
"Wah datang juga lo, eh Brayen kok di sini juga?" Aliya tersenyum manis ke arah Brayen.
"Iya tadi dia membantuku."
"Bantu apa ini? Jangan jangan?" Aliya memandang Juwita dengan pandangan curiga, gadis ini pasti menggunakan cara ajaib bin nekad, dilihat dari ekspresi Brayen pasti ada sesuatu yang luar biasa terjadi.
"Biasa aku pakai cara lama, pura pura pacaran, jadi kakek mengira dia adalah pacar ku, hebat kan aku?" Juwita membanggakan dirinya, membuat Aliya menggeleng, serempak seperti apa yang di lakukan oleh Aliya.
"Apa serius lo?" Aliya segera memeriksa keadaan Brayen. "Brayen Lo masih utuh kan? Lo ga diapa apain kan?" Aliya segera memeriksa tubuh Brayen, sungguh membuat Juwita berdecak kesal.
"Engga kok, tapi tadi dia cuman minta di temani saja, tau taunya dia bilang kami pacaran," sungut Brayen membuat Juwita tergelak, dan segera menerobos masuk ke dalam kamar Aliya.
"Sekalian lah Brayen, kalau mau menolong orang itu jangan setengah setengah, nanti pahala yang di berikan kepada mu juga setengah setengah," jawab Juwita santai, kini telah mendudukkan bokongnya di kasur empuk Aliya.
"Memangnya kau malaikat, sudah membicarakan tentang pahala saja," kesal Brayen ikut mendudukkan diri di kursi Aliya.
Aliya terkejut melihat kelancangan kedua tamunya. Sungguh mereka memiliki sifat yang sama. "Gue doain jodoh baru tahu rasa lo berdua," gumam Aliya, yang hanya di dengar dirinya sendiri.
"Idih, asal kau tahu, aku ini malaikat berbentuk manusia, tanpa sayap," ucap Juwita memandang kesal ke arah Brayen.
"Cie bertengkar, hati hati jodoh," ucap Aliya menggoda Brayen dan juga Juwita.
"Engga," Juwita dan Brayen menjawab secara serentak, membuat Aliya semakin tergelak.
"Kompak banget sama calon jodoh," ejek Aliya.
"Ih tidak akan Al," ucap Juwita tak terima.
"Jangan tidak tidak, nanti beneran jodoh lo," ucap Aliya semakin terkekeh.
"Seperti kau dan Chandra?" Juwita berhasil membalikkan keadaan.
"Iya seperti nya sedang membicarakan diri sendiri," ucap Brayen membela Juwita.
__ADS_1
"Cie membela calon istri," Aliya kini kembali menggoda kedua orang tersebut.
"Aduh, ayang beb, meleleh adek," ucap Juwita menggiling gulingkan badannya di tempat tidur, seolah benar benar salah tingkah.
"Apaan sih? Kau tak cocok begitu, justru kau seperti ulat bulu jika begitu," ejek Brayen, seketika tawa Aliya pecah mendengarkan ejekan Brayen.
Tok tok tok.
"Al, ini kakek," terdengar suara dari arah luar, seketika membuat mereka terdiam.
Juwita segera bangun dari posisi tidur, dan berlonjak naik ke pangkuan Brayen, dengan menghadap ke arah Brayen. Brayen terkejut melihat hal itu, dirinya tak siap menolak saat Juwita naik ke atas pangkuannya.
"Sedang apa kau?" Brayen hendak mendorong Juwita, namun Juwita justru mengalungkan tangannya di leher Brayen.
"Sudah cepat peluk pinggangku," ucap Juwita menuntun tangan Brayen untuk memeluk pinggangnya, Brayen hanya menurut saja, dirinya seolah tersihir ketika melihat bola mata Juwita. Tanpa sengaja ada sedikit senyum yang tersungging di bibir Brayen. "Al buka pintunya."
Aliya segera mengikuti perinta dari Juwita, dirinya segera membuka pintu, dan menampakkan wajah kakek Rio dan Angel.
"Astaghfirullah," kakek Rio terkejut melihat posisi Juwita dan Brayen. "Kalian ngapain belum kawin," pekik kakek Rio.
"Ah iya nikah," ralat kakek Rio memandang garang ke arah Brayen.
"Eh kakek, Angel di sini juga?" Juwita segera turun dari pangkuan Brayen, namun tangan Brayen yang memeluknya erat membuatnya tak bisa turun. "Lepas tangan lo," bisik Juwita, membuat Brayen tersentak, dan segera melepas pelukan dari pinggang Aliya.
"Nyari kakek," ucap Angel santai.
"Hari ini ulang tahun Chandra, batu kakek mempersiapkan ulang tahun untuk Chandra," ucap kakek Rio, segera pergi meninggalakan ke empat orang tersebut.
"Siap kek," teriak Angel, membuat Juwita dan Aliya segera menutup mulut Angel.
"Besar banget kalau ngomong," kesal Aliya, membuat Angel cengengsan.
"Kakak ngapain sih main pangkuan pangkuan? Kurang puas waktu kecil?" Angel segera memandang ke arah Juwita dan Brayen.
__ADS_1
"Puas puas sekaaaaalliii malah, kami hanya saja kamu sedang berpura pura pacaran," ucap Juwita santai.
"Oh kakek," Angel segera berteriak memanggil kakek Rio.
"Ngapain kau Angel? Kau kira ini hutan?" Juwita sewot sendiri di buatnya.
"Tarzan bule emang kayak kambing," ejek Aliya, membuat Angel cengengsan.
"Sogok dulu baru diam," ucap Angel terkekeh geli.
"Astaghfirullah, ku tenggelamkan kan kau di sungai Musi," ucap Juwita menunjuk ke arah Brayen.
"Lah kok aku?" Brayen bingung sendiri.
"Ayo udah, kita bantu kakek dulu," ucap Aliya menghentikan perdebatan tiada akhirnya.
Mereka segera turun dan membantu kakek Rio untuk melakukan dekorasi. Brayen dan Aliya segera mendekorasi tempat tersebut, sementara Juwita segera membuat hidangan, dan Angel segera membuat kue ulang tahun dengan keajaiban tekan tekan ponsel.
Brayen yang sedang mencari sesuatu segera memasuki rumah tersebut, yang terhubung dengan dapur. Brayen melihat Juwita yang tengah asyik memasak di bantu oleh beberapa asisten rumah tangga. Brayen segera mendekati Juwita hendak mencicipi makanannya.
"Habis nyicil ya? Enak tidak?" Brayen bertanya tepat di samping telinga Juwita.
"Ya Allah, ngapain sih Bray?" kesal Juwita hendak memukul wajah tampan Brayen.
"Mau nyicil juga," ucapan Brayen segera memandang ke arah masakan.
"Iya ini," Juwita segera menyuapi Brayen dengan sendok yang ia gunakan tadi. "Enak?"
"Hm," ucap Brayen sambil mengunyah, pandangannya di alihkan ke arah Juwita. Seketika matanya menangkap susah makanan di bibir Juwita. Dengan refleks Brayen menghapus bekas makanan di bibir Juwita.
Brayen mengernyit, sepertinya ia tak asing dengan rasa benda kenyal tersebut, namun dirinya bingung kapan.
"Astaghfirullah, Ya Allah, seperti tidak ada tempat saja," kakek Rio tiba tiba muncul dari arah luar. "Kau kakek suruh cari paku payung, justru pergi berpacaran."
__ADS_1
Seketika Brayen ingat apa tujuannya, dirinya segera mengusap tengkuknya, merasa malu, terlatih para asisten rumah tangga Aliya tengah meliriknya.
Volt guys biar semangat updetnya, jangan lupa like komentar dan favorit ya.