CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Gilang


__ADS_3

Juwita segera turun dengan tergesa gesa, beberapa orang yang sudah mengenal Juwita terkejut. Namun tetap menunduk hormat. Status Juwita sebagai pacar Brayen, menjadikan Juwita disegani di kantor Brayen.


Juwita segera menuju ke arah parkiran, menaiki mobilnya dan melakukannya ke arah bandara. Sepanjang perjalanan Juwita terus mengoceh tak karuan. Perasaan kesal menyelimutinya.


^^^Memang cocok mereka, sungguh cocok sekali, agh... Kenapa aku jadi kesal sendiri.^^^


Juwita memukul beberapakali setir mobilnya, hingga di perempatan jalan, lampu perempatan memaksa menghentikan laju mobilnya.


"Juwita ini bukan salah nya, ini salah mu, karena memberikan sedikit hati dalam sandiwara ini. Sadar tak hanya dia, kau cantik dan banyak yang mau, tinggal buka penangkaran beres deh," Juwita menghela nafas panjang, kemudian mengenakan kacamata hitamnya, dan menurunkan kaca mobil miliknya.


Juwita tersenyum ke arah spion membuat pengemudi di belakang membunyikan klaksonnya, tanda lelaki hidung belang menggoda wanita yang ada di hadapannya.


^^^Tu kan aku ini cantik, dunia tak sekecil daun kelor.^^^


Juwita mengibaskan rambutnya, entah kenapa rasa sombongnya menutupi kesedihannya. Sepertinya Juwita kembali berhasil memberikan dirinya energi positif. Ya memang itulah kelebihan Juwita, masalahnya membuatnya mampu merubah kesedihan menjadi bahagia untuk dirinya sendiri, dengan selalu berfikir positif.


Juwita kembali melajukan mobilnya, setelah memperbaiki mood nya yang tadi rusak. Juwita bukan tipe orang yang sedih berlarut, biasanya dirinya akan memikirkan sesuatu hal yang menyenangkan kedepannya, agar kesedihannya kini menghilang.


Juwita segera segera mengemudikan mobilnya menuju bandara menjemput seseorang, setelah sampai. Juwita segera berlari masuk ke dalam bandar, Juwita mencari seseorang yang tadi menelfon nya. Saat mata Juwita tengah mencari, tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Hayo cari siapa?"


Juwita terkejut sontak menghadap ke arah laki laki laki tersebut. "Kakak ngejutin aja," Juwita membalas pelukan laki laki tersebut.


"Kangen tau, udah tiga tahun ga ketemu," ujar laki laki tersebut mengurai pelukan mereka.


"Iya sih, tapi kakak sih lama banget di sana, mommy sama daddy ga ikut?" Juwita tampak celingak celinguk.


"Ga, mereka sibuk kerja, cuman nitip salam sama oleh oleh buat kamu."


"Hm," Juwita mengangguk mengerti, memang orang tua laki laki yang di hadapan nya ini memang selalu sibuk bekerja. "Kakak lapar ga?"


"Iya sih, kangen masakan adek sayang," ucap laki laki itu, segera menggandeng tangan Juwita, dan keluar dari bandara.


Sesampainya mereka di bandara, Juwita segera masuk ke dalam mobil, di belakang kemudi, sementara laki laki itu sibuk memasukkan koper di bagasi mobil Juwita.


Laki laki itu tersenyum sembari mengetuk kaca mobil Juwita, Juwita dengan segera menurunkan kaca mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa kak? Ga masuk?" Juwita mengerutkan keningnya.


"Kamu pikir kakak ga bisa nyetir?"


"Lah kakak kan masih capek," ujar Juwita.


Laki laki itu terkekeh. "Kamu ngeremehin kakak banget sih? Kakak itu masih kuat tau," ujarnya.


"Ah iya iya, Juwita minggir dulu," ujar Juwita segera menyingkir ke mobil penumpang, tanpa keluar dari mobil.


"Kita langsung ke rumah ya," ujar laki laki tersebut, segera menancapkan gas menuju rumah Juwita.


Karena terlalu senang, Juwita segera membuka ponselnya, dan membuat video bersama laki laki tersebut. "Kak ayo pandnagan sini," Juwita mengarahkan kamera ke arah laki laki itu.


"Kakak lagi nyetir adek sayang," ujar laki laki itu membuat tawa Juwita pecah. Juwita kemudian mengunggah video mereka dengan caption 'kapten tim sudah pulang' kemudian menandai laki laki itu, Aliya dan Angel.


Hanya berselang beberapa menit, komentar membanjiri postingan Juwita, salah duanya adalah Angel dan Aliya.


"Cie adek sayang, mau juga dong di sayang," jawab Angel, membuat Aliya ikut terpancing.


"Yang satu mau di kemanain?" Aliya ikut mengomentari Juwita.


"Ah, kak siapa lagi itu, kau membuat hatiku semakin nelangsa Nurlela," Aska ikut berkomentar.


"Tolong @Angel_lalika_p kendalikan kakak mu, sebelum aku sembuhkan," balas Juwita.


Dan banyak lagi komentar yang bertebaran, hingga Angel dengan sengaja nya menyebut menyebut Brayen di dalam salah satu komentar nya, tanpa Juwita sadari.


Setelah mereka sampai, Juwita segera menyimpan ponselnya ke dalam tas, sementara laki laki itu segera turun dan mengeluarkan kopernya.


"Kak, kakak, kak Gilang..."


"Ya kenapa dek?" Laki laki yang bernama Gilang itu segera mendekat dengan membawa koper miliknya.


"Mau makan apa?" ujar Juwita.


"Hm Opor ayam deh, udah lama ga makan itu," ujar Gilang mengusap lembut kepala Juwita.

__ADS_1


"Ok kakak bersih bersih dulu dalam waktu tiga puluh menit semua siap," ujar Juwita, segera berlari dengan semangat ke arah dapur. Gilang hanya tersenyum sembari terkekeh melihat tingkah Juwita.


Tepat setelah tiga puluh menit, masakan Juwita telah matang, Juwita juga sudah keroncongan, karena belum makan sejak tadi.


"Kak ayo makan," teriak Juwita membuat Gilang segera keluar, dengan menenteng satu set pakaian, lengkap dengan jasnya.


"Ini baju siapa? Kamu tinggal dengan pria?"Gilang memandang Juwita dengan pandangan curiga.


"Engga kak, aku ga tinggal dengan cowok kok. Itu baju pasien aku, nah Wita sama dia ada kerja sama gitu, jadi terpaksa deh dia sering di sini, kadang nginap malah," ujar Juwita dengan polos.


"Juwitaaaa itu sama saja, aduh jadi orang kok polos amat sih," geram Gilang kesal melihat tingkah sok polos Juwita.


"Lagian kak dia belok kok, dia yang bantuin Wita biar ga di jodohin," ujar Juwita santai.


"Apa?! Itu mama ga tau diri kamu itu masih mau jodohin kamu?" Gilang tampak syok mendengarkannya.


"Iya kak, aneh banget kan? Kan Wita dari kecil di asuh sama papa, sama kakek Rio," ujar Juwita cemberut. "Terpaksa deh pakai pacar bayaran, dengan beberapa syarat sih."


"Oh, ya sudah, kakak udah lapar, kakak makan dulu deh," ujar Gilang.


Setelah selesai makan mereka segera duduk, bercanda, dan bercerita tentang kehidupan mereka, hingga mereka tak merasakan waktu telah menjelang sore hari, mereka masih asyik tertawa bersama, hingga tak menyadari kehadiran seseorang, yang baru saja masuk.


"Ehem," kedua orang yang tengah tertawa segera menghentikan tawa mereka, mereka segera memandang ke arah asal suara, tampak Brayen baru saja masuk dengan wajah lelahnya.


Juwita segera menyambar tas Brayen, dan meminta Brayen untuk masuk. "Ayo biar aku kenalin sama kak Gilang."


Gilang mengernyit melihat Juwita seolah seperti mommy nya yang menyambut daddy pulang dari kantor, Gilang mulai curiga dengan tingkah Juwita.


^^^Ini bagian dari perjanjian, atau ada rasa di dalam perjanjian.^^^


Batin Gilang mulai menerka nerka, entah apa yang di pikirkan nya. Mungkin saja ia benar, atau sebaliknya.


"Gilang," Gilang segera menghampiri Brayen yang berjalan ke arah nya.


"Brayen," ucap Brayen dengan dingin.


Gilang tersenyum tampaknya ia mendapatkan jackpot di sini.

__ADS_1


^^^Bagus tampaknya akan ada yang menarik di sini.^^^


Guys jangan lupa tinggalkan jejak ya, volt dan kembang setaman kalau ikhlas wkwk sip.


__ADS_2