CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Membantu Chandra dan Aliya II.


__ADS_3

Setelah sekian banyak rayuan, akhirnya Brayen luluh, dan menyetujui untuk membantu Aliya dan Chandra. Tak lama kemudian Brayen dan Juwita sampai di rumah kakek Rio, Brayen yang membawa mobil Juwita, sedangkan Juwita yang menjadi petunjuk jalan.


Tin tin.


Bunyi klakson mobil mengagetkan satpam yang tengah berjaga di rumah kakek Rio. Satpam tersebut segera mengeluarkan kepalanya, untuk melihat siapa yang datang.


"Pak tolong buka pintunya," ucap Juwita menyembulkan kepalanya.


"Eh non Juwita mau bertemu dengan non Aliya?" Satpam tersebut bertanya seraya membuka pintu gerbang mewah tersebut.


Dapat Brayen lihat betapa mewahnya pagar rumah mereka, dari aksirannya saja dapat Brayen perkiraan mencapai jutaan rupiah, belum lagi ornamen lain nya. Pantas saja keluarga ini di sebut sebagai crazy rich nya Indonesia.


"Eh engga mang, mau ketemu kakek, kakeknya ada?" Juwita sedikit berbasa basi dengan satpam tersebut.


"Iya non ada di dalam, hati hati saja, tuan besar sedang dalam keadaan emosi berat, kayaknya ke rumah tuan muda Chandra, calon suami non Aliya," ucap satpam tersebut menerangkan.


Juwita mengangguk, mungkin saja tadi malam ada keributan besar di sini, dan kediaman mantan pasiennya. Pantas saja Aliya takut ketahuan menelfon dirinya.


"Iya pak ini mau saya letakin es biar mosi nya hilang," Juwita sedikit mencoba menghilangkan ketenangan pagi ini.


"Eh non ada ada saja, mari masuk non," ucap satpam tersebut sopan. "Eh ini siapa non? Pacar non ya?"


Juwita menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sesekali ia melirik wajah Brayen di belakang kemudi, Brayen juga memandangnya, memberinya kode agar mengiyakan pertanyaan satpam yang bekerja di rumah sahabatnya itu.


"Eh iya mang," ucap Juwita berpura pura terlihat malu malu. "Mari mang."


Brayen dan Juwita kembali masuk ke dalam rumah besar nan mewah tersebut, "Oh s*hit kenapa semakin unik saja ini?," Brayen melihat lihat saja lukisan yang ada di dinding.


"Kakek," Juwita menyapa kakek Rio dari jauh. "Kakek sayang selamat pagi."


"Pagi Juwita, tumben pagi pagi, kamu sudah makan?" Terlihat jelas kakek Rio sangat perhatian terhadap Juwita. "Mau ketemu Al?"

__ADS_1


"Engga lah kek, mau ketemu kakek," Juwita segera menyakini tangan kakek Rio.


Melihat Juwita menyakini tangan kakek Rio membuat Brayen juga ikut menyalaminya. Barulah kakek Rio menyadari kehadiran Brayen.


"Tumben? Eh ini siapa? Pacar kamu nak?" Kakek Rio menunjuk ke arah Brayen, yang tiba tiba kikuk.


"Hah?" Juwita sedikit terkejut dengan pernyataan dari kakek Rio. "Engga apa apa, Juwita mau membicarakan pasal Chandra kek."


Mendengar nama Chandra di sebut, seketika raut wajah kakek Rio menegang, Juwita dapat melihatnya dengan jelas.


"Apa hubungannya dengan kamu Juwita? Apa sejak awal kamu juga mengetahuinya?" Kakek Rio terlihat begitu emosi.


"Mohon maaf kek, jauh sebelum Al di jodohkan dengan dengan Chandara, Juwita kenal dengan Chandra," Juwita menarik nafasnya, terlebih saat melihat wajah kakek Rio semakin memerah, menahan amarah. "Chandra itu mantan pasien Juwita kek."


"Hah? Mantan pasien?" Kakek Rio semakin terkejut dengan kenyataan tersebut.


Juwita mengangguk pasti, tampak dari wajah kakek Rio yang semakin menyimpan amarah, dan siap meledakkannya. Kakek Rio merasa sangat kecewa, karena merasa di bohongi oleh setiap orang.


Juwita melirik Brayen dan melihat Brayen tersenyum, seolah mengatakan all is well. Juwita tersenyum melihat hal tersebut.


"Kakek tenang lah dulu, sebenarnya Chandra sudah dinyatakan sembuh," imbuh Juwita mencoba meyakinkan suaranya dengan wajah.


"Apa buktinya?" Kakek Rio gamang, dirinya kesal dan juga merasa di bo*dohi.


"Inj Brayen, mantan pacar Chandra," seketika Brayen membulat tak percaya dengan apa yang di katakan oleh kakek Rio. Sementara kakek Rio memandang Brayen terkejut, bahkan mulutnya kini menganga, tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Dan sekarang dia pacar Juwita kek," ujar Juwita meyakinkan, kini tambah terkejut kedua orang itu, Brayen sama. Dirinya benar benar terkejut mendengarkannya.


Brayen melorotkan matanya, tak percaya dengan apa yang keluar dari bibir dokter nya.


Rasanya ini tidak ada di dalam kesepakatan tadi lah, Brayen bingung sendiri alurnya, Pasalnya tadi Juwita hanya meminta dirinya menyelamatkan restu kakek Rio untuk Chandra.

__ADS_1


"Kamu tidak bercanda kan?" kakek Rio mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


"Engga kok kek, nggak bercanda," ucap Juwita mencoba meyakinkan kakek Rio. "Orang tadi malam dia tidur di rumah Juwita kok, katanya kangen, malam malam dia datang," ucap Juwita membuat kakek Rio seketika menegang. "Ups.."


"Apa? Kalian belum menikah, ingat kalian belum sah," ucap kakek Rio kini kemarahannya terganti dengan kemarahan lain.


"Iya kek, tidak berlebihan, kamu cuman tidur kok," ucap kakek Juwita cengengesan.


"Sekarang cuman tidur besok siapa yang tahu," ucap kakek Rio akhirnya menurunkan suaranya.


"Iya, tidak akan lagi," ucap Juwita tersenyum manis. "Hm kek, nerwi restui kan?" Juwita bertanya cukup hati hati.


"Hm," hanya itu yang keluar dari mulut kakek Rio, itu sudah cukup untuk Juwita, itu bertanda kakek Rio telah menyetujui hubungan Aliya dan Chandra. "Siapa yang ngasih tahu kalian?"


"Al kek," ucap Juwita cengengesan, ia tahu amarah kakek Rio sudah tidak ada lagi di sana.


"Heh kalian berdua itu sama saja," ucap kakek Rio menghela nafas kasarnya.


"Ya udah kek, kami ke kamar Al ya," ucap Juwita segera menggandeng tangan Brayen untuk mengikutinya.


"Hm, sana. Kakek juga mau menghubungi Mona," kakek Rio segera berjalan ke telfon rumah, dan mencoba menelfon ke rumah keluarga Kostak.


Sementara itu di lantai dua, berantem dan Juwita telah berdiri. Tok, tok tok.


"Wih, ini aku juwita, pahlawan kesiangan engkau," Juwita berteriak kencang، "


"Wah datang juga lo, eh Brayen kok di sini juga?" Aliya tersenyum manis ke arah Brayen.


"Iya tadi dia membantuku."


Volt guys biar semangat updetnya, jangan lupa like komentar dan favorit ya.

__ADS_1


__ADS_2