CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Sesal.


__ADS_3

Sore harinya sesuai dengan janji mereka berkumpul. Dan mulai prosesi lamaran, Aliya ikut dalam rombongan Chandra sebagai anggota keluarga dari Brayen. Brayen datang dengan stelan jas hitam, kemeja biru tua, celana dasar hitam, dan seoatu yang senada dengan kemejanya.


Brayen melirik Juwita yang menegangkan kebaya, duduk di tengah tengah kakek Rio dan tuan Damar. Mereka memulai pembicaraan mengenai lamaran yang mereka lakukan hari ini, tuan Omer sebagai perwakilan orang tua dari Brayen mulai angkat bicara.


Angel sejak tadi terus merekam dan memulai acara live Instagram miliknya. Tentu saja penontonnya cukup banyak. Banyak di antara mereka yang terharu dengan acara lamaran tersebut, namun banyak juga terhibur dengan acara lamaran tersebut.


"Baiklah kita mulai acara lamarannya ya," ujar tuan Damar.


"Halo assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu... apa kabar semua?" Aska yang menjadi MC dadakan di acara tersebut yang baru di tunjuk tadi pagi, segera membuka acaranya dengan sedikit profesional.


"Baik..." ujar semua orang.


"Yang di ujung sana...." Ujar Aska dengan bersemangat, membuat semua mata tertuju padanya. "Oh maaf cuman kita kita ya? Lagian kan ini bukan dangdutan hajatan ya?" Seketika semua orang terkekeh mendengar kata kata dari Aska.


"Baiklah kita lanjut saja acara lamarannya. Pertama-tama kita segera menuju acara inti tanpa hiburan, tanpa dangdutan, tanpa wali apalagi Radja band, tanpa embel-embel lainnya. kita masuk ke acara inti. Silahkan


kepada pihak laki laki untuk menyampaikan maksudnya dan tujuannya datang ke sini," Aska segera mempersilahkan tuan Omer untuk segera berbicara mengenai tujuan dan maksud sore ini, meski semua orang sudah tahu tujuannya.


"Baiklah, kami di sini berniat untuk menyampaikan sesuatu kepada keluarga bapak, dan kami mohon waktunya untuk mempersilahkan anak kami Brayen guna menyampaikan kata kata nya," tuan Omer segera memberi mic kepada Brayen, guna Brayen menyampaikan kata kata mutiaranya yang telah ia pelajari hingga empat jam nonstop, dengan bantuan Chandra dan nyonya Mona.


"Baiklah kepada tuan Brayen selaku yang memiliki maksud dan tujuan di persilahkan," Aska segera mempersilahkan Brayen untuk menyampaikan isi catatannya, yang ia ungkapkan dengan relung hati yang terdalam.


"Jika di drama Korea What's wrong with Secretary Kim, Lee Young Joon pernah berkata 'Aku ingin tidur disampingmu dan menyanyikan lagu untukmu setiap malam sepanjang hidupku. Jadi, bisakah aku meminta izinmu untuk menjadi suamimu?' Jika Oh My Venus - Kim Young Ho pernah berkata 'Mungkin kau akan terluka saat mengalami masa-masa sulit berdua, tapi aku tetap ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamamu.' Jika di the king 2 heart pernah berkata. 'Aku akan memanjakanmu dan membuatmu menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Sampai di hari di mana aku mati, atau sekarat, aku akan selalu memberimu kasih sayang. Sebagai balasan.' Jika Goblin pernah berkata. 'Aku mengatakan ini karena cuaca cukup bagus. Aku mengatakannya karena kau masih bersinar. Aku mengatakannya karena kau adalah cinta pertamaku. Di hari lain saat cuaca cukup bagus, maukah kau menjadi mempelai dari pria Goryeo ini?' Dan jika Fight For My Way-Ko Dong Man. 'Aku tak bisa hidup tanpa melihatmu karena itu sangat menyiksaku. Aku ingin melihatmu setiap hari selama sisa hidupku. Jadi mari menikah dan tinggal bersama." Brayen menjeda kata katanya, ia melirik sejenak Juwita yang berkaca kaca, pasalnya semua drama yang disebut oleh Brayen merupakan drama favoritnya.


"Tapi bagi ku kau lebih dari itu, dan kata kata yang menggambarkan mu pun jauh lebih indah. You are the best one in the world for me."


"If i could give you any gift, I'd give you love and laughter, a peaceful heart, a special dream and joy forever after."


(Jika aku bisa memberimu hadiah apa pun, aku akan memberimu cinta dan tawa, hati yang damai, mimpi khusus dan kegembiraan selamanya.)


"All your perfect imperfections. Give your all to me, I'll give my all to you. You're my end and my beginning. Even when I lose I'm winning."


(Semua ketidaksempurnaanmu yang sempurna. Berikan segalanya kepadaku, aku akan memberikan semua milikku untukmu. Kaulah akhir dan awalku. Bahkan saat aku kalah, aku menang.)


"I'll be your dream, I'll be your wish, I'll be your fantasy. I'll be your hope, I'll be your love, be everything that you need. I love you more with every breath, truly madly deeply do I will be strong, I will be faithful 'cause I'm counting on a new beginning. A reason for living. A deeper meaning."


(Aku akan menjadi impianmu, aku akan menjadi keinginanmu, aku akan menjadi fantasimu. Aku akan menjadi harapanmu, aku akan menjadi cintamu, menjadi semua yang kau butuhkan. Aku semakin mencintaimu dengan setiap nafas, benar-benar sangat dalam, aku akan menjadi kuat, aku akan setia karena aku mengandalkan awal yang baru. Alasan untuk hidup. Makna yang lebih dalam.)


"Because every long lost road, led me to where you are. Others who broke my heart, they were like northern stars, guiding me on my way, into your loving arms, this much I know is true. God bless the broken road that led me straight to you."


(Karena setiap jalan yang lama hilang, membawaku ke tempatmu berada. Orang lain yang menghancurkan hatiku, mereka seperti bintang utara, membimbingku dalam perjalananku, ke pelukanmu yang penuh kasih, banyak yang aku tahu adalah benar. Tuhan memberkati jalan yang rusak itu membawaku langsung kepadamu.)


"Before I met you, I never knew what it was like to smile for no reason. Now that you're here, I think my entire life will fall into place!"


(Sebelum aku bertemu denganmu, aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya tersenyum tanpa alasan. Sekarang kamu ada di sini, aku pikir seluruh hidupku akan jatuh ke tempatnya!)


"They say money can't buy love, but I paid for this ring with money, and you're going to accept it under the condition that you have to stay with me forever, so it's kind of like buying love if you say "yes."


(Mereka bilang uang tidak bisa membeli cinta, tapi aku membayar cincin ini dengan uang, dan kamu akan menerimanya dengan syarat kamu harus tinggal bersamaku selamanya, jadi ini seperti membeli cinta jika kamu berkata 'ya'.)


"I don't really know what I'm supposed to do if you say 'no', so could you save us both the trouble and say 'yes'? 


(Aku tidak benar-benar tahu apa yang harus aku lakukan jika kamu mengatakan 'tidak', jadi bisakah kamu menyelamatkan hubungan kita berdua dari masalah dan berkata 'ya'?)


"So will you marry me?"


(Jadi maukah kau menikah dengan ku?" Juwita menitikan air matanya mengangguk ketika Brayen menyelesaikan kata katanya, sungguh indah di telinga Juwita, setiap kata yang keluar tersebut.


"Aaaa... so sweet, pacar mana pacar mana? Agh... jomblo, lihat mereka tidak ada akhlak, yang di gombal siapa, yang pelukan mereka," angel mengarahkan kamera tersebut ke arah Aliya dan Chandra yang tengah bermesraan di belakang. "Ck... mentang mentang udah nikah, awas saja tidak ku undang kalian kalau aku menikah."


"Hm... bagaima?"Tuan Omer penasaran dengan jawaban formal dari pihak Juwita, pasalnya mereka hanya mendapatkan anggukan.


"Sah..." ujar Aska tiba tiba dengan menggunakan mic di tangannya.


"Ck... jones... yang di lamar siapa, yang semangat dia," Angel mengarahkan kamera ke arah Aska, kemudian kembali menyorot Brayen dan Juwita yang bersebrangan.

__ADS_1


"Aska..." semua orang menggeram mendengar semangat Aska.


"Kan sah di terima," Aska melakukan pembelaan diri.


"Baiklah, kami terima pinangan bapak ibuk. Terlebih wanitanya sedang menangis terharu." tuan Damar segera menengahi kekonyolan tersebut.


"Alhamdulillah... karena prosesi lamaran telah di terima dengan kata kata yang super romantis yang bisa membuat pihak wanita meleleh, tapi sayang yang masih jomblo pastinya iri. Ya tidak apa apa iri asal jangan dengki saja." Aska melirik ke arah Angel yang mencebikkan bibir ke arahnya, sembari terkekeh.


"Ah, saya kebanyakan bicara, kita ke acara selanjutnya saja, yaitu pemasangan cincin sebagai simbol dan ikatan untuk calon mempelai kita, karena belum menjadi mempelai." Aska kembali fokus ke topik utamanya.


"Silahkan yang laki laki mendekati wanita tercintanya. Ya silahkan pasangkan cincinnya dengan penuh hikmad dan syukur. Yang laki laki pasang cincinnya kepada wanita tercintanya ya dengan hitungan tiga... dua... sa...tu..." Brayen memasangkan cincin kepada Juwita, semua kamera telah mengambil gambar mereka, dan Angel yang terus saja live merayakan moment berharga tersebut.


"Ye... cincin untuk mempelai wanita telah terpasang, dan sekarang yang wanita silahkan pasang cincinnya kepada pria tercintanya dalam hitungan tiga... dua... satu setengah... eh tidak sabar sekali, yang sabar dong.... Saaaaaaaatu... pasang sekarang..." Aska terkekeh ketika berhasil menggoda Juwita yang matanya sedikit sembab karena mendengar kata kata dari Brayen.


"Alhamdulillah proses pemasangan cincin telah terlaksana, kini foto keduanya, baru di susul keluarga mempelai."Juwita dan Brayen segera berpose dengan menampakkan cincin mereka. Kemudian di susul kedua keluarga untuk berfoto bersama.


"Ngomong ngomong saya bisa jadi MC juga ya, nanti langsung hubungi asisten saya Angel, untuk boking saya." Aska terkekeh melihat Angel mengarahkan kamera ke arah dirinya, sembari menyebikkan bibirnya.


"Baiklah acaranya inti telah berakhir, mari kita sudahi saja dengan makan makan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu."


"Walaikumsalam warahmatullahi wabarokatu," ucap para audien yang memang segelintir.


Acara semi formal telah berakhir dengan penutupan makam makan, Angel sibuk mengarahkan kamera ke arah Juwita yang tengah berbicara dengan Brayen.


"Cie yang tunangan..." Juwita dan Brayen melambaikan tangannya ke arah kamera. "Nah banyak yang penasaran masalah kalian yang liburan bersama."


"Oh kemarin itu ada kesalah pahaman di antara kami, nah saya fikir dia marah dan kabur ke India, ternyata memang masa cutinya, dan dia sudah memberi tahu saya namun saya lupa, dan di saat itu ponselnya hilang," ujar Brayen terkekeh mengingat kekonyolannya.


"Nah ada pertanyaan lagi nih dari @Lambe_Lambean 'Karena apa bisa berfikir dia salah paham?' Nah jawab dong," Angel membacakan pertanyaan tersebut.


"Karena saya pikir dia melihat saya ketika hendak menolong seorang wanita yang terjatuh, dan posisi kami mungkin membuat orang lain salah paham, ternyata tidak. Dia tak sengaja menjatuhkan bekal makanan, dan segera berlari karena ada pasien yang gawat darurat. Sementara saya berfikir dia salah paham. Ya begitulah hingga akhirnya saya mencarinya dan lupa makan hingga hampir tiga hari, dia benar benar membuat saya panik saat itu," Brayen terkekeh sembari merangkul Juwita dan mengecup pipi Juwita dengan gemas.


"Ah... Sweet, yang sabar ya kalian para jomblo. Kalian berada di barisan ku kok, yang cuman bisa bilang aku kapan? Kapan di cariin selain dengan orang tua?" ujar Angel mendramatisir keadaan.


Sementara para orang tua tengah berdiskusi. "Baiklah kapan kira kira buat baik itu terlaksana?" tuan Damar menanyakan pernikahan kepada tuan Omer.


"Katakan kepada si bucin itu, bahwa semua itu butuh persiapan, tidak hanya uang," para orang tua terkekeh ketika mengatakan hal tersebut, omongan mereka berlanjut hingga kemana mana.


Aliya, nyonya Mona, Aska dan Chandra mendekat ke arah pasangan yang baru saja resmi bertunangan.


"Ngomong ngomong yang ngajarin masalah film Korea itu siapa?" Juwita memandang penasaran ke arah Brayen, pasalnya yang dia ingat Brayen tak terlalu tertarik dengan film, apalagi dengan film bergenre romansa.


"Biasa mama sama Chandra," ucap Brayen menunjuk nyonya Mona dan Chandra, yang lain ikut melihat nyonya Mona dan Chandra.


"Gile sweet potato sekali," Angel menggeleng mengingat kembali bersama romantis nya kata kata dari Brayen untuk Juwita.


"Bukan makanan Angel..." Aliya menoyor kepala Angel, hingga gadis itu memegang kepalanya yang di toyor.


"Lagian ya dia sweet bisa, tapi dengan kakak kemarin tidak ada sweet sweet nya," Angel memandang penuh ejekan ke arah Aliya.


"Itu karena kita di jodohkan Angel," Aliya mencubit pipi Angel dengan gemas, kemudian menepuk nepuk nya.


Semua sepakat bahwa Minggu depan akan di adakan pernikahan antara Juwita dan Brayen, dengan sederhana dan penuh kenikmatan. Setelah itu semua bersiap untuk pulang termasuk Brayen yang malam itu harus berpisah dengan pujaan hatinya.


"Sayang aku pulang dulu ya, malam ini aku nginap di apartemen," Brayen baru saja menarik Juwita ke tempat yang sedikit sepi di taman belakang, agar orang lain tak dapat melihat mereka, bahkan tempat itu cendrung gelap.


"Iya besok jangan lupa di jemput, ingat kita harus ke kantor pencatatan sipil, mendaftarkan kelas pra nikah, dan mencari gaun untuk pengantin serta mencari gaun untuk pra wedding kita," Juwita mengembangkan senyumnya untuk kekasihnya.


Brayen menarik pinggang Juwita mendekatkan wajahnya ke arah Juwita, mengecup singkat bibir Juwita. "Malam ini video call yang sayang, ga papa ga di samping kamu, yang penting video call."


Juwita mengangguk malu malu di buat nya, Brayen kembali mendekatkan wajahnya dan men*ci*um bibir Juwita lama, sebelum akhirnya me*lu*matnya.


"Brayen... Juwita... ayo ngapain gelap gelapan..." Aska datang dari arah pintu masuk, menggoda Brayen dan Juwita. Seketika pipi Juwita merona di buatnya.


.

__ADS_1


.


.


.


Pagi harinya tanpa sepengetahuan Juwita tuan Damar dan kedua adik tiri Juwita berkumpul di rumah tuan Reymond, Andi dan juga mamanya juga telah duduk di sana. Sebenarnya nyonya Weni telah kembali dari hotel, kini ia telah berada di rumah. Namun panggilan dari Akram membuat nyonya Weni bersemangat membersihkan diri, lalu berangkat ke rumah kekasih gelapnya.


"Wah ada ini ramai ramai?" Nyonya Weni datang hendak memeluk nyonya Iwa, namun nyonya Iwa menolaknya. Nyonya Weni mengernyitkan keningnya begitupun tuan Reymond.


"Wen aku hanya ingin kau menandatangi dokumen ini," tuan Damar menyerahkan sebuah dokumen dengan pena di atasnya.


"Apa ini sayang?" nyonya Weni memandang bingung ke arah tuan Damar.


"Baca sendiri," ujar tuand amar dingin. Sikapnya ini membuat nyonya Weni mengerutkan keningnya bingung, nyonya Weni mengalohkan pandnagannya ke arah map tersebut, kemudian mengambilnya. Mata nyonya Weni membulat seketika melihat isi map tersebut.


"Dan kamu mas, aku juga ingin kamu menandatangani ini," nyonya Iwa menyerahkan sebuah dokumen untuk tuan Reymond sama seperti yang taun Damar berikan.


"Apa apaan ini?" tuan Reymond semakin bingung di buatnya. Kemudian membuka map tersebut, dan membacanya. Tuan Reymond tak kalah terkejut melihat isi map tersebut.


"Itu adalah surat pengadilan," tuan Damar mengatakan dengan dingin.


"Maksudnya, papa dan Tante Weni tinggal tandatangani saja, agar kalian bisa bersama, kami akan menyingkir dari kisah kalian, kalian bisa tinggal di sini. Aku dan mama akan pindah, kalian silahkan tinggal di sini," Andi ikut berbicara membuat mata tuan Raymond terbelalak, ia tak percaya kata kata itu keluar dari anaknya sendiri.


"Apa maksud mu? Kau menginginkan perceraian mama dan papa?" tuan Reymond tak percaya ingin mendekati anaknya.


"Penghulu akan datang sebentar lagi, bukan kah kalian ingin selalu bersama? Kini kalian bisa bersama," Andi tak memperdulikan tatapan tuan Reymond ia meneruskan apa yang ingin ia ucapkan.


"Mas apa apaan ini?" nyonya Weni mendekat ke arah mantan suaminya.


"Kalian aku rasa tidak perlu lagi masa Iddah, kalian telah sering berhubungan badan," tuan Damar memandang datar ke arah keduanya secara bergantian. Ada rasa jijik saat melihat wajah mereka, mengingat bagaiman cara mereka mengkhianati dirinya. "Kau aku talak, mulai detik ini kita bukan lagi suami istri, kau bebas melakukan apapun sekarang."


"Mas!!!" nyonya Weni tergelatak, ia di talak. Bagaimana mungkin mereka semua tahu tentang hal ini, padahal ia hanya ingin bersenang senang bersama tuan Reymond, memang ada cinta namun tak berniat untuk menikah.


"Kenapa? Aku benar bukan? Karin anak kalian kini telah aku kirim ke asrama. Aku tak ingin anak itu menuruni sikap kalian, sementara Juwita tadi pagi baru saja keluar dari rumah sakit akibat yang kau lakukan, kau berbuat sesuka hati mu, sekarang semua terjadi sesuai keinginan mu," tuan Damar tak perduli dengan air mata nyonya Weni yang sudah terjatuh.


"Damar!" tuan Reymond mulai naik pitam, mendengar anaknya di kirim ke asrama.


"Apa? Apa? Kau mau membantah apa? Aku melakukan ini agar perusahaan tidak kalian buat malu," tuan Damar terkekeh melihat kemarahan dari tuan Reymond, bukankah di sini seharusnya ia yang marah? Ah bukan kah dunia ini lucu? Sungguh sangat lucu sekaligus ironis.


"Kau..." tuan Reymond semakin kesal di buatnya ia mendekati tuan Damar, dan menarik kerah bajunya. Ia sangat malu merasa di permainkan, dan juga merasa kesal, ia tak bisa menggambarkan perasaannya.


"Pah sudah lah, perusahaan aku yang mengaturnya, aku akan memberi papah uang setiap bulan, cepat tanda tangani, penghulu sudah di depan," yang Andi menyodorkan kembali map tersebut ke arah tuan Reymond.


"Cepat tanda tangani, jika tidak maka foto mesra kalian akan ku kirim ke semua platform, dan aku pastikan kalian akan benar benar tak tahu harus menginjakkan dunia di mana," ancam tuan Damar menyeringai.


Dengan terpaksa keduanya menandatangani surat cerai tersebut. Bertepatan dengan hal tersebut, seorang penghulu datang dan bersiap untuk menikahkan mereka. Setelah akad penghulu di perbolehkan pulang. Kini tuan Reymond dan nyonya Weni telah resmi menjadi sepasang suami istri di muka agama, namun tidak di muka umum.


"Selamat atas pernikahan kalian, aku harap kalian bahagia," nyonya Iwa di dorong oleh Andi mengucapkan selamat kepada tuan Reymond dan nyonya Weni.


"Iwa, aku... aku..." Nyonya Weni benar benar tak tahu harus berkata apa. Sementara tuan Reymond memandang nanar ke arah wanita yang selama ini menemaninya dari nol, dan kini telah menjadi mantan istrinya. Ada kesedihan di sana, malam ini ia menyadari bahwa kesedihannya sangat besar, bahkan tidak ada apa apanya dengan acara yang di persembahkan untuk mereka berdua.


"Sudah lah, aku akan pergi, ayo Andi," nyonya Iwa segera memutar sendiri kursi roda yang ia kenakan, meninggalakan laki laki yang kini telah ia cap be*reng*sek itu. Laki laki yang selama ini ia kira begitu setiap padanya, kini telah ia ketahui belangnya. Hatinya terlanjur kecewa, menutupi seluruh rasa cintanya selama ini.


"Andi kau juga?" tuan Reymond menatap anak laki lakinya, yang kini menyusul mantan istrinya.


"Kami akan pergi, papa tidak perlu lagi ke perusahaan, aku yang akan mengurusnya, mengenai Karin aku sudah menganggarkan yang bulanan untuknya, biar bagaiman pun aku adalah kakaknya. Ayo ma," ujar Andi tanpa menatap papanya, kemudian mendorong kursi roda milik nyonya Iwa. Kekecewaannya terlanjur besar untuk papanya, namun ia tak bisa membenci. Karena laki laki itu adalah papanya sendiri.


Tuan Damar dan kedua anaknya tidak pamit, mereka segera pergi dari tempat tersebut, tepat setelah menjadi saksi pernikahan antara nyonya Weni dan tuan Reymond.


Tuan Reymond segera berjalan mengikuti langkah Andi, meninggalakan nyonya Weni yang terdiam di tempat, ia sadar laki laki itu masih memiliki rasa cinta yang cukup besar untuk wanita yang baru saja menjadi mantan istri suaminya. Tuan Reymond melihat dengan jelas bagaiman Andi sedikit kesulitan membatu mantan istrinya, tuan Reymond hendak membantunya, namun di tepis langsung oleh nyonya Iwa.


"Jangan... pengantin baru harusnya menemani istrinya di dalam. Ah... aku lupa kalian sudah sering melakukannya, jadi sudah terasa bukan pengantin baru lagi," nyonya Iwa berucap dengan sinis, Andi segera menutup pintu mobil untuk mamanya.


"Pa permisi, Andi sama mama pergi dulu, assalamualaikum," ujar Andi segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Tuan Reymond tak menjawabnya matanya terpaku melihat pintu mobil yang tertutup, ia tak menyangka akhirnya akan seperti ini. Selama ini ia kira akan bahagia jika melepas mantan istrinya, namun saat terlepas dari dirinya, saat itu juga ia sadar bahwa ia telah kehilangan. Dan tak akan mungkin kembali. Bayangan kebersamaan saat mereka bersama ketika dirinya masih merintis usaha kini terngiang, ia telah kehilangan, kehilangan segalanya. Bahkan Andi anaknya kini lebih memilih mamanya. Mereka yang berharga kini telah pergi, yang tersisih hanya ke egoisannya. Ia memandang wajah nyonya Weni yang berada di ambang pintu, kini wanita itu terlihat biasa saja, ia baru menyadari bahwa keindahan yang berada didalam dirinya baru saja pergi karena dirinya.


__ADS_2