CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Lembut


__ADS_3

Brayen segera meraih tisu dan mengusap lembut bibir Juwita, sembari tersenyum. "Dasar kucing."


Juwita hanya tersenyum sembari mengunyah makanannya, Karin yang melihat kemesraan di hadapannya hanya bisa meremas ujung roknya.


Iri?


Tentu saja.


Itulah yang saat ini Juwita rasakan. Sampai sampai dirinya seolah hanya menjadi pemeran pembantu, yang kebetulan berada di tempat tersebut. Karin hanya membuang wajahnya ke arah lain.


"Sudah, makan kok seperti anak kecil," Brayen mengusap lembut kepala Juwita.


"Namanya juga lapar," gumam Juwita sedikit cemberut.


"Pantas tulang sampai di gigit gigit," ujar Brayen, terkekeh.


"Enak," jawab Juwita, segera berdiri untuk mencuci tangannya. Brayen ikut berdiri dan mencuci tangannya.


Karin yang melihat hal tersebut menjadi kesal sendiri. Karin sengaja menerima tawaran Juwita, pasalnya ingin merebut perhatian Brayen. Namun justru dirinya yang kini kesal sendiri.


^^^Cih, bertingkah seolah sangat imut. Apa dia lupa umur? Tingkah seperti anak TK. Karin.^^^


Juwita diam diam tersenyum melihat kekesalan dari Karin, dirinya berhasil membuat Karin emosi.


Saat ini mereka tengah berada di parkiran, Karin tampak memikirkan sesuatu. "Mh... Kak bisa tidak mengantarkan ku ke rumah, soalnya aku ga bawa mobil, tadi naik taksi," ucap Karin memandang Brayen, dengan wajah di buat se imut mungkin. Ia pikir Brayen suka dengan wajah imut miliknya.


"Hm, boleh," ujar Brayen sembari membantu Juwita memasukkan kantung belanjaan di mobil Brayen.


^^^Tu kan, wajah imut ku lebih mempan di hadapan kak Brayen. Ternyata mudah juga meluluhkan nya. Karin bersorak di dalam hati.^^^


"Sayang ini sudah semua?" Brayen segera memandang ke arah Juwita yang tampaknya telah selesai menyusun kantung belaka mereka.


"Sudah," ujar Juwita tersenyum.


Brayen segera menutup bagasi mobilnya, kemudian menggandeng Juwita menuju pintu penumpang bagian depan. Meninggalakan Karin yang kesal sendiri dengan hak tersebut.


Brayen membuka pintu untuk Juwita, kemudian menutupnya dengan pelan, ketika Juwita telah masuk. Brayen kemudian mengitari mobil tersebut, dan segera masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Karin hanya melongo seolah tak di anggap oleh sepasang kekasih kontrak itu. Juwita yang menyadari Karin belum masuk, segera menurunkan kaca mobil, dan memanggil Karin.


"Karin kok ga masuk? Ini sudah loh," ujar Juwita, membuat lamunan Karin menjadi buyar.


Dengan sedikit kesal Karin segera masuk ke dalam mobil tersebut, dan duduk di bangku penumpang di belakang kemudi. Setelah Juwita masuk, Brayen segera melajukan mobilnya, keluar dari kawasan mall tersebut.


"Ke arah mana rumah mu?" Brayen bertanya tanpa menoleh ke arah Karin, bahkan dirinya kini sibuk memandang ke arah depan.


"Lurus, belok kiri, putar kanan, masuk ke perumahan Mega bing," ucap karin


Brayen diam mengangguk, konsentrasi pada jalan. sementara Juwita dan Karin hanya diam, duduk di kursi mereka, tanpa ada satu patahpun yang keluar dari bibir mereka. Brayen melirik sekilas ke arah Juwita, tapkanya gadis itu sangat mengantuk, namun memaksakan untuk membuka matanya, tapak berberapa kali menguap, dan menyeka air matanya akibat mengantuk berat. Perut kentang, suasana hening, dan angin dingin memang pas untuk tertidir. Namun Juwita merasa tidak enak jika meninggalkan brayen sendirian, terlebih lagi Juwita sadar jika Brayen sedikit risih jika berdekatan dengan karin.


"Kalau mengantuk tidur saja, lagian ini juga sudah malam kok," ujar Brayen segera menepi ke jalan sedikit.


"Kenapa?" Karin angkat suara, terkejut tiba tiba mobil mereka menepi, pikir Karin terjadi sesuatu dengan mobil tersebut.


Brayen tak menjawab pertanyaan Karin, Brayen segera melepas jasnya, dan menempatkannya di atas pangkuan Juwita. Juwita tersenyum dengan perlakuan Brayen, akhirnya memilih untuk memejamkan matanya.


Brayen kembali menjalankan mobilnya, dan melirik Juwita, tanpaknya gadis itu sudah mulai tertidur di bangku sebelah.


"Iya kak, masuk aja, nanti Karin kasih tau jalannya," ucap Karin memajukan tubuhnya, agar lebih dekat dengan Brayen. Mumpung Juwita tertidur, mungkin saja Brayen tertarik dengan tubuh seksi miliknya.


"Nah tepat di situ," ujar Karin dengan suara yang mendayu dayu.


"Ok," Brayen segera mendekatkan mobil nya di tempat yang Karin maksudkan. Brayen mengernyit, sejak tadi karena tak menyukai bau parfum milik Karin, sangat tajam menusuk rongga hidungnya.


Karin masih sibuk mencoba menggoda Brayen, bahkan mendekatkan tubuhnya, agar lebih dekat. Bahkan Karin kini berpura pura tak dapat mendengar dengan jelas, agar wajahnya lebih dekat lagi, sambil berbicara sedikit berbisik ke arah telinga Brayen.


"Kita sudah sampai," ucap Brayen setelah mobil mereka terhenti.


"Makasih loh kak," ucap Karin mencoba menyentuh tangan Brayen. Namun dengan sigap Brayen menepisnya, dengan berpura pura mengecek ponselnya. Dirinya tidak sadar jika yang tengah ia pegang itu ponsel Juwita.


"Hem boleh minta nomor telfonnyz?"


"Oh, sebentar. mm," Brayen segera membuka kunci ponsel yang ternyata tidak di kunci oleh Juwita.


Tampak foto Juwita tertera di layar ponsel, membuat Karin tersenyum kecut.

__ADS_1


"Nomor mu?" Brayen segera membuka kontak ponsel. Karin menyebutkan nomornya, dan Brayen mencatatnya. "Keluar lah nanti aku hubungi," ucap Brayen segera mengusir Karin.


Setelah Karin keluar Brayen segera mengantongi ponsel Juwita, dan mengemudikan kembali mobilnya. Karin tersenyum penuh kemenangan, pikirnya telah mendapat kesempatan untuk merebut Brayen.


Cukup lama Brayen mengendarai mobilnya hingga tiba di rumah Juwita. Brayen keluar dan membuka pintu gerbang, kemudian memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Brayen segera menepuk nepuk pipi Juwita agar segera bangun.


"Wit, Wita, bangun," Brayen terus berusaha membangunkan Juwita. Membuat tidur nyenyak Juwita terganggu, Juwita segera membuka matanya, membuat Brayen tersenyum.


^^^...Ugh si*al, kenapa dia sangat tampan? Juwita....^^^


Juwita mengumpat ketika melihat wajah tampan Brayen, saat bangun tidur. Pesona lelaki yang masih belum di nyatakan sembuh tersebut membuat jantungnya sedikit berdetak kencang.


^^^Aduh kenapa kucing ini imut sekali sih kalau bangun tidur, tidak itu pasti semua wanita akan seperti itu kalau baru bangun. Agghhh penyihir. Brayen.^^^


Juwita segera membuka pintu mobil, dan keluar dengan sedikit sempoyongan, rasanya kepala Juwita belum bisa di ajak kompromi. Kepala Juwita berkunang-kunang akibat darah rendahnya, karena terlalu lelah.


Brayen yang melihat hal itu segera menyusul Juwita, takut takut gadis itu terjatuh. Benar saja belum sampai Brayen di sisinya, Juwita telah tersandung, berakibat kepalanya terbentur oleh dinding, dan seketika kesadarannya hilang.


Brayen berlari mendekatinya, merogoh kunci rumah Juwita di dalam tas, namun naas tak menemukannya. Brayen mengingat Juwita tadi meletakkan kunci mobilnya di saku, barang kali Juwita juga meletakkan nya di sana.


Brayen segera menggeledah setiap kantung Juwita, si*al nya tangannya mengenai sesuatu, yang membuat Brayen meneguk ludahnya kasar.


^^^Oh si*Al, pantas saja dia mengenakan jaket, ternyata dia tak mengenakan br*a.^^^


Brayen tak sengaja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.


^^^Lembut.^^^


Brayen mengusapnya sekali lagi.


^^^Oh si*al, apa yang aku pikir kan.^^^


Brayen kembali mencari kunci rumah Juwita, yang ternyata berada di saku jaketnya.


^^^Kenapa aku tidak terpikir di sini?^^^


Sekali lagi Brayen menggeram kesal kepada dirinya sendiri. Sembari menggigit bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2