
Brayen baru saja sampai di rumah kakek Rio, Brayen hendak menjemput Juwita, yang saat ini masih tertidur pulas, pasca meminum obatnya. Juwita lupa akan janjinya pada Brayen.
Brayen menggeleng melihat Juwita tertidur pulas di tengah tengah tempat tidur, sembari memeluk boneka beruang pemberian Brayen. Brayen mendekat dan mengusap lembut pipi Juwita.
"Princess bangun dong," ujar Brayen lembut, ikut membaringkan tubuhnya di samping Juwita.
Brayen mengedarkan pandangannya sekali lagi, Brayen memindahkan boneka besar tersebut, dan mengganti dengan dirinya. Brayen tersenyum mengecup lembut kening Juwita.
"Princess bangun..." ujar Brayen sedikit lebih besar.
Juwita membuka matanya secara perlahan, butuh sedikit waktu menyesuaikan retinanya dengan cahaya yang masuk. Namun Juwita terkejut ketika melihat wajah Brayen tepat di hadapannya, menghalangi cahaya yang masuk.
Senyum manis Brayen, kembali menggetarkan hati Juwita, wajahnya bersemu, seketika tubuhnya kaku, otaknya tak bisa bekerja dengan maksimal.
Brayen tersenyum melihat ekspresi wajah Juwita, Brayen segera mengecup bi bir Juwita. Brayen mengusap lembut pipi Juwita.
"Hem... Pacaran terus... Samapi smapai lupa menyapa tuan rumah," Aliya sedikit menggoda Brayen dan Juwita. Seketika Juwita mendorong tubuh Brayen. Namun Brayen memeluk pinggangnya.
"Al, sudah pulang?" Brayen segera berdiri dan mendekat ke arah Aliya, membiarkan Juwita bangun, dan membersihkan dirinya.
"Sudah, dari dua hari yang lalu," ujar Aliya segera mengajak Brayen keluar dari kamar tamu, yang di diami Juwita, dengan isyarat.
"Hm, bagaimana? Kau sudah memulai masa pingitan?" Brayen tersenyum ke arah Aliya.
"Sudah, sekitar lima hari lagi akan ada resepsi pernikahan," ujar Aliya tersenyum.
"Kau pasti sangat bahagia," Brayen tiba tiba memandang nanar, ia teringat akan kisah cintanya dengan Juwita.
Aliya yang menyadari perubahan wajah Brayen, mengerutkan keningnya. Aliya mulai menerka isi pikiran Brayen. "Terjadi sesuatu?"
__ADS_1
"Hm, aku tak tahu mulai dari mana, jika saja aku mampu mengungkapkannya," ujar Brayen tersenyum pahit, kemudian menggigit bibirnya, seiring dengan tangannya yang mulai mere*mas satu sama lain.
Aliya mulai paham maksud dari Brayen, tersenyum manis. "Jika memang menyukainya maka katakan saja, tak perduli hasilnya. Toh mau atau tidak mau, itu bukan kita yang menentukan. Kita hanya harus mengungkapkan nya saja, membuat perasaan kita lega, setidaknya dia akan tahu bahwa ada orang yang dengan tulus mencintainya."
Brayen tertegun mendengar perkataan Aliya, Brayen mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar Juwita, tampak gadis itu baru saja keluar dari kamar. Dengan dress biru laut tanpa lengan, rambut yang hanya di ikat satu dan sepatu datar, menampilkan kesan penampilan sederhana namun anggun.
^^^Cantik.^^^
Brayen memuji penampilan cantik nan anggun Juwita, dirinya kembali tenggelam dalam pesona Juwita, gadis itu kembali membuatnya jatuh cinta, untuk yang kesekian kalinya.
"Kau tunggu apa lagi? Ingin dimiliki orang lain dahulu?" Aliya terkekeh melihat Brayen memandang Juwita tanpa berkedip.
"Terimakasih," ujar Brayen segera merogoh saku jaket lapis nya, menekan benda pipih miliknya, kemudian menulis sebuah pesan.
"Ayo kita berangkat sekarang?" Juwita mamandnag ke arah Brayen, Brayen tersenyum segera mendekat ke arah Juwita.
"Kau sangat cantik," puji Brayen membuat Juwita tersipu, Aliya terkekeh melihat pemandangan itu.
Brayen membuka pintu mobil untuk Juwita, kemudian memutari mobil dan masuk ke dalam mobil, Brayen menghidupkan mesin, memacu mobilnya menuju butik yang telah Brayen pesan.
"Mobil mu belum baik juga?" Brayen memandang ke arah Juwita sekilas.
"Hm, sore ini akan di antar ke rumah," ujar Juwita tersenyum.
"Siapa yang mengantar? Polisi itu?" Brayen tiba tuan panas sendiri, terlebih jika mengingat Juwita yang memuji polisi tersebut, di hadapannya.
"Untuk apa dia? Pastinya montir mobil lah, mereka mengatakan ke rumah kakek Rio," ujar Juwita terkekeh mendengar nada bicara Brayen, yang sudah seperti kekasih posesif.
Brayen menghentikan mobilnya di depan sebuah butik, di ikuti Juwita. Brayen menggandeng tangan Juwita layaknya seorang kekasih, Brayen membawa Juwita masuk ke dalam.
__ADS_1
"Bawakan pesanan ku tadi," ujar Brayen sembari melingkarkan tangannya di pinggang Juwita, pasalnya saat ini beberapa laki laki mata keranjang, dengan terang terangan memandang ke arah Juwita, padahal mereka sendiri pasti membawa pasangan.
"Bukan kah butik ini sangat mahal Bray?" Juwita memandang Brayen dengan seksama, tampak jelas wajah gelisah Juwita.
"Tidak masalah, selama dengan mu tidak akan ada masalah, lagian aku pikir uangku adalah uang mu juga, aku mencari uang untuk di habiskan oleh mu," ujar Brayen menyelipkan anak rambut Juwita ke belakang telinga.
Juwita sungguh tersanjung mendengar penuturan Brayen. Juwita kini merasa mereka seperti sepasang kekasih. Namun buru buru Juwita menepis perasaan nya, mengira Brayen tengah melakukan peran sebagai seorang kekasih, di hadapan banyak orang.
^^^Pintar sekali dia berperan. Aduh berapa yang akan aku bayar nanti ya? Jika begini akhir tahun aku tak bisa ke India.^^^
Setelah memilih pakaian, Brayen segera mengajak Juwita untuk singgah sebentar ke apartemen nya. Juwita mengernyit, ini untuk pertama kalinya wanita itu menyambangi apartemen Brayen.
Brayen tersenyum kemudian meminta Juwita untuk masuk ke dalam unit apartemen miliknya. Namun belum sempat Juwita masuk ke unit apartemen Brayen. Brayen segera menutup mata Juwita dengan seutas kain. Indri tampak keluar dari apartemen Brayen dengan mengendap endap. Indri segera pamit, karena telah menyelesaikan tugasnya.
"Ini kenapa Bray?" Juwita sedikit gugup, ia tak pernah menerima perlakuan seperti ini, ia hanya sering menonton di serial drama Korea dan Bollywood yang ia tonton.
Jantung Juwita berdegup kencang, Juwita memikirkan banyak hal, ia mengingat adegan ini seperti adegan akan menyatakan perasaan, namun ia juga tak yakin dengan Brayen. Apalagi pasca ucapan hubungan simbiosis mutualisme, Juwita kembali di buat bimbang.
"Jangan di buka, ketika aku bilang buka baru kau boleh membukanya," ujar Brayen kemudian meninggalakan Juwita.
Juwita yang merasa di tinggalkan Brayen, tiba tiba teringat drama China, yang di jual oleh kekasihnya, kini Juwita sedikit panik.
"Buka," ujar Brayen membuat Juwita membuka penutup matanya, dan membuka kelopak matanya secara perlahan.
Hal pertama yang Juwita lihat adalah dinding dengan hiasan yang sangat indah, dengan bentuk hati di sana, di tambah Brayen yang duduk dengan sebuah guitar di tangannya. Juwita hampir lupa bernafas, melihat sekelilingnya. Brayen terlihat seolah kekasih yang sangat manis, dengan segala kejutannya.
Brayen mulai memetik gitarnya dan mulai menyanyikan lagu cinta dengan judul can't take my eyes of you. Sungguh sangat manis dan menggetarkan jiwa Juwita. Juwita bahkan tanpa sengaja meneteskan air matanya, melihat aksi pria yang di cintai nya.
...Ketika jatuh cinta, tanpa sadar akan membuatmu menjadi versi terbaik dalam hidupmu....
__ADS_1
...Manfaatkan momen jatuh cinta untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna dengan seseorang yang kamu sayang....
Hayo penasaran dengan aksi Brayen, dan cara Brayen mengungkap kan perasaannya? pantengin terus ya. Jangan lupa beri dukungan berupa komentar, like, bunga se kebon, kopi se secangkir 🤠dan vote.