
Hari ini seperti perjanjian sebelumnya, bahwa Juwita harus datang ke kantor Brayen untuk makan siang. Juwita menghela nafasnya berkali kali ketika dirinya sampai di parkiran kantor Brayen. Sejujurnya ia sangat sibuk hari ini, namun demi keberlangsungan kehidupan tanpa gangguan dari ibunya, dan drama perjodohan, maka dirinya akan bersedia melakukannya, demi si raja iblis nya. Juwita mengorbankan waktunya yang berharga.
Sejujurnya Juwita juga merasa sedikit canggung, semenjak kejadian yang telah merenggut ciu*man pertama saat dirinya sedang sadar, namun mau bagaiman lagi, ini adalah isi perjanjiannya. Juwita dengan enggan berjalan ke arah resepsionis dengan paper bag di tangannya, yang berisi makan siang merek.
"Permisi, ruangan CEO di mana ya? Saya ada janji dengan pak Brayen," Juwita tersenyum manis ke arah resepsionis tersebut.
Resepsionis tersebut terdiam, ini bukan yang pertama kali ada seorang wanita yang pura pura memiliki janji dengan CEO mereka. Wanita itu mengernyit, meneliti penampilan Juwita.
Rok di atas lutut, jas putih, dengan baju yang sedikit terlihat corak lorengnya. Resepsionis dapat menebak bahwa dirinya adalah dokter. Resepsionis itu pikir CEO mereka sedang tidak enak badan.
"Kalau tidak percaya silahkan hubungi bos kalian, dan katakan bahwa Juwita telah datang," ujar Juwita meyakinkan, dirinya sadar bahwa resepsionis tersebut sedikit bingung.
"Ah sebentar, mohon maaf jika tidak nyaman, pasalnya di sini sering ada wanita tak jelas yang mengaku sudah memiliki janji. Hari ini saja anda yang ke empat kalinya," resepsionis tersebut sedikit tidak enak.
"Iya tidak apa apa, saya mengerti," ucap Juwita santai, mengeluarkan ponselnya.
"Halo pak, maaf ini ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan anda... Baik pak, mbak namanya siapa?"
"Juwita, bilang Juwita si dokter cantik," ucap Juwita bangga dengan kecantikan nya. Memang dirinya memang cantik, dan bodinya juga aduhai, bak gitar spanyol.
"Ah iya pak, namanya Juwita, katanya Juwita dokter cantik... Baik pak... Mbak di suruh masuk, dia bilang hm..." resepsionis itu tampak ragu. Juwita memandangnya dengan serius.
resepsionis itu segera mengacungkan jari kelingking ke arah Juwita, kemudian jari telunjuk dan ibu jarinya. Terakhir ibu jari dan kelingkingnya.
"Hm saya normal mbak," ucap Juwita santai.
"Tidak, i i itu dari pak Brayen," wanita itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kesmbet apa itu orang, kayaknya salah makan lah? Eh tapi sarapan tadi kan kami serempak, masa di gi la sendiri," gumam Juwita menggeleng merinding. Juwita sadar CEO belok nya itu hanya menjadikannya umpan, agar heboh di kantor, sehingga terhendus oleh media. "Dasar sinting."
"Hm jadi mau keruang CEO nya buk?" Resepsionis tersebut tersenyum, tampak sedikit ragu ketika mengatakan nya. Resepsionis itu mengira Juwita adalah kekasih CEO mereka, terlebih mendengar gumaman Juwita mereka sarapan bersama.
__ADS_1
"Ah iya, di mana ya mbak?" Juwita hampir melupakan tujuannya.
"Naik ke lantai tujuh, kemudian kemudian lurus, hingga pojok kanan," resepsionis itu tersenyum manis ke arah Juwita.
"Terimakasih mbak," ujar Juwita segera menuju lift.
Usai kepergian Juwita tiba tiba semua karyawan segera berkumpul di meja resepsionis, menjadikan tempat itu seolah mading, atau majalah dinding yang siap memberinya informasi terbaru.
"Sabar sabar, cecan akan jawab pertanyaan kalian satu satu," resepsionis tersebut segera berlaga seolah selebriti terkenal, yang telah di tunggu tunggu untuk menjawab pertanyaan, dan klarifikasi.
"Siapanya CEO ganteng?" Salah satu karyawan wanita dengan jiwa gosip yang sangat tinggi segera memulai sesi wawancara.
"Pacarnya kayaknya, soalnya nih masa pak CEO memerintahkan ku menyampaikan simbol I love you kepada wanita tadi," wanita resepsionis tersebut, gemas sendiri ketika mengingatnya.
"Aaaa, ternyata cuman rumor guys kalau pak CEO kita belok, mana sweet abis lagi, mau juga," salah satu wanita yang lain berteriak kegirangan, seolah sangat mendamba seseorang yang mirip bos mereka.
"Eh memangnya nama pacar bos siapa?" kembali lagi pertanyaan terlontarkan.
"Wah pantas pak bos CEO tercememew," ujar salah satu wanita yang bertanya di awal tadi.
"Nah ketemu instagramnya, eh ini loh ternyata salah satu cucu dari pengusaha terkenal itu loh, ini siapa sih namanya?" salah satu wanita menunjukkan foto ketika Juwita memberikan kejutan kepada kakek Rio, dengan caption 'kalau di Avengers, kakek tersayang ku ini adalah captain America, sehat selalu kakek sayang,' tulisan tersebut membuat semua orang mengangguk ria. Wanita yang saat ini bersama dengan CEO mereka bukan wanita sembarangan.
Meninggalkan para penggosip di lantai dasar, kita kembali kepada Juwita yang hendak mengetuk pintu kerja Brayen.
Tok, tok, tok.
"Masuk," terdengar suara Brayen dari arah dalam.
"Selamat siang yang mulia raya," iblis. Tentu saja susahnya hanya ia telan di tenggorokan, dan di lanjutkan di dalam hati.
"Ah rakyat jelata ku rupanya, apa makan siang untuk raja mu ini sudah ada?" Brayen tersenyum, memandang ke arah wanita cantik nan seksi itu.
__ADS_1
"Oh yang mulia jangan khawatir, hamba secara pribadi yang akan melayani anda," ujar Juwita sebal memandang ke arah Brayen.
"Bagus silahkan di tata," ujar Brayen berjalan ke arah sofa.
"Baik yang mulai raja," iblis. Lagi lagi sisanya hanya di keluarkan di dalam hati saja.
Juwita mulai menata, saat Brayen mendudukkan pantatnya di sofa. Brayen menelan ludahnya melihat hidangan tersebut. Hidangan tersebut terlihat menggoda seleranya.
"Kau membuatnya sendiri?" Brayen memandang ke arah Juwita penasaran.
"Tentu saja," Brayen mengangguk lalu kemudian di buat kesal dengan kelanjutan bicara Juwita. "Tentu saja bukan aku yang membuatnya, tentu saja aku membelinya. Hanya saja tempatnya tidak."
"Kenapa?" Brayen sedikit kecewa, dirinya entah kenapa lebih menyukai masakan Juwita, dari pada membelinya.
"Karena hambah kerja yang mulia, itu jika anda lupa. Lagian kalau saya membuatnya sendiri, ini tidak akan fresh lagi, dingin dan tidak enak," ujar Juwita, membuat Brayen mengangguk paham, pikirannya tak sampai di sana.
"Untuk alasan ini bisa di terima, untuk sarapan dan makan malam buat sendiri ya," ujar Brayen membuat Juwita terkejut.
"Bukannya cuman siang ya?" Juwita menampakkan wajah terkejutnya, sehingga bola matanya membulat, membuatnya tampak sangat imut, tentu saja di mata Brayen.
Brayen berdehem menetralisir sesuatu yang berdesis di dalam hatinya. Si*al sihirnya beraksi lagi, kenapa wanita ini terlihat sangat imut sih?
"Mau atau tidak nih?" Brayen segera memasukkan makanannya ke dalam mulut.
"Kan tidak begitu isi perjanjian nya," protes Juwita sembari menggebikkan bibirnya.
"Iya atau tidak sama sekali," Brayen segera meminum air mineralnya, yang berada di atas meja.
Guys jangan lupa like, dan komentar ya. Karena hal itu memberikan semangat kepada othor untuk rajin update, kalau perlu beri dukungan dan vote ya guys.
Maaf guys susah hadir akhir akhir ini, pasalanya othor magang jadi emak emak, soalnya mamak othor keluar kota, jadi yang ngurusi rumah, contohnya, masak, nyuci piring, nyapu rumah, ngepel, dan lain lain jadi tugas othor, mana selain othor itu hanya laki laki, jadi mereka hanya bisa bantu dikit, setelah othor berubah jadi wonder woman, mulutnya kalau ngoceh wkwkwk.
__ADS_1