CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Rumah sakit


__ADS_3

Hari ini hari yang sibuk dan begitu menegangkan untuk Juwita. Juwita baru saja menerima telfon dari Angel, bahwa Aliya masuk rumah sakit lagi. Ini adalah yang kedua kalinya dalam enam bulan ini, Juwita terus meremas tangannya, takut kalau terjadi sesuatu pada Aliya.


Namun Juwita tak dapat kemana mana, pasalnya saat ini Juwita memiliki antrian panjang pasien. Juwita tak bisa melalaikan mereka, hanya untuk urusan pribadi.


Di sela sela memeriksa pasiennya, Juwita sesekali memeriksa ponsel nya. Menunggu kabar dari kakek Rio, atau dari nyonya Mona. Untuk menunggu kabar dari Chandra, Juwita tak mengharapkannya. Juwita tahu betul bahwa Chandra saat ini dalam keadaan yang pasti tidak baik baik saja.


Setelah jam kerjanya selesai, dan pasien pun tampaknya sudah tidak ada lagi, Juwita segera menyambar tasnya, dan kunci mobilnya, Juwita bergegas ke rumah sakit.


Juwita membawa mobilnya dalam kecepatan yang cukup tinggi, Juwita ingin segera sampai di rumah sakit, namun naas saat dirinya hendak berbelok, mobil lain juga datang berbelok, dari arah yang berlawanan. Karena dalam keadaan sama sama memacu kecepatan yang tinggi, kecelakaan tak dapat di hindari.


Mobil mereka beradu, menimbulkan kemacetan, masyarakat mendekat dan mulai memadati tempat kejadian. Untung saja Juwita memakai sabuk pengaman, sementara tangannya ia gunakan untuk melindungi kepala. Kaca depan mobilnya pecah, menyebabkan beberapa serpihan kaca mengenai tangan Juwita.


Juwita mendengar samar samar seseorang mengetuk pintu mobilnya, memintanya untuk membuka mobil tersebut, namun entah kenapa tenaganya tak cukup, Juwita hanya bisa memandang sekitar nya yang tampak mulai menggedor pintu mobilnya. Pandangan Juwita lama lama buram dan semakin buram, hingga akhirnya hanya suara samar samar yang juga berangsur menghilang. Dan akhirnya benar benar menghilang.


"Ada apa di jalan sana?" Brayen membuka kaca jendelanya, bertanya kepada pengguna jalan lainnya. Brayen memandang ke arah kerumunan masyarakat. Pasalnya saat ini terjadi kemacetan yang benar benar padat, masyarakat banyak yang berkerumun di tempat kejadian perkara.


"Tampaknya ada kecelakaan," ujar salah satu ojek online, yang berada di samping mobil Brayen.


"Oh," ujar Brayen. Entah kenapa, tiba tiba perasaan nya tidak enak. Namun Brayen menepis itu semua, Brayen berfikir mungkin efek dari berita tentang Aliya yang saat ini sedang sakit. "Tampaknya akan sangat lama di jalan, aku hubungi saja Juwita kalau aku malam ini tidak makan di rumahnya."


Brayen segera membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Juwita, setelah terkirim Brayen segera meletakkan ponselnya kembali, dan berfokus kepada jalanan yang padat.


"Berapa lama lagi ini, pasti akan sangat malam ketika aku sampai di rumah sakit," ujar Brayen mulai bosan berada di dalam mobil.


Memang begitulah keadaan di ibu kota, jika sudah jam pulang kerja. Tidak ada kecelakaan saja bisa Berjam jam berada di mobil, terlebih terjadi kecelakaan, yang tampaknya sangat besar.


Brayen berhasil melewati lokasi kecelakaan tersebut, hingga akhirnya sebuah sirine ambulan memaksa Brayen untuk menepi. Brayen yakin mobil itu membawa korban kecelakaan tadi.


"Huh apa Juwita membaca pesan ku? Kenapa aku jadi gelisah begini?" Brayen terus memandangi jalan raya, dan mencoba untuk tetap fokus.


Awan yang mulai menggelap, dan rintikan hujan membuat Brayen harus berkonsentrasi. Brayen melihat sebuah cafe, memilih untuk singgah sebentar dan mencoba menenangkan perasaannya, yang tiba tiba aneh. Jantungnya sejak tadi berdebar, perasaannya mulai tidak enak.


Brayen melirik ponselnya, Juwita tak menjawabnya, Brayen kemudian mencoba menelfon Juwita, namun Juwita tak mengangkatnya.


Sementara itu, di tempat lain ponsel Juwita terus berdering, kondisi ruangan tersebut tampaknya gelap. Itu adalah ruang kerja Juwita, ponsel Juwita tertinggal di rumah sakit.


Lama Brayen menelfon Juwita hingga akhirnya ponsel tersebut mati karena kehabisan baterai. Pikiran Brayen semakin kacau. Kegelisahannya semakin bertambah. Bryant terus memainkan ponselnya di sela sela antriannya.


Karena ramainya antrian membuat Brayen harus berdiri dengan sabar di antara antrian lainnya. Tubuhnya yang tegap dan tinggi, membuat Brayen menjadi mencolok, beberapa wanita bahkan terang terangan memandang ke arah nya, memuji ketampanan Brayen.


"Mas bule nya tampan, sudah punya tidak ya?" beberapa wanita berbisik, mengagumi ketampanan dari Brayen.


Maklum saja, lelaki bule di Indonesia akan menjadi primadona para wanita, dengan berbagai hal. Misalnya biasanya bule akan memiliki banyak uang, atau memperbaiki keturunan.


"Maaf mau pesan apa?" Tanpa Brayen sadari dirinya telah berada di hadapan kasir. Brayen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pikiran nya kacau.


"Capuccino," ujar Brayen kembali menatap ponselnya.


"Minum di sini atau di bawa pulang?" Penjaga kasir kembali bertanya.


"Hm, bawa pulang saja," ujar Brayen.


"Atas nama siapa?" penjaga kasir tersebut tersenyum, tahu tahu mungkin akan mengetahui nama mas bule tampan yang ada di hadapannya. Beberapa wanita yang berdiri di belakang Brayen juga siap dengan memasang kupingnya, agar mengetahui nama mas bule di hadapannya.


"Hm Juwita," ucap Brayen tanpa sengaja, pasalnya sejak tadi nama Juwita lah yang memenuhi kepalanya. Kenapa ponselnya mati, kenapa tidak mengangkat telfon.


"Baik pacarnya ya mas?" penjaga kasir tersebut mencoba untuk berbasa basi.


"Hm," Hanya deheman yang keluar dari bibir Brayen. Brayen tiba tiba teringat Chandra, Brayen segera menghubungi Chandra.

__ADS_1


Namun saat menemukan nomor kontak Chandra, Brayen sedikit ragu. Sejujurnya semenjak dari rumah pesta ulang tahun Chandra, mereka tak pernah berkomunikasi lagi.


"Ini sudah selesai, semuanya dua puluh ribu rupiah," ucap penjaga kasir tersebut sembari tersenyum manis.


Brayen tak menjawab segera memberikan pecahan lima puluh ribu rupiah, dan segera bergegas dari sana. Bukan bermaksud sombong, namun Brayen penasaran dengan keadaan Juwita. Sejak tadi hatinya tak tenang.


Setelah mendapat kopi miliknya, Brayen segera bergegas menuju mobil miliknya. Brayen dengan segala kecanggungan menekan tombol panggil di kontak Chandra. Jika dulu mereka sering berhubungan, namun sekarang berbeda, Chandra akan menikahi Aliya, sementara dirinya, entah kenapa lambat laun telah melupakan Chandra. Bahkan hanya bertukar kabar saja sudah tidak pernah Brayen pikirkan.


Sambungan telfon tersambung, membuat jantung Brayen sedikit berdegup. "Halo," suara Chandra di ujung sana membuat kecanggungan di dalam diri Brayen memuncak.


"Ha...halo," Brayen sedikit gugup.


"Ya kenapa Brayen?" Chandra di ujung sana terdengar biasa saja, tidak seperti dirinya yang di Kanada kecanggungan.


"Hm, bagaimana keadaan Al?" Brayen sedikit berbasa basi.


"Baik memangnya kenapa? Kenapa tidak langsung ke sini?" Chandra terdengar begitu heran dengan nada bicara Brayen.


"Hm, aku sedang di jalan. Apa Juwita juga di sana?" Brayen sedikit kikuk menanyakan tentang Juwita.


"Oh mencari si dokter to? Belum datang, padahal tadi katanya sore mau datang, tapi belum juga datang, mungkin sedang lembur," ujar Chandra di ujung sana.


"Oh ya sudah, aku ke sana dulu," ujar Brayen ambigu.


"Ke sana mana? Ke rumah sakit tempat Al di rawat, atau ke tempat ibu dokter?" Chandra masih sempatnya menggoda Brayen.


"Aku... hm, aku akan ke tempat Al," ujar Brayen mengusap tengkuknya.


"Baiklah, sampai jumpa," ujar Chandra kemudian menutup telfonnya.


Brayen meminum kopinya hingga tandas, kemudian melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Aliya di rawat.


Sementara itu di ruangan putih, polos seorang tampak sedikit kesulitan mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Wanita itu tidak tahu dirinya berada di mana, tetapi yang jelas bau obat tersebut menandakan bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.


"Bagaiman keadaan mu?" Dokter tersebut segera memeriksa Juwita dengan teteskop nya.


"Hem sedikit perih," ujar Juwita mencoba tersenyum.


"Baik lah, kita tunggu pasien sedikit lebih baik ya, baru bisa di beri pendampingan," ujar dokter tersebut, kembali mengeluarkan senter matanya. Memeriksa keadaan mata Juwita.


"Baiklah," polisi itu tersenyum.


Setelah dokter tersebut memeriksa keadaan Juwita, dokter tersebut tersenyum, kemudian mencatat beberapa keterangan di kertasnya.


Juwita paham dan mengerti hal tersebut, pasalnya dirinya juga seorang dokter, meski dengan jenis pasien berbeda.


"Anda juga seorang dokter sepertinya," ujar dokter tersebut segera menyerahkan catatan tersebut ke arah suster yang menemaninya.


"Iya saya seorang dokter, namun dokter jiwa," ujar Juwita tersenyum.


"Baik lah sekarang apa anda sudah merasa tenang? Dan siap untuk di tanya tanya?" dokter tersebut tersenyum ke arah Juwita.


"Tentu saja silahkan," ujar Juwita tersenyum manis.


"Bagaimana, bisa kami bertanya tentang diri anda?" polisi tampan itu segera mengambil alih pertanyaan dari dokter tersebut.


"Hm, sebelumnya saya berada di rumah sakit mana?" Juwita justru membalikkan pertanyaan, dengan pertanyaan baru.


"Di rumah sakit umum," ujar polisi tersebut, sembari tersenyum, menampakkan lesung pipinya.

__ADS_1


Juwita teringat bahwa Aliya akan ke tempat ini juga, setidaknya dirinya sampai di tempat yang ia tuju, meski dengan keadaan yang sangat memprihatikan. "Syukurlah," gumam Juwita, tersenyum.


"Baik lah, dari data pribadi yang kami temukan, nama anda Juwita ya," polisi tersebut membuak kembali pembicaraan yang sempat terputus, oleh pertanyaan balik Juwita tadi. "Kami sudah mendatangi alamat anda, namun tidak ada orang, apa benar anda tinggal sendirian?"


Juwita mengangguk membenarkan pertanyaan dari polisi tersebut, Karena sudah pasti asisten rumah tangganya tidak berada di rumahnya lagi, karena sudah waktunya pulang.


"Hm, ada nomor yang bisa saya hubungi?" Polisi kembali bertanya kepada Juwita.


"Tidak, saya akan ke ruang keluarga saya di rawat, tadi saya buru buru datang ke sini, karena panik, eh malah saya yang masuk ke rumah sakit," Juwita sedikit terkekeh ketika menceritakan nya.


"Baik lain kali hati hati ya," polisi tampan tersebut memberi nasihat kepada Juwita.


Setelah sekian lama mereka bertanya tanya tentang kecelakaan tersebut, serta menjelaskan siapa yang bertabrakan dengan Juwita, akhirnya pembicaraan mereka telah selesai


"Iya, baik pak," ujar Juwita setelah mendengarkan berbagai macam petuah dari polisi tampan tersebut.


Juwita juga gadis normal, yang akan betah mendengarkan setiap ucapan polisi tampan nan manis tersebut. Juwita sesekali tersenyum memuji tampannya polisi tersebut.


"Baik lah, perlu kami antar ke sana?" polisi tampan tersebut membuyarkan lamunan Juwita.


"Ah iya, eh maksudnya. Hm, tidak perlu saya sendiri saja ke sana saja," ujar Juwita tersenyum manis, salah tingkah.


Mereka keluar bersamaan, namun Juwita segera ke meja resepsionis, sembari membawa tas dan juga jas kebesarannya, meski pakaian nya telah berubah menjadi pakaian pasien. Pasalnya tadi Juwita di minta untuk mengganti pakaian, karena bajunya telah penuh dengan darah.


Juwita segera ke resepsionis dengan sedikit terseok seok, dengan berjalan di bantu oleh tuang infus. Juwita kesulitan menekuk kakinya, pasalnya di daerah lutut Juwita terdapat luka, sehingga harus di balut dengan perban.


"Permisi maaf ruangan atas nama pasien Aliya putri Winata di mana ya?" Juwita menanyakan di mana ruangan Aliya di rawat, pasalnya dia lupa ruang Aliya.


Setelah mengetahuinya, Juwita segera ke ruangan Aliya. "Hesss," Juwita sedikit meringis karena tubuhnya memang sudah di gerakkan.


"Dasar ceroboh, niatnya mau jenguk orang di rumah sakit, justru aku yang masuk rumah sakit, wita Wita," Gusman Juwita menggeleng.


Saat saat hendak memasuki lorong menuju ruang Aliya, Juwita mendengar suara yang ia kenal. "Tak salah lagi itu milik kedua pasien ku," ujar Juwita mengentikan langkahnya.


Ya, yang tengah berbincang itu Chandra dan Brayen. Juwita penasaran, segera mencuri dengar percakapan mereka.


"Jangan jangan belum sembuh kedua orang itu," ujar Juwita bersembunyi di balik tembok.


"Bagaimana keadaan Al?" Brayen bertanya ke arah Chandra, sebagai pembuka mukadimah, berbasa basi.


"Semua baik baik saja. Lalu bagaiman dengan Juwita, kau tahu dia di mana?" Chandra kembali menanyai Brayen tentang Juwita. Chandra juga penasaran kenapa Juwita belum muncul, padahal biasanya Juwita akan muncul sangat cepat jika mengenai Aliya dan kakek Rio.


"Tidak, aku juga berusaha menelfon nya tapi tidak diangkat, lalu tidak aktif," ujar Brayen melirik ponselnya, entah sudah berapa banyak Brayen menelfon Juwita, namun tak satu pun yang mendapat kan respon, bahkan saat ini ponselnya tak dapat di hubungi.


Di balik tembok Juwita diam diam tersenyum, Juwita tiba tiba merasa di butuhkan dan di khawatir kan oleh Brayen. Wanita mana yang tak bahagia, jika lelaki yang tanpa di sadari menempati hati ini mengkhawatirkan nya, pasti merasa akan tersanjung.


Juwita ingin segera segera menemui kedua orang yang tengah membicarakan nya dan Aliya, namun langkahnya terhenti. Juwita mengurungkan niatnya.


"Boleh aku bertanya, tolong di jawab dengan jujur," dari nada suara Chandra, terdengar sangat bersungguh-sungguh.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Brayen pun terdengar begitu bersungguh sungguh, dan penasaran terhadap pertanyaan dari Chandra.


^^^Apa yang akan di tanyakan Chandra? Ah, aku benar benar penasaran, aku jadi tidak ingin keluar.^^^


Juwita memasang telinga nya dengan tajam, agar bisa lebih jelas mendengarkan pertanyaan dari Chandra. Beberapa orang yang melihat tingkah Juwita hanya memicingkan matanya hitam dan bingung. Bahkan beberapa di antaranya menggeleng.


"Bagaimana dengan perasaan mu kepada dokter Juwita?" pernyataan Chandra membuat hati Juwita berdetak, berdegup kencang, penasaran ingin mendengarkan jawaban Brayen secara langsung.


__ADS_1


Terimakasih Zyanra untuk vote dan dukungannya. Ini membuat othor menjadi lebih semangat


Nah ini sudah double up, tolong dong sumbangan kembang tujuh rupa nya, jangan lupa vote.


__ADS_2