
"Iya atau tidak sama sekali," Brayen segera meminum air mineralnya, yang berada di atas meja.
"Tapi kan," Juwita masih enggan meng iya kan kata kata dari Brayen.
"Atau mau di jodohkan dengan pilihan orang tua mu?" Brayen tersenyum puas, Brayen tahu pasti Juwita tak akan mau hal seperti ini terjadi.
Lama Juwita berpikir, sebelum akhirnya setuju dengan kesepakatan dari Brayen. "Iya, iya, yang mulia selalu benar," kesal Juwita, akhirnya hanya bisa pasrah. Di jadikan rumah makan oleh Brayen.
Dasar raja iblis, aku sumpahi kau akan mendapatkan jodoh yang cerewet, yang akan membuat hidup mu pusing tujuh keliling. Umpat Juwita sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
"Bagus rakyat ku," ucap Brayen kembali menyuapi dirinya sendiri dengan makanan.
"Kerajaan apanya yang hanya ada satu rakyat saja?" Juwita mengejek Brayen.
"Kerajaan cinta kontak," ucap Brayen santai.
"Ck, suka suka mu lah, aku rak perduli," gumam Juwita kembali menyuapi dirinya sendiri makanan.
"Eh siapa yang memperbolehkan kau makan di situ?" Brayen kembali menggoda Juwita, tak seru rasanya jika tidak adu mulut, atau bahkan adu kontak mata, yang membuatnya berdebar.
Juwita tak menjawabnya, segera membawa makanannya ke kursi kebesaran Brayen. Brayen terperangah, terkejut dengan apa yang di lakukan Juwita. Padahal dirinya ingin beradu mulut saja dengan Juwita. "Eh apa yang kau lakukan di situ?"
"Ya duduk lah, kan aku di larang duduk di situ. Jadi aku duduk di sini lah," ucap Juwita santai. kembali menyuapi dirinya sendiri dengan makanan.
"Tidak seperti itu maksud ku, agh! Kesini kau!" Brayen segera berdiri beranjak dari sofa miliknya. "Enak saja kau duduk di situ, kau pikir mudah duduk di situ?"
"Duduk ya tinggal duduk Bray, tidak usah lebai seperti sinetron lah," ujar Juwita santai, kembali menyuapi dirinya sendiri makanan.
Tanpa Juwita sadari Brayen telah berdiri di sampingnya, dengan menggulung lengannya, bersiap untuk mengangkat tubuh Juwita.
"Aaa... Apa apaan kau?" Juwita memeluk makanannya yang hampir tertumpah karena ulah Brayen.
__ADS_1
"Cerewet kau, diam saja," ucap Brayen segera menurunkan Juwita di sofa, kemudian duduk di samping Juwita.
"Kau yang ada ada saja, wajar jika aku berteriak, aku terkejut tau!" Juwita meninggikan suaranya.
"Kenapa kau berisik sekali, ingat aku bos mu sekarang!" Brayen kembali dengan sikap bossy nya, seolah Juwita itu adalah bawahannya. Yang harus mendengarkan semua perintahnya.
Aku suntik dengan suntikan rabies baru tahu rasa itu orang," gumam Juwita masih bisa di dengar oleh Brayen. Brayen segera menyuapi Juwita dengan ayam miliknya agar Juwita terdiam.
Sementara di luar, sekertaris Chandra tadi yang hendak masuk dengan salah seorang staf, terkejut melihat pemandangan di mana Juwita tadi di gendong oleh Brayen. Mereka mengira itu adalah bagian dari kemesraan bos mereka, dengan Juwita. Yang di gosipkan sebagai kekasih Brayen.
Kembali lagi ke dalam ruangan Brayen. Juwita saat ini tengah meletakkan bekas makanan mereka di tong sampah, sementara Brayen tengah menghabiskan air minum miliknya, dan ralat milik Juwita juga.
"Aku akan kembali ke rumah sakit lagi," ucap Juwita, setelah semua bekas makanan mereka habis.
"Terimakasih makanannya wahai rakyat jelata," ucap Brayen sembari tertawa.
"Mulai! Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan mu ya! Aku sudah lelah, selelah lelahnya!" ucap Juwita kesal, segera menarik handel pintu.
"Ets tunggu dulu!" Brayen segera berlari ke arah Juwita.
"Sebagai pacar yang baik, sebaiknya aku mengantar mu hingga ke bawah," ujar Brayen santai, sembari meraih tangan Juwita yang tengah memegang handel pintu.
Seketika jantung Juwita berdetak kencang, ketika tangan kekar Brayen menyentuh tangan nya. Tangannya terlihat lebih kecil dari pada milik Brayen.
Juwita ingat peraturan nomor dua, jangan Juwita. Terlebih laki laki ini adalah pasien mu. Ini hanya akting, bukan dari hari. Agh si*al jantungku diamkan, atau ku bawa kau ke tempat dokter jantung. Juwita terus mengumpat di dalam hatinya.
Ketiak pintu terbuka, terlihat beberapa karyawan tengah berdiri, Brayen sedikit terkejut, terlebih para karyawan merek. "Tunggu di sini, aku akan mengantarnya," tunjuk Brayen dengan dagunya.
"Hm tidak usah, kau pasti sedang sibuk," ucap Juwita berusaha melepaskan tautan tangan mereka.
Dasar pintar sekali dia, pasti aku sedang di jadikan sebagai obat penetralisir gosip tentangnya. Ah, bukan gosip itu kan fakta. Tapi tetap saja aku kesal, dia pikir aku apa? Juwita terus mengoceh di dalam hatinya.
"Tidak aku akan mengantar mu, mereka akan menunggu ku, itu tidak masalah. Untuk itulah mereka di bayar," ucap Brayen segera menarik tangan Juwita menuju lift.
__ADS_1
"Dasar sombong," desis Juwita masih di dengar oleh Brayen.
"Terserah mau," Brayen segera masuk ke dalam lift ketika pintu terbuka. "Tanganmu kecil sekali." Brayen segera menekan tombol lantai dasar.
"Memangnya kau mau yang bagaimana?" Juwita memberanikan dirinya memandang Brayen.
"Tidak aku hanya mengatakannya," ujar Brayen tanpa sengaja bertemu pandang dengan Juwita. Tanpa sengaja Brayen melihat sisa nasi di bibir Juwita, saat makan siang tadi. Juwita memang tidak berkaca lagi tadi, meskipun hanya untuk memperbaiki lipstik miliknya.
Tangan Brayen terulur mengambil sisa nasi tersebut, tangannya menyentuh bibir Juwita. Mata mereka saling berpandangan.
Agh, si*al, bibirnya sangat menggoda ku, apa ini? Si*al dasar penyirlhir dia. Jerit Brayen di dalam hati.
Tring...
Pintu lift terbuka, menandakan mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju. Brayen segera melepaskan tangannya dari wajah Juwita, sementara tangannya yang lain mencengkram erat tangan Juwita.
Beberapa karyawan yang sempat melihat ke arah mereka tadi, sangatlah terkejuet. Berbagai spekulasi yang bermunculan di kepalanya, dan tim cocokoligi akan segera mengeceknya.
Brayen mengantar Juwita hingga ke parkiran, kemudian membukakan Juwita pintu, Brayen yang sejak tadi pikirannya terganggu akan bibir sen sual milik Juwita terus meneguk air liurnya. Rasanya ingin sekali ia mengulangi kejadian di rumah sakit jemari.
Agh, apa ini termasuk virgin efek? Si*al kenapa aku kembali membayangkan nya ya? Brayen terus mengumpat, meski hatinya memang menginginkan bibir itu, kembali menyatu dengan bibirnya.
"Juwita, sini," Brayen meminta Juwita untuk sedikit menyembulkan kepalanya dengan syarat, tangan yang melambai lambai.
"Kenapa?" Juwita bingung sendiri.
Cup. Cup . Cup.
Brayen mengecup kedua pipi Juwita, kemudian berakhir di bibir Juwita. Juwita terperangah mematung
"A... apa ..."
"Tuh lihat di sebelah kananmu ada paparazi," ucap Brayen memandang ke arah yang ia maksud.
__ADS_1
Guys jangan lupa like, dan komentar ya. Karena hal itu memberikan semangat kepada othor untuk rajin update, kalau perlu beri dukungan dan vote ya guys.