CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Simbiosis mutualisme


__ADS_3

"Bagaimana dengan perasaan mu kepada dokter Juwita?" pernyataan Chandra membuat hati Juwita berdetak, berdegup kencang, penasaran ingin mendengarkan jawaban Brayen secara langsung.


^^^Aduh aku sangat penasaran, ayo cepat jawab pertanyaan nya.^^^


Juwita bahkan menggigit bibirnya menunggu Brayen menjawabnya. Juwita sedikit mengintip mereka berdua, penasaran dengan wajah Brayen. Brayen tampak berfikir keras, ketika hendak menjawabnya.


"Aku... Aku tak tahu," ujar Brayen membuat Juwita sedikit kecewa dengan jawaban Brayen.


Juwita cemberut sendiri mendengarnya, ingin rasanya ia meremas Brayen saat ini.


"Apa kau menyukainya?" pertanyaan selanjutnya dari Chandra membaut Juwita kembali memasang telinga dengan tajam.


"Aku rasa belum, aku hanya merasa tenang jika bercerita dengannya, aku hanya merasa nyaman," ujar Brayen kembali membuat Juwita terhempas ke dalam hati yang hampa dan kosong. Jantungnya seakan berhenti berdetak, nafasnya sedikit tercekat, Juwita menggigit bibirnya agar tak menimbulkan tangis.


Juwita bagai di hantam batu besar, kenyataan itu seperti batu besar untuknya, yang menghatam kepalanya. Seketika Juwita merasa pusing. lutut Juwita kemas seketika, Juwita segera meraih tiang infus dan menjadikannya tumpuan berdiri. Kaki Juwita lemas.


"Kau menjadikannya pelarian? Atau kau menjadikannya alat untuk menguji kesembuhan mu?" Chandra tampak begitu penasaran, sejujurnya Chandra juga tak suka mendengar jawaban dari Brayen, yang terkesan mempermainkan Juwita.


"Aku, mungkin begitu," dengan mudahnya bibir Brayen mengatakan hal tersebut. "Tapi aku juga sebenarnya tidak tega, tapi mau bagaiman lagi, kami sama sama membutuhkan," lanjut Brayen.


Kaki Juwita seakan lemas, tak mampu menopang tubuhnya, bahkan selang infus pun kini tak mampu menopang tubuhnya. Juwita terduduk, sakit di kakinya tiba tiba menghilang, terkalahkan dengan sakit di ulu hatinya, kala mendengar kenyataan dari bibir Brayen.


^^^Pelarian? Alat menguji kesembuhan? Ya kenapa hanya aku yang terjebak di dalam perjanjian kita, ku kira kau juga merasakannya hal yang berbeda. Kau terlihat cemburu saat aku dekat dengan laki laki lain, apa hanya karena perjanjian?^^^


Juwita menutup matanya menggigit bibirnya, mencoba menahan air matanya. Beberapa orang yang melihat Juwita terduduk, segera membantu Juwita untuk berdiri. Juwita hanya tersenyum perih ketika di bantu berdiri oleh seseorang.


"Membutuhkan?" Chandra benar benar tak mengerti akur hubungan mereka, namun Chandra juga penasaran.


"Iya, dia membutuhkan ku sebagai pelindung nya dari keluarganya yang ingin menjodohkannya, dan aku membutuhkannya untuk kesembuhan ku. Ya jadi kami itu seperti simbiosis mutualisme, sama sama menguntungkan," ujar Brayen sedikit terkekeh.


Juwita mengangguk kepada orang yang menolongnya, mencoba untuk kuat, dan memegang alat tuang infusnya. Juwita menyenderkan kepalanya di dinding, kembali mencoba menajamkan telinganya, mendengar pembicaraan mereka hingga akhir.


"Tak ada rasa sedikit pun?" Terdengar Chandra bertanya dengan nada yang berat.


"Tidak ada sama sekali aku rasa, hanya rasa nyaman di dalam hubungan kami," ujar Brayen kembali menghantam Juwita dengan kenyataan pahit.


Hati Juwita rasanya tertusuk sembilu.


^^^Jadi hubungan kita hanya sebatas simbiosis mutualisme? Ya kau benar, aku yang terlalu banyak berharap di sini. Kenapa aku mengharapkan hubungan yang benar benar di sini? Aku benci perasaan ku.^^^


"Jika suatu saat dia meninggal kan mu?" Chandra tampaknya benar benar penasaran dengan ujian terakhirnya.


"Itu sudah pasti mungkin tak lama lagi," ujar Brayen, kembali terkekeh.


"Baiklah, sebaiknya jangan katakan pada Al, takutnya dia merasa kau mempermainkan sahabatnya," ujar Chandra segera menyelesaikan sesi tanya jawab nya. Chandra merasa tak berhak mengulik lebih dalam lagi hubungan mereka, meski Chandra yakin bahwa Brayen sedikit keliru dengan perasaannya terhadap Juwita.


Juwita menutup mulutnya, menahan tangis di ujung lorong, Juwita segera bergegas ke toilet, dengan selang infus di tangannya sebagai tumpuan, Juwita berjalan dengan sedikit terseok-seok, karena kakinya yang masih sakit.


Entah kenapa, rasanya toilet sangat jauh, padahal hanya berjarak empat ruangan dari lorong tempat dirinya berdiri.


"Mbak tidak apa apa? Mau kemana?" seorang suster yang sejak tadi memperhatikan tingkah Juwita, segera menawarkan bantuan. Tampaknya suster tersebut tahu betul apa yang di rasakan oleh Juwita.


"Tolong bantu saya ke toilet," ujar Juwita sedikit kewalahan berjalan.


"Sebaiknya anda mengenakan kursi roda saja, takutnya luka di lutut anda akan terbuka kembali," ujar suster tersebut menawarkan kursi roda untuk Juwita.


Juwita tampak berfikir sejenak, kemudian mengangguk sebagai jawaban. "Terimakasih banyak sus," ujar Juwita ketika suster tersebut mendudukkan Juwita di kursi lorong.

__ADS_1


Suster tersebut tampak menjauh dan mengambil kursi roda untuk Juwita, Juwita termenung mengingat kembali setiap pembicaraan Chandra dan Brayen. Hati Juwita kembali teriris.


"Maaf ini kursinya," ujar sister tersebut, mendorong kursi roda ke arah Juwita.


"Terimakasih," Juwita segera berdiri, nyeri di lututnya kembali terasa, membuat dirinya harus di bantu oleh suster tersebut.


Suster tersebut mendorong Juwita hingga ke dalam toilet, Juwita tak menolaknya, pasalnya kedua tangannya di perban dan akan sedikit sulit jika menggerakkan kursi rodanya sendiri.


"Sus tidak usah menunggu, mungkin saya akan sedikit lama, silahkan lanjutkan pekerjaan anda, maaf mengganggu waktunya, dan terimakasi banyak," ujar Juwita tersenyum manis, suster tersebut mengangguk mengerti segera meninggalkan Juwita sendirian di dalam toilet. Juwita menumpahkan segala kesedihannya di sana, menangis merasa sangat kecewa.


^^^Ini salah, apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus mengubur semua sekarang? Bahkan belum di mulai. Juwita dia tidak menginginkan mu sadarkah, tetap pada peraturannya. Jangan membawa hati, kau harus membu*nuhnya.^^^


Hatinya telah ia berikan tanpa sengaja kepada Brayen, perlakuan Brayen membuatnya merasa di inginkan. Namun dirinya harus menerima kenyataan kembali, bahwa memang tak ada yang mengharapkan nya.


^^^Juwita ini hanya masalah waktu, kau bisa. Kau bisa melupakannya, kau akan pergi jauh, ingat tujuan awal mu.^^^


Juwita mencoba menyemangati dirinya sendiri. Setelah merasa tantang Juwita segera menghapus air matanya, mencuci wajahnya, dan segera memutar kursi rodanya kembali dengan sedikit susah payah ke ruangan Aliya.


Saat Juwita keluar dari dalam toilet, ternyata suster tadi masih menungguinya. "Mari saya bantu, saya akan mengantarkan anda ke ruangan anda."


"Anda tidak kerepotan?" Juwita merasa tidak enak, pasalnya tadi ia cukup lama berada di dalam toilet.


"Tidak pekerjaan ku hari ini tidak terlalu banyak, dan menolong pasien merupakan salah satu tugas ku," ujar suster tersebut tersenyum.


"Hm, terimakasi banyak," ujar Juwita membalas senyuman suster tersebut. Sepanjang perjalanan Juwita hanya terdiam, ia tadi hanya memberitahu letak ruangan Aliya.


"Anda tahu? Bahwa cinta itu merupakan hal terindah di dunia ini, namun ada sesuatu hal yang lebih indah dari pada cinta, dari pada harus memiliki," ujar suster tersebut tiba tiba.


"Apa itu?" Juwita penasaran memandang ke arah suster yang sedang mendorong kursinya, Juwita harus sedikit mendongak, dan memutar kepala nya sedikit ke belakang.


"Melepaskan, Itu adalah hal yang lebih indah di dalam cinta," ujar suster tersebut tersenyum, segera mendorong pintu ruangan Aliya.


"Wit kamu kenapa nak? Suster cucu saya kenapa?" Kakek Rio tersentak melihat Juwita yang berada di kursi roda, dengan lengan dan kaki yang di perban. Belum habis kelegaannya melihat Aliya telah baik baik saja, meski belum siuman. Kini kakek Rio kembali melihat Juwita yang harus berada di kursi roda untuk sementara.


"Tidak apa apa kek tadi ada kecelakaan sedikit," ujar Juwita menenangkan kakek Rio.


"Baik saya permisi dulu ya pak buk, saya masih ada pekerjaan," ujar sister tadi segera pamit, dari perdebatan keluarga tersebut.


"Iya sus terimakasih loh," ujar Juwita tersenyum, Juwita merasa bersyukur di pertemukan dengan suster tadi, setidaknya dirinya sedikit merasa lega, ketika mendengar nasihat sister tadi.


Juwita tanpa sengaja memandang ke arah Brayen, tatapan mata mereka bertemu, Juwita segera memalingkan wajahnya. Gadis itu sebisa mungkin menghilangkan kontak mata di antara dirinya dan juga Brayen. Juwita tak ingin terlalu banyak kontak mata, hingga membuat luka di hatinya kembali terasa.


^^^Apes nasib, sudah luka fisik, kini luka batin.^^^


Gerutu Juwita di dalam hati. Sungguh Juwita saat ini berharap tidak bertemu dengan Brayen. Dirinya masih belum sepenuhnya bisa melepas rasa cintanya. Meski telah mendengar nasihat dari suster tadi.


"Sedikit bagaimana? Kau tidak apa apa kan? Kenapa tidak menghubungi kami?" kakek Rio segera memeriksa keadaan Juwita.


Brayen berjalan mendekat ke arah Juwita, mencoba untuk bertanya keadaan gadis tersebut, pasalnya ia tak puas dengan jawaban Juwita barusan.


"Hm, ponsel Juwita tertinggal kek di rumah sakit, tadi buru buru ke sini," ujar Juwita sedikit menggerakkan kursi rodanya ke arah bangker Aliya.


Brayen mengerutkan keningnya, bingung dengan tingkah Juwita, yang seolah olah menghindarinya, bahkan sejak tadi, saat tatapan mata mereka bertemu, Juwita membuang wajahnya.


"Kamu tak apa apa kan nak?" kakek Rio kembali mencoba meyakinkan dirinya sendiri, terlebih melihat keadaan Juwita benar benar membuat kakek Rio semakin bersedih.


"Tidak kok kek, ini cuman lecet sedikit. Paling di suruh istirahat," ucap Juwita meyakinkan.

__ADS_1


"Wit," Brayen kembali mendekat ke arah Juwita, namun lagi lagi Juwita mengabaikannya, Juwita lebih memilih menjawab kakek Rio yang menanyai nya terus terusan.


Hati Brayen kembali resah, terlebih melihat perban hampir memenuhi kedua lengan Juwita. Kecelakaan nya tampak sangat serius, Juwita harus di perban, bahkan kakinya tampak terdapat beberapa yang lecet. Lututnya harus di beri perban. Dan terlebih lagi kursi roda yang Juwita kenakan.


"Kakek tenang aja, ini bukan apa apa kok. Oh ya bagaiman Al?" Juwita mengalihkan perhatian kakek Rio agar tak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Dia tidak apa apa, oh ya kau di rawat di sini juga?" kakek Rio memandang setiap perban Juwita dengan seksama.


"Tidak kok, kata dokter boleh pulang, tapi besok pagi. Pasalnya besok pagi masih harus cek lagi, sekalian nunggu mobil," ujar Juwita, tersenyum melihat kekhawatiran kakek Rio.


"Mobil kamu bagaiman?" nyonya Mona lahirnya angkat suara, setelah menganalisis keadaan Brayen yang sejak tadi di abaikan oleh Juwita. Nyonya Mona yakin terjadi sesuatu di antara mereka.


"Tidak apa apa kok Tante, mobil Juwita sudah di bawa ke bengkel kok sama polisinya,"ujar Juwita tersenyum ke arah nyonya Mona.


"Kok bisa tapi, ayo kamu minum dulu," nyonya Mona tampaknya benar benar perhatian, membuat Juwita tersenyum.


Kakek Rio diam diam tersenyum melihat perhatian nyonya Mona. Kakek Rio tahu betul bahwa Juwita kekurangan kasih sayang dari seorang ibu, hal itu membuat Juwita menjadi pribadi yang lebih tertutup.


"Iya Tante makasih loh," Juwita sedikit terhibur dengan perhatian nyonya Mona. "Tadi itu ada buronan yang kabur, melawan arah menggunakan mobil, jadi kami tabrakan, tapi tidak parah kok," ucap Juwita tersenyum.


"Kamu cerita gitu sambil senyum," ujar nyonya Mona mengusap lembut kepala Juwita.


Juwita diam diam menikmati belaian tersebut, Juwita memang sejak dulu menginginkannya, namun entah kemana keinginan itu ia kubur, mungkin dulu saat dirinya di buang oleh ibunya sendiri, nyonya Weni.


"Kamu istirahat di kamar sebelah saja, kakek urus ya Wit," ucap kakek Rio berjalan mendekat ke arah Juwita.


"Eh ngga usah kek, engga parah kok," Juwita ingin menolaknya, Juwita sebenarnya tak ingin Brayen tahu di mana dia dirawat, Juwita tak ingin Brayen merasa kasihan kepadanya.


"Harus pokok nya harus, Brayen tolong urus ya. Dasar keras kepala," ujar kakek Rio tak ingin di bantah.


"Kakek," Juwita melirik sedikit ke arah Brayen, dirinya tidak ingin kakek Rio memerintahkan Brayen yang mengurus perpindahan ruangan untuk Juwita.


"Kenapa? Tidak mau juga? Mau satu ruangan dengan Al?" kakek Rio melotot ke arah Juwita, kakek Rio sangat tidak suka di bantah oleh Juwita.


"Iya kek Juwita pindah ke kamar sebelah, kakek tidak usah khawatir," Juwita akhirnya mengalah, Brayen segera keluar, menuju salah satu meja suster yang tersedia di sekitar lorong tersebut.


Setelah mengurus semua berkas di perlukan, Brayen segera kembali. "Sudah Brayen urus kek, tinggal memindahkan Juwita," ujar Brayen melirik ke arah Juwita.


"Ya sudah kita pindahkan kamu ya Wit, setelah itu kakek harus tidur di kamar Al, pasalnya kakek harus istirahat," ujar kakek Rio, membuat Juwita mengangguk.


Juwita paham betul, kakek tersayang nya ini butuh istirahat yang lebih. Terlebih setelah mendapat dua keadaan yang mengejutkan hari ini, kakek Rio pasti butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.


Brayen segera mendorong kuris roda Juwita, dan memasukkan Juwita tepat berada di sebelah ruangan Aliya.


"Terimakasih," ucap Juwita segera berusaha berdiri, untuk memindahkan dirinya sendiri ke bangker, yang cukup luas.


"Wit biar aku batu," Brayen ingin segera menolong Juwita.


"Tidak... Tidak usah, aku bisa sendiri," ujar Juwita dingin, segera menaikkan dirinya di bangker dengan sedikit sudah payah. Juwita segera berbaring membelakangi Brayen, yang memandangnya dengan nanar.


^^^Juwita, kau harus bisa sendiri, kau tidak boleh merepotkan nya, kau hanya harus bisa terbiasa. Jangan memperdulikan apapun, terkecuali jika itu mengenai penyakitnya. Ingat kau dan dia hanya sebatas dokter dan pasien. Simbiosis mutualisme, ingat yang dia kata kan tadi kan? Ingat kita hanya simbiosis mutualisme. ^^^



Terimakasih Octinurh nasar untuk vote dan dukungannya. Ini membuat othor menjadi lebih semangat


Nah ini sudah double up, tolong dong sumbangan kembang tujuh rupa nya, jangan lupa vote.

__ADS_1


Oh ya guys othor mau buat give away, tapi bukan berupa barang, tapi berupa seni. Mumpung othor hobi lukis, jadi kalau yang menang give away, akan othor lukis, gimana menurut kalian? Kalau mau komentar di bawah.


__ADS_2