CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Jaipur (Keperluan mendesak)


__ADS_3

Kamis, hari ke lima


Jaipur


Mata hari belum menampakkan sinarnya, Brayen dan Juwita masih sibuk di alam mimpi mereka, namun mimpi Brayen harus terhenti kala telinganya mendengar bunyi ponsel miliknya di naklas tempat tidur mereka.


"Hm... halo, siapa?" Brayen sedikit malas menjawabnya, pasalnya dirinya masih sangat mengantuk berat.


"Halo Brayen," seketika mata Brayen membulat kantuknya entah hilang ke mana, dirinya sadar sepenuhnya.


"Iya kek," Brayen sedikit terkejut kala kakek Rio menelfon nya, Brayen tahu ini pasti ada sesuatu yang penting.


"Kamu masih liburan dengan Juwita?" kakek Rio terdengar to the point di balik sana, menandakan kakek Rio sangat sungguh-sungguh kali ini.


"Iya kek, ada apa?" Brayen sedikit gugup ketika menjawabnya.


"Bisa kalian kembali sekarang?" yang kakek Rio di balik telfon, semakin membuat Brayen merinding.


"Ada apa kek?" Brayen menggaruk keningnya yang tidak gatal, Brayen semakin gusar saja. Brayen bangkit dari baringnya segera duduk di tepi tempat tidur.


"Pulang saja, jika tidak maka kakek tak akan merestui kalian," ujar kakek Rio terdengar kesal di ujung sana.


"Baik kek, tapi ada sesuatu yang mendesak?" Brayen sungguh kalut, takut jika terjadi sesuatu di sana.


"Iya, kalian mau menikah?" tanya kakek Rio dari seberang sana.


"Tentu saja kek, apa yang mendesak?" Brayen kembali bertanya, takut dirinya di alihkan.


"Kalian terlalu lama bersama, lagian kalau kalian terlalu lama liburan berduaan kalian akan berbuat yang tidak tidak nanti. Satu lagi ingat Brayen kamu harus mempersiapkan diri," uajr kakek Rio membuat nafas Brayen sedikit lega. Namun Brayen tak mengerti tentang sunat bagi muslim.


"Untuk apa kek,"Brayen bingung sendiri.


"Apa kau tidak tahu bahwa laki laki harus bersunat?" kakek Rio di ujung sana terdengar nada gemesnya, dengan calon cucu menantunya.

__ADS_1


"Hah apa itu kek?" Brayen semakin bingung namun penasaran.


"Itu kamu loh di potong," ujar kakek Rio mendesah bingung.


"Hah?! Habis dong kek," Brayen syok sendiri, bahkan kini Brayen mencoba mengintip baby Bray milik nya.


"Is bukan Brayen, cari sendiri lah di google apa itu sunat. Bukan bidang kakek menjelaskannya," kakek Rio terdengar sedikit putus asa.


"Penasaran loh kek," Brayen masih mencoba mendesak.


"Cari sendiri, pulang dari sana hari ini juga," perintah kakek Rio mutlak.


"Tapi kek Wita belum bangun," jujur Brayen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa!!! BA NGUN KAN SE KA RANG JU GA!" kakek Rio semakin terdengar murka di balik sana.


"I... Iya kek, sebentar, kalau sudah sampai di jaipur kami langsung cari penerbangan ke Indonesia," ujar Brayen buru buru.


"Bagus...!" ujar kakek Rio sebelum akhirnya panggilan terputus sepihak oleh kakek Rio.


"Wit... Juwita sayang, kita harus pulang sekarang," ujar Brayen membangunkan Juwita.


"Hm... lan masih ada dua hari lagi Bray," Juwita kembali menarik selimutnya hingga menutupi sebagian wajahnya.


"Tapi kakek minta sekarang," Brayen mengusap lembut pipi Juwita, mencubitnya, hingga mengecup nya.


"Hah! Kakek Kakek mana?" Juwita tampak membuka matanya, melihat ke arah tangan Brayen, Juwita tampaknya berfikir bahwa Brayen sedang menelfon kakek Rio.


"Kakek tidak di sini, kakek di Indonesia. Tapi kita di suruh pulang sekarang, kalau tidak kakek tidak akan merestui kita," jelas Brayen mengusap lembut kepala Juwita.


"Apa?!" Juwita tampak semakin terkejut segera bangun dari baringnya.


"Ayo yang, nanti kita pada saat pemberhentian kita langsung turun dan memesan taksi," Brayen menangkup wajah Juwita, mengusap lembut pipinya.

__ADS_1


"Iya iya, kita kumpulkan barang dulu," Juwita segera berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Juwita tampak menguap berkali kali, kemudian segera menutup kamar mandi. "Tapi sayang loh ini tinggal dua malam lagi."


Brayen masih mendengar gerutukan dari Juwita, liburan mereka harus terhenti saat ini juga, pasalnya ada panggilan dari kakek Rio, yang memaksa mereka untuk kembali.


"Biar lah yang, setelah kita menikah kita bisa ke tempat lain," ujar Brayen segera mengambil koper mereka, dan mulai memasukkan semua barang barang mereka.


Sembari menunggu Juwita membersihkan dirinya, Brayen segera menelfon awak kabin, dan meminta mereka untuk mengantarkan sarapan, sekaligus bertanya tentang proses check out, sekaligus bertanya tentang taksi yang harus mereka tumpangi. Untung saja awak kabin tersebut berbaik hati dan bersedia mengantar mereka hingga bertemu dengan taksi, yang akan membawa mereka ke bandara internasional yang ada di jaipur.


Juwita telah selesai dengan pakaian lengkapnya. Kini Juwita memperbaiki tempat tidur merek, melakukan pengecekan kembali apakah ada barang yang tertinggal. Juwita tersenyum ternyata mereka tidak ketinggalan sedikit pun bawaan, Brayen memang dapat di andalkan.


Ketukan pintu membuat Juwita membuka pintu kabinnya, dan mempersilahkan seorang awak kabin mengantar makanan dengan troli. Juwita tersenyum menerimanya.


"Thanks," ujar Juwita sebelum menutup pintu kamar miliknya. Juwita menatanya, di atas meja, menunggu Brayen untuk segera keluar dari kamar mandi, tampaknya matahari baru akan menyingsing, namun mereka telah meminta sarapan. Bahkan para turis lainnya mungkin saja belum bangun.



Matahari menyingsing tepat saat Brayen telah duduk di samping Juwita, Brayen tersenyum mengusap lembut kepala Juwita, Brayen mengecup puncak kepala Juwita, kemudian mulai menyambar makanannya. Brayen memperhatikan mata Juwita yang tak pernah lepas dari pemandangan alam indah tersebut. Sesekali Brayen menyuapi Juwita, yang justru semakin asyik dengan pemandangan alam tersebut.


Setelah makanan mereka tandas, mereka segera meletakkan sisa makanan tersebut di troli. Brayen segera membawa koper mereka ke ruangan tempat mereka sarapan tadi. Brayen segera memberikan Juwita jaket berbahan Levis, kemudian mengecup memberikan sebuah topi, dan masker.


"Harus kah?" Juwita menerimanya, dan memandangnya tanpa berniat memakainya.


"Tentu saja," ujar Brayen memints Juwita utuk segera mengenakannya, akhirnya mau tidak mau Juwita harus mengenakannya, dirinya sungguh sedikit kesal, namun mau bagaiman lagi, jika Brayen sudah mengatakannya, mau tidak mau dirinya harus mengenakannya.


Tepat setelah kereta berhenti, mereka di datangi oleh seorang awak kabin, yang akan mengantar mereka ke arah stasiun, dan memesan kan mereka taksi, agar segera di antar ke bandara.


Keduanya keluar, tepat sebelum orang orang sarapan, sebenarnya ini adalah yang terbaik dari moment berlibur mereka, namun harus berhenti di sini. Ada raut sedih yang di tampakkan Juwita melalui pancaran matanya, namun Brayen segera merangkulnya.


"Setelah kita menikah kita akan lebih sering berlibur sayang," Brayen mengusap lembut wajah kekasihnya yang tertutup oleh masker, Juwita hanya mengangguk membenarkannya. Akhirnya pasrah dengan keadaan.


Sebuah taksi datang akan mengantarkan mereka ke bandara. Juwita terus memandang ke arah jendela, mengamati kota indah yang di kenal dengan city's pink. Mereka melewati hawa mahal, dan Brayen meminta supir tersebut untuk berhenti, hanya agar Juwita dapat bersua foto. Juwita tersenyum berbinar, akhirnya mereka turun dan bersua foto sebentar dengan hati yang bahagia. Brayen tersenyum dan memeluk Juwita.


__ADS_1


Setelah selesai bersua foto, mereka akhirnya kembali melajukan mobil tersebut ke bandara, setelah membayar, Brayen dan Juwita berjalan menuju pemesanan tiket, namun ternyata tiket untuk hari itu telah habis. Brayen tak kehabisa akal, Brayen segera menelfon asistennya Indri untuk mengirimkannya jet pribadi, agar dirinya dapat Kemabli secepatnya ke Indonesia. Mereka menunggu Kemabli, sembari berjalan ke arah kantin dan segera kembali mengisi perut yang sebenarnya masih penuh.



__ADS_2