
Malam berlanjut kini kedua mempelai berdiri di hadapan para tamu undangan, beberapa wartawan di perbolehkan untuk masuk ke dalam, demi menyebar luaskan berita pernikahan mereka. Acara hanya di mulai dari jam tujuh malam, hingga jam sepuluh malam.
Juwita tersenyum kala tuan Damar datang mendampinginya, bersamaan dengan tuan Reymond. Tuan Damar ingin mengambil foto bersama sahabatnya yang baru beberapa jam lalu kembali berbaikan. Mereka mengabadikan momen bersama dengan para pengantin. Kakek Rio, tuan Omer dan nyonya Mona naik ke atas ingin ikut serta berfoto. Akhirnya semua ikut mengambil gambar, dengan nyonya Iwa dan Andi ikut bergabung.
Tuan Reymond sedikit bergeser, demi memberi ruang kepada nyonya Mona untuk lebih dekat dengan pengantin wanita. "Terimakasih," ujar nyonya Mona tersenyum.
"Sama sama," jawab tuan Reymond membalas senyum nyonya Mona. Namun sesungguhnya tuan Reymond sengaja bergeser demi dekat dengan anak dan mantan istrinya, yang saat ini duduk di atas kursi roda. Tampaknya nyonya Iwa tak menyadarinya, bahkan hingga tuan Reymond berdiri di belakang nyonya Iwa dan di samping Andi.
Akram dan Vania hanya menghela nafas, pikiran mereka bertanya tanya entah kenapa ibu mereka tidak datang, mereka juga ingin seperti yang lainnya, namun melihat Juwita yang terus tersenyum membuat mereka ikut merasakan kebahagiaan. Mereka tahu meski hari ini Juwita terus tersenyum, namun pastinya kesedihan tetap menyelimuti hatinya, pasalnya sejak tadi dari acara akad hingga pesta malam, tak nampak secuil pun batang hidung nyonya Weni.
Begitupun dengan Juwita meski dia terus tersenyum, dan selalu di beri selamat oleh para tamu undangan, acara yang sederhana namun meriah. Tetapi tetap saja hati kecilnya merasa hampa, kehadiran dari sang mama. Orang tua kandung satu satunya tak datang di hari bahagianya. Justin orang asing yang selalu memberinya dan memenuhi segalanya. Bahkan hingga saat ini, Juwita terus mengedarkan pandangan dengan senyum di bibirnya.
"Tenang saja mama di sini, kamu tidak sendirian," nyonya Mona membisikkan kata-kata tersebut ke telinga Juwita, membuat Juwita tersenyum dan memandang nyonya Mona dengan penuh haru. Air mata Juwita menetes membuat nyonya Mona mengecup puncak kepala Juwita. Brayen yang menyadarinya segera meminta orang wedding organizer untuk memberinya tisu.
"Hust sayang, sayang..." Brayen mengecup mata Juwita, tuan Damar yang melihat hal itu segera mendekati Juwita, mengusap lembut punggungnya. Kedua adik tiri Juwita juga bisa merasakan kesedihan Juwita. Tuan Reymond merasa bersalah, kenapa tadi ia tidak memaksa nyonya Weni untuk ikut bersamanya. Setidaknya Juwita akan merasa sedikit lega. Untung saja tamu undangan sudah semakin berkurang, jadi mereka tidak terlalu menjadi tontonan orang orang.
Acara pun selesai, semua tamu undangan telah pulang, termasuk tuan Reymond dan nyonya Iwa. Tuan Damar juga sudah hendak kembali ke kediaman mereka, namun Juwita mengentikan nya. "Pa..." Tuan Damar membalikkan tubuhnya sembari tersenyum ke arah Juwita.
"Anak papa sudah menikah sekarang, jadi istri yang baik ya," tuan Damar mengusap lembut kepala Juwita, Juwita menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, namun air matanya tetap terjatuh. "Kenapa nangis hm?"
"Pa, mama kok tidak datang ya? Padahal tadi om Reymond datang," Juwita menundukkan kepalanya, tak ingin air matanya kembali terlihat. Vania segera memeluk Juwita demi memenangkan nya.
"Om Reymond sudah bercerai dengan mama kamu," tutur tuan Damar semakin membuat hati Juwita terluka. Juwita penasaran seburuk itukah mamanya, sehingga mampu menjanda hingga dua kali kurun waktu setengah bulan.
"Kenapa pah?" Juwita bertanya dengan suara serak, rasanya hatinya benar benar hancur berantakan, mama kandungnya sendiri tak datang di hari pernikahannya, dan bercerai kembali di hari bahagianya.
__ADS_1
"Besok saja ya papa cerita, kamu harus istirahat," ujar tuan Damar, membuat Juwita menggeleng.
"Nanti Wita kepikiran pa," Juwita menatap memohon kepada tuan Damar. Tuan Damar mengusap lembut kepala Juwita, kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Brayen..." tuan Damar memanggil Brayen agar mendekat ke arah mereka. "Kamu jangan sedih ya."
"Iya pah," ujar Juwita mengangguk pasti. Brayen datang menghampiri mereka, mengusap lembut punggung istrinya.
"Mama kamu memilih kekasihnya, jadi om Reymond menceraikan nya," ujar tuan Damar singkat padat dan jelas. Baik Juwita, Arham, dan Vania syok di buatnya. Mereka tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Sungguh di luar dari prediksi mereka. "Sayang kami pulang dulu, Brayen kamu tolong tenangkan Wita."
"Iya pah," Brayen mengangguk memeluk pundak istrinya mengecup pelipisnya. Brayen melirik sekitar masih cukup ramai dengan para maid yang membersihkan tempat tersebut. "Ayo sayang."
Juwita hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya, Juwita mengikuti langkah Brayen menuju kamar mereka. "Sayang bersedih boleh tapi jangan berlarut larut, mungkin saja ini jalan agar mama mu mendapatkan kebahagiannya yang sebenarnya, dan kita do'akan supaya mama kamu menjadikan pilihannya kali ini sebagai pilihan terakhir."
"Sabar bro... istriku sedang bersedih, jika tidak sudah ku hajar sejak tadi," Brayen menepuk nepuk sesuatu yang di sana, kemudian mendudukkan pantatnya di pinggir tempat tidur, menyenderkan kepalanya di senderan tempat tidur. Brayen menutup matanya tanpa sengaja tertidur dengan menyender.
Juwita keluar dengan tersenyum, kemudian mendekat dan mengusap lembut wajah suaminya. Tampak jelas suaminya kelelahan, namun pakaian suaminya harus di gantikan. "Brayen bangun... kalau mau tidur mandi dulu gih," Juwita menepuk nepuk pipi Brayen.
"Hm..." Brayen membuka pelan matanya, bertanya menatap wajah basah istrinya, dengan rambut yang lembab, tubuh istrinya tampak hanya menggunakan jubah mandi. Tampaknya istrinya baru saja mencuci rambutnya. 'Seksi' satu kata yang menggambarkan wajah Juwita saat ini di mata Brayen. Brayen segera mengecup bibir Juwita dan menegakkan badannya. Brayen memandang lekat wajah istrinya yang tampak tersenyum manis ke arahnya. "I love you."
"I love you too, but you need to take a shower," (aku juga mencintai mu, tapi kau harus mandi) Brayen terkekh segera bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Juwita hanya menggeleng, sembari tersenyum dan segera berjalan menuju lemari untuk memakai gaun tidurnya. Juwita tersenyum kala melihat pantulan dirinya di cermin.
Ctek.
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Brayen yang baru saja selesai mandi, dan hanya mengenakan handuk kecil yang menutupi pinggang bagian bawah hingga atas lutut. Juwita menjadi gugup sendiri kala melihat roti sobek yang amat sempurna, bak di pahatan maha karya sempurna.
Brayen tak kalah terkejut, kala melihat pakaian istrinya yang benar benar terbuka, pakaian hitam dengan yang lebih tepat di tidak bisa di sebut pakaian, karena di semua arah angin bisa masuk dan membuat kita menjadi masuk angin. Warnanya merah kontras dengan warna kulit Juwita yang putih bak susu. Brayen bahkan berkali kali menelan ludahnya.
"Sayang..." ujar Brayen segera berjalan ke arah Juwita, sembari membuka handuk yang ia kenakan.
Juwita membulatkan wajahnya ketika suaminya ber*the*la*njang bi*lat berjalan ke arah nya. Belum sempat otak Juwita mencernanya, Brayen telah menarik Juwita kedalam pelukannya.
"Sayang jika hanya berdua maka sering sering saja mengenakannya," Brayen mulai mengecup leher Juwita, dan menggesek gesekkan sesuatu yang ada di bawah sana. "Sayang kita lanjutkan yang tadi siang ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Juwita, Brayen me*lu*mat Bibir Juwita dan meloloskan gaun malam berenda milik Juwita. Brayen menarik kaki Juwita untuk menaut di pinggangnya, dan menuntut Juwita untuk menuju tempat tidur. Dengan jahil Juwita menggenggam milik Brayen membuat Brayen segera menikam barisan bukit kembar milik Juwita.
"Agh..." keduanya melenguh ketika milik Brayen baru saja masuk untuk kedua kalinya.
"My lovely, agh... Juwita, aku tampan?" Brayen memandang lekat wajah Juwita yang terpejam.
"Hm..." juwita hanya mampu menjawab begitu, Juwita mencengkaram pinggang Brayen dengan kaki nya, hingga miliknya tertekan lebih dalam.
"Hm... Agh..." Brayen tak sanggup menjelaskan nya dengan kata kata, denyut di dalam sana terus menghimpit nya dan mengajaknya terbang hingga ke nirwana. "Agh... wit..."
Brayen terjatuh di atas Juwita dengan memeluk pinggang milik Juwita, menggigit bahu Juwita hingga ke memera. Brayen terus mengecup leher jenjang istrinya dan mulai menelusup ke area area sensitif.
"Emhmmm... Brayen..." Juwita melenguh kala Brayen kembali menegang di dalam sana. "Sayang mau lagi," Brayen segera menindih Juwita, dan memulai aktivitas nya lagi.
Brayen kali ini benar benar melakukan pacuan kuda hingga finish berkali kali. Brayen terengah-engah menjatuhkan diri di atas Juwita sembari tangannya terus berada di atas bukit kembar milik Juwita.
__ADS_1