CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Rencana


__ADS_3

"Jadi bagaimana selanjutnya pa?" Arham memandang papanya, sebagai anak laki laki satu satunya Arham harus andil banyak, dan laki laki itu juga yakin bahwa apapun yang di ambil oleh papanya itu adalah yang terbaik. Meski bagaimanapun jejak tuan Damar di dunia bisnis, bagaimanapun kejam dan liciknya tuan Damar di dunia bisnis. Arham tetap percaya bahwa tuan Damar tetap mendahulukan keluarga di atas segalanya. Memikirkan semua dengan matang, demi agar anak anaknya dapat hidup dengan baik.


Tuan Damar memejamkan matanya, menghela nafas panjang, sungguh sangat berat baginya untuk mengambil keputusan. Apapun keputusannya maka ia akan tetap menyakiti banyak pihak, namun beginilah yang harus tuan Damar hadapi. Mencari penyelesaian agar lebih sedikit yang tersakiti, mencari penyelesaian agar lebih mudah untuk melangkah kedepannya. Meski yang mudah menurut tuan Damar, namun sudah pasti akan tetap menyakiti hatinya, menyakiti rasanya. Wanita yang menemaninya bertahun tahun, ternyata selama ini telah mengkhianati cinta nya, tak tanggung tanggung wanita itu mengkhianati dirinya dengan sahabat baiknya sendiri.


"Kita harus memberitahu anaknya Reymond, meski bagaimanapun papa sayang dengan Andi, dia sudah seperti anak papa sendiri," putus tuan Damar menghela nafas kasar nya.


"Kita harus menelfon nya sekarang," ujar Juwita memberi usul. Semua orang mengangguk setuju, Brayen mengusap pundak Juwita dengan lembut.


"Iya semakin cepat semakin baik," ujar Vania mengeluarkan suaranya.


Tuan Damar segera mengeluarkan ponselnya dari area saku, kemudian menelfon Andi anak dari tuan Reymond. "Halo assalamualaikum Andi," tuan Damar menyapa Andi dengan nada se_datar mungkin, agar Andi tidak panik.


"Walaikumsalam om, kenapa? Ada yang bisa Andi bantu?" suara laki laki terdengar lembut dari ujung sana.


"Andi di mana sekarang?" tuan Damar masih mencoba menekan emosinya, Brayen mendekat mencoba memberi semangat kepada calon papa mertua nya. Bukan hal seperti ini yang Brayen harapkan ketika mendamaikan mereka, namun bagaimana pun kedekatan mereka membuat kebohongan dari calon mama mertuanya terbongkar.


"Andi sedang di rumah, jagain mamah, soalnya papa lagi ada kerjaan di luar kota,"ujar laki laki di luar sana.


"Sayang bisa titip mama kamu dengan maid? Bisa kamu ke tempat om sekarang? Ada yang harus om beritahukan kepada kamu," tuan Damar semakin tak tega dengan hal tersebut, bagaimana mungkin memberitahukan kepada wanita itu tentang suaminya, jika saja kesehatannya terus menurun.


"Ah iya om, sebentar," ujar laki laki di ujung sana. "Ya sudah om, om Andi ke rumah om sekarang."


"Tidak Andi, om di rumah anak om. Om kirim alamatnya sekarang."


"Ah iya om, ya sudah Andi siap siap dulu, assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullahi wabarokatu."


Telfon terputus, membuat tuan Damar semakin menghela nafas berat, memang Brayen menyampaikan kenyataan ini. Namun bukankah kata orang bahwa lebih baik tersakiti oleh kenyataan dari pada bahagia di atas kebohongan yang terus menerus di lakukan? Inilah yang mencoba tuan Damar realisasikan saat ini.


Namun meski mengaku akan kuat tetap tak bisa tuan Damar pungkiri akan kesedihannya, kekecewaannya terhadap tuan Reymond dan nyonya Weni. Dua orang yang ia kira akan selalu menemaninya hingga hari tua kini telah terbukti bermain di belakangnya. Seandainya dulu ia tahu akan kebenarannya maka tuan Damar akan memilih untuk tak memulainya. Namun mau berandai sebesar apapun, kini semua telah terlanjur, ibarat sekujur tubuhnya telah basah bermandikan oleh kebohongan nyonya Weni. Bahkan hingga menghasilkan dua nak mereka yang tampan dan cantik.


......................


Bunyi bel membuat Juwita segera berjalan membuka pagar rumahnya, ternyata itu adalah seorang laki laki dengan wajah tampan, yang tampak lebih mudah dari dirinya. Laki laki itu tersenyum ke arah Juwita.


"Halo assalamualaikum," sapa laki laki itu dengan senyuman.


"Walaikumsalam, kamu Andi ya?" tebak Juwita mempersilahkan Andi untuk masuk.


"Ah iya, benar di sini ada om Damar?" Andi terlihat sedikit ragu ragu, takut dirinya salah. Pasalnya selama ini Andi tak pernah melihat wajah Juwita.


"Oh ada ayo masuk," ujar Juwita membuka pintu rumahnya dan kembali menutupnya. Mereka akhirnya berjalan menuju ruang keluarga, dimana telah di hadiri tuan Damar, Brayen, Arham dan Vania.


"Assalamualaikum om," sapa tuan Damar, ternyata hanya tinggal sendiri, pasalnya Arham dan Brayen tengah ke taman belakang, mereka sedang berbincang bincang banyak hal, tadi mereka membiarkan tuan Damar untuk sendiri dahulu, demi memenangkan pikirannya dan menyusun kata demi kata untuk Andi.


"Walaikumsalam, ayo duduk dulu," tuan Damar tersenyum ke arah Andi meski itu sedikit memaksa.


"Itu anak om?" Andi memandang Juwita yang tengah berjalan menuju dapur.


"Iya anak tiri om," ujar tuan Damar memandang ke arah Juwita.


"Oalah, pantas ga pernah kelihatan," ujar Andi tersenyum mengangguk.


"Iya, kamu apa kabar? Mama kamu bagaimana?" tuan Damar mulai membuka kata katanya, dengan berbasa basi menanyakan kabar dari istri Reymond.


"Mamah Alhamdulillah baik om..." ujar Andi. Andi sudah terbiasa mengobrol bersama tuan Damar. Sahabat papanya ini memang terbilang dekat dengannya. Terkadang tuan Damar menjadi tempat bercerita untuk Andi, pasalnya sang papa selalu sibuk dan tak ada bakti untuknya.


"Halo, Andi ya," Brayen tiba tiba datang dari arah belakang dan mendudukkan diri di samping tuan Damar.


"Eh tuan Brayen, di sini?" Andi terkejut melihat kehadiran Brayen, pasalnya ia melihat Brayen merupakan pebisnis hebat.


"Dia itu pacar Juwita," ujar tuan Damar memandang Brayen sejenak.


"Oh... pantas bisa di sini," Andi mengangguk mengerti kemudian tersenyum kearah Brayen. "Ngomong ngomong ada apa om?"


"Hai kak Andi..." Arham mendekat dan duduk di sebelah Andi, di ikuti Vania yang juga ikut duduk di samping Arham.


"Eh, hai... kalian di sini semua? Ada acara apa? Tante Weni mana?" Andi terkejut melihat kehadiran sepupunya, pasalnya tampaknya hampir semua berkumpul di sini, entah merayakan apa, atau merencanakan apa.


"Hm, dia tidak di sini, om di sini mau minta tolong kamu," tuan Damar mulai membuka pembicaraan ya dengan helaan nafas panjang.


"Apa itu om?" dahi Andi berkerut melihat ekspresi wajah tuan Damar. Andi menjadi sedikit risau, terlebih tampaknya itu merupakan masalah besar. Melihat dari ekspresi wajah Arham dan Vania.


"Ini," tuan Damar menyodorkan sebuah amplop coklat besar untuk Andi, agar Andi dapat melihat setiap bukti itu sendiri.


Andi membukanya dan terkejut ketika melihat wajah papa nya terpampang nyata, yang lebih mengejutkan saat itu papanya tengah memeluk nyonya Weni dengan mesra, dan ada pula yang tengah mengecup bibir nyonya Weni. Mereka tampak mesra berada di pinggir pantai menikmati indahnya pemandangan yang jelas Andi tahu, itu adalah sore hari dan berada di pulau Bali, Andi sering ke tempat tersebut ketika dulu berlibur bersama keluarga. "Ini apa om?" Andi bergetar melihat foto, dan bukti bukti lain yang membuktikan bahwa tuan Reymond dan nyonya Weni tengah melakukan perselingkuhan.


"Ini bukti perselingkuhan istri om, dan papa kamu," ujar tuan Damar mengusap kasar wajahnya. Brayen yang ada di sampingnya mampu merasakan kesedihannya hanya mampu mengusap lembut punggung tuan Damar, berharap laki laki paruh baya tersebut menjadi kuat.

__ADS_1


"Maksudnya om?" Andi masih berusaha untuk tidak mempercayainya, memilih meletakkan berkasnya dan memejamkan matanya dengan rapat, menepis semua bayangan wajah mereka yang tengah berlibur di pantai tersebut.


"Mereka selama ini menjalin hubungan, om yakin kamu pasti mengerti," tuan Damar mengerti bagaiman perasaan dari Andi, begitupun dengan Arham laki laki muda itu mengusap dan menepuk punggung Andi, ia akan menguatkannya. Mereka sama terkejutnya, bahkan di awal ia tak menerima hal tersebut, namun setelah mendengar nasihat dan petuah dari Juwita Arham akhirnya mengerti dan bisa tegar.


"Om..." Andi melanjutkan kata-katanya tak mampu untuk merangkai akta di otaknya, otaknya keketika buntu, dan tak tahu harus berbuat apa.


"Karin itu bukan anak om, kemungkinan anak dari papa kamu, yang artinya saudara tiri kamu," tuan Damar semakin membuat Andi terkejut. Bagi tuan Damar malam ini semua Haris jelas, dan mereka harus tahu bagaimana melangkah kedepannya.


"Tapi om, karin kan..." Andi memutuskan kata katanya, ia teringat sesuatu. "Apa mereka berhubungan sebelum menikah dengan om?"


"Iya, kemungkinan begitu. Karena ternyata mereka adalah mantan kekasih sebelum akhirnya menikah dengan om," ujar tuan Damar dengan raut wajah kecewa. Juwita datang dan membawa minuman dan cemilan untuk mereka, Juwita memilih di belakang tuan Damar, dan mengusap lembut punggung dan pundak papa tirinya. Tuan Damar meresponnya dengan memegang tangan Juwita yang berada di pundaknya.


"Om..."


"Menurut analisis om, mereka berpacaran di belakang mamah mu, ketika mama mu sedang hamil kamu, dan saat itu juga Weni hamil anaknya. Saat itu om juga menjalin hubungan dengan Weni, namun om tidak pernah melakukannya..." tuan Damar mulai menceritakan masa lalunya dengan nyonya Weni dan tuan Reymond. "Hingga akhirnya om di buat mabuk, dan tertidur di samping Weni, dan ia bilang itu adalah anak ku, karena itu kami segera menikah."


"Bagaiman ini? Bagaimana mereka melakukan hal sekejam ini dengan kita?" Andi menjambak rambutnya frustasi dengan semua kenyataan, jika mereka berhubungan kembali maka selama ini mereka di bohongi oleh kedua orang tersebut, sungguh Andi gak menyangka hal itu. Andi rasanya ingin tak percaya, namun bagaimana lagi ini adalah kenyataan. Tiba tiba pikiran Andi menjelajah mengingat mama nya, entah bagaiman ekspresi mama Andi akan hal tersebut, semua itu semakin membuat Andi frustasi.


"Om punya rencana, sebelum mereka mengetahui bahwa kita telah mengetahui hubungan mereka, lebih baik kamu pindahkan semua aset papa kamu kepada mu, bukan kah kau memiliki cap resmi milik papa mu? Jika begitu sebaiknya besok kita urus, papa juga akan memindahkan semua hak kepada anak anak papa, termasuk Juwita," ujar tuan Damar mulai memberikan sebuah ide, sejak tadi tuan Damar telah berfikir keras, inilah jalan terbaiknya.


"Lalu Karin?" Andi sedikit terperangah mendengar hal tersebut.


"Om tidak tahu posisinya saat ini. Yang jelas dari segi hukum mana pun, dia tak bisa mendapat harta dari om, tapi dari segi hukum keluarga mu, dia juga tak mampu," tuan Damar menguyar rambutnya. Juwita mengerti kekecewaan tuan Damar. Rasa di bohongi, rasa di permainkan, semua berkumpul menjadi satu, menyebabkan kekecewaan bertumpu pada kehadiran Karin.


"Kenapa kak Juwita bisa?" Vania yang tak mengerti maksud dari papanya kini memandang tuan Damar. Bukannya ia tak setuju, Vania setuju setuju saja, namun Vania juga tahu watak mamanya dan kakaknya, jelas jelas mereka akan berusaha mencelakai Juwita, pasalnya mereka selama ini menunjukkan ketidak sukaan yang sangat besar terhadap Juwita.


"Juwita itu jelas kedudukannya, anak tiri papa. Lalu Karin dia bukan anak om, lalu tidak bisa di sebut anak tiri," ujar tuan Damar dengan penuh kecewa, dirinya entah ingin marah pada siapa, ia tak tahu, amarahnya juga sudah berada di ubun ubun. Namun tetap berusaha untuk tenang.


"Papa tidak menyayangi kak Karin?" Akram mulai penasaran.


"Papa sangat menyayangi nya, namun dia tak bisa memimpin perusahaan, dia tak juga mahir dalam hal apapun, selama ini hidupnya selalu di manja, dia jadi tak bisa apa apa," Karin yang memang selalu di manja oleh nyonya Weni, membuat tuan Damar semakin gusar. Bahwa dari awal dirinya hanyalah sebuah pelampiasan, pasalnya nyonya Weni selama ini hanya menyayangi Karin seorang, baik itu Juwita, Akram dan Vania mereka sama sama sering di acuhkan, kasih sayang nyonya Weni Anya tercurahkan sepenuhnya. Bahkan saat kecil Akram selalu bertanya apa mamanya menyayanginya, atau dia hanya anak tiri, pasalnya nyonya Weni lebih menyayangi Karin sejak awal.


"Pah, lalu bagaimana sekarang?" Akram menutup matanya, bayangan masa lalu menghantui dirinya.


"Papa akan mengirimnya ke asrama, biarlah dia belajar mandiri di sana," ujar taun Damar memijit pangkal hidungnya. Pusingnya semakin bertambah.


"Setuju..." ujar yang lainnya.


"Baiklah, besok Andi akan mengurus," ujar Andi mulai menerima kenyataannya. Andi akan menerima semua usulan tuan Damar, demi dirinya dan juga mamanya.


"Kita harus berbicara pelan pelan dengan Karin, biar bagaimana pun dia tak tahu apa apa," ujar Juwita membuat Brayen memandang ke arahnya.


"Iya, papa akan memintanya untuk ke sini dulu, kita jelaskan pelan pelan," tuan Damar bersiap untuk menelfon Karin.


"Lalu?" vania menjadi bingung sendiri dengan maksud dari Arham.


"Setelah pemindahan nama selesai, papa akan menggugat cerai mama kalian, maka saat itu kita berkumpul, dan memberitahukan kepada Karin," ujar tuan Damar, membuat mereka semua mengangguk setuju.


"Papa tidak apa apa kan?" Juwita memandang sedih ke arah tuan Damar, ia tahu saat ini tuan Damar sangat sedih atas semua peristiwa ini. Satu malam yang menghancurkan semua, menghancurkan kasih sayang, menghancurkan kepercayaan.


"Tidak, jika memang tak ada cinta untuk apa papa bertahan, lebih baik papa sendiri. Papa sudah tua untuk hal tersebut," ujar tuan Damar dengan nanar sedih. Sakit saat harus berpisah dengan wanita yang menemani hidupnya selama hampir dua puluh tiga tahun.


.


.


.


.


Sementara itu di tempat lain tuan reymon dan nyonya Weni baru saja melakukan aktivitas panasnya, kini berbaring lemas dengan menarik selimut hingga dada, dan saling memeluk.


"Sayang kapan kita akan kembali?" nyonya Weni tersenyum mengusap lembut pipi tuan Reymond.


"Apa kau tak ingin kita berlama lama lagi di sini?" tuan Reymond kesal mendengar permintaan dari kekasihnya.


"Sayang aku sangat bahagia, kau tahu? Damar itu tak mampu membuatku menjerit seperti dirimu membuat diriku menjerit. Dan aku sangat bahagia memanggil nama mu saat sampai akhir," ujar nyonya Weni menggesek tubuhnya di tubuh polos tuan Reymond.


"Sayang kamu memancing ku? Kau tahu sejak awal aku memang mengatakan bahwa kau adalah orang yang paling bisa membuat ku puas," tuan Reymond memejamkan matanya merasakan gesekan halus di tubuhnya. "Kau ingat bukan dulu saat kita belum kembali aku selalu meminta mu untuk bersama ku, namun kau bilang kau sedang mengandung Vania hingga aku tak bisa mendapatkan nya."


"Iya tapi setelah Vania lahir aku libur banya bersama mu sayang," nyonya Weni terkekeh geli melihat tingkah tuan Reymond yang terkesan cemburu pada anaknya dengan tuan Damar.


"Iya tetap saja aku cemburu, kau masih berhubungan dengan Damar. Membayangkan mu berada di bawahnya membuatku kesal, dan merasa ingin mengurungku saja," sungut tuan Reymond.


"Lalu bagaimana menurutmu dengan ku yang membayangkan mu dengan istri mu itu sayang," nyonya Weni ikut cemberut.


"Iya dari pada dia cemburu, lagian dia tidak kan bisa hamil lagi, toh rahimnya juga telah di angkat," ujar tuan Reymond mulai mengecup leher dari nyonya Weni.


"Agh... sayang, akh hm..." nyonya Weni mulai kembali mengeluarkan suara indahnya.

__ADS_1


"Kau ingat bukan saat kita belum kembali menjadi sepasang kekasih? Aku selalu memintamu untuk kembali," ujar tuan Reymond.


"Iya aku masih mengingat seseorang menarik ku masuk ke dalam kamarnya, saat aku tengah berkunjung ke rumahnya, dan membuat ku terus menjerit merasakan indahnya kembali berada di bawah mu," ujar nyonya Weni mengusap dada berbulu halus kekasihnya.


"Hm... Kau menggoda ku," ujar tuan Reymond bersiap menindih tubuh nyonya Weni.


"Eits jangan sekarang aku masih lelah," ujar nyonya Weni terkekeh geli. "Besok saja ya di sambungnya."


Mereka akhirnya kembali berpelukan merasakan kembali dunia milik berdua, namun mereka tak pernah menyangka bahwa semua orang kini telah mengetahui hubungan mereka, dan telah mempersiapkan segalanya untuk dapat berpisah dengannya.


.


.


.


.


Satu minggu telah berlalu tepat seluruh aset milik tuan Reymond telah berpindah tangan. Tuan Damar juga telah menggugat cerai nyonya Juwita. Jelas nyonya Weni dan tuan Reymond tak mengetahuinya, pasalnya mereka saat ini masih berlibur merasakan kembali honeymoon bersama. Mereka akhirnya memanggil Karin untuk berkumpul di rumah Juwita.


"Wah ngumpul semua, papa kok ga bilang kalau sudah pulang, mama masih berlibur dengan temannya," ujar Karin segera duduk di samping tuan Damar. "Kok ngumpul di sini sih pa?"


"Iya, ada sesuatu yang ingin papa sampaikan kepada kamu," ujar tuan Damar sebenarnya tak kuat jika melihat wajah Karin, bayangan Reymond di wajah Karin, mereka memiliki kemiripan bahkan jika di lihat semakin lama mereka benar benar mirip, bahkan Andi membenarkannya.


"Ngomong apa pa?" Karin tampak penasaran.


"Kamu jangan marah ya, ini kamu baca dulu," tuan Damar segera menyodorkan sebuah amplop putih berlogo rumah sakit ke arah Karin.


"Apaan sih pah, kenapa ada logo rumah sakit? Mama sakit? Atau hamil?" Karin semakin penasaran."Eh ngomong ngomong Mama mana sih? Kok ga kelihatan? Ini surprise ya?"


"Pa... ini apa? Maksudnya apa? Maksudnya apa kalau Karin bukan anak papa? Terus Karin anak siapa?" mata Karin terbelalak kala melihat isi amplop tersebut yang ternyata merupakan hasil tes DNA dirinya dan juga tuan Damar. "Ini pasti semua ulah kamu kan anak buangan... ngaku kamu!" Karin segera menyerang Juwita yang berdiri tepat di samping Brayen dan berada di belakang tuan Damar.


"Karin!" tuan Damar meninggikan suaranya.


"Papa..." Karin memandang tuan Damar dengan mata berkaca kaca.


"Jaga ucapan kamu," ujar tuan Damar pusing melihat tingkah Karin.


"Terus ini apa pa? Ini semua pasti hasutan dia kan, dia memang jahat iri dengan ku, ayo ngaku kamu!" Juwita hendak menyerang Karin dengan tasnya, Karin melempar tas branded nya ke arah Juwita, namun di tahan oleh Brayen.


"Karin... jaga ucapan mu dengan calon istri ku," ujar Brayen, melempar tas Karin yang sempat melayang hampir mengenai Juwita.


"Apa?! Calon istri? Yakin mau dengan dia? Siapa yang mau walikan? Papa juga pasti ga mau kan? Mama? Mama ga peduli lagi dengan dia," ejek Karin, entah kenapa Karin begitu tidak menyukai Juwita, dia selalu kesal dengan apa yang dimiliki Juwita, ia juga kesal jika mengingat betapa kakek Rio sangat menyayangi Juwita, hingga memberinya banyak hal, banyak hadiah yang tak mampu di beli olehnya. Belum lagi karena Brayen menjadi kekasihnya, semakin membuat kebencian di hati Karin meninggi.


"Karin!!!" Andi mulai geram, ternyata kelakuan adik tirinya begitu buruk sehingga membuatnya malu.


"Apa? Mau ikut campur juga, lagian apa juga dia ini, eh ingat kamu itu tidak tahu apa apa," Karin memandang nyalang ke arah Andi.


"Karin! Saya tegaskan sekali lagi untuk diam, saya punya hak untuk memintamu diam," Andi juga mulai terpancing kesal oleh Karin.


"Kau siapa? Kakak ku? Bukan kan?" Karin mulai mengolok olek Andi.


"Kalau iya bagaimana?" Andi tersenyum miring melihat keangkuhan dari adik tirinya.


"Ya tidak mungkin lah, walaupun om Reymond sayang dengan ku, tapi om Reymond tetap bukan papa ku," Karin berdesis memandang kesal ke arah Andi. "Apaan sih? Udah deh ga usah aneh aneh deh."


"Karin dengarkan papa," akhirnya tuan Damar membuka suaranya demi mendamaikan situasi.


"Apa sih pah. Jangan suka prank prank gini lah, ga lucu tau," Karin terus berusaha berfikir jika itu hanya sebuah lelucon.


"Karin Reymond memang papa mu, dan Andi adalah kakak mu," tuan Damar mulai menjelaskan secara perlahan.


"Pah, Apaan sih? Jangan ngaur deh, emang aku anak tante Iwa? Engga bukan?" Karin terkekeh mendengar penuturan dari tuan Damar yang menurutnya sangat lucu.


"Iya kamu memang bukan anak tante Iwa, tapi kamu anak dari om Reymond," ujar Juwita mencoba menjelaskan.


"Apalagi anak buangan satu ini, ikut campur. Ikut nyosor aja, diam ya, aku tidak mau mendengar kata kata mu," Karin mencibir Juwita yang di anggapnya ikut campur dalam urusan keluarga.


"Kak, yang di bilang kak Wita emang benar kok," Vania mulai ikut berbicara muak dengan tingkah Karin yang senang merendahkan orang lain.


"Ini anak kecil satu ini, ikut campur saja, di kasih berapa dengan dia? Bahkan lebih membela dia daripada kakak sendiri," Karin mencibir Vania yang ikut campur.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Hai ini sudah tiga ribu lebih loh, demi menebus author beberapa hari ini tidak bisa up pasalnya banyak halangan. Jadi hari ini up-nya 3000. Kopi kopi bunga bunga mana? Wkwkwk pajak.


__ADS_2