "Mantap sekali mimpinya, mantap mantap dengan ku rupanya."


"Brayen!!!" Juwita berteriak mengejutkan Brayen. Brayen terbangun seketika, melihat Juwita dengan stelan yang sudah rapi.


^^^Aduh cuman mimpi, mana baru mau mulai lagi, kelamaan pemanasan sih tadi. Brayen mengeluh sendiri di dalam hatinya.^^^


"Mimpi apa barusan?" Juwita memandang tajam ke arah Brayen.


Seketika laki laki itu tergugup sendiri, wajahnya pias, tak tahu harus berkata apa. Bibirnya ia gigit menandakan tengah gugup. Juwita tahu betul dari raut wajah Brayen. "Lihat mana ponsel mu?"


Brayen dengan sedikit gugup memberikan ponselnya kepada Juwita. Saat ini Juwita bak guru BP yang menangkap basah muridnya tengah melakukan hal yang tidak senonoh.


"Kau... kenapa banyak sekali!?" Juwita terkejut melihat ponsel Brayen dengan banya video tak senonoh.


"Itu... itu semua dari Chandra," Adi Brayen tak ingin di salahkan sendirian.


"Kalian!" Juwita memijat pangkal hidungnya, pusing sendiri dengan kedua mantan pasiennya. Brayen segera menelfon Chandra, yang tampaknya masih belum usai berbulan madu.


"Halo," suara Chandra terdengar di ujung sana. "Gimana bro mau lagi? Mantap kan videonya, kalau mau lagi tinggal hubungi aja," Chandra bahkan berkelakar terlebih dahulu di ujung sana, sontak saja membuat Juwita membulatkan matanya.


"Tu kan, apa ku bilang," Brayen berbisik merasa menang mendengar pernyataan dari Chandra yang telah bersiap mengubur dirinya sendiri dalam amarah Juwita.

__ADS_1


"Oh... Jadi ini biang keroknya," Juwita beroh ria, membuat Chandra yang di ujung sana terdiam dari promosi barang tak senonohnya.


"Eh... Eh Wit maksud aku ga gitu loh, ini maksudnya..."


"Chandra... jangan kirim video yang seperti itu lagi! Atau ku adukan kepada Aliya perbuatan mu," ancam Juwita membuat Chandra terkikik geli di ujung sana.


"Bagaimana mau marah, orang kami nonton bersama kok, dia belajar goyangan hot dari sana," ujar Candra dari ujung sana.


"Dasar kalian pasangan somplak, setres..." kesal Juwita kemudian mematikan sambungan telfonnya, Juwita mengalihkan pandangannya ke arah Brayen.


Sementara Brayen terus yang kini di tatap Juwita menjadi menunduk, takut menatap kembali mata tajam tersebut. Juwita yang melihat ekspresi wajah Brayen menjadi tak tega sendiri.


"Mulai sekarang ponsel mu akan ku pegang, hingga kita selesai liburan, semua video berbau aneh itu akan ku hapus," ujar Juwita memasukkan ponsel Brayen ke dalam saku celananya.


"Baik, tapi jangan marah ya," ujar Brayen mendekat ke arah Juwita.


"Eh jangan pegang pegang, urus saja celana mu, akan ku berisikan tempat tidur ku," ujar Juwita segera menghindar dari Brayen. "Aduh bakal tumbuh anak tuyul nih di seprai, untung tak menembus kasur.


Juwita segera mengambil telfon, menghubungi awak kabin meminta di gantikan seprei. Tak lama kemudian Brayen keluar dengan hanya mengenakan bokser. Segera berjalan dengan lesu ke arah kopernya, mengenakan pakaiannya dan segera berdiri di samping Juwita. Sayang kita sarapan dulu ya, aku akan menelfon awak kabin.


"Hm..." Hanya deheman saja yang terdengar dari bibir Juwita, yang mulai sibuk melipat seprei dan selimut yang akan di ganti. "Setelah itu pergilah olah raga, hilangkan pikiran kotor mu."


"Iya sayang," ujar Brayen segera melakukan panggilan kembali, untuk meminta sarapan pagi.


Setelah cukup lama, seorang awak kabin datang membawa seprei permintaan Juwita, laki laki itu segera memasang dengan cepat, kemudian memasukkan seprei yang telah di lipat Juwita. Berpapasan kepergian awak kabin tersebut, seorang awak kabin memasuki ruangan mereka, membawa troli makanan. Dengan sedikit canggung Brayen membantu awak kabin menata makanan mereka, demi mendapat maaf oleh Juwita.

__ADS_1


^^^Gawat ini dia benar benar marah, ah lagian mimpi ke kenapa harus begitu? Brayen.^^^


__ADS_2