
Brayen tiba dengan Juwita yang tiba tiba saja membuka pintu gerbang, Brayen terkejut, kala melihat Juwita tengah mengenakan jaket, tampaknya wanita itu tengah bersiap siap untuk keluar.
Brayen segera turun dan menghampiri Juwita yang tengah bersiap untuk masuk ke dalam mobilnya. Brayen meraih tangan Juwita, kemudian menutup pintu mobil yang telah di buka Juwita.
"Kau mau ke mana malam malam begini?" Bryen segera menarik Juwita agar memandang ke arah nya.
"Ah aku kehabisan uang jadi aku akan pergi mengamen di persimpangan jalan sana," canda Juwita, namun di anggap sungguh sungguh oleh Brayen.
"Apa? Katakan saja padaku jika masalahnya itu," ujar Brayen kesal, entah kenapa mendengar kata kata Juwita membuatnya kesal sendiri.
"Ada apa ini? Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu serius menanggapi perkataan ku?" Juwita berujar sembari tertawa lepas, menertawakan ke hebohkan Brayen.
"Tidak aku hanya terkejut saja," kilah Brayen. "Ngomong ngomong kau mau ke mana? Ini sudah malam," Brayen segera mengalihkan pembicaraan.
"Ah, bahan makanan di rumah ku sudah habis, jadi aku kan ke luar sebentar mencarikan mu makanan dan membeli bahan makanan. Tadi aku lupa memberitahu kepada asisten rumah tangga ku," ujar Juwita. "Jadi kau masuk saja terlebih dahulu."
"Huh, ayo pergi denganku saja, tak baik seorang gadis keluar malam malam begini," Brayen segera menarik Juwita dan menutup pintu mobil Juwita.
"Kau tidak lelah? Kau istirahat saja di dalam, biar aku yang pergi," Juwita sedikit tidak enak merepotkan orang lain.
"Tidak! Aku akan mengantarkan mu," Brayen kekeh ingin mengantar Juwita.
"Ya ya, terserah lah."
Ternyata Brayen membawa mereka ke mall terdekat. Brayen bahkan keluar untuk menemaninya berbelanja. Brayen saat ini tengah mendorong keranjang belanja, dengan Juwita yang berada di sampingnya. Juwita sibuk memilih bahan makanan yang akan ia beli, sementara Brayen sibuk melihat setiap pilihan Juwita dan membacanya. Mereka bak seperti pengantin baru, yang tangah berbelanja.
Tiba tiba seorang wanita muda mendekati ke arah mereka, lebih tepatnya mendekati Brayen. Brayen tak perduli, dirinya lebih memilih untuk tetap membaca setiap pilihan Juwita.
"Kak berbelanja di sini juga?" Wanita itu menghampiri mereka.
"Hm, siapa?" Brayen bahkan lupa dengan wanita itu.
"Aku Karin, kak. Adiknya kak Juwita," Karin sedikit kecewa ketika mengatakan hal tersebut, pesonanya tak mampu membuat Brayen mengingat dirinya.
Tangan Juwita terhenti ketika mendengar wanita itu menyebutkan namanya, Juwita tahu Karin memiliki ketertarikan khusus dengan Brayen.
__ADS_1
"Sayang ini yang mana menurut kamu?" Juwita bertanya tanpa menoleh ke arah Brayen dan Karin, seolah olah tak tahu bahwa di samping Brayen ada Karin.
Brayen tersenyum, dirinya tahu bahwa Juwita saat ini ingin memanaskan hati Karin. Brayen akan dengan senang hati menerima bantuan tersebut.
"Ini sayang, sepertinya ini enak," ujar Brayen segera mengambil alih salah satu makanan yang di pegang Juwita. "Kan di rumah kamu sering beli yang ini, jangan tergiur melihat harga."
Juwita tersenyum, kemudian meletakkan barang tadi di keranjang belanja mereka. Juwita berpura pura terkejut ketika melihat ada Karin. "Eh Karin, kamu di sini? Mau belanja juga?"
"Eh engga mbak, Karin cuman dari jalan jalan dengan teman,"
"Oh, kamu mau ikut mbak? Kami mau makan dulu,"
^^^Dia mau apa sih? Tumben sekali baik pada ku. Biasanya dia akan sangat cuek, bahkan tak menganggap ku. Apa jangan jangan dia ingin berpura pura baik di hadapan kak Brayen? Kita lihat saja siapa yang akan menang. Karin.^^^
Brayen segera mendorong keranjang belanja mereka ke kasir.Setlah selesai membayar mereka segera ke salah satu resto untuk memesan makanan, karena kebetulan Brayen dan Juwita juga telah kelaparan.
"Mau mesan apa?" Juwita segera membuka suaranya saat telah sampai di dalam.
"Kamu pesan apa?" Brayen malah kembali bertanya kepada Juwita.
"Paket jumbo aja deh, lapar soalnya," ujap Juwita sembari tertawa.
Karin yang melihat itu tersenyum, Karin pikir Brayen suka dengan wanita yang tidak makan banyak, berarti dirinya harus terlihat anggun, dan makan lebih sedikit di hadapan Brayen.
"Kamu?" Brayen memandang ke arah Karin, Brayen kembali lupa dengan nama Karin.
"Hm, aku tiramisu cake aja kak," ucap Karin lembut. "Minumnya air putih."
"Ok, kalian cari tempat duduk dulu deh," Brayen segera pergi untuk mengantri.
"Mau di bantu?" Karin menawari bantuan.
Brayen memandang ke arah Juwita, Brayen mengerutkan keningnya, tanda dirinya sedang tidak nyaman dengan kehadiran Karin.
"Hm, Karin kita duduk saja ya, dia terbiasa mengantri," ujar Juwita paham dengan pandnagan Brayen.
__ADS_1
Diam diam Brayen tersenyum dan melangkah pergi, Karin cemberut melihat hal tersebut.
^^^Cih bilang saja takut di rebut, aku tahu, aku lebih cantik dan seksi dari pada kau, dasar tukang iri. Karin.^^^
"Makana sudah datang," Brayen mengejutkan kedua kakak beradik tiri tersebut, yang asyik memainkan ponselnya masing masing.
Brayen segera menata makanan Juwita, dan dirinya. Menyisahkan makanan Karin di atas nampan, dengan terpaksa Karin mengambil makanannya sendiri.
"Sudah yuk sayang jangan main ponsel terus, yuk makan," Brayen segera merebut ponsel Juwita, dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.
Brayen melihat Juwita menyisahkan kulit ayam nya, dan memakan dagingnya saja, membuat Brayen mengerutkan keningnya.
^^^Tampaknya dia sangatlah suka kulit ayamnya, sehingga menyisahkan nya untuk yang terakhir. Brayen.^^^
"Kau sangat menyukai kulit ayam ya?" Brayen berbisik ke arah Juwita.
"Tidak aku tidak memakan nya, kalau mau ambil saja," ucap Juwita berbisik.
Brayen segera mengambil alih kulit ayam Juwita, dan memakannya. Karin yang melihat hal itu hanya mengerutkan keningnya.
"Kak kenapa tidak makan kulit ayam? Takut gendut?" Karin tersenyum remeh ke arah Juwita.
"Dia hanya tidak menyukainya, karena aku menyukainya makanya aku yang memakannya, dari pada sia sia, karena itu kami sering makan bersama," ucap Brayen membuat Juwita tersenyum penuh kemenangan ke arah Karin.
^^^Makanya jangan jadi cewek gatel, kena kan? Kasian di garuk pakai pencakar rumput. Juwita.^^^
"Oh, aku kira takut gendut," gumam Karin kecewa, karena Juwita di bela oleh Brayen.
"Gendut pun dia bukan urusan mu, lagian aku akan menerimanya apa adanya kok, lagian yang ku sukai kepribadian nya bukan fisiknya," entah kenapa Brayen terbakar sendiri dengan apa yang di ucapkan oleh Karin. Bertambah lah nilai minus Karin di mata Brayen.
Brayen memandang ke arah Juwita, yang tampak asyik makan tanpa memperdulikan ocehan Karin, yang sejak tadi ingin merendahkannya.
^^^Ck kenapa dia santai sekali, jelas jelas saudaranya akan merendahkannya. Apa dia tak perduli? Brayen.^^^
Brayen segera meraih tulang ayam yang sejak tadi Juwita gigit, Brayen menggantikannya dengan ayam miliknya. Entah kenapa Juwita mengingatkannya pada kucing tetangganya yang sangat imut, saat berada di negara asalnya. Brayen menjadi gemas sendiri. Mungkin ini lah yang di sebut cantik alami, sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Kenapa? Aku hanya ingin menggigitnya, itu sangat enak, aku sudah kenyang," protes Juwita dengan bibir masih di penuhi minyak dan beberapa taburan nasi di pinggir bibirnya.
Brayen segera meraih tisu dan mengusap lembut bibir Juwita, sembari tersenyum. "Dasar kucing."