
Brayen meletakkan Juwita secara perlahan di atas tempat tidur, Brayen segera berbaring di samping Juwita, sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah. Brayen terkesima melihat setiap ornamen yang di tampilkan oleh kamar Juwita.
Estetik.
Satu kata yang menggambarkan pemandangan kamar Juwita, Brayen memperhatikan wajah Juwita, Brayen ingat bahwa tadi gadis itu terbentur sesuatu. Brayen segera mengamati area yang memerah akibat benda tersebut. Brayen menggeleng bangkit kemudian melepaskan jasnya.
Brayen segera berjalan menuju lemari pendingin, saat melihat isi lemari tersebut kosong, Brayen teringat dengan bahan masakan yang tadi di mereka beli, Brayen kemudian kembali ke bagasi Juwita untuk mengambil bahan masakan yang berada di dalam mobilnya.
Brayen kembali dengan beberapa kantong barang belanjaan, kemudian menatanya di salam lemari pendingin. Brayen lalu mengambil beberapa ice batu, dan handuk kecil. Brayen kembali ke kamar dan mengompres kening Juwita.
Gadis itu tampak belum sadar, hingga kantuk menyerang Brayen. Brayen tertidur di samping Juwita, sembari memegangi kompres Juwita.
......................
Juwita terbangun tepat pukul lima subuh, gadis itu terkejut ketika melihat Brayen berbaring di sampingnya, sembari memeluknya dan memegang handuk basah di tangannya.
Juwita segera menyanggah kepalanya, memandang wajah Brayen dengan seksama, jari telunjuk Juwita terulur ke arah wajah Brayen. Senyum manis Juwita terbit kala menelusuri wajah Brayen dengan jari telunjuknya.
^^^Eh, aku sedang apa? Apa aku sakit, ingat tidak boleh seperti ini, terlebih jika tidak ingin terluka. Juwita.^^^
Juwita segera menyadarkan dirinya, agar tidak jatuh cinta kepada Brayen. Juwita takut untuk jatuh cinta, Juwita takut terluka karena mencintai. Jangankan mengharapa kan cinta orang lain. Bahkan menggarap kan cinta dan kasih seorang ibu saja, telah Juwita hapus dari daftar keinginan nya.
Juwita ingin laki laki seperti ayahnya, meskipun itu sangat langka. Namun setidaknya, ia akan di cintai untuk selamanya. Meskipun dengan berbagai kekurangan.
Juwita segera bangkit dari tempat tidur, kemudian segera mandi. Juwita membuka lemari pakaian, dan mencari baju kaus rumahannya.
Hari ini Juwita libur, belum lagi nanti siang jadwal pasiennya, Jojo, sahabat Aska. Juwita segera mencari mukena dan segera menunaikan sholat subuh.
Brayen terbangun, sedikit memicingkan matanya, dan melihat Juwita tengah memanjatkan doa. Saat Juwita selesai berdoa, Juwita segera bangkit, membuat Brayen segera menutup matanya kembali.
Juwita segera keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju arah dapur. Juwita akan memasak untuk Brayen. Pagi ini ia akan memasak nasi goreng saja. Juwita juga menyiapkan susu untuk Brayen.
__ADS_1
Bryan kembali tertidur di tempat tidur Juwita, Brayen bahkan menguasai seluruh tempat tidur, sembari memeluk bantal guling. Namun tidurnya terganggu, kala mencium aroma bumbu masakan Juwita. Seketika perut Brayen menjadi lapar. Brayen segera bangkit, menuju kamar mandi. mencuci wajahnya, dan segera menelfon asistennya untuk mengantarkan baju untuknya. Brayen teringat tentang bajunya yang tertinggal tempo hari, Brayen segera mandi.
Setelah Brayen mandi, Brayen segera mengenakan handuk Juwita, yang tergolong kecil. Brayen segera keluar dan mendekati Juwita yang sedang memasak.
^^^Apa dia suka sekali memakai pakaian seperti itu?^^^
Brayen menggigit bibirnya tiba tiba ingatannya Kemabli kepada insiden lembut semalam, otaknya kembali buntu. Namun detik kemudian Brayen menggelengkan kepalanya.
^^^Tidak tidak, apa yang ku pikirkan? Agh aku sungguh sangat vital. Dasar kucing penyihir. Kesal Brayen.^^^
"Wit kau kemarin melihat bajuku?" Brayen berjalan mendekati Juwita yang tampak asyik memasak.
Mendengar suara Brayen yang tiba tiba, Juwita segera membalikkan tubuhnya. Juwita terkejut melihat kaus Brayen yang hanya menutupi pinggang, hingga paha.
"A, apa yang kau lakukan?" Juwita menutup matanya menggunakan spatula. Wajahnya memerah, ini pertama kalinya Juwita melihat tubuh atletis pria, terlebih Brayen sangat rajin melakukan olahraga.
"Aku ingin bertanya, baju yang ku tinggalkan kemarin," Brayen terkekeh melihat tingkah Juwita.
^^^Kenapa dia memakai handuk hanya sebatas pinggang? Dia mau apa? Mau pamer dada? Agh, dasar raja iblis, mataku ternodai.^^^
Brayen berlalu meninggalkan Juwita, membuat Juwita bernafas lega. Akhirnya pemandangan indah yang masih terlarang oleh mata, telah pergi. Juwita segera mengangkat makanan dan mempersiapkan piring di atas meja.
Tepat setelah semua tersaji, Brayen keluar dengan mengenakan baju yang telah bersih karena telah di cuci. Brayen segera duduk di hadapan Juwita, melihat baju yang di kenakan Juwita.
Baju kaus yang sedikit kebesaran di tubuh Juwita, Juwita tampak nyaman mengenakan nya. Brayen akui Juwita memang menggemaskan ketika mengenakan baju tersebut.
"Kau suka baju kebesaran?" Brayen memandang Juwita dengan penuh penasaran.
"Hm, enak, rasanya menghangatkan ku," jawab Juwita sekenanya. Sejujurnya dirinya juga bingung kenapa menyukai kaus yang kebesaran.
"Kau tidak bekerja hari ini?" Brayen memandang Juwita dengan penuh penasaran.
__ADS_1
"Tidak, aku sedang libur, besok baru masuk," jawab Juwita memandang Brayen. "Memang kenapa?"
"Tidak, tumben saja pagi pagi tidak mengenakan pakaian kebesaran," ujar Brayen mengalihkan pandangannya, pasalnya saat ini Juwita tengah menggigit sendok ya, sembari memandang ke arah Brayen. Dan Si*al nya itu sangat menggemaskan di mata Brayen.
^^^Kenapa dia begitu sih? Apa yang dia letakkan di makanan ku? Agh penyihir.^^^
"Kebetulan jadwal ku libur," ucap Juwita.
"Berapa hari sekali kau libur?" Brayen penasaran memandang Juwita.
"Satu minggu sekali," ucap Juwita.
"Wah cukup sibuk juga ya, kau pasti sangat lelah, kau tak berniat mengajukan cuti?" Brayen sedikit iba melihat gadis tersebut.
"Aku akan mengajukan cuti, akhir tahun," jawab Juwita.
"Ke mana?" Brayen menenggak minumannya hingga tandas, kemudian menyodorkan gelasnya meminta untuk di tuangkan air putih ke dalamnya.
"Hm, rahasia!" Juwita terkekeh ketika mengatakannya. "Lagian pada saat itu, perjanjian kita juga kemungkinan sudah selesai."
Brayen terdiam mendengar penuturan Juwita, ada rasa tidak rela di dalam sana.
^^^Apa ini terjadi karena dia satu satunya yang dapat mengerti diri ku ya? ^^^
Brayen bingung dengan perasaannya sendiri, namun tetap mencoba menepis perasaan nya. Karena Brayen merasa dirinya dirinya masih belum sembuh, dan ini terlalu cepat untuknya.
"Kau akan kekantor ku kan hari ini?" Brayen mengalihkan pembicaraan merek.
"Hm, aku akan membawakan mu makan siang," ujar Juwita, segera mencomot ponselnya, pasalnya ada notifikasi pesan masuk.
"Baik lah, aku akan ke kantor dulu," ujar Brayen segera meminum kembali minumannya hingga setengah. Brayen tiba tiba tak berselera pagi ini.
__ADS_1
"Iya aku antar dulu ya," ujar Juwita segera menyusul Brayen yang saat ini berada di bagasi mobilnya. Juwita segera membuka kan pintu pagar untuk Brayen. "Hati hati," Juwita melambaikan tangan ke arah mobil Brayen, kemudian kembali menutup pagar rumahnya.