CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Kedatangan Karin


__ADS_3

Tuan Damar kembali ke rumahnya, ia tampak sangat marah besar, tuan Damar segera mencari nyonya Weni.


"Kemana anak tak tahu apa apa itu?" Suara taun Damar menggelegar memenuhi seisi ruangan hingga ke lantai dua, kamar Karin.


Karin semakin ketakutan, sejak tadi ia sengaja tidak keluar kamar. Karin tahu papanya akan pulang dan pasti akan sangat marah besar kepadanya.


"Kenapa? Kenapa? Kenapa Brayen lebih memilih Juwita anak buangan itu? Padahal aku lebih baik dari pada dia," Karin menangis menutupi wajahnya dengan bantal. "Ini semua karena Juwita, dasar anak pungut. Kalau saja bukan karena dia aku pasti akan bisa mendapatkan Brayen, bahkan kontrak nya akan berjalan dengan baik.


Sementara di bawah tuan Damar terus saja manggil nama Karin, seperti orang kesetana.


"Karin keluar kau, kau di mana ha?" Tuan Damar tampaknya benar benar marah besar. Hingga akhirnya nyonya Weni kembali dengan tentengan belanja, dan mendapati suaminya tengah berteriak marah, memanggil nama Karin.


"Ada apa? Kenapa kau marah marah sayang?" Nyonya Weni mencoba menahan amarah suaminya.


"Dari mana kau? Apa kau tidak melihat anak tak berguna itu?" Tuan Damar tampaknya benar-benar emosi. Nyonya Weni sangat mengenal watak suaminya itu.


"Aku dari berbelanja bulanan, siapa yang kau cari? Siapa anak yang tak berguna?" Nyonya Weni bertanya dengan hati hati.


"Karin, di mana anak itu? Karena dia kontrak ku dengan Brayen di batalkan," ujar tuan Damar.


Nyonya Weni tentu saja sangat terkejut, nyonya Weni menutup matanya dalam dalam, ia tak menyangka kontrak yang mereka susah payah mendapatkannya, kini harus di batalkan, terlebih itu karena anak kesayangannya, Karin.


"Di... di kamar mungkin mas, tadi siang dia langsung masuk ke dalam," nyonya Weni sedikit gugup melihat wajah kesal suaminya, ini adalah yang kedua kalinya ia melihat wajah kesal sang suami.


Tuan Damar segera naik ke lantai dua, tuan Damar menggedor pintu kamar Karin dengan kasar. Karin semakin ketakutan mendengar suara ketukan dari papanya.


"Karin buka pintu!" Tuan Damar berteriak memanggil Karin. "Karin cepat buka atau papa dobrak pintu mu!"


Karin segera beranjak membuka pintu kamarnya. "Papa," lirih Karin ketika pintu terbuka.


"Berani sekali kamu berbuat lancang kepada Brayen. Brayen sudah mengatakan semua kelakuan kamu," suara tuan Damar menggelegar di dalam kamar Karni.


"Maaf pa, ini semua karena Juwita," ujar Karin dengan suara kecil.


"Jangan menyalahkan orang lain, ini salah kamu. Sudah papa peringatkan untuk tidak sembarangan bertindak, perusahaan kita akan dalam masalah besar, kamu harus sadar itu!" Tuan Damar geram mendengar pembelaan Karin. "Kamu mau hidup dalam keadaan susah? Tidak mau kan?"

__ADS_1


"Maaf pa," ucap Karin menitikan air matanya.


Nyonya Weni takut suaminya berbuat nekad memukuli Karin, akhirnya mulai angkat bicara. "Ya sudah begini saja, kita ke tempat Juwita, meminta Juwita agar membujuk Brayen."


Tuan Damar memejamkan matanya mempertimbangkan perkataan nyonya Weni. "Ya sudah kita ke sana, tidak ada jalan lain," ujar tuan Damar menghela nafas kasar. Tuan Damar kemudian memandang ke arah Karin, "Awas saja jika Juwita tidak mau, atau Brayen menolaknya, habis kau."


...----------------...


Suara bel menyadarkan Gilang dari persembunyiannya, Gilang segera berlari menuju kamarnya. Menunggu agar Brayen dan Juwita yang membukanya. Namun sudah tiga kali tak ada juga jawaban, Gilang kembali keluar, dan pergi ke arah ruang keluarga yang langsung dapat melihat ruang makan dan dapur. Gilang menggeleng melihat aksi keduanya yang sepertinya tak menyadari suara bel.


Gilang segera keluar dan berjalan menuju pintu utama. Saat Gilang membuka pintu, wajah pertama yang mereka lihat adalah nyonya Weni. Gilang mendesah kesal, malas melihat tantenya itu.


"Kenapa tant?" Gilang membuka pintu lebar lebar, mempersilahkan ketiga tamu tak di undang itu masuk.


"Juwita di mana?" Nyonya Weni segera bertanya kepada Gilang.


"Di dapur," ujar Gilang bersidekap.


"Kakak tidur di sini?" Karin tampaknya penasaran dengan Gilang.


"Kan cuman bertanya kak, Kakak cuman berdua dengan kak Juwita?" Karin kembali bertanya.


^^^Kalau Brayen tahu, pasti mereka akan bertengkar hebat ini.^^^


"Sudah, ayo kita ke ruang keluarga saja," ucap nyonya Weni, segera mengajak ketiga orang tersebut pergi ke dapur.


Namun alangkah terkejutnya nyonya Weni, tuan Damar, dan terutama Karin, ketika melihat posisi Juwita, dan Brayen. Yang saat ini masih terlihat saling me*lu*mat, dan mem*belit satu sama lain.


"Ehem," Gilang berdehem, menghentikan aktifitasnya.


Sementara Karin tanpa sengaja menjatuhkan tasnya, hingga mengenai pot yang berada di atas meja.


Kedua insan yang tengah asyik ber*ci*uman kini terkejut, segera melepaskan pa*ngu*tan mereka. Juwita dan Brayen segera memandang ke arah sumber suara. Juwita dengan refleks mendorong tubuh Brayen. Juwita mencoba untuk menjauh, namun tangannya mengenai air, yang mengalir dari kran wastafel yang tak tertutup.


Juwita segera memutar keran tersebut dengan gugup, wajahnya memerah malu karena kehadiran orang orang, dan Juwita sungguh tak sanggup menghadapi wajah orang orang tersebut.

__ADS_1


Brayen segera membatu Juwita untuk turun, dengan memeluk pinggang Juwita. Wajahnya jangan di tanya lagi, kini ikut memerah hingga ke cuping. Namun pria itu mencoba untuk terlihat tenang.


Brayen menggandeng tangan Juwita, dan berjalan mendekat ke tempat yang lain. "Ada apa?" Brayen tampak sangat dingin menanggapi kehadiran tuan Damar, nyonya Weni, dan Karin.


Brayen masih kesal pasal siang tadi, dirinya masih tak terima gadis yang tengah ia genggam tangannya ini, di hina, dengan sebutan 'anak buangan' entah kenapa darah Brayen mendidih seketika.


"Ka, kami ingin... ingin meminta maaf," tuan Damar terlihat sangat gugup.


"Memangnya apa yang kalian lakukan?" Brayen memicingkan matanya.


"Ini tentang Karin yang tadi siang," ujar nyonya Weni, mencoba menarik simpati Brayen.


"Lalu kenapa kalian yang meminta maaf? Bukan kah dia pelakunya?" Brayen menunjuk ke arah Karin, Brayen tak suka kepada wanita itu.


"Brayen aku minta maaf, tadi... tadi... tadi itu, aku... aku benar benar salah," Karin sedikit tergugup, terlebih jika mengingat sikap Brayen yang melempar dirinya dengan vas, hampir saja mengenai wajahnya, jika saja Karin tak menghindar.


"Kau minta maaf pada siapa, tapi berbuat salahnya kepada siapa," Brayen menghela nafas kasar.


"Aku... aku mau minta maaf sama kak Juwita, aku... aku tadi, kakak tadi cuman salah faham," ujar Karin menunduk.


"Kau terlihat tidak bersungguh-sungguh," ujar Brayen berdecak kesal.


"Kalau minta maaf bersungguh sungguh, jelaskan di mana letak kesalahan mu," ujar Gilang segera menendang lutut bagian belakang Karin, sehingga kaki Karin segera menekuk, dan berlutut di hadapan Juwita. Juwita hanya memandang bingung ke arah Gilang.


"Kau..." tuan Damar tentu saja sangat kesal, anaknya di permalukan, dan rendahkan di hadapan Juwita, anak tiri yang terbuang.


"Apa? Mau protes? Coba saja, aku pastikan calon adik ipar ku ada di pihak ku," ujar Gilang santai.


Mendengar kata 'calon adik ipar ku' seketika wajah Juwita dan Brayen memerah, Brayen melirik ke arah Juwita, dan mata mereka kembali bertemu. Juwita membuang wajahnya ke lain arah.


"Ehem," Brayen berdehem mencoba menghilangkan semua kegugupannya, yang tiba tiba menyerang Hanya karena kata 'calon adik ipar ku' sungguh membuat jantungnya hampir lompat ke luar. "Aku rasa kau tak menyesal, bagaimana mungkin kamu mengatakan hal yang paling menyebalkan itu."


Karin semakin gugup, kedua pemuda tampan yang berkuasa itu tidak mendukung nya sama sekali, terlebih Gilang yang memang selalu sinis padanya.


"Kak... aku, aku ingin meminta maaf kak," Karin mulai mencurahkan air matanya, mengingat dirinya tak bisa berbuat apa apa, di tambah kedua orang tuanya juga tak bisa membelanya.

__ADS_1


Nah ini sudah double up, tolong dong sumbangan kembang tujuh rupa nya, jangan lupa vote.


__ADS_2