CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Menjaga perasaan


__ADS_3

"Wit," Brayen berjalan menuju bangker Juwita, di mana Juwita telah berbaring memunggunginya. "Wit sudah tidur ya?" Brayen segera mendudukkan pantatnya di samping Juwita.


^^^Ada apa ini? Apa yang ku perbuat? Apa aku telah salah berbicara? Bagaimana ini? Mengapa dia menghindar ku?^^^


"Kau sedang apa!?" Juwita tersentak ketika tempat tidurnya sedikit bereaksi, saat Brayen duduk di pinggir bangker.


"Aku ingin berbaring, aku akan menjagamu," ujar Brayen segera membaringkan tubuhnya di samping Juwita. Brayen memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Juwita, yang masih menunggunginya. "Kau tahu aku juga lelah, butuh berbaring."


^^^Apa yang dia ingin kan? Kalau begini bagaima aku bisa bersikap biasa, dan melupakan mu Brayen? Kau sendiri yang menganggap hubungan kita simbiosis mutualisme, bagaimana mungkin aku bisa menahannya?^^^


"Kalau begitu pulang lah, aku tidak perlu di temani," ujar Juwita dingin, sembari mencoba menutup matanya dengan erat.


^^^Wit ada apa ini? Kenapa kau begitu dingin kepada ku? Kalau kau marah maka katakan saja, aku tidak suka Wit, tidak suka dengan sikap mu.^^^


"Kau lapar?" Brayen segera mengalihkan pertanyaan tersebut, biasanya Juwita akan bersemangat jika mengenai tentang makanan.


"Tidak, aku hanya ingin istirahat," Juwita kembali berujar dengan dingin.


^^^Brayen aku mohon, aku tak bisa marah pada mu. Aku mohon jangan begini, aku bisa gila, karena hal ini. Aku gtak ingin menjadi pasien di tempatku bekerja.^^^


"Hm..." Brayen mendekat ke arah Juwita, Brayen sedikit mencium rambut Juwita, yang entah kenapa wangi rambut Juwita membuatnya merasa tenang. "Bisa aku bertanya sesuatu?"


"Hm," Juwita hanya membalasnya dengan deheman.


"Apa kau marah padaku?" Brayen sedikit menggulung rambut Juwita kemudian melepaskan nya, hingga menimbulkan sedikit gelombang di sana.


"Untuk apa?" Juwita justru kembali bertanya. seolah dirinya memang tidak marah kepada Brayen.


"Entah lah, hanya saja aku merasa kau sedikit berbeda, apa kepala mu tadi terbentur?" Brayen sedikit menyentuh kepala Juwita, dan mengusap nya di sana.


"Tidak, aku melindungi kepalaku," ujar Juwita sedikit menghindari usapan lembut Brayen.


Brayen kembali mengernyit namun tetap mencoba untuk tenang, yang ia hadapi saat ini orang sakit.


"Hm, ada yang sakit sakit atau bagaiman?" Brayen kembali bertanya.


"Tidak, sudah lebih baik," ujar Juwita sekenanya. Bukan tak ingin menjawab lebih, namun lebih kepada menjaga hati agar tidak terluka.


"Wit, apa aku melakukan kesalahan?" Brayen mulai kembali memeluk Juwita.


"Tidak ini hanya tentang diri ku sendiri," Juwita sedikit mencoba menolak Brayen dengan halus. "Kau belum makan kan? Makan lah."


"Aku... Brayen menghela nafas beratnya... Wit baiklah aku ke bawah dulu, nanti aku bawakan makanan untuk mu," Brayen segera bangkit dari tidurnya.


"Tadi aku sudah makan," ujar Juwita sekenanya.


^^^Brayen aku mohon jangan terlalu baik pada ku, aku takut jatuh cinta lebih dalam padamu.^^^


"Ya sudah aku pergi dulu," ujar Brayen memajukan wajahnya hendak mengecup pelipis Juwita, namun saat akan sampai Juwita menghindar nya. "Ya sudah tidur lah."


"Hm..."


Brayen melangkah menjauhi Juwita, meraih gagang pintu dan menutupnya. Juwita yang mendengar pintu tertutup rapat, segera membalikkan tubuhnya, menatap nanar ke arah pintu. Air mata Juwita tumpah seketika.


"Maaf, aku hanya tak ingin terluka lebih dalam lagi," gumam Juwita menutup matanya dengan lengan yang berbalut perban, agar tak terlihat menangis.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Brayen terus berfikir tentang perubahan Juwita kepadanya. Brayen bahkan tak menyadari bahwa dirinya telah berada di kantin yang buka dua puluh empat jam.


"Ada apa sebenarnya? Apa aku berbuat salah? Kenapa hatiku sesakit ini? Apa karena biasanya kami baik baik saja?" Brayen terus memikirkan perubahan sikap Juwita.


"Maaf permisi mau memesan apa?" seorang laki laki paruh baya mendatangi meja Brayen, dan memberikan buku menu.


"Ah baik terimakasih," ujar Brayen segera membuka buku menunya.


"Capuccino satu, air mineral satu, sama nasi goreng seafood," ucap Brayen memandang ke arah lelaki paruh baya tersebut.


Laki laki itu pergi mengambil pesanan Brayen, kantin memang cukup sepi jika di malam hari, namun tidak terlalu sepi, saat ini di kantin terdapat sekitar belasan pengunjung, mereka semua seperti Brayen, tengah menunggui seseorang.


Tak lama kemudian makanan yang Brayen pesan datang, laki laki paruh baya tersebut menyusunnya di atas meja Brayen.


"Mau menjenguk siapanya mas misteri?" Brayen hampir terkekeh ketika mendengar nama panggilannya menjadi aneh dan lucu.


"Nungguin teman saya," ujar Brayen tersenyum.


"Oalah kirain pacarnya, cewek ya mas?" tebak laki laki paruh baya tersebut. Brayen hanya tersenyum dan mengangguk. "Oalah masih gebetan to, buruan di tembak mas, nanti jadiannya sama yang lain," kembali lagi pria paruh baya tersebut berkicau, membuat Brayen kembali tersenyum. "Ya sudah saya masuk dulu ya."


Brayen mengangguk, sejujurnya pikirannya terus terpati pada Juwita, di tambah dengan penuturan pria paruh baya tersebut.


^^^Ada apa dengan ku, kenapa aku terus memikirkan sikapnya kepada ku? Apa aku melakukan sebuah ke salah an? Atau dia yang sudah mulai bosan...^^^


Pikiran Brayen menjadi kacau sendiri, hatinya bimbang, antara rasa nyaman dan cinta. Brayen belum menyadari hatinya.


Setelah menghabiskan makanan di piring, meskipun dengan sedikit rasa enggan. Akhirnya Brayen kembali ke kamar Juwita. Namun Brayen terlebih dahulu menuju parkiran, Brayen mengambil baju cadangan di mobilnya, beserta kaus oblong, yang kebetulan hanya berada di dalam mobil tersebut.


Brayen berjalan meninggalkan parkiran, dan menuju kamar VIP milik Juwita. Saat tengah berada di lorong, Brayen melihat seorang dokter dan suster berlari ke arah kamar Aliya, mereka tampak begitu terburu buru.


Brayen tak segera masuk, Brayen memilih mengintip Chandra yang mengecup puncak kepala Aliya, dari kaca jendela. Brayen tersenyum melihat pemandangan itu. Kini tak ada rasa sakit, hanya ada rasa bahagia saat melihat mereka bersama.


Entah sejak kapan rasa itu menghilang, awalnya Brayen sedikit khawatir saat akan bertemu Chandra kembali, namun saat bertemu dengan Chandra perasaan Brayen tak lagi seperti dulu, bahkan terkesan bisa. Tiba tiba Brayen teringat akan Juwita, Brayen segera mengintip ke dalam kamar Juwita.


"Apa Juwita sudah tidur ya? Aku lupa membelikannya makanan," Brayen mendesah, melihat ke arah Juwita yang berbaring, terlihat memejamkan matanya.


Brayen segera kembali ke kantin, takut Juwita terbangun dan kelaparan, membeli beberapa bungkus roti, dan minuman kemasan untuk Juwita. Brayen ingat Juwita sangat suka makanan manis, jadi Brayen membeli beberapa makan yang manis, dan beberapa buah buahan.


Brayen Kemabli ke kamar Juwita, Brayen sedikit menekankan langkahnya, dan gerakannya ketika membuka pintu. Brayen tak ingin mengganggu tidur Juwita. Brayen tersenyum ketika melihat Juwita tengah tertidur pulas, dengan posisi terlentang. Brayen meletakkan makanan dan pakaiannya di atas meja, kemudian mengambil kaus oblongnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Brayen membersihkan tubuhnya sejenak, dan mengganti pakaiannya. Brayen kemudian duduk di samping Juwita. Lama berayun memandang wajah polos Juwita, tangan Brayen terulur menyentuh wajah Juwita. Brayen mengusap wajah Juwita, tanpa sengaja bibirnya membentuk lengkungan senyum.


Brayen tiba tiba teringat sesuatu, Brayen segera mengecup puncak kepala Juwita, kemudian melangkah menuju jasnya yang tergeletak di atas sofa. Brayen meraih ponselnya dan menelfon seseorang.


Saat sambungan telfon terhubung, Brayen segera keluar dari kamar Juwita. "Halo Indri, besok tolong ke RSJ untuk mengambil ponsel Juwita yang tertinggal, sekalian mintai izin untuk Juwita, dia sedang mengalami kecelakaan... Iya besok pagi, sekalian bawa ke sini bubur ayam... Di rumah sakit umum."


Setelah sambungan telepon terputus, Brayen kembali ke dalam kamar rawat Juwita, Brayen memandang nanar ke arah Juwita, sembari tersenyum manis.


"Kenapa berubah Wit? Aku ga suka mau yang sekarang, cuek dengan ku, dingin dengan ku. Aku mau Juwita ku kembali seperti dulu," gumam Brayen menyentuh wajah Juwita.


Brayen mengecup puncak kepala Juwita, kemudian beralih ke mata, kedua pipi dan bibir. Juwita hanya sedikit melenguh, merasa tidurnya terganggu. Brayen terkekeh melihat tingkah Juwita, yang kini sangat menggemaskan di matanya. Bryan kembali membungkukkan badannya yang menjulang, Brayen menggigit hidung Juwita pelan. Brayen segera berbaring di samping Juwita, dengan mengusap lengan Juwita, yang tertempel perban.


"Dasar nakal, maaf ya kalau aku memiliki salah terhadap mu," sekali lagi Brayen mengecup puncak kepala Juwita, sembari menghirup dalam aroma shampo Juwita. Kemudian menutup matanya.


Dari arah luar tanpa Brayen sadari Chandra melihat apa yang di lakukan oleh Brayen. Chandra menggeleng. Chandra dapat melihat ada rasa cinta Brayen untuk dokter cantik itu, namun belum menyadarinya. Memang butuh waktu untuk menyadari perasaan seperti itu, bagi manusia yang baru keluar dari kegelapan seperti mereka. Ibarat anak yang baru mengenal cinta, mereka awalnya tidak akan menyadari perasaan mereka itu.

__ADS_1


Chandra kembali ke ruangan di mana Aliya di rawat, ia tadi baru saja pergi ke kantin, setelah Aliya tertidur. Kakek Rio tampaknya sedikit kelaparan, karena itu Chandra berinisiatif untuk membeli sesuatu di kantin, tak sengaja melihat pemandangan tersebut.


"Chandra, Brayen masih di sebelah?" kakek Rio membuka bungkusan roti yang di bawa oleh Chandra.


"Iya kek, lagi nemenin Juwita," ujar Chandra membuka sebotol air mineral untuk kakek Rio, dan sebotol lagi minuman dengan slogan jeruk segar untuk nya.


"Mereka lagi ada masalah ya? Kok kakek lihat Juwita tampaknya menghindari Brayen," kakek Rio sangat mengetahui watak Juwita. Gadis itu tak suka marah marah, dan menghardik orang yang membuatnya kesal, namun memilih untuk menghindarinya. Ya, itulah sikap dewasa Juwita, tak ingin pusing untuk marah marah kepada orang lain, Juwita lebih memilih untuk diam saja.


"Tidak tahu juga kek, Brayen sudah lama tidak cerita, mungkin mereka bisa menyelesaikan nya sendiri," ujar Chandra teringat perkataan dari Brayen tadi sore, tanpa sengaja Chandra melihat ke arah ujung lorong, dan melihat seorang wanita yang memakai perban di beberapa mirip seperti Juwita, namun Chandra tak ingin memutuskannya lebih cepat, takutnya ia salah melihat seseorang.


Terlebih pasien itu tidak memakai kursi roda, namun Juwita memakai kursi roda, itu yang membuat Chandra meragukan apa yang di lihat nya.


"Mudahan, tapi Brayen terlihat begitu menyayangi Juwita, tadi kakek mengintip sedikit di ruangan Juwita," ujar kakek Rio mengingat bagaiman Brayen memperlakukan Juwita dengan lembut, saat gadis itu tertidur, dan Brayen juga meminta asisten nya untuk datang ke RSJ tempat di mana Juwita bekerja.


"Hm, mereka cuman butuh waktu kek, mungkin seperti Chandra dan Al," ujar Chandra tersenyum, Chandra Kemabli teringat bagaiman perjalanan cintanya dan juga Aliya.


......................


Keesokan paginya, Juwita terbangun, ia terkejut ketika merasakan tangan Brayen memeluk dirinya, Brayen telah menggenti kemejanya dengan kaus oblong.


Laki laki itu memeluknya seolah memberi kehangatan di balik selimut tipis rumah sakit. Brayen memperlakukannya seolah seperti mereka adalah sepasang kekasih.


Juwita memejamkan matanya, bagaiman mungkin diri nya bisa melupakan laki laki ini jika Brayen terus memperlakukan dirinya semanis ini. Yang ada dirinya yang akan terjebak di dalam sandiwara yang ia buat sendiri.


Juwita menarik nafasnya dalam dalam, mencoba melepaskan diri dari pelukan hangat Brayen, jika saja mereka sepasang kekasih, dengan perasaan yang sama, mungkin Juwita akan betah berlama lama di dalam pelukan hangat laki laki bule ini.


Juwita tak menampik bahwa pelukan Brayen mengingatkan nya pada pelukan hangat sang ayah, namun ia harus sadar diri dengan posisinya, yang hanya berbasis simbiosis mutualisme, saling menguntungkan.


"Brayen bangun, sudah pagi. Kau tak ke kantor?" Juwita menggoyang tangan Brayen.


"Hm, jam berapa sekarang?" Brayen segera membuka matanya secara perlahan. membuat Juwita terpana memandangnya.


^^^Aduh kenapa laki laki ini semakin tampan sih? Bagaiman ini? Dia semakin seksi.^^^


"Wit jam berapa sekarang?" Brayen kembali membuyarkan lamunan Juwita.


"Ha? Hm... Jam tujuh pagi," ucap Juwita sedikit gelagapan, seketika wajahnya memerah.


"Ya sudah aku siap siap dulu ok? Nanti asisten aku ke sini bawa makanan," Brayen segera bangkit, dan mengusap lembut kepala Juwita dengan wajah yang masih memerah.


Tak lama kemudian Brayen kembali dengan dengan pakaian lengkap, Brayen sudah terlihat sangat tampan dengan kemeja, dan jas di tubuhnya. Di saat yang bersamaan Indri asisten Brayen datang dengan membawa pesanan Brayen.


"Bubur ayam?" Juwita mengerutkan keningnya, entah dari mana Brayen tahu apa yang ia sukai.


"Iya kata Gilang kau menyukai bubur ayam, apalagi yang di depan kompleks, jadi aku meminta nya untuk membelikan mu,"ujar Brayen segera duduk di bangker Juwita membantu Juwita makan, pasalnya Juwita terlihat sedikit kesulitan memakan buburnya. l


"Wah kalau kata anak muda sangat so sweet," ujar kakek Rio yang baru masuk ke dalam kamar rawat inap Juwita.


...Aku tidak tahu apa itu cinta, sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Tapi, saat itu juga aku tahu rasanya patah hati....


...Kamu benar-benar mencintai seseorang ketika kamu tidak bisa membencinya meskipun ia telah menyakitimu....


Jangan lupa bunga sekebon gaes, plus kopi kalau bisa. wkwkwk


Oh ya mau give away ga? Hadiahnya lukisan wajah pemenangnya, kalau mau skuy komentar dan beri dukungan yang banyak, pengumumannya tanggal 6 November untuk dua orang ya...

__ADS_1


__ADS_2