CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Malam yang indah.


__ADS_3

Juwita terus saja memperhatikan jalanan yang di lalui rel kereta tersebut, Juwita baru saja bangun dari tidur siangnya, seketika di sambut dengan pemandangan indah pinggiran kota mumbai. Brayen yang melihat hal tersebut, segera mendekati Juwita. Juwita tampak terkesima dengan pemandangan luar kereta api yang terus berjalan melewati rel demi rel, pemandangan demi pemandangan, membelah indahnya panorama India. Juwita hanya bangun duduk dan bersender di tempat tidurnya.


"Apa pemandangan alam begitu indah? Sehingga tak sempat untuk melihat ku? Kau bahkan langsung melihat pemandangan alam yang terhampar," ujar Brayen segera duduk di samping Juwita, pandnagan nya lurus mengikuti arah pandnagan Juwita.


"Mereka memang indah, bahkan sangat indah, namun bukan berarti kau tak menarik, atau kalah menarik, malain kan aku masih bisa melihat mu seumur hidup ku, namun melihat pemandangan tersebut, hanya sekali seumur hidup ku," ujar Juwita tersenyum dengan mata masih mengarah kepada panorama alam yang tersaji.


"Jadi kau berencana seumur hidup dengan ku?" Brayen mengembangkan senyum indahnya. Terharu dengan kata kata seumur hidup Juwita.


"Tentu saja, memangnya kau tidak mau?" Juwita terkekeh, ia tahu betul jawaban dari pertanyaan nya, namun entah kenapa ia sangat menginginkan kata kata itu keluar dari bibir Brayen.


"Tentu saja aku ingin. Kau tahu orang India percaya akan kehidupan selanjutnya, reinkarnasi. Jika memang ada, aku ingin bersama dengan mu selamanya," ujar Brayen, menggenggam erat jari jemari Juwita.


"Bahkan masyarakat Asia rata rata mempercayai hal itu," Juwita terkekeh ketika mengatakan hal tersebut. "Tapi kau tahu bahkan aku juga mempercayai ungkapan kehidupan setelah ini."


"Apa? Kau tidak boleh begitu, kata pak ustad Yusuf tidak boleh begitu," ujar Brayen memandang lekat wajah Juwita.

__ADS_1


"Hei kau tahu, di kehidupan sebelumnya aku hanya di alam ruh, kemudian berpindah di alam perut mama ku, selama sembilan bulan, kemudian kehidupan ku yang saat ini, lalu terakhir kehidupan kekal abadi ku," ujar Juwita membuat Brayen mengangguk meskipun sedikit bingung.


^^^Lihatlah ayah, Wira berhasil mewujudkan keinginan kita, meski tidak dengan mu, namun Wira bersama dengan laki laki yang Wita cintai, mengerti akan keadaan Juwita. Setelah pulang dari sini, Wita akan mengunjungi mu, dengan membawa laki laki ini, dan memperkanalkannya kepada mu. Juwita.^^^


"Wit bagaimana jika kita ke kuburan ayah mu setelah ini? Kau pasti merindukannya," Brayen mengusap perut datar Juwita. Juwita tersenyum mengangguk setuju. Ternyata apa yang ia pikirkan sejalur dengan apa yang di pikirkan oleh Brayen.


Brayen kembali memandang ke arah panorama alam, yang sejak tadi di tatap oleh Juwita. Brayen akui pemandangan tersebut memang menyihir mata, semua sajian alam, dan kearifan warga lokal akan, terlihat begitu indah. Juwita bahkan tersenyum ketika melihat anak kecil yang tengah berlarian bersama teman temannya, dengan mengenakan pakaian adat yang sangat melekat di antara mereka. Pakaian sari para wanita yang tengah beraktivitas, memberikan kesan yang berbeda. Para wanita yang tengah membawa air secara bergerombol, menarik perhatian bagi Juwita. Bahkan Juwita mencondongkan kepalanya ke arah jendela kaca, meletakkan tangannya di sana. Sungguh ini bukan film Bollywood yang pernah ia tonton, dengan melihat para wanita mengenakan sari, dan berjalan bergerombol dengan bercengkrama.


Brayen mempererat pelukan di pinggang Juwita dari belakang, sementara kepalanya ia senderan di bahu Juwita, petang menjelang. Pemandangan indah matahari terbenam menghiasi jalan mereka, bak menyihir mata. Juwita tak berkedip sedikit pun, demi tak melewatkan matahari tenggelamnya India, dari dalam kereta.


Perbatasan Mumbai dan Udaipur masih bermil mil jauhnya, membuat Juwita terus tersenyum. Keindahan hutan mulai tampak di ujung sana, membelah mata, agar tetap menikmati alam.


"Sudah waktunya sholat magrib kau tak sholat?" Juwita memandang ke arah Brayen ketika ponselnya berbunyi, menandakan waktunya sholat bagi masyarakat setempat.


"Iya, tapi kau bersihkan diri mu, kita akan makan malam di restoran," Brayen segera beranjak meninggalakan Juwita, yang masih memandang ke arah hamparan hutan, yang mulai menggelap sepenuhnya.

__ADS_1


Juwita Beranjak ketika matahari tenggelam sepenuhnya, dan menyisahkan gelapnya malam, Juwita mulai menutup tirai dan pergi membersihkan diri, melewati Brayen yang tangah melaksanakan sholat magrib. Juwita melirik sebentar gerakan kaku Brayen, Kemudian masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Setelah lima belas menit, Juwita keluar dengan mengejan pakaian lengkap. Juwita melihat Brayen yang telah duduk dengan mengenakan kaus abu abu dan celana bokser tengah memainkan ponselnya. Juwita mulai memahami tingkah Brayen jika berada di rumah , laki laki itu pasti hanya mengenakan kau dan celana bokser saja. Juwita mendekat tanpa Brayen sadari, laki laki itu tampak amat konsentrasi pada ponselnya. Bahkan Brayen baru menyadari Juwita ketika gadis itu duduk di sampingnya.


Brayen tersenyum kemudian mengecup pipi Juwita. "Sudah siap hm?" Brayen tersenyum ke arah Juwita. Juwita hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Brayen. "Ya sudah aku siap siap dulu ya, kau ingin menghubungi kakak?"


Juwita mengangguk antusias, segera menyambar ponsel Brayen, dan mulai menghubungi kakek tentang keberadaan nya. Sambungan telepon tersambung. "Halo kek, assalamualaikum... Di India, lagi naik kereta kek, beuh bagus banget kek... Iya sama Brayen... Tenang bedak kok... iya kakek sayang, Wita sudah mempersiapkannya... Di sini malam kek... Ini baru mau berangkat, tinggal menunggu Brayen siap siap... Iya kakek sayang... Sampai ketemu lagi walaikum salam," Juwita mengakhiri panggilan telfonnya dan mendekat ke arah Brayen.


Laki laki tampak telah selesai dengan stelan jas, dan celana jeans miliknya, ciri khas para CEO muda, membuat Juwita menggeleng. Ternyata tak hanya dari film yang ia tonton saja yang begitu, di dunianya juga begitu.


"Ayo sayang," ujar Brayen menggandeng tangan Juwita menuju gerbong restoran. Mereka berjalan melewati beberapa gerbong menuju restoran terdekat, Juwita memeluk lengan Brayen sembari memperhatikan sekitar gerbong gerbong, yang mereka lewati, tampak lebih indah jika malam.


Mereka sampai di gerbong restoran, dan segera duduk di sana. Sejumlah turis juga mulai memadati tempat tersebut, dan mulai memesan makanan. Restoran dengan gaya mewah ala bintang lima tersaji di hadapan mata, pantas saja harga menaiki kereta tersebut sangat mahal, bahkan di dalam kereta pun, ia bisa makan di restoran bintang lima. Warna keemasan semakin menambah kesan mewah pada gerbong restoran tersebut, dengan sajian pemandangan alam yang terhampar di setiap tempat duduk nya, pasalnya jendela di pasang di setiap tempat duduk. Juwita kembali terpana, dan mengagumi setiap interior yang di ciptakan di dalam kereta, membuat para pengunjuk tidak akan merasa bosan.


__ADS_1


Tampak seorang pelayan restoran tersebut datang dan memberikan buku menu ke arah mereka.


Juwita tersenyum, ketika Brayen mulai memesan makanan. Urusan pesan memesan makanan memang ada di tangan Brayen sepenuhnya, Juwita hanya perlu duduk manis mengedarkan pandangannya.


__ADS_2