CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
perselingkuhan.


__ADS_3

"Tahan sebentar lagi tak akan sakit, sabar ya..." Juwita memeluk erat tubuh Brayen, berharap dapat meredakan sakitnya. Namun Brayen tetap merintih rintih.


"Yang sakit, ini sakit sekali..." Brayen memandang iba kepada Juwita. "Rasanya panas, sakitnya cenat cenut yang, membuat milik ku rasanya hampir pecah,"


"Sabar aku akan meminta maid untuk membawakan mu sarung," ujar Juwita mencoba menenangkan Brayen.


Juwita melepaskan pelukan Brayen. Juwita keluar meminta maid membawakan sebuah sarung. "Tolong bawakan sarung untuk Brayen, dia kesakitan."


Para maid berhamburan mencari kain, pasalnya di rumah itu sangat jarang adanya kain, biasanya hanya untuk sholat, dan itu hanya beberapa lembar.


"Sayang... ini sakit," ujar Brayen mengerang kesakitan di area sensitifnya.


"Sabar aku sedang mencari sarung untuk kamu," ujar Juwita dari arah luar. "Tanya sama satpam, kalau tidak ada, tolong beli satu lunsin sekalian."


Seorang maid dan supir segera berlari masuk ke dalam mobil, mereka akan membeli pesanan untuk nona muda di rumah itu.


"Sayang ini sakit, bagaiman ini, kenapa efek obatnya lama sekali?" Brayen terus mengeluh "Ini sangat sakit sayang, rasanya ingin pecah."


"Sabar sebentar lagi," Juwita segera menghampiri Brayen, Juwita bingung sendiri harus berbuat apa, melihatnya tak mungkin, menyentuhnya apalagi, Juwita kelimpungan sendiri.


Sepuluh menit kemudian, seorang maid masuk Kembali dengan membawa sarung. Tak tanggung tanggung, maid itu membawa satu lunsin sesuai yang di minta oleh Juwita.


"Terimakasih mbak, nanti saya ganti," ujar Juwita berterimakasih kepada maid tersebut. Maid itu hanya mengangguk menjawab ucapan terimakasih Juwita.


"Ini pakai ini dulu, lepaskan celana mu," Juwita membuka satu sarung kemudian memberikannya kepada Brayen.


Dengan tertatih tatih Brayen memakai sarung, dan melepaskan celananya. Setelahnya Brayen segera berbaring dan memejamkan matanya, sakitnya sedikit mulai berkurang, Brayen mulai memejamkan matanya.


"Ayo tidur, jangan rasakan rasa sakitnya," ujar Juwita mendekat, kemudian mengusap lembut kepada Brayen, seolah memberikan kekuatan kepada Brayen. Dengan efek pereda sakit yang berangsur angsur menghilang.

__ADS_1


"Hm, aku ingin di peluk," ujar Brayen memegang tangan Juwita, meletakkannya di atas dada bidang.


Juwita tersenyum merebahkan badannya di samping Brayen. Juwita menuruti keinginan Brayen yang ingin di peluk. Brayen menelusup kan kepalanya di area leher Juwita.


Seorang maid yang berada di luar menjawab sebuah panggilan, ketika ponselnya berbunyi.


"Ya halo tuan," maid tersebut berucap sangat sopan.


"Bagaimana? Apa sudah ada reaksi sakitnya?" suara tua di seberang sana bertanya dengan sangat penasaran, sudah dua kali ia menelfon, dan menanyakan apakah sudah ada reaksi dari Brayen atau belum.


"Sudah tuan tadi nona Juwita sangat kewalahan, tuan muda Brayen meraung kesakitan. Sampai sampai kami heboh mencari sarung namun tak menemukannya," lapor maid tersebut.


"Hehehe..." pria di ujung sana terkekeh mendengarnya. "Biar tahu rasa dia, siapa suruh sok sok'an."


......................


"Ah... Ah... Remon... ini benar benar luar biasa..." sebuah suara terdengar tengah melakukan aktivitas panas mereka, di dalam ruangan renang cendrung gelap. Mereka tengah bercumbu mesra dengan adegan hot luar biasa.


Laki laki yang di panggil Raimon itu terus mengecup dan memberi jejak kepemilikan di tubuh sang wanita, hingga akhirnya bibirnya sampai di pusat kenik*matan wanita itu.


"Bukan kah sangat enak? Bahkan suami mu takkan bisa memberi kepuasan sebesar ini," ujar laki laki itu sembari menenggelamkan wajahnya di lebatnya hutan belantara yang cendrung lebat hanya di tempat tempat tertentu.


"Iya... Ah.. Jangan mempermainkan ku lagi," wanita itu merintih rintih, memohon dan meminta agar segera di mulai saja. Gelenyar antara enak dan geli. Tak ada laki laki yang pernah memperlakukannya dengan itu, ia seperti amat di sayang.


"Sebentar sayang," laki laki itu kembali menggesek hidungnya di area tersebut, mengecup bibir bawah, kemudian memasukkan lidahnya, mengobrak abrik lembah tersebut dengan lidahnya.


"Aghn... ah, ah, aku... ah Rey... Reymooon..." lama laki laki itu terus menggema dengan suara indah dari pasangan gelapnya. "Agh... aku akan... Agh... Rey...Moooon."


Erangan disertai dengan turunnya gelenyar kenikmatan menghimpit lidah laki laki yang bernama Reymond tersebut. Reymond memejamkan matanya menikmati gelenyar yang di ciptakan oleh wanita gelapnya. Reymond bangkit kemudian naik ke atas wanita itu, mencium membelit lidahnya, serta menghisapnya.

__ADS_1


Reymond perlahan lahan menusukkan miliknya ke arah wanita tersebut. Laki laki itu berpacu dengan ritme pelan memandangi wajah kekasihnya, yang kembali terbakar has*rat.


"Remon ayo cepat, nanti istri mu mendengarkannya," keluh wanita tersebut ikut mengangkat bokongnya, wanita itu tampak terus memandang ke arah pintu, takut takut jika istri laki laki yang tengah di atasnya memergoki dirinya.


"Tenang sayang, tenang saja wanita lumpuh itu tak akan bisa apa apa," Reymond akhirnya menambah sedikit permainannya.


"Rey... Rey... Ah..." laki laki itu terus berpacu di atas wanita tersebut, yang terus meracau memanggil namanya.


"Hm... ini cantik sayang..." Reymond menegakkan tubuhnya menyusuri tubuh wanita itu dengan telunjuknya. Sesekali memainkannya di sana.


"Hm... Ah... fas*ter," wanita itu telah mengangkat tubuhnya, meminta agar laki laki yang bernama Reymond itu segera mempercepat lajunya.


"Hm... ah ah, wajah mu sangat cantik manis ku," Reymond menambah kecepatannya, dan memandang lekat wajah wanita tersebut.


"Hm ah... jangan mempermainkan ku," wanita itu mengiba memandang ke arah laki laki itu.


"Apa aku begini bila di bawah suami mu?" Reymond kembali memperlambat lajunya.


"Ah diam lah, istri mu akan mendengar nantinya," sanggahnya, padahal dia memang merindukan sentuhan laki laki tersebut.


"Wanita itu lumpuh tidak berguna," Reymond terus meracau membicarakan istrinya, membuat wanita itu tersenyum. "Aghhh..."


"Aku tiba," bisik wanita itu.


"Sama sayang," ujarnya.


"Agghhh..." mereka sama sama berteriak ketika mereka telah menyelesaikan misi sucinya.


Wanita itu dan Reymond keluar memperbaiki tubuh mereka. Wanita itu menampakkan senyum manis untuk istri Reymond yang terduduk di kuris roda.

__ADS_1


"Aku pergi dulu lid," ujar wanita itu.


"Wen..."


__ADS_2