
Brayen pagi ini di temani oleh Juwita telah sampai di tempat sunat yang telah di alamatkan oleh Indri, asisten Brayen. Di tempat itu lebih di dominasi oleh anak anak maupun beranjak remaja, hanya ada beberapa laki laki dewasa di sana.
Saat tiba giliran Brayen, laki laki itu tersenyum dengan percaya diri menggandeng Juwita, Juwita menggeleng melihat tingkah Brayen. Juwita hanya menunggu di luar, pasalnya tidak di perbolehkan untuk masuk. Juwita mengangguk mengerti.
"Semangat," ujar Juwita ketika Brayen masuk ke dalam ruangan untuk sunat. Brayen hanya mengacungkan jempol dengan percaya dirinya. Juwita terkekeh melihat nya.
Brayen masuk tersenyum ke arah dokter, namun entah kenapa nyalinya tiba tiba turun ketika melihat peralatan yg di ada di ruangan tersebut, pesan singkat dari Chandra Kemabli terngiang di kepalanya.
"Ayo tuan silahkan berbaring di sini," ujar dokter tersebut. Dokter itu baru saja mengganti silikon pembungkus tangannya, dan memegang beberapa peralatan, jantung Brayen tak karuan melihatnya.
"Dok ini tidak sakit kan?" Brayen mencoba meyakinkan.
"Tidak hanya sebentar," ujar dokter tersebut. "Silahkan pak di buka dulu celananya, kita tidak bisa jika tidak di buka."
"Dok pacar saya bisa masuk?" Brayen menggigit bibirnya, merasa takut sendiri di buatnya.
"Kenapa?" dokter tersebut terkekeh ketika mengambil beberapa alat untuk memulai sunat.
"Ini sedikit mengerikan, saya sedikit tidak percaya diri," Brayen menutup matanya dengan lengan, sungguh ketakutannya begitu besar.
"Benarkah? Kalau begitu pejamkan mata mu, kekasih mu tidak boleh masuk, yang lain itu adalah anak kecil jadi orang tuanya yang menemani mereka," ujar dokter tersebut memulai aksinya.
"Ahk... aku sedikit tertekan," Brayen semakin meremas sprei yang ada di sampingnya.
"Rileks, jangan berpikiran yang macam macam, apa ini masih terasa?" dokter tersebut terus melanjutkan aksinya.
"Tidak tidak sama sekali," ujar Brayen menutup matanya.
"Benar kan ini tidak akan sakit," ujar dokter tersebut terkekeh.
__ADS_1
"Baik terimakasih," Brayen terus mengguyarkan rambutnya merasa sedikit tertekan.
"Ah sudah selesai," dokter tersebut segera memindahkan peralatan nya.
"Hah?! Sudah selesai? Secepat ini?" Brayen memandang bingung ke arah dokter tersebut, pasalnya ia tak merasakan apapun.
"Iya ini tidak butuh waktu yang lama, pasalnya kita pakai laser, dan tidak akan terasa," ujar dokter tersebut tersenyum.
"Wah terimakasih Dok," ujar Brayen bersemangat, pikirnya ini tidak akan menimbulkan sakit setelahnya, pasalnya semuanya telah selesai.
"Kami akan memanggil kekasih anda," ujar dokter tersebut terkekeh, kemudian membuka pintu dan memanggil Juwita. "Ibu, ibu Juwita?"
"Iya dok, bagaimana?" Juwita segera berdiri mendekati dokter tersebut.
Juwita segera masuk melihat Brayen yang tersenyum ke arah Juwita, wajahnya tampak cerah tanpa adanya rasa sakit di dirinya.
"Semua telah selesai, nanti tolong berikan obat ini jika sakitnya terasa di alat ke*la*min, dan berikan obat ini setelah makan, supaya mempercepat proses penyembuhannya" dokter tersebut menyerahkan beberapa bungkus obat ke arah Juwita.
"Sama sama," ujar dokter tersebut.
"Ayo..." Juwita mengajak Brayen berdiri kemudian berjalan menuju mobilnya, Brayen tersenyum tidak merasakan sakit sama sekali.
"Yang kan tidak sakit, tau kalau begini, sekarang aku melamar mu," ujar Brayen sombong. "Chandra itu benar benar pembohong."
"Baiklah, kalau begitu kamu istirahat dulu," Juwita menggeleng, membawa Brayen ke kediaman kakek Rio.
"Iya yang, tapi nanti aku akan manja manja dengan mu ya," Brayen tersenyum memandang ke arah Juwita, Juwita tersenyum menanggapinya.
"Iya, aku mengerti," ujar Juwita mengusap lembut wajah kekasihnya.
__ADS_1
"Aku khawatir setelah ini tak dapat bertemu dengan mu," tiba tiba Brayen mengingat kembali akan pertemuan mereka.
"Hm, ku rasa masih dalam waktu yang lama," Juwita tersenyum menanggapinya. Tidak tahu saja dia bahwa sakitnya belum terasa karena masih ada obat bius di tempat jahitan tadi.
Juwita membawa Brayen ke kamar tamu, meminta pelayan untuk membawakan makanan dan minuman untuknya dan kekasihnya ke dalam kamar.
"Gantilah dulu celana mu dengan celana yang tidak ketat, dan longgar di bagian itu," ujar Juwita menunjuk ke arah pusat kenikmatan Brayen.
"Ah, iya aku ganti dulu," ujar Brayen segera ke kamar mandi, Brayen segera mengganti celananya dan keluar dari kamar mandi, Brayen melihat Juwita yang tengah berbaring di atas tempat tidur, Brayen tersenyum melihat tingkah Juwita.
"Sayang Chandra si pembohong itu benar benar pembohong, dia mengatakan akan di potong semua, padahal masih ada, masih berbentuk seperti semula, hanya ada beberapa bekas jahitan," ujar Brayen ikut merebahkan tubuhnya. Juwita terkekeh mendengar cerita dari Brayen, kemudian mengusap lembut kepalanya. "Sayang kan sudah berjanji kan akan memanjakan ku?"
"Iya aku akan memanjakan mu, sampai kau sembuh," ujar Juwita mengusap lembut kepala Brayen.
Brayen segera mengangkat kepalanya dan meletakkannya di leher Juwita, sembari memeluk tubuh Juwita dari samping.
Seorang maid datang dan membawakan mereka makan siang, Juwita segera bangun dan menyuapi Brayen, pasalnya Brayen tak ingin menyuapi dirinya sendiri, terpaksa Juwita yang membatu nya. setelah makan Brayen meminum obat, dan beristirahat di ceruk leher Juwita.
Setengah jam Brayen tertidur, namun tiba tiba Brayen terbangun dari tidurnya karena merasa kesakitan yang luar biasa.
"Ah... sayang sakit kenapa ini?" Brayen terbangun memegang alat ke*la*min*nya Brayen berkeringat hebat memegang tangan Juwita. Juwita terbangun dan terkejut.
"Brayen... kamu kenapa?" Juwita bingung sendiri segera menangkup wajah Brayen.
"Sakit, aku sakit, sangat sakit bagaimana ini? Tadi tidak terasa tapi sekarang sangat sakit," ujar Brayen, kesakitan. "Sayang ini bagaimana?"
"Minum obat dulu, obat pereda sakit dulu," Juwita segera mencari obat dari dalam kresek yang di berikan oleh dokter tadi.
"Mana cepat ini sangat sakit, aku tak kuat," Brayen sudah berkeringat dingin ketika mengatakan hal tersebut, Juwita segera menyerahkan obat dan air putih untuk Brayen. Setelah meminumnya Brayen masih saja merasa kesakitan, Juwita menarik Brayen ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tahan sebentar lagi tak akan sakit, sabar ya..."