
"Aku sumpahi kau dapat duda," kesal Juwita, semakin membuat angel terkekeh.
"Duda keren."
Angel terkekeh meninggalakan sepasang kekasih, yang terlihat bingung dengan jawaban Angel. Angel segera menuruni tangga, di susul oleh Juwita dan Brayen. Setelah berada di lantai bawah, Juwita masih mengikuti langkah Angel, namun Brayen memilih untuk bertemu rekan bisnis lainnya.
Saat tengah berjalan Angel tanpa sengaja menabrak seorang pria tampan, Angel merasa tidak enak segera meminta maaf.
"Maaf Om ga sengaja," kata Angel tersenyum tidak enak.
"Hm," laki laki itu hanya mengangguk tak perduli dengan hal tersebut.
Angel segera mendekati nyonya Mona, orang tua dari Chandra. Angel dan Juwita tersenyum ketika menyapa nyonya Mona dan seorang perempuan, yang terlihat mirip dengan Mona, dan ternyata itu adalah nyonya Melisa, ibu dari Daniel. Nyonya Mona merupakan adik sepupu dari nyonya Melisa, namun mereka memiliki kemiripan, sehingga sering di kira kakak adik.
"Halo Tante Mona, selama ya akhirnya kak Chandra married juga dengan kak Aliya," kata Angel memberi selamat.
"Ah iya, terimakasih sudah mau di repotkan," kata Mona tersenyum. "Kalian kapan nyusulnya?" lanjut Mona.
"Kalau Angel masih lama tante, belum punya calon. Kalau kak Juwita tinggal nunggu babang Brayen lagi untuk ngelamar," kata Angel sembari menyenggol Juwita sahabatnya.
"Ih... kamu mah jangan gitu Angel, malu," kata Juwita dengan wajah memerah.
Tak lama kemudian seorang laki laki tampan datang menghampiri mereka. Laki laki itu tersenyum ke arah Juwita, membuat Angel dan Mona berdehem, mengejek Juwita.
"Sudah babang tampan datang tuh hampirin sana," ledek Angel.
Wajah Juwita semakin memerah, membuat mereka yang tersenyum. Sementara Brayen segera menghampiri Juwita dan memeluk pinggang Juwita.
"Tu kan Tan... jadi iri di buatnya, tante cariin juga dong, biar ga ngerasa jomblo sendiri," kata Angel sambil terkekeh.
"Ada keponakan tante satu," kata nyonya Mona sontak membuat nyonya Melisa mendelik tajam ke arahnya, karena jelas jelas Daniel saat itu telah menikah. "Tapi sayang sudah menikah."
__ADS_1
Mereka semua terkekeh mendengar kata kata nyonya Mona, sontak membuat Melisa terkekeh juga di buatnya, sementara Angel hanya menggerbikkan bibirnya.
(Cerita Angel dan Daniel berada di duda genit, season 1, yang belum baca silangkan mampir.)
Brayen menggandeng Juwita, memeluk pinggangnya menuju rekan bisnisnya. Brayen ingin memperkenalkan Juwita pada rekan bisnisnya. Juwita tampak sedikit tak percaya diri, namun Brayen meyakinkannya.
"Bray malu," ujar Juwita menarik ujung jas Brayen.
"Sudah lah kan ada aku," Brayen mengusap lembut kepala Juwita.
Benar kata Juwita Brayen memang orang orang yang lembut, perhatian, dan pengertian. Buktinya hingga saat ini Brayen memperlakukan Juwita dengan sangat lembut, dan manis. Brayen menautkan tangan mereka, mendekati para pebisnis yang mengenal Brayen.
Juwita hanya bisa tersenyum canggung kala Brayen memamerkan kekasihnya, dan secara tidak langsung mematahkan gosip tentang mereka. Beberapa wartawan bahkan mengabadikan momen mereka.
"Bray aku lapar," bisik Juwita membuat Brayen mengusap lembut kepala Juwita. Brayen dan Juwita segera menuju taman, di mana terdapat beberapa prasmanan, melalui pintu samping.
Saat tengah menagmbil piring, Juwita tanpa sengaja menjatuhkan sendirinya, sehingga Juwita membungkuk untuk mengambil sendok. Brayen dengan sigap memegang sudut meja prasmanan, agar tidak terkena kepala Juwita.
"Tidak apa apa, hanya seperti ini tidak akan apa apa," ujar Brayen mengusap lembut wajah Juwita.
Para penjaga prasmanan, menjadi iri sendiri melihat ke mesraan dari sepasang kekasih tersebut. Mereka segera mengganti sendok makan yang terjatuh tadi. Dan Juwita pun segera menjauh.
"Ah... Kenapa dia lebih mesra di banding pengantinnya?" ujar salah satu di antara mereka.
"Iya mereka mesra sekali," ujar yang lainnya.
Brayen dan Juwita segera mendudukkan dirinya di atas kursi, kemudian memakan makanan mereka. Brayen sesekali menyeka sudut bibir Juwita, agar menghilangkan noda saos atau jejak nasi sudut bibir Juwita.
Setelah makan, Angel segera mengajak Juwita untuk bersua foto dengan pengantin. Sesampainya di atas panggung, kedua wanita itu mengusir Chandra, sehingga dengan terpaksa pengantin pria menyingkir dari panggung, dan memilih mendekati Brayen, yang tengah menunggui Juwita.
"Kasihan sekali kita para laki laki, di singkirkan mereka, padahal kan yang nikah aku ya," ujar Chandra tiba tiba memulai sesi curhatnya.
__ADS_1
"Huh aku ingin berfoto dengan Juwita," ujar Brayen memandang Juwita dengan penuh arti.
"Cih... kemarin saja ucapannya hanya sebuah simbiosis mutualisme, tapi sekarang bucin minta ampun," ejek Chandra.
"Memang kenapa?" ujar Brayen tak ingin kalah. "Hei kau membodohi ku ya? Ternyata tidak ada pingitan yang di sertai anggota keluarga."
Brayen berkacak pinggang ketika mengatakan hal tersebut ke arah Chandra, tuan Omer melihat gelagat berdebat segera mendekat.
"Hei kau harus mengimbangi ku, masa kalian bisa berduaan tapi aku tidak bisa," ujar Chandra terkekeh mengejek.
"Hei hei hei, ada apa dengan kalian?" tuan Omer datang di antara kedua laki laki itu.
"Ini om, Chandra membohongi ku, tentang tidak boleh menemui Juwita, padahal kan yang hanya harus pingitan Aliya om," adu Brayen. Chandra membalikkan badannya memandang Brayen dengan kesal.
"Dasar tukang mengadu," ucap Chandra.
"Eh ayo pengantin pria segera naik panggung lagi, para wanita telah selesai mengambil sua foto," ujar salah satu photographer Memandang ke arah Chandra.
Kedua sahabat itu kembali bersua foto, bersama dengan kedua mempelai. Namun tiba tiba Aska melihat mereka, dan segera naik ke panggung untuk ikut bersua foto.
"Kak Brayen, ayo naik," ajak Angel, membuat Brayen segera naik, dan berdiri di samping Juwita.
Mereka segera berfoto bersama, layaknya tiga pasang kekasih, namun Angel dan Aska terkadang sibuk bertengkar masalah gaya. Wartawan tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, para wartawan segera mengambil potret ketiga pasangan tersebut. Tentu saja ini merupakan salah satu topik utama di majalah nanti.
"Mengungkap misteri kekasih tuan Brayen," mungkin begitu lah isi tabloid tersebut.
Setelah turun dari panggung, Brayen tersenyum melihat ke arah Juwita, dan Juwita membalas senyum Brayen. Mereka terlihat mesra hari ini, membuat kakek Rio tersenyum diam diam dari jauh. Namun Karin kini mengepalkan tangannya, karena iri melihat kemesraan kedua orang tersebut.
Tampak tuan Damar, nyonya Weni, segera mendekat ke arah Karin. "Karin ingat jangan sekali kali kau mendekati kekasih anak itu," ujar tuan Damar, membuat nyonya Weni menghela nafas.
"Karin pertimbangkan perusahaan, berusaha Berusahalah sebaik mungkin dengan tugas tugas mu," ujar nyonya Weni ikut menasehati Karin.
__ADS_1
Karin yang kesal mendengarkannya, segera beranjak, meninggalkan ruangan tersebut, dan berjalan jalan menenangkan pikiran.