CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Benteng kegelisahan


__ADS_3

Brayen baru saja membuka matanya setelah tertidur bersama Juwita sejak satu jam yang lalu, perutnya terasa sedikit keroncong. Brayen melirik Juwita yang saat ini menjadikan dadanya natalan empuk, Brayen ingin bangun, namun tak tega melihat Juwita yang tertidur pulas. Brayen berusaha meraih ponselnya yang terletak di tas naklas tempat tidur.


Setelah berhasil meraih ponselnya, Brayan segera memesan makanan di via online. Brayen memesan dua ukuran jumbo untuk mereka. serah selesai memesan makanan Brayen kembali meletakkan ponselnya di samping tempat tidur. Brayen kembali memeluk Juwita dengan erat, dan mengecup puncak kepala Juwita.


"I love you," bisik Brayen sembari kembali mengecup puncak kepala Juwita.


Juwita yang merasa terganggu dengan aktifitas yang di lakukan Brayen segera mengerjapkan matanya dan memandang ke arah Brayen. Seketika Brayen terhenti, mengecup puncak kepala Juwita. tersenyum ke arah Juwita.


^^^Ah dia benar benar sangat menggemaskan, bagaimana aku bisa melupakan mu, aku benar benar jatuh cinta dengan mu, apa perjanjian kita akan berakhir saat kau tahu aku mencintai mu? Saat kau tahu aku melanggar perjanjian yang ku buat sendiri. Brayen.^^^


^^^Brayen kenapa wajah mu begitu tampan, bagaiman ini? Perasaan ku semakin besar kepada mu, bagaimana jika aku tak dapat melupakan mu. Sikap mu seolah menginginkan ku, namun kau juga menganggap hubungan ini hanya Simbiosis mutualisme, bagaiman ini? Bagaiman jika aku tidak bisa melupakan mu? Juwita.^^^


Pandangan mata mereka berdua terkunci dengan pemikiran masing masing, mereka sama sama tak bisa mengentikan rasa cinta yang mengalir di dalam diri mereka.


^^^I love you.^^^


Sebuah kalimat yang sama sama mereka serukan, namun tak mampu mereka luncurkan. Juwita dan Brayen sama sama terjebak dalam perasaan yang mencintai tapi takut mendengar penolakan.


Sebuah cinta yang rumit, sama sama ingin memiliki, namun sama sama takut dan merasa rendah diri satu sama lain. Cinta menguasai hati mereka namun juga ketidak percayaan diri mereka yang membentengi, seolah menciptakan jarak. Sehingga bibir tak dapat berkata, namun mereka selalu merealisasikan nya dengan tindakan. Cinta mereka rumit, dan sangat indah dalam waktu yang bersamaan.


Brayen menyatukan kening mereka, menikmati hembusan nafas hangat dari Juwita. Rasanya ingin selamanya begini, tak peduli waktu yang terus berjalan. Brayen hanya ingin selalu berdekatan dengan Juwita.


Juwita tertegun melihat wajah Brayen. Juwita mengamati mata terpejam Brayen, seolah menikmati sentuhan mereka. Tangan Juwita terulur menyentuh pipi Brayen. Dan Brayen menyambutnya.

__ADS_1


Mereka sama sama menyalurkan rasa cinta mereka, saling memberikan cinta yang besar. Indah itulah perasaan yang mereka rasakan saat ini, namun juga terselip gelisahan, ingin memiliki seutuhnya. Tapi kembali lagi kepercayaan diri mereka membentengi.


Aksi kemesraan mereka harus terhentikan ketika dering ponsel Brayen berbunyi, Brayen segera mengurai dekapan nya, mengecup lembut pipi Juwita. Brayen menegakkan badannya, kakinya masih sejajar dengan badan Juwita. Brayen mengambil ponselnya, melihat penelpon. Alisnya menyatu menandakan pria itu tengah bingung, pasalnya nomor baru yang menelfon nya. Brayen segera menggeser tombol hijau, meletakkannya di telinga.


"Halo," sapa Brayen, dengan tangan yang terus mengusap lembut kepala Juwita, Brayen memandang Juwita dengan senyuman menawan.


Juwita yang merasa di sayang, segera membalas perlakuan Brayen dengan memeluk kaki Brayen yang lurus sejajar dengan tubuhnya.


^^^Kau sangat menggemaskan Wit, bagaiman jika aku tak mampu melepas mu, meski kau tak ingin bersama ku? Brayen.^^^


^^^Brayen bagaimana ini, perlakuan mu terlalu manis. Jujur aku tak bisa membohongi hatiku secara terus menerus. Juwita.^^^


"Ah iya pak bisa bapak ulangi lagi?" Brayen sedikit gelagapan, dirinya tak terlalu memperhatikan orang yang di seberang sana berbicara. Fokusnya ke arah Juwita. "Ah iya pak saya akan keluar."


Juwita mengangguk, mengerti dengan maksud dari Brayen. Juwita terus memandang ke arah pintu yang terlihat terbuka, dan meninggalakan bayangan Brayen yang tengah keluar, mengambil pesanan.


"Brayen bagaiman ini? Cinta ku semakin besar kepada mu. Aku tak mampu membohongi rasa ku, apa yang harus aku perbuat?" Juwita bergumam membalikkan posisi tubuhnya, menghadap langit langit kamarnya, degan warna yang polos. Juwita mengigit bi birnya, memejamkan matanya, mencoba menghalau bayangan Brayen.


Tangan Juwita terkepal, nafasnya memburu hebat, bahkan dadanya naik turun. Bahkan hanya membayangkan wajah Brayen yang tersenyum ke arahnya saja, mampu memporak porandakan hatinya.


"Cinta ku yang salah, atau cinta ku yang datang di saat yang tidak tepat?" Juwita terus bergumam mencoba menekan perasaannya.


Suara piring yang sedikit berbenturan dengan meja makan, membuat Juwita tersadar. Juwita segera turun dari tempat tidur, berjalan dengan sedikit pincang ke arah dapur.

__ADS_1


Brayen yang melihat Juwita segera menghampiri gadis tersebut. Brayen segera menggendong Juwita, menuju meja makan. "Jangan banyak bergerak dahulu, nanti kita ke dokter ya."


Juwita tersenyum mengangguk malu malu, Brayen mencubit pipi Juwita dengan gemas. Brayen kembali ke belakang, mengambil air putih dan gelas untuk mereka. Brayen mulai menata makanan mereka, menyisihkan kulit dan daging ayam.


^^^Hanya ini Wit, hanya ini yang mampu aku lakukan untuk membuktikan cintaku. Aku tak sanggup dengan kata kata Wit, aku tak sanggup kau meninggalakan ku, setelah aku mengatakannya. Brayen.^^^


Brayen tersenyum mendinginkan ayam yang masih hangat tersebut. Hatinya selalu sakit ketika membayangkan Juwita meninggalakan nya. "Selamat makan princess."


Juwita kembali bersemu ketika mendengar kata princess keluar dari bi bir seksi Brayen. Entah kenapa ia sangat bahagia mendengar penuturan tersebut.


^^^Kau benar benar mampu membuat ku terbang tinggi, namun kau juga mampu membuat ku terhempas ke bawah. Kenapa rasaku begitu rumit Brayen. Cinta ku terlalu rumit, namun cinta ku kompleks untuk mu. Juwita.^^^


Juwita mencoba memakan makanan nya, menelan setiap butir nasi yang tiba tiba terasa hambar. Nasi itu menjadi seperti duri di dalam tenggorokannya, sakit untuk di telan.


"Wit ingin ku pesankan yang lain? Brayen segera menghentikan suapan Juwita, yang terlihat terpaksa ketika menelan makanannya.


"A... aku tidak apa apa, ayo lanjutkan," ujar Juwita, mencoba mengalihkan pandangannya.


"Tidak, sini sensornya," Brayen mengambil alih sendok Juwita, kemudian menyuapi Juwita, bergantian dengan menyuapi dirinya.


Juwita tersenyum, nasi kali ini jauh lebih baik, bahkan sangat enak, untuk makanan yang tadi serat bagi Juwita. Juwita lagi lagi takluk dengan pesona, dan sikap Brayen Brayen terhadapnya.


Jantungnya berdebar, pesona Brayen memang sangat berbahaya untuknya, tingkah Brayen yang terkesan sangat menyayangi Juwita, membuat Juwita tanpa sengaja menambah rasa sayangnya.

__ADS_1


Guys jangan lupa beri dukungan ya, dengan cara, klik like, komentar, kemudian beri hadiah dengan bunga sekebon, atau kopi secangkir, dan beri vote...


__ADS_2