CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Jodhpur (Sangat puas)


__ADS_3

Selasa, hari ketiga.



Matahari pagi bersinar terang tepat mengenai wajah Brayen, Brayen mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina nya. Gorden yang lupa mereka tutup semalam tepat mengenai wajah mereka, Brayen yang melihat tidur Juwita sedikit terganggu segera menghalau cahaya dengan tubuhnya, gadis itu kembali terlelap jauh di dalam tidurnya. Brayen mencoba melihat sekitar tempat mereka, Brayen membuka ponselnya, dan melihat keberadaan mereka saat ini. Ternyata mereka telah hampir sampai di perbatasan. Waktu saat ini menunjukkan pukul enam tiga puluh, terlalu pagi, namun tampaknya hari ini cerah, jadi matahari bersinar lebih cerah.


Sudah tiga puluh menita Brayen membaringkan tubuhnya hanya melihat Juwita terlelap, Brayen tersenyum melihat mata Juwita yang terpejam rapat, bertanda gadis itu itu masih terlelap. Mata abu abu itu menatap tajam, dengan wajah yang masih menapakkan wajah bantal, serta rambut hitam yang sedikit bergelombang. Bibir tipisnya melengkung sempurna, dengan membentuk sedikit lesung pipi di pipi kanannya. Ketampanan pria pria Eropa, yang memang tak pernah bisa diragukan oleh para kaum hawa Asia.


Brayen mendekatkan wajahnya untuk mengecup bi bir kekasihnya. Setelah mengecup nya hingga beberapa kali, Brayen sedikit mengangkat wajahnya untuk kembali memperhatikan kekasihnya. Brayen mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut kekasih nya yang berantakan. Rambut hitam lurus, namun sedikit bergelombang itu selalu mampu menghipnotisnya.


Gadis itu mengerjapkan matanya, setelah merasakan tangan hangat Brayen menyentuh pipinya. Tidurnya terganggu, membuat Juwita membuka matanya dengan malas. Gadis itu tersenyum mengeratkan pelukannya.


"Sayang ayo bangun," ujar Brayen mengecup pipi Juwita berkali kali.


"Hm, masih pagi," jawab Juwita, meletakkan kepalanya di dada Brayen.


"Sayang pagi ini aku akan ke gym, untuk meregangkan otot-otot ku, kalau kau mau itu ayo bangun," Brayen mencubit pipi Juwita dengan gemas.


"Hm, malas," ujar Juwita cemberut. Gadis itu tampaknya masih ingin berlama lama dengan barisan selimut dan bantal di atas tempat tidurnya.


"Kalau malas, kamu ke salon, atau spa saja deh, nanti aku antar ke sana," ujar Brayen mengapit dagu Juwita dengan gemas.


Mendengar kata salon, mata Juwita berbinar sempurna. Tampaknya gadis itu tiba tiba bersemangat, karena bukan kah salon merupakan tempat favorit para wanita untuk memanjakan diri? Begitupun Juwita, ia akan sangat bersemangat ketika mendengar kata salon dan spa.

__ADS_1


"Wajah mu kenapa? Kau tampaknya sangat bersemangat," Brayen terkekeh sendiri melihat tingkah kekasihnya.


"Aku mandi terlebih dahulu," ujar Juwita segera bangun, dan mendahului Brayen.


Brayen terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Juwita yang tiba tiba bersemangat ketika dirinya menyebut kata kata salon. Brayen membaringkan tubuhnya kembali di tempat tidur, setelah membuka kaus yang melekat di tubuhnya, menyisakan bokser setinggi pahanya saja. Pria itu melihat ke arah tempat tidurnya, yang tak pernah ia tiduri. Bahkan tempat itu sangat rapi, ia hanya pernah merebahkan badannya ketika pertama kali datang, selebihnya, tempat tidur Juwita adalah favoritnya. Selain dapat melihat pemandangan indah, dirinya juga dapat memeluk kekasihnya itu.


Lama Brayen menunggu Juwita selesai mandi dan berpakaian, akhirnya Brayen dapat mendengar bunyi pintu kamar mandi yang terbuka, pasalnya Brayen memang mengincar Juwita. Brayen segera berdiri di balik pembatas ruang tidur, hendak mengejutkan Juwita.


Saat Juwita muncul, Brayen segera menarik pinggang Juwita, hingga gadis itu terperanjat terkejut. Melihat wajah terkejut Juwita, Brayen mengambil kesempatan, menarik tengkuk Juwita, dan me*lu*mat bi bir Juwita. Cukup lama Brayen menyambar bi bir hingga hingga nafas mereka habis.


"Bau, kau belum gosok gigi," kesal Juwita, mencubit pinggang Brayen.


"Orang terharum sedunia pun nafasnya akan bau jika di pagi hari sayang," Brayen kembali menyambar bi bir Juwita me*lu*mat*nya dengan lembut. Juwita tak tinggal diam, gadis itu membalasnya. "Lihat sayang, kau juga menikmatinya."


"Cium aku dulu," ujar Brayen semakin memeluk pinggang Juwita.


"Tadi sudah," ujar Juwita dengan malas, Juwita malas mengakui bahwa dirinya juga menginginkan Brayen.


"Itu aku, bukan kau. Ayo cium aku," kuat Brayen tersenyum.


"Baiklah kalau kau memaksa," wanita memang sulit untuk di tebak, terkadang lain di hati lain pula di bibir.


"Ayo, aku memaksa," jawab Brayen tersenyum kemenangan.

__ADS_1


Juwita mengalungkan tangannya menjijikkan tubuhnya mulai mendaratkan bi bir nya di bi bir Brayen. Brayen hanya memandang pergerakan bibir Juwita, hingga gadis itu mendaratkan bi birnya dengan mata terpejam. Brayen membiarkan Juwita beraksi, melihat seberapa lihainya gadis itu ber*ciu*man. Brayen kembali tersenyum kala Juwita mulai menggerakkan bibirnya sebentar. Juwita hendak menjauhkannya, namun Brayen mengetahui nya, Brayen menarik tengkuk Juwita, kemudian memperdalam lu*mat*an bi bir mereka.


Mereka sama sama terhanyut dengan indahnya pagi ini, hingga akhirnya Brayen semakin merapatkan tubuhnya, sementara Juwita terus mengalungkan tangannya ke leher Brayen. Brayen tak mau kalah, kini menaikkan satu kaki Juwita, hingga gadis itu merespon dengan menautkan seluruh kakinya di pinggang Brayen. Brayen memegang bo*kong sintal Juwita, kemudian mulai menggiring gadis itu ke tempat tidur, tanpa melepas pa*ngu*tan mereka.


Mereka seakan lupa akan rencana mereka, Brayen menjeda ciu*man mereka sebentar, memberi mereka pasokan udara sedikit, kemudian kembali ******* bi bir Juwita. Brayen membuka kancing kaus atas Juwita, kemudian mengangkat baju Juwita hingga ke bagian dada. Seolah mengerti keinginan Brayen, Juwita sedikit mengangkat punggungnya hingga meloloskan kaus tersebut ke arah dada, Brayen melepas tangan Juwita yang mengapung di lehernya, kemudian menuntun Juwita melepas lengan baju yang di kenakan nya.


Brayen melepas pa*ngu*tan nya, kemudian dengan cepat meloloskan kaus yang tinggal melewati kepala Juwita, Brayen kembali me*ma*ngu bibir Juwita menelusup kan tangannya nya di balik punggung Juwita, melepas penutup terakhir yang ada di atas da da Juwita. Brayen menurunkan bibirnya untuk mengecup pipi, kemudian rahang dan berakhir di leher Juwita.


"Uh...." Juwita melenguh kala Brayen memberi gigitan di sana.


Suara Juwita bak simfoni musik orkestra favorit Brayen, semakin membuat Brayen bersemangat, Brayen menurunkan kecupannya ke bawah, Brayen mengecup tulang selangka, da da, Dan berakhir pada si kembar milik Juwita. Brayen menatapnya sejenak melihat betapa indahnya tubuh Juwita. Brayen tersenyum kala Juwita tampak malu malu, hendak menutup miliknya, namun Brayen menepis tangan Juwita.


"Sangat indah, jangan malu sayang, ini sangat indah, aku ingin melihatnya," tutur Brayen lembut menatap barisan bukit kembar milik Juwita. Brayen menyentuhnya, dan me*re*masnya dengan gemas, kemudian mulai menenggelamkan wajahnya ke di salah satu bukit kembar Juwita, menghisap dan menggigitnya.


Brayen semakin ingin lebih, mulai menggesek gesekkan miliknya yang masih tertutup oelha bokser dengan milik Juwita yang juga tertutup rapat dengan celana.


Mereka berdua terlena, mulai terbuai, suara sahut terdengar jelas di telinga mereka. "Ah... oh, Brayen," racau Juwita meremas rambut Brayen, ketika laki laki itu kembali menghisap dan menggesekkan sesuatu yang menonjol, dan terasa jelas di pusat kenikmatan Juwita.


"Sayang ah... cantik sekali hm... luar biasa." Brayen tak mau kalah dengan racauan Juwita, dengan mulut penuhnya. Sesuatu keluar dari bawah sana, mengalir hangat di bokser dan cel*ana da*lam Juwita. Mereka tahu artinya, Brayen segera merebahkan tubuhnya di atas Juwita dengan mengigit gemas bi bir bawah Juwita.


Mereka terdiam sembari berpelukan. "Ini... apa yang kita lakukan?" Juwita memandang nanar ke arah jendela.


"Kita tak melakukannya, ini hanya pemanasan sayang, nanti akan aku lakukan, dan benar benar akan aku lakukan ketika kita sudah menikah," Brayen mengecup bibir Juwita tangannya yang masih berada di bukit kembar milik Juwita, me*re*masnya dengan kuat. "Tapi ini sungguh nikmat, lihat lah adik ku bahkan kembali tertidur pulas."

__ADS_1


Juwita memerah ketika melihat celana Brayen yang basah. "Kau gantilah celana mu, aku akan membersihkan diri ku."


__ADS_2