CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Aku mencintaimu.


__ADS_3

Bruk... suara dari tubuh Juwita yang membentur lantai mengejutkan Brayen dan kakek Rio, mereka segera mendekat ke arah Juwita. Kesempatan itu di gunan untuk Dika agar bisa kabut, Brayen tak perduli, yang terpenting saat ini adalah kekasihnya.


Brayen segera membopong tubuh Juwita keluar dari tempat tersebut, bahkan kakek Rio yang panik melupakan tentang OCD yang ia miliki. Kakek Rio mengikuti Brayen yang membopong tubuh lemas Juwita ke dalam mobil. Dengan langkah yang sudah sangat sulit mengimbangi langkah Brayen, kakek Rio meminta anak buah Brayen untuk menggendongnya. Mau tidak mau anak buah Brayen yang kekar dan besar itu menggendong kakek Rio menyusul Brayen.


"Gendong belakang ya kek," ujar pengawal yang berbadan paling besar dan kekar.


"Iya, saya juga kalau gendong depan seperti wanita saja, ayo cepat susul mereka," ujar kakek Rio. Pengawal itu segera berlari tergopoh gopoh dengan beban di punggungnya.


Saat Brayen masuk meminta anak buahnya yang lain membawa mobil tersebut, kakek Rio datang dengan di gendong. Beberapa pengawal yang melihat hal tersebut sontak menahan tawa, bukan hanya Maslah ketidak sopanan, namun ini juga tentang calon nyonya besar mereka yang saat ini kondisinya tidak baik baik saja.


"Brayen kakek ikut," kakek Rio segera membuka pintu bagian penumpang depan.


"Iya kek, ayo masuk," ujar Brayen tanpa melihat kakek Rio yang telah duduk di kursi depan.


Supir membawa mereka ke rumah sakit, Brayen terus mendekap, dan menepuk pipi Juwita sekali kali, takut terjadi sesuatu dengan gadis tersebut, untungnya jarak antara hotel dan rumah sakit tak terlalu jauh, hanya butuh lima belas menit jika tidak macet.


"Juwita tidak benar benar hamil kan?" kakek Rio kembali menanyakan pasal kehamilan Juwita, kakek Rio sangat takut terjadi sesuatu kepada cucunya. Bahkan kakek Rio mengira pingsannya Juwita juga berhubungan dengan kandungannya saat ini.


"Tidak kek, di apa apain juga belum," ujar Brayen terus mengusap lembut kepala Juwita, sesekali mengecupnya.


"Tapi pelakunya kabur," kakek Rio mangalihkan pembicaraan nya, kini ia yakin bahwa Juwita memang masih ting ting.


"Nanti bisa di tangkap lagi kek. Bagi Brayen yang terpenting saat ini Juwita," Brayen kembali memandang wajah Juwita yang diam tak sadarkan diri. Keringat Brayen kembali bercucuran menyanggah kepala Juwita dan mengecupnya. "Sadar sayang jangan buat aku khawatir."


"Sebenarnya kakek takut penyakit jantung ayahnya menurun padanya," kakek Rio tiba tiba membuka suaranya. Brayen terkejut bukan main, pasalnya kekasihnya itu tak pernah bercerita tentang sakit jantung.


"Apa?" Brayen semakin takut jika memang sakit jantung yang mengenai Juwita. "Jantung? Wita tak pernah bercerita," Brayen bahkan meraba daerah jantung Juwita.


"Pasalnya Juwita tak ingin kau khawatir, dan dia pun selama ini memeriksa jantungnya sangat normal, pola makan Juwita juga bagus," uajr kakek Rio mengerti akan alasan dari Juwita.


Brayen mengusap kasar wajahnya, kali ini ia merasa tak bisa di percayai oleh Juwita, bahkan hal seperti itu tak di ceritakan kepadanya. "Sayang apa kau masih ragu? Padahal jika kau bercerita aku pastinya akan lebih memperhatikan dirimu."


"Jangan marah padanya, ia sebenarnya tak ingin orang di sekitarnya terbebani, tak ingin orang orang terlalu mengkhawatirkan nya. Dia sudah berusaha menjaga segalanya agar penyakit jantung tersebut tidak menurun," uajr kakek Rio memperhatikan wajah Brayen yang kusut.


"Pasti sangat berat untuknya. Kek bisa kami mempercepat pernikahan kami?" ujar Brayen memandang lekat wajah kekasihnya, kembali tangannya terulur mengusap lembut pipi Juwita.


"Kenapa?" kakek Rio mengernyit bingung, pasalnya ia mengira Brayen akan marah kepada Juwita, karena merasa tidak di anggap oleh kekasihnya.


"Aku ingin menjaganya, agar memastikannya baik baik saja," ujar Brayen, memandang ke arah kakek Rio, mata mereka bertemu. Kakek Rio tersenyum mengangguk puas.


"Setelah kau melamarnya, maka kita akan mengadakan akad Minggu selanjutnya," uajr kakek Rio.


"Terimakasih kek," Brayen kembali mengecup puncak kepala Juwita.


"Kakek yang harusnya berterimakasih, setidaknya kakek akan tenang sekarang," kakek Rio tersenyum menutup matanya, rasanya kedua cucunya sudah ada yang menjaganya, jadi dirinya bisa tenang menjalani hidup, bahkan jika ia akan pergi dari dunia ini.


"Kakek percaya dengan Brayen?" Brayen tak percaya mendengar kata kat dari kakek Rio.


"Aku tak punya pilihan untuk tidak mempercayai mu," kakek Rio terkekeh menjelaskannya kepada Brayen.


Mereka sampai di rumah sakit, Brayen kembali membawa Juwita ke dalam gendongannya, segera membawa Juwita ke UGD. Kakek Rio kembali meminta pengawal tadi yang menggendongnya untuk di gendong juga. Brayen menggendong kekasih nya itu hingga mencapai ruang UGD. Seorang dokter datang memeriksanya.


"Tenang lah semua akan baik baik saja," kakek Rio menenangkan Brayen sembari turun dari gendongan anak buah Brayen.


"Iya kek, mudahan," Brayen mendudukkan dirinya dengan frustasi, Brayen terus memandang ke arah ruangan yang tertutup tersebut, tempat Juwita di periksa.


Lama dokter memeriksa Juwita, akhirnya keluar juga saat mencapai tiga puluh menit, dokter mengeluarkan tubuhnya dari ruang UGD, sembari menatap Brayen yang segera berdiri menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana dok?" Brayen segera bertanya dengan wajah khawatir.


"Semua baik baik saja, pasien hanya saja terlalu banyak pikiran. Tapi pasien baik baik saja," uajr dokter tersebut tersenyum ke arah Brayen dan kakek Rio.


"Terimakasih Dok," ujar Brayen mengusap rambutnya ke arah belakang, perasaan lega menghampiri dirinya.


"Tidak masalah itu adalah kewajiban kami. Oh ya pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap ya," ujar dokter tersebut tersenyum ke arah Brayen.


"Iya dok terimakasih," ujar Brayen lagi, dirinya sungguh lega kali ini. Mereka mengikuti langkah dokter untuk masuk ke ruang rawat inap untuk Juwita.


Ponsel kakek Rio berdering, ketika kakek Rio hendak duduk di sofa ruang, kakek Rio segera mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum..."


"Halo walaikum salam kek," terdengar suara khawatir Aliya. "Kalian di mana? Kenapa lama sekali, kalian masih di hotel kan?"


"Ya ampun kakek lupa memberitahu Wita tadi pingsan dan saat ini masuk ke rumah sakit," ujar kakek Rio segera berjalan menuju arah wastafel ruangan tersebut kakek Rio mencuci tangannya, dan menyemprotkan anti kuman di pakaiannya, serta sepatunya.


"Wita tidak apa apa kan kek?" tanya wanita yang ada di seberang sana.


"Alhamdulillah tidak apa apa," ujar kakek Rio.


"Kalian di rumah sakit mana?"


"Di rumah sakit XXX, kalian akan ke sini?" kakek Rio.


"Iya kami akan ke sana," ujar Aliya dari seberang sana. "Assalamualaikum."


"Walaikum salam," jawab kakek Rio segera mematikan panggilan dari Aliya.


"Siapa kek?" Brayen baru saja Brayen datang membawa makanan untuk mereka.


"Al, dia nanyain kita," jawab kakek Rio memperbaiki duduknya. "Oh ya bagaimana mungkin mama Juwita melakukan hal ini semua terhadap Juwita?"

__ADS_1


"Entahlah kek," Brayen memandang ke arah bangker Juwita, sembari membuka minuman kaleng untuk dirinya dan kakek Rio. "Kakek tampaknya tahu kalau mama Wita berselingkuh, namun tak tahu siapa selingkuhan dari mama nya."


"Hem kakek mencuri dengar saat pertama kali Juwita mengetahuinya," jawab kakek Rio.


"Pantas saja," Brayen menganggukkan kepalanya.


"Tapi yang kakek tak menyangka bagaimana mungkin seorang ibu tega ingin menjebak anaknya sendiri, jika itu anak tiri mungkin kakek akan mengerti, namun wanita itu adalah anak kandungnya sendiri," kakek Rio meminum minuman kaleng tersebut sembari menggeleng, sungguh dirinya tak percaya akan hal itu. Bahkan dirinya saja tak akan mampu berbuat sedemikian rupa kepada Juwita. Namun sebagai ibu nyonya Weni tega melakukannya.


"Iya, Brayen rasa itu salah satu penyebab Juwita pingsan kek," Brayen membuka bungkus roti untuk mereka santap.


"Iya kakek rasa begitu," kakek mengangguk setuju, tak tega rasanya melihat cucunya begitu. Meski bukan cucu kandung, namun kakek Rio tetap sangat menyayangi Juwita.


"Apa papa Wita sudah tahu akan hal tersebut?" kakek Rio memandang ke arah Brayen.


"Sudah kek, papa nya juga telah melakukan tuntutan kepada mama Wita," Brayen menghela nafasnya, perutnya baru terasa lapar, pasalnya tadi ia tak sempat menyantap makanan karena asyik menyapa beberapa rekan bisnisnya. Bahkan saat ini telah hampir tengah malam.


"Lalu adik tirinya, apa mereka bekerja sama?" kakek Rio teringat Karin yang selalu mencari Maslah dengan Juwita, bahkan secara terang mencari masalah kepada Juwita.


"Maksudnya?" Brayen bingung siapa yang di tuju oleh kakek Rio, pasalnya setahu Brayen Juwita memiliki tiga adik tiri.


"Iya mama Wita, dan adik tirinya bisa jadi bekerja sama, itu loh si Karin," ujar kakek Rio memperjelas maksudnya.


"Itu tidak mungkin kek, Karin sudah berangkat ke Korea, kami sendiri yang mengantarkan nya," jelas Brayen membuat kakek Rio terkejut, bagaimana mungkin mereka mengantarkannya? Lalu dia mau berangkat? Kakek Rio tahu betul bahwa Karin merupakan anak yang sangat di manja, hidupnya tak bisa terlepas dari bantuan asisten rumah tangga.


"Dia mau?" kakek Rio memandang wajah Brayen dengan mimik penasaran.


"Kami memberitahukan kebenarannya, bahwa dia adalah anak dari tuan Reymond," ujar Brayen semakin membuat kakek Rio terkejut. Hanya saja kakek Rio tak menyangka jika Karin anak dari tuan Reymond.


"Apa perselingkuhan ini sudah lama terjadi? Lalu kedua anak anak mereka?" kakek Rio menahan nafasnya ketika menunggu jawaban dari Brayen.


"Mereka telah melakukan tes DNA juga, dan terbukti anak dari om Damar, sementara hanya Karin yang merupakan anak dari tuan Reymond," jelas Brayen menghela nafas panjang, mengingat bagaimana dirinya menemani kekasihnya untuk menyelesaikan masalah keluarga.


"Lalu apa sejak awal pernikahan mereka berselingkuh?" kakek Rio memandang Brayen dengan penasaran.


"Iya kek, kemungkinan saat itu Tante Weni merupakan kekasih dari om Damar, namun juga merupakan kekasih gelap dari tuan Reymond. Saat istri tuan Reymond hamil, Tante Weni juga mengandung anak tuan Reymond, tak mungkin tuan Reymond menikahi Tante Weni saat itu. Kemudian Tante Weni menjebak om Damar saat mabuk, akhirnya mereka menikah, karena om Damar mengira itu adalah anaknya," Brayen mengingat kemungkinan yang terjadi saat mereka tengah berdiskusi, dan membicarakan tentang bagaimana nyonya Weni yang sejak awal melakukan banyak kebohongan. "Itu yang Brayen tangkap."


"Lalu saat ini mereka kembali berhubungan?" kakek Rio benar benar penasaran, jawab Brayen yang sebelumnya membuatnya puas namun dalam waktu yang bersamaan pertanyaan lain muncul di benaknya.


"Iya dan itu mungkin sudah cukup lama, namun kami tak ada yang mampu berspekulasi," jelas Brayen. Mereka memang menunggu penjelasan kedua sejoli tak sadar usia itu untuk menjelaskan semuanya.


"Anak itu pasti frustasi mengetahui semua itu, belum lagi pasien yang ia rawat, dan lain lagi," kakek Rio menjadi iba sendiri, mengingat masalah dan beratnya pekerjaan yang cucunya itu lakukan.


"Iya kek, sebenarnya Brayen ingin Wita berhenti ketika kami sudah menikah," ungkap Brayen menghela nafasnya.


"Bagus juga, tapi jika dia tidak mau maka jangan di paksa," kakek Rio menepuk pelan pundak Brayen. Brayen mengangguk pasti, paham dengan apa yang di sebutkan oleh kakek Rio.


"Brayen sebenarnya hanya ingin Wita menjadi seorang psikiater pribadi saja, tidak usah bekerja di perusahaan, cukup di rumah saja," Brayen kembali bercerita membuat kakek Rio tersenyum simpul.


"Entah lah, aku ingin sekali memberinya pelajaran berharga, tapi dia adalah orang yang melahirkan Juwita, dan pastinya Wita pun tak akan setuju jika aku melakukannya. Ah... entahlah semua tergantung Wita," Brayen menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, bingung hendak melakukan apa. Rasanya bertindak salah namun membiarkan juga pastinya akan sangat salah.


"Hem... hanya dia yang pantas menghukumnya," kakek Rio membenarkannya.


"Assalamualaikum kek, Bray bagaiman keadaan Wita?" tiba tiba pintu ruangan terbuka menampakkan sepasang suami istri yang terlihat sedikit panik.


"Walaikum salam... hingga saat ini dia belum sadarkan diri," ujar kakek Rio memandang ke arah Juwita yang sedang berbaring.


"Bagaimana ini semua? Bagaimana bisa dia pingsan?" Aliya mendekat ke arah Juwita, melihat dengan lekat sahabatnya itu. Sahabat yang sejak kemarin menguatkan dirinya, memberikan petuah petuah bijak, memotivasi dirinya untuk bangkit. Air mata Aliya tak terasa menetes, namun gengsi membuat Aliya segera mengusap air matanya,jangan sampai terlihat oleh yang lain.


"Dia mengetahui siapa pemilik ide yang meletakkan obat di dalam air untuknya," jawab kakek Rio, Brayen tampak menyantap roti yang sejak tadi ia buka. Totalnya laki laki itu sedang mengisi tenaganya.


"Siapa? Apa adik tirinya?" Aliya menjadi penasaran. Jika Aliya segera mendekati Juwita yang berbaring lemah di bangker umah sakit, lain halnya Chandra yang segera mendudukkan diri di samping Brayen, sembari membuka minuman kaleng untuknya.


"Bukan, mamanya sendiri," ujar kakek Rio menghela nafas panjang.


Aliya terdiam mendengarkan nya, wanita itu mencengkram erat besi bangker, mencoba untukenyalurkan rasa terkejutnya. Aliya memandang lekat wajah sahabatnya, Aliya sangat paham pasti ini sangat berat untuk sahabatnya itu. "Bagaimana mungkin? Obat apa yang ada di dalam minuman itu?"


"Obat pe*ra*ng*sang," jawab kakek Rio. Brayen mengalihkan perhatiannya dengan berdiri dan mengumpulkan kaleng minuman yang telah kosong di atas meja.


"Apa?!" bahkan Chandra ikut terkejut mendengar penuturan dari kakek Rio. Mereka mengalihkan pandangan ke arah Brayen, yang menyibukkan diri, namun mereka dapat melihat tangan Brayen yang terkepal, menandakan laki laki itu tengah menahan amarahnya.


"Pasti sangat berat untuknya," Aliya kembali bergumam meratapi nasib sahabatnya, Aliya akui bahwa Juwita memang kuat, karena jika itu dirinya mungkin sudah tak bisa sekuat dan sesabar Juwita.


"Iya... Oh ya ini sudah sangat larut malam, apa tidak sebaiknya kalian pulang? Terlebih Al dan kakek yang baru keluar dari rumah sakit," tutur Brayen, rasanya ia hanya ingin bersua saat ini dengan kekasihnya. Menyalurkan kasih sayang nya, memberikan sebuah ketenangan untuk kekasihnya.


"Apa tidak apa apa kami meninggalkan mu?" Chandra tampak sedikit ragu, mereka memang harus kembali pasalnya telah larut malam, namun meninggalakan Brayen sendirian untuk menjaga Juwita takutnya akan membuat kesehatan Brayen menurun.


"Tidak, biar aku yang menjaga Wita di sini," Brayen mencoba meyakinkan mereka, agar tak lagi menghawatirkan dirinya.


"Baiklah jika Wita sadar jangan lupa kabari," akhirnya kakek Rio memutuskan menerima saran dari Brayen. Melihat wajah Brayen tampaknya laki laki itu butuh ketenangan demi memenangkan dirinya.


"Iya kek tenang saja," ujar Brayen meyakinkan. Akhirnya ketiga orang itu pamit keluar, setelah Brayen berjanji akan menghubungi mereka jika terjadi sesuatu.


Brayen melepaskan jas yang sejak tadi melekat di tubuhnya, mencuci wajahnya di wastafel melepas sepatunya dan mencucinya di kamar mandi. Brayen kemudian berjalan menuju bangker Juwita. Brayen terdiam menatap wajah kekasihnya yang masih tidak sadarkan diri. Brayen sedikit mengusap air matanya yang menggenang di sudut matanya. Ia ingin terlihat kuat saat Juwita tengah terpuruk, agar kekasihnya itu dapat bersandar di dadanya. "Sayang ini pasti berat untuk mu," Brayen mengecup puncak kepala Juwita lama, bermaksud menyalurkan kekuatannya. Kali ini air matanya tak bisa ia tahan, air matanya mengenai wajah Juwita, buru buru Brayen mengusapnya.


Brayen segera berbaring di samping Juwita, namun bangker di sakit yang sempit membuatnya harus sedikit memaksa untuk menghimpit Juwita. "Hm... tidak apa apa semakin sempit semakin bagus, setidaknya mulai besok kita tidak akan tidur bersama lagi, hingga satu minggu, aku pasti akan merindukan dirimu," Brayen mengecup pipi Juwita. Memejamkan matanya dan mulai terlelap.


......................


Sementara itu di dalam mobil yang akan melaju menuju kediaman keluarga Kostak. "Chandra buat perusahaan tuan Reymond krisis hingga harus kembali ke Jakarta," ujar kakek Rio, Chandra yang mengerti jalan cerita tentang permasalahan yang di hadapi oleh Brayen segera memainkan ponselnya.


"Tapi kek, kenapa?" Aliya bingung sendiribdi buat nya.

__ADS_1


"Lakukan saja, hubungi tuan Damar sekarang juga," ujar kakek Rio memandang ke arah Chandra.


"Apa hubungannya kek? Kalau tuan Damar mungkin saja, namun kalau tuan Reymond itu bagaimana bisa? Mereka hanya bersahabat kek," Aliya kembali protes pasalnya ia merasa tak di dengar oleh kakek Rio.


"Al tuan Reymond saat ini sedang berada di Bali bersama Tante Weni," akhirnya Chandra yang menjawab pertanyaan dari Juwita.


"Apa? memangnya Tante Weni mengurus perusahaan juga?" Aliya tampaknya masih belum memahami maksud dari Chandra.


"Tidak Tante Weni berselingkuh dengan tuan Reymond," jawab Chandra mengusap lembut kepala Aliya.


"Kakek tahu?" Aliya bertanya ke arah kakek Rio.


"Iya, karena itu segera hubungi tuan Damar," ujar kakek Rio, segera dilaksanakan oleh Chandra. Sambungan telfon tersambung, membuat Chandra segera memperbesar suaranya.


"Iya halo selamat malam," suara tuan Damar terdengar serak, entah habis menangis atau memang baru bangun tidur.


"Malam tuan Damar," ujar Chandra merasa tidak enak mengubungi perang malam malam, namun ini merupakan perintah langsung dari kakek Rio.


"Loh tuan Chandra, ada apa? Ada yang bisa saya bantu? Kenapa malam malam begini?" tuan Damar terdengar terkejut, pasalnya ia tidak melihat siapa penelfonnya, dirinya hanya segera manjawabnya saja.


"Kakek saya ingin berbicara," Chandra segera mendekatkan ponselnya ke arah kakek Rio.


"Baiklah," ujar tuan Damar dari ujung sana.


"Halo tuan Damar, apa rencana anda sudah matang?" kakek Rio segera bertanya to the point.


"Rencana apa tuan? Apa anda ada kesalah pahaman dengan perusahaan saya?" terdengar nada khawatir dari ujung sana, Chandra bahkan menepuk jidatnya menggeleng melihat tindakan kakek Rio.


"Tidak ini tentang perceraian mu," ujar kakek Rio memperjelas maksudnya.


"Bagaiman mungkin?" terdengar tuan Damar merasa tak percaya pasalnya kakek Rio mengetahuinya.


"Aku mengetahuinya sejak awal, aku mencuri dengar saat Juwita menerima bukti perselingkuhan istri mu," ujar kakek Rio menjelaskan, dirinya mengerti maksud dari kata kata dari tuan Damar.


"Iya tuan, memangnya kenapa?"


"Bersiaplah besok wanita itu dan kekasihnya akan pulang," ujar kakek Rio memandang ke arah jendela. dirinya sungguh merasa kesal dan juga kasihan.


"Bagaimana mungkin tuan tahu?"


"Aku akan membuat perusahaan itu sedikit menurun," ujar kakek Rio memberikan sebuah jawaban.


"Tapi tuan jangan terlalu kejam, pasalnya saat ini perusahaannya telah berpindah tangan kepada Andi anak dari Reymond," nada khawatir kembali lagi terdengar di ujung sana.


"Baiklah, aku hanya ingin memancingnya keluar," ujar kakek Rio, dirinya juga tak mungkin melampiaskan amarahnya kepada orang yang tak bersalah.


"Memangnya ada apa tuan?" tuan Damar terdengar penasaran.


"Mereka menyebabkan Wita masuk rumah sakit," kakek Rio sukses membuat tuan Damar di seberang sana terdiam.


"Apa? Bagaimana keadaannya sekarang?" nada khawatir kembali mendominasi di ujung sana.


"Hanya menunggunya siuman, pasalnya ia terkejut ketika mengetahui ibunya memberinya ide untuk membuat Juwita terpengaruh obat pe*rang*sang kepada Dika," jelas kakek Rio.


"Apa?" tuan Damar terdengar sangat terkejut, bertanda dirinya memang tidak tahu apa apa. "Lalu apa Wita meminumnya?"


"Tidak, namun saat ini korbannya tidak tahu ke mana," ujar kakek Rio.


"Agh... dirumah sakit mana Wita tuan?"


"Di rumah sakit XXX, tenang saja saat ini di jaga oleh Brayen, jika ingin kesana besok saja," jelas kakek Rio menenangkan tuan Damar di ujung sana.


"Terimakasih tuan. Selamat malam," ujar tuan Damar. Tuan Damar terlihat terduduk di tempat tidur king size miliknya, tangannya mengepal menggeram, kesal dengan tindakan dari wanita yang melahirkan anak anaknya, kesal dengan tindakan nyonya Weni, wanita yang sebentar lagi manjadi mantan istrinya. "Weni... kau benar benar keterlaluan, anak mu sendiri ingin kau jebak "


......................


Sementara di rumah sakit Juwita perlahan lahan membuka matanya, terlihat dengan jelas dinding yang mendominasi adalah warna putih, bau obat tercium hingga rongga hidungnya. Juwita Merakan sebuah tangan memeluknya, Juwita tahu itu siapa gadis itu mengalihkan pandangannya dan melihat Brayen yang tertidur di sampingnya sembari memeluknya.


"Terimakasih, terimakasih selalu ada untuk ku," Juwita menangis. Juwita mengusap lembut wajah Brayen. "Aku mencintaimu,"


"Hm..." Brayen hanya mengeratkan pelukannya, membuat Juwita tersenyum masuk ke dalam pelukan Brayen, air matanya kembali menetes, mengingat bagaimana kejamnya mamanya yang tega memberi ide seseorang untuk memberikan dirinya obat pe*rang*sang tersebut, Juwita menangis hingga kembali tertidur.


Brayen membuka matanya menatap lurus ke arah dinding, Brayen sejak tadi tak tertidur, Brayen sadar saat Juwita menangis, dan menyatakan cinta kepada dirinya. Namun Brayen memilih tak membuka matanya, agar Juwita bebas menangis di dalam pelukannya dan tertidur.


"Aku mencintaimu juga. Jadilah diri sendiri ketika dengan ku, menangis jika ingin, tertawa jika bahagia."


.


.


.


.


...Mencintai sesungguhnya merupakan sebuah rasa di mana kita dapat menerima semua kekurangan dan kelebihan dari pasangan kita. Saling berbagi kesedihan dan kebahagian. ...


...Karena itulah rasa sayang yang sesungguhnya....


...Menerimamu dan menjagamu merupakan caraku untuk menyayangi mu....


Hai hai hai... ini ini sudah Minggu awal loh... kyuk vote, komentar, beri dukungan dengan like dan kirim bunga sekebon...🤪🤭

__ADS_1


__ADS_2